Posts Tagged With: Travelling

#ProfkilGoesToThailand (2) : Lika-Liku Perjuangan Menuju Keberangkatan (2)

image

1 Maret 2016

Sembari menunggu pengumuman AASIC kami berempat pada waktu itu mencoba membuat PKM GT. Yah hitung-hitung mengisi waktu tahun terakhir. Walaupun akhirnya yang selesai hanya abstraknya saja -___-” dan akhirnya gagal upload. Hari itu, 1 Maret 2016 semestinya sudah pengumuman namun website AASIC tidak kunjung update. Pun demikian facebook dan media sosial lainnya. Sampai tengah malam kami menunggu hingga dini hari jam 1-an dan ternyata belum jua pengumuman.

2 Maret 2016

Tiba-tiba saja diyah sekitar jam 2 siang posting di grup. Intinya pemberitahuan dari facebook AASIC :

[Official Announcement]

Dear Respected Authors,

We inform that the notification of accepted Full Paper will be done only by email to the authors.

We recognized some of you have not received notification of Full Paper acceptance through your email.

We found a trouble in our registration system.

We are truly apologize for the delay. We will make sure you will receive the announcement not later than tomorrow.

For those who already accepted, please go ahead for the next payment process.

Thank you for your kind understanding.

See you in Bangkok!

Chairperson.

Ya, dari pemberitahuan tersebut menandakan bahwa maksimal pemberitahuan lolos tidaknya paper kami adalah hari itu, sebab ada kata-kata “not later than tommorrow”. Hinga pukul 23.55 email pemberitahuan tak juga masuk. Yah, sempat muncul rasa kecewa juga. Sepertinya usaha keras kami selama sebulan saat liburan rasanya sia-sia. Yah, akhirnya kami move on… smpat ada conference lainnya yang sepertinya menarik untuk di apply. Yah, sebab Allah barangkali tahu yang terbaik untuk kami….

4 Maret 2016

Yang namanya berjuang selalu sampai titik darah penghabisan. Hari itu aku mendapat kabar bahwa salah seorang temanku baru mendapatkan email. Intinya pemberitahuan akan status kelulusan dia. Pada waktu itu aku berpikir, masa’ sebegitu jahatnya panitia tak meng-email kami akan status kelolosan atau ketidaklolosan kami dalam conference ini. Berbagai media kami coba mulai dari comment di fb, message fb, sampai email panitianya. Namun tak kunjung mendapatkan balasan. Mungkin belum rezekinya. Sementara kata temanku, bahwa deadline revisi paper adalah pada tanggal 7 Maret 2016. Itu artinya tinggal 3 hari lagi. Tentu tak mungkin kami mendapatkan kepastian setelah tanggal tersebut.

6 Maret 2016

Siang itu kembali aku membuka email dan tiba-tiba sebuah email masuk dan berbunyi :

Dear Respected Authors,

Name: Mushonnifun Faiz Sugihartanto

Title : INDONESIAN CUSTOMERS PURCHASE INTENTION FOR HALAL FOOD PRODUCTS TOWARDS HALAL SUPPLY CHAIN

Reference Code: SO20

Thank you for your kind patient regarding to your Full Paper submission.

Here kindly attached your revised draft and  review sheet from our reviewer.

Kindly this following note from our respected reviewer:

Your paper entitled INDONESIAN CUSTOMERS PURCHASE INTENTION FOR HALAL FOOD PRODUCTS TOWARDS HALAL SUPPLY CHAIN, generally, is an interesting study, but authors have not been able to show a proper methodology, procedure of data collection and also result presentation. The use of decision tree also has not been able to show its importance to the findings.

My recommendation: if authors able to send the revised paper no later than March 7th, we can give him a seat in oral presentation. Otherwise, I recommend this paper to be presented as POSTER.

Therefore, we recommend you to complete all comments to meet the standards to present your paper in oral session not later than March 7th, 2016.

However, if you consider to present in poster session, you only need to send your abstract only not later than March 6th, 2016.

Either attend as oral or poster presenter, you need to do payment process not later than March 7th, 2016.

Please kindly note, as oral presenter, your Full Paper will be included in our ISBN-REGISTERED Proceedings while participation in poster presentation session your Abstract will be included on that proceedings.

The best presenter either in oral or poster presentation will be awarded with a certificate as best presenter in their session and the certificate will be given on stage on Gala Dinner.

Authors who selected for the best selected papers in oral session will be offered to publish their Full Paper in indexed-proceedings publication.

Thank you for your kind attention.

Bests,
Chief of Registration Team of the 4th AASIC

Ya, hari itu tepat H-1 pengumpulan paper hasil revisi ada email masuk. Dan revisinya Masya Allah banyaknya -______-. Sementara pengumpulan tinggal besok. Dan hari itu kami semua sudah ada kesibukan masing-masing. Akhirnya kami memutuskan SKS alias sistem kebut sehari haha. Setelah di cek juga sepertinya revisinya masih visibel jika dikerjakan dalam sehari saja. Singkat cerita kami berjanji untuk bertemu esok hari jam 10.00 di Lab Siman.

7 Januari 2016

Jam 10 hanya janji, akhirnya pada molor semua. Yang pertama datang Diyah, lalu faiz, Dita masih di BNI dan Lintang menghilang tanpa kabar ._. Kami bertiga sampai mencari lintang dan nomornya tidak aktif. Singkat cerita baru sore sekitar setengah 5 lintang membalas. Hpnya di matikan -___- di saat genting seperti ini. Akhirnya satu per satu kami revisi di paper tersebut. Hingga akhirnya sekitar pukul 21.00 paper kami ter-upload dengan segudang revisi dan tidak sempat diasistensikan ke Prof. Iwan karena terlalu mendadak email yang dikirim panitia. What an amazing day -____-. Satu masalah terlah terselesaikan. Paper kami selesai. Namun masalah lain ternyata tidak ada habisnya.

Masalah itu bernama dana. Deadline pembayaran untuk presentator tanggal 10 Maret 2016, dan kali ini kami sudah mencoba menawar ke panitia namun panitia tak mengizinkan lebih dari itu. 1.7 juta, dari mana duit sebanyak itu kami dapatkan dalam 3 hari. Belum pula untuk tim member yang biaya registrasinya 850.000 yang harus dibayarkan maksimal 21 Maret 2016. Belum tiket pesawatnya dan lain-lainnya.

Lagi-lagi masalah dana. Ketika perjuangan kami sudah setengah jalan, dan Letter of Acceptance sudah diterima dan menandakan kami tinggal berangkat, akankah dana menjadi penghambat mimpi kami?

(bersambung)

Ruang Human Error Lab Ergonomi

Sembari membuka kembali Tugas Akhir yang lama tak disentuh

21.03

Categories: Thailand | Tags: , | Leave a comment

#ProfkilGoesToThailand (1) : Lika-Liku Perjuangan Menuju Keberangkatan (1)

Abstrak, Awal Perjuangan

Semua bermula pada suatu hari di grup whatsapp tanggal 5 November 2015, jam 23.27 malam, ketika aku mem-post peluang paper conference AASIC di Thailand.

Ya, ceritanya pada waktu itu, teman-teman kami, dari Kabinet Departemen Media dan Informasi HMTI 14/15 (mereka dipanggil rowers), lolos dalam perlombaan di Yogyakarta dan masuk babak final *lupa mereka juara apa nggak*. Entah mengapa pada waktu itu ada rasa “merasa kalah”. Ya, sebagai Departemen Keprofesian dan Keilmiahan HMTI ITS, yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam riset keprofesian, seharusnya kami bisa memberikan contoh yang baik kepada warga Teknik Industri ITS. Namun entah mengapa pada waktu itu aku pribadi merasa “tersalip” oleh departemen sebelah *haha*. Hingga akhirnya, kami mencoba berikhtiar. Sesuatu yang sepertinya mustahil.

Singkat cerita pada waktu itu akhirnya kami mulai “membiasakan diri” membaca jurnal-jurnal penelitian. Yah, tentang Supply Chain. Walaupun setelah beberapa minggu pun dari sekian jurnal yang di download dan di print, hanya 1 atau 2 yang dibaca -__-“ *penyakit mahasiswa*. Dan pada waktu itu kami memutuskan mencoba meminta Prof. Iwan Vanany, salah satu dosen kami di TI sebagai pembimbing kami.

2 Desember 2015 : Hari itu kami bertemu dengan Pak Iwan untuk pertama kalinya. Ya, pada waktu itu kami berkonsultasi tentang konsep Halal Supply Chain. Dan hasilnya beliau menyarankan dengan waktu penelitian yang relative singkat, yaitu satu bulan, ditambah waktu liburan, akhirnya kami beliau menyarankan untuk mengangkat tema customer awareness.

Lalu bagaimana pasca itu ? Hasilnya kami tidak berkumpul lagi. Ditambah Dita yang lomba di Yogyakarta, akhirnya setiap kali ingin kumpul hanya menjadi wacana belaka. Dan…. waktu terus berjalan. Diskusi hanya berlangsung dari whatsapp. Tanpa terasa sudah tanggal 20 Desember 2015. Horeee hari ibu….(?). Bukan itu mameeeen…itu artinya H-1 pengumpulan abstrak. Dan mungkin karena hanya 300 kata itulah kami di sini semua meremehkan…..

Singkat cerita sampailah pada tanggal 21 Desember 2015. Deadline tinggal beberapa jam lagi. Dan akhirnya….

Ya, akhirnya sekitar pukul 9 malam, terupload-lah abstrak 300 kata yang telah kami buat dengan “perjuangan yang sangat keras”. Waktu itu hashtagnya #GoesToThailand2016 . Entah abstrak super kilat yang belum sempat diasistensikan kembali ke Prof. Iwan dan belum di benarkan grammarnya ke saudaranya Dita yang pernah exchange di USA itu bisa lolos, entah lah kita juga tidak. Tahu. Yang terpenting berjuang. Berjuang hingga detik-detik akhir masa-masa peng-upload-tan….

Lolos Abstrak ? Perjuangan Baru Dimulai Guys….

1 Januari 2016. Jika berdasarkan website semestinya sudah pengumuman. Ya, pada waktu itu kami gelisah. Gelisah apakah hasil perjuangan “instan” ini membuahkan hasil. Hingga tengah malam, tidak ada notifikasi di email. Pun demikian di website dan di fanpage facebook AASIC. Yah, mungkin ditunda. Walaupun sempat muncul kekhawatiran tidak lolos, karena beberapa conference yang saya tahu pada waktu itu notifikasi biasanya cukup melalui email saja.

2 Januari 2016, akhirnya yang dinanti tiba. Notifikasi email masuk, dan kami dinyatakan lolos tahap abstrak. Itu artinya ? Kami bersiap melewatkan liburan semester dengan berjuang mengerjakan paper penelitian. Waktu itu saya langsung mengabari Prof. Iwan selaku supervisor kami. Yah, pengumuman itu rasanya pada waktu itu menjadi spirit baru di tengah hecticnya Ujian Akhir Semester 7.

Dan perjuangan dimulai. Liburan yang mungkin semestinya bagi beberapa anak di angkatan kami menjadi waktu terakhir bersantai sebelum berjuang tugas akhir, ada juga yang sudah memulai pengerjaannya dahulu, atau aktivitas lainnya bagi kami adalah perjuangan. Maklum, kami barangkali tidak memiliki pengalaman matang terkait bagaimana melakukan penelitian. Diskusi terus berlangsung, sesekali kami menemui advisor kami, dan kami pada waktu itu memutuskan menggunakan kuisioner untuk pengambilan data, serta decision tree untuk pengolahan data. Ditambah dengan saran Prof. Iwan untuk menggunakan crosstab analysis untuk mengetahui hubungan antar atributnya.

12 Januari 2016. Pada waktu itu di tengah sibuknya kami mengerjakan paper, sekali-sekali lah kami melakukan internalisasi. Niatnya nge-eskrim , malah larinya ke pizza hut. Eh ternyata Rahmadita mau traktiran ultah (?) padahal ga ultah.

“Mulyosari dulu, nanti lanjut ke destinasi lainnya”. Sepertinya memang iseng, tapi itu harapan kami. Yah, harapan yang pada akhirnya nanti kami tak menyangka akan sampai di sana.

15 Januari 2016. Hari itu kami mulai menyebar kuisioner. Sementara sudah H-15 pengumpulan. Hingga akhirnya pada tanggal 21 Januari kuisioner kami sudah mencapai target yang kami inginkan. H-9 pengumpulan, sementara kuisioner belum diolah, dan paper belum ditulis ._. . Singkat cerita paper kami pun berhasil terselesaikan dan akhirnya terkirim sebelum deadline berakhir.

(bersambung)

Jittakorn Hostel, Salaya, Mahidol

Sembari beristirahat menanti kabar baik

13 Mei 2016

09.26.

Categories: Campus, Thailand | Tags: , | Leave a comment

Menemukan Islam di Negara Minoritas

Tiga kali saya pergi ke Hong Kong, namun telah berjuta kali saya dibuat kagum oleh negara ini. Hong Kong, sebuah negara layaknya Singapore, one city one country ini dikenal sebagai salah satu negara maju yang menerapkan kedisiplinan tinggi. Ah, barangkali saya belum pernah merasakan ke Jepang yang katanya sudah menerapkan disiplin sejak zaman dahulu kala. Bahkan budaya-budaya mereka pun banyak diadopsi ke perusahaan-perusahaan multi nasional yang mereka miliki. Sebutlah Toyota, Astra, Honda, Suzuki dan lain sebagainya. Salah satunya kita mengenal budaya kerja 5S yaitu Seiri (Ringkas), Seiton (Rapi), Seiso (Resik), Seiketsu (Rawat), Shitsuke (Rajin). Ya, begitulah budaya mereka. Dan di negeri Hong Kong saya pun sudah cukup dibuat terperangah (semoga suatu saat saya berkesempatan mengunjungi Jepang).

Pantaslah Syaikh Muhammad Abduh, salah seorang ulama’ besar asal Mesir pun tak mampu berkata-kata ketika ditanya Renan, salah satu filsuf perancis yang juga merupakan pengamat dunia timur tengah bertanya, “Tolong tunjukkan satu komunitas muslim di dunia yang bisa menggambarkan kehebatan ajaran Islam!” Lalu Syaikh Muhammad Abduh pun hanya terdiam.

Satu abad kemudian Professor Hossein Askari, guru besar Fakultas Bisnis dan Hubungan Internasional Universitas George Washington ingin membuktikan tantangan Renan. Bersama rekannya, Professor Scheherazade S. Rehman, mereka melakukan riset dengan menyusun lebih dari seratus nilai-nilai luhur islam seperti kejujuran (shiddiq), amanah, keadilan, kebersihan, ketepatn waktu, empati, toleransi, dan sederet ajaran Al-Quran serta Akhlaq Rasulullah SAW. Nilai-nilai tersebut kemudian disederhanakan ke dalam dua belas dimensi prinsip ekonomi islam, kemudian terdapat sub divisi dari setiap dimensi tersebut.

Lalu bagaimana hasilnya? Jangan harap ada negara islam menempati posisi teratas. Jangnkan 5 besar, 10 besar bahkan sampai 25 besar pun tidak ada satupun negara yang mayoritas islam menempatinya. Peringkat pertama, kedua, dan ketiga ditempati oleh Irlandia, Denmark, dan Luxemburg. Sementara negara yang saya kunjungi, Hong Kong berada di peringkat 12. Lalu di mana negara islam? Oh, rupanya ia baru muncul di peringkat 33 dengan Negara Malaysia. Disusul Kuwait di peringkat 42, Kazakhstan di peringkat 54, Brunei peringkat 55, dan seterusnya. Sementara negara tempat islam diturunkan sendiri, Arab Saudi, justru berada di peringkat 91. Lalu bagaimana Indonesia? Ternyata ‘masih’ berada di ranking 104, dari 208 negara yang disurvei.

Tepatnya tahun 2005 lalu saya mendapatkan kesempatan untuk berceramah di sekitar 1000 jamaah pengajian Akbar Forum Muslimah Al-Fadhilah. Saya yang masih polos saja sudah bisa terkagum-kagum dengan kualitas perilaku masyarakat Hong Kong yang benar-benar mencerminkan keislaman. Tidak ada serondol menyerondol saat antri. Pertama kali datang ke bandara yang katanya berdiri di atas pulau buatan tersebut (bayangkan, satu pulau isinya bandara semua, betapa besarnya), sudah tertulis jelas bahwa merokok di sana di denda 5000 HKD (sekitar 7 juta). Pun demikian dengan lingkungan yang bersih, masyarakat yang ramah, serta cara berjalan orang Hong Kong yang seperti berlari. Saya pun awalnya kewalahan mengikuti penjemput saya yang berjalannya seperti ada mesin jet-nya di kakinya. Saya merasakan di sana waktu dihargai. Padahal prinsip mereka adalah time is money, waktu adalah uang, dan mereka sudah menghargai waktu tersebut dari cara berjalannya saja. Lalu bagaimana dengan umat islam yang berprinsip Al-Waqtu Ruuhun atau waktu adalah nyawa? Jika orientasi keduniaan mereka saja bisa membuat masyarakat Hong Kong begitu menghargai waktu, bagaimana dengna islam yang mengajarkan orientasi akhirat?

Kekaguman saya tidak berhenti sampai di situ. Ketika menaiki MTR (kereta bawah tanah) pun mereka begitu tertib. Satu persatu antri, padahal penumpang begitu padat. Di stasiun kereta bawah tanah terdapat line (garis) yang menunjukkan area penumpang keluar kereta, dan area penumpang masuk. Sepanjang saya 3 kali ke Hong Kong belum pernah saya melihat mereka melanggar. Pun demikian di MTR ketika berhenti di stasiun, mereka mendahulukan penumpang yang keluar. Setelah itu baru masuk. Beda cerita di Indonesia ketika pintu kendaraan umum terbuka, maka penumpang keluar dan masuk berdesakan berebut cepat-cepat.

Victoria Park, Hong Kong. Taman yang dijadikan sarana berolahraga muda mudi Hong Kong. Kebersihannya? Jangan ditanya lagi!

Di dalam kereta pun demikian. Beberapa kali saya melihat kaum mudanya pun peduli dengan bapak ibu atau mereka yang membawa anak. Ketika melihat orang tua yang berdiri atau anak-anak, mereka yang muda yang awalnya mendapat tempat duduk dikarenakan terlebih dahulu berada di kereta, langsung berdiri mempersilahkan orang tersebut untuk duduk. Masya Allah, saya hanya mengelus dada melihat peristiwa tersebut yang tidak hanya terjadi sekali, namun tak terhitung jumlahnya.

Masjid Ammar and Osman, Hong Kong

Masalah ketepatan waktu pun jangan ditanya. Ini yang saya rasakan ketika mendapatkan kesempatan menjadi delegasi Indonesia dalam Make A Difference Forum awal 2015 yang lalu. Acara selalu mulai dengan tepat waktu, bahkan kami para delegasi dari Indonesia pun sempat terlambat mengikuti acara yang telah kami pilih, sehingga kami ketinggalan rombongan dan harus merubah plan dengan cepat. Perlu diketahui dalam acara konfrensi yang sedikit nyentrik ini (karena berbeda dengan konferensi umumnya), dibentuk forum-forum kecil sesuai dengan bidang minat masing-masing yang diadakan dengan mengunjungi daerah-daerah terpencil di Hong Kong. Sehingga sebelum keberangkatan kita sudah memilih secara online akan mengikuti kelompok tour yang mana. Di situ pun terdapat jam keberangkatan peserta dari Kwai Fong Theathre menuju ke lokasi forum.

Pun demikian di jalanan, kendaraan-kendaraan pun patuh terhadap lampu lalu lintas. Di area pejalan kaki Hong Kong pun terdapat beberapa jalan yang sedikit timbul permukaannya, dan ternyata itu diperuntukkan untuk mereka yang buta. Sehingga di Hong Kong tidak aneh jika melihat orang buta berjalan sendiri, menyeberang sendiri tanpa ada yang menuntun dan ia pun juga tidak tertabrak mobil, sebab semua taat aturan.

Begitulah sekelumit kisah perjalanan saya selama tiga kali mengunjungi Hong Kong, tepatnya pada 2005, 2007, dan 2015 yang lalu. Kesan saya pun masih sama, Hong Kong makin bersih, dengan budaya displin yang tinggi. Jika di negara seperti Hong Kong saja yang islamnya minoritas mampu melaksanakan hal tersebut, bagaimana dengan negara kita yang islamnya mayoritas?

Categories: Hong Kong, Travelling | Tags: , | Leave a comment

#TravellingToHongKong #Day4: Hello Stranger :)

Pukul 04.30 aku terbangun. Masih terlampau pagi untuk sebuah negara bernama Malaysia. Ya, sebab di sini Subuh baru sekitar pukul 06.15 pagi. Namun pagi itu pukul 05.30 aku harus segera berangkat menuju airport Sultan Abdul Halim. Ya, tepat pada pagi ini, aku melanjutkan perjalanan ke Hong Kong. Untuk mengikuti forum keduaku, yang kali ini skala asia. Make A Difference Forum 2015. Sebuah forum yang di mana kita akan membicarakan kehidupan para Villagers serta nantinya kita langsung di ajak untuk meng-eksplore kehidupan pedesaan di Hong Kong.

Usai melaksanakan qiyamu lail, aku berkemas. Memaksakan diri mandi di tengah dinginnya Malaysia. Pukul 05.15, saya dan Ainun (rekan satu perjalanan yang juga lolos ke Hong Kong) melakukan check out dari penginapan. Kami bergegas turun dan di situ Bis Universiti Utara Malaysia ternyata telah menunggu.

Di tempat itu ternyata cukup ramai. Beberapa teman kami pun juga pulang pagi itu menuju Alor Setar. Saya, Ainun, dan Mas Aga (delegasi dari ITS, red) berjalan bersama-sama ke bandara.

Sesampai di bandara sekitar pukul 06.30 lekas kami menuju surau untuk melaksanakan Shalat Subuh terakhir kami di Malaysia. Pada pukul 08.30, saya dan Ainun berlepaslandas menuju kuala lumpur. Dan di sinilah sebuah pertemuan itu terjadi. #apasih

Hello Stranger

Perempuan berjilbab tertutup itu duduk di dekatku. Aku penasaran. Seumur-umur baru pertama kali bersebelahan langsung dengan seorang perempuan yang begitu tertutup, bahkan bercadar. Warnanya serba hitam, dan ia memakai syal bermotifkan bendera palestina. Penasaran, kuberanikan diri menyapanya.

Sarah namanya. Secara usia, ia berarti masih di bawahku. 19 tahun. Ia berkuliah di Universiti Islam Malaysia dengan mengambil jurusan Syariah. Tujuannya ke Kuala Lumpur ternyata untuk berlibur kembali pulang ke rumah keluarganya. Ia tidak sendiri. Ia pulang bersama temannya yang mengambil jurusan akuntansi di univeristas yang sama.

Perjalanan satu jam terasa singkat manakala diskusi tentang keislaman di Malaysia dilangsungkan. Saya banyak mendapat informasi tentang keislaman di Malaysia. Dan itu menjawab keheranan saya, sebab selama berada di Kuala Lumpur, saya tak pernah satupun melihat perempuan dan laki-laki berjalan berduaan, terutama penduduk lokalnya. Bahkan orang-orang yang saya temui di jalanan, yang mereka berwajah melayu semua berhijab. Sarah mengatakan malah beberapa daerah malah terdapat petugas atau polisi khusus yang menegur warganya jika menemukan berduaan, bergandengan tangan atau apapun itu apalagi jika mereka belum menikah. Bahkan ada pula daerah atau negara bagian mereka yang menerapkan aturan jika ketahuan berduaan akan langsung dinikahkan. Saya hanya bisa menggeleng-nggelengkan kepala mendengarnya.

Perjalanan masih berlangsung panjang. Kami bercerita tentang bagaimana masalah toleransi islam di Indonesia yang begitu tinggi. Pun demikian Sarah rupanya tertarik dengan bagaimana umat islam di Indonesia bisa mewarnai kondisi Indonesia, sebab sebagian besar penduduknya beragama islam.

Yang membuat saya kagum dengannya, saya mengamati selama kami bicara pada awalnya ia tak mau menatap wajah kami. Menundukkan pandangan matanya. Mungkin karena sepertinya dia merasa tidak enak, akhirnya sempat bertatap mata walau sepertinya ia malu. Mencoba peka dengan hal tersebut saya mengatakan, “It’s no problem, if you don’t see me, i know there is are some  muslimah who still do that.” Ia pun mengangguk dan kelihatan merasa lega.

Perjalanan satu jam menjadi tak terasa. Rasanya masih kurang untuk berbicara banyak dengannya. Sebenarnya saya berupaya meminta kontaknya, sebab mungkin dia suatu saat bisa saya wawancarai untuk dijadikan bahan tulisan saya. Namun, saya sungkan dan sepertinya dia mungkin tak mau memberikannya. Saya sempat sampaikan hal tersebut ke Asma, temannya yang berkuliah di jurusan akuntansi bahwasanya hal tersebut berlaku di Malaysia khususnya untuk perempuan seperti Sarah,  tidak akan sembarangan memberikan kontaknya kepada orang yang baru dikenal.

Tak terasa jam  menunjukkan 09.40. Kami pun mendarat di Bandara Alor Setar, Sultan Abdul Halim Airport. Seusai turun, kami memberanikan diri untuk mengajaknya berfoto bersama. Untungnya dia mau dan tak masalah baginya. Dan Cheeessss, finally sebuah kenangan manis terukir di Kuala Lumpur.

Maybe it’s not the last, Insya Allah

Selepas mengambil bagasi, kebetulan kami satu pesawat dengan Alisha, teman kami yang berkewarganegaraan Malaysia, salah satu volunteer di conference AUYS 2015. Pesawat kami masih pukul 16.30 sore, itu artinya kami masih punya sekitar 7  jam untuk menunggu. Namun, kami tak mungkin keluar bandara, karena itu terlalu singkat. Jadilah Alisha mengatakan, sebaiknya kami menunggu di bandara, sebab jika mau berjalan-jalan ke KL Sentral, untuk perjalan ke sana paling cepat menggunakan LRT saja membutuhkan waktu 1.5 jam sekali pergi. Padahal untuk penerbangan Internasional kami harus sudah 2 jam berada di bandara untuk amannya. Akhirnya kami menghabiskan waktu di bandara dengan berkeliling, dan makan di McD. Saya pun memutuskan untuk menghabiskan dengan menuliskan catatan perjalanan saya ini. Singkat cerita, sekitar 16.30, pesawat Air Asia AK-130 yang saya tumpangi lepas landas ke Hong Kong.

Assalamu’alaikum Hong Kong !

Pukul 20.30. Selama di pesawat saya duduk bersebelahan dengan Kakek Hyun, beliau berasal dari Korea. Sempat kami bercakap-cakap sebentar, dan saya cukup kagum ternyata beliau memiliki bahasa inggris yang bagus. Beliau bercerita sedang berlibur berdua dengan istrinya ke Hong Kong. Oh maaan, alangkah romantisnya. Hahaha..

Kami sampai dan segera menuju ke imigrasi. Bandara Hong Kong International airport, yang terletak di Chep La Kok Island, adalah bandara terbesar ketiga di dunia, menjadikan saya sempat ngos-ngosan karena saking jauhnya berjalan dan panjangnya antrian imigrasi.

Hingga akhirnya kami bertemu dengan peserta lain MaD Forum 2015 yang sudah kami chat dan komunikasi lewat whatsapp sebelumnya. Kami pun berkenalan satu sama lain, mulai dari UGM, Politeknik Sriwijaya, serta universitas lainnya. Selanjutnya kami berpisah. Ada yang menginap di alumni-nya, madsol kebtulan dia alumni insan cendekia, ada yang menginap di kos TKI, di mansion. Sedangkan saya sendiri termasuk beruntung mendapatkan penginapan gratis di Kedutaan Besar Indonesia Hong Kong.

Pukul 00.30. Aku merenung. Masih panjang perjalanan ini. Pertemuan dengan Sarah di pesawat kemarin menyadarkanku bahwa masih banyak ternyata umat islam yang terus berjuang dalam eksistensi dakwahnya. Aku menjadi penasaran, lalu bagaimana dengan kondisi islam di Hong Kong, sebuah negara yang begitu tinggi sekulerismenya? Ah aku tak tahu, dan berharap nanti di forum MaD Asia bertemu dengan Sarah-sarah lainnya, atau kawan lain dari Asia yang semoga bisa di ajak bertukar informasi.

Malam itu mataku terpejam. Atas kuasaNya, atas izinNya, akhirnya aku kembali menjejakkan kaki di negeri beton ini. 2005 dan 2007, ya dulu aku sempat menjejakkan kaki di sini untuk berdakwah di pengajian TKI. Dan semoga semangat militansi mereka tak kunjung padam.

Indonesian Embassy

Waktu Berkah Subuh

05.54

Categories: Hong Kong | Tags: | Leave a comment

Blog at WordPress.com.