Posts Tagged With: Sastra

Hujan

Pukul tiga lebih tiga puluh
Dan kamu membangunkanku
Suara yang begitu lama kurindu
Adalah kamu yang dulu pernah singgah
Dan kau berubah menjadi kemarau berkepanjangan
Aku berkelana dari satu ruang ke ruang yang lain
Namun tak pernah ku bertemu
Kamu kembali
Sebagai rintik-rintik kecil
Walau sebentar
Namun cukup menjadi alasanku
Untuk singgah kembali
Setidaknya kamu tak lupa

Categories: Tulisan | Tags: , | Leave a comment

Pada Suatu Hari Nanti :)

Pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi…
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau tak akan kurelakan sendiri…

Sebab tiada sebuah keabadian dalam jagad raya ini, kecuali Dia dan mungkin beberapa hal atas kehendakNya. Adalah Tuhan yang menciptakanku menjadi seperti ini. Menjadi manusia biasa yang tertakdirkan mencintainya karenaNya. Aku tahu bahwa waktu terus berjalan. Sementara aku semakin dewasa, dan kau pun juga. Lalu lisan ini masih terkunci, dan waktu kian hari kian mendekati maut yang menanti. Begitu pun dengan dirimu. Barangkali hanya isyarat-isyarat kecil yang semu yang mampu menjawab keraguan ini. Namun jawaban itu kian hari kian semu, hingga ia hilang dalam kefanaan. Sebelum maut menjemput barangkali tentu aku ingin sekedar berkata kepadamu. Namun adakah keterizinan yang diberikan oleh waktu padaku?  Atau barangkali takdir mengatakan bahwa aku kan menemanimu dari alam sana?

Pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi…
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati…

Sebab itulah diriku. Lelaki yang hanya mampu membisukan cinta kepadamu melalui bait-bait yang tak berujung, sebab ujungnya adalah dirimu. Sementara suara ini kian hari kian mengecil hingga hanya menyisakan aksara tanpa suara. Lalu dirimu semakin nyaring berkata, namun barangkali bukan untukku. Aku tak tahu apakah catatan ini pernah sampai kepadamu. Sebab barangkali aku terlalu pemalu kepada kawan-kawan sejenismu. Begitu pun kamu, barangkali kamu memiliki surat cinta yang tak pernah sampai, sekalipun aku yakin bukan untukku. Namun, adakah yang lebih indah selain menyemukan namamu dalam rentetan aksara? Sekalipun takkan ada balasan yang kutunggu, biarlah ia memantul menjadi refleksi yang berhias mahligai cintamu kepadanya.

Pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi…
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau tak akan letih-letihnya kucari…

Sebab itulah aku. Izinkan aku mengatakan padamu bahwa aku terlanjur mencintai aksara karenaNya. Ingin jiwa ini terwaqafkan untuk menghasilkan berjuta karya yang menginspirasi manusia. Dan di antara barisan huruf itu, terdapat namamu. Ya! Namamu yang selalu membayang-bayangiku manakala kumenarikan jemari di atas keyboard ini. Sekalipun suatu saat nanti aku tak dikenal lagi, bahkan olehmu, yang saat ini terlalu dekat dengan mereka bahkan dia. Maka takkan lelah jemari ini menari. Menyisipkan namamu di antara prosa ini. Menarikan nyanyian cinta ini lewat kebisuan lisan, dan suara merdu goresan aksara ini. Serta menjadikanmu inspirasi dalam bait-bait cinta ini.

– Interpretasi Puisi –
Sapardi Djoko Damono

Categories: Puisi | Tags: | Leave a comment

(Mungkin) Kamu Tahu

Jika diberi kesempatan tuk memutar waktu izinkan aku memutarnya kembali di masa lalu. Saat pertemuanku denganmu belum terukir. Saat aku masih dibekap pilihan di persimpangan jalan kehidupan. Barangkali aku bisa memilih di mana persimpangan yang tak ada dirimu di sana. Menggoreskan cerita bersama seseorang yang telah pasti. Mengukir jejak bersama sosok yang bukan dirimu. Apakah ini keterpaksaan atau ketulusan yang harus kujalani, sementara kamu kian hari kian menjauh.

Menjaga hati, pandangan, lisan, pikiran, dan dari fitnah yang timbul. Jika itu tujuanku dan tujuanmu, semoga Tuhan tetap meluruskannya. Menjaganya sebagaimana ia menyeimbangkan semesta dalam lintasannya. Menguatkannya agar pintu-pintu itu tertutup, dan hanya ikrar suci yang mampu membukanya. Ketika waktu itu tentu tiba. Tapi itu kian hari kian kuat. Kian hari batas-batas itu kian terasa. Hingga ketersemuan yang kita harapkan pun kian fana. Adakah perasaan yang kian hari kian tampak, sementara diri kita terbekap dalam kesakralan ikrar yang kian semu?

Kepadamu. Izinkan aku berkata bahwa aku merindu dahulu. Manakala batas-batas itu menjaganya dengan sendirinya. Tidak pula kau perkuat dan kuperkuat, sebab kita telah percaya bahwa Tuhan telah menguatkannya. Manakala pandangan tetap saling bertatap namun menjaga. Manakala lisan ini tetap saling bertegur namun tak berlebih. Dan langkah ini kian hari kian selaras walau tak tampak.

Sebab barangkali kamu telah tahu, dan kita telah saling tahu. Kita bukanlah Ali dan Fathimah, yang dalam saling ketertahuannya mampu menjaga, mampu menahan, pun juga mampu biasa. Kita adalah manusia biasa, manusia akhir zaman yang tinggal dalam keterasingan yang kian hari kian nyata.

Lalu manakala kamu mengetahui, pun demikian demikian dengan diriku. Sementara lisan ini kian membisu. Adakah ia suatu saat kan terbuka dalam suatu ruang waktu?

Categories: Tulisan | Tags: | Leave a comment

Tanpa Karena

Orang-orang berkata, “Aku mencintainya sejak pandangan pertama bertemu,”. Maka itulah penyempitan makna cinta. Bagaimana bisa manusia mencintai, sedang mereka belum mengetahui kepribadian sosok yang dicintai. Ibarat kamu membeli buah. Kamu hanya tahu keindahan warna dan rupanya. Namun tak pernah kamu tahu akan isinya sebelum kamu mampu membuka lapis demi lapisnya. Atau kamu nantinya akan mengeluh manakala membukanya? Ibarat kamu memakan buah itu, lalu kamu memuntahkannya sebab rasanya terlalu masam. Maka akankah kau campakkan dia manakala kau tahu tak sesuai harapanmu?

Tapi mereka bergeming. Sebab cinta pada pandangan pertama hanyalah sebuah pertanda. Hanyalah sebuah isyarat belaka untuk berjalan lebih jauh. Bukankah Tuhan menciptakan mata untuk menangkap getaran-getaran dari makhluk ciptaanNya?

Ada pula orang berkata, “Aku mencintainya sebab wajahnya laksana purnama,”. Maka cintanya hanya berdasarkan suatu hal yang fana. Andai tua nanti barangkali tetap seperti purnama, namun tanpa sinar mentari yang menyinarinya. Lalu tetapkah mereka mencintai purnama tanpa sinarnya?

Ah, mereka lagi – lagi bergeming. Bagi mereka wajah adalah langkah awal tuk mencintai lebih dalam. Bagaimana mungkin kami kan tertarik dengannya lebih jauh, jika melihatnya saja tidak membuat mata ini terlabuhkan? Lagi-lagi mereka tetap bersikukuh, bahwa wajah barangkali adalah segalanya. Sebab mereka berikrar nantinya seiring berjalannya waktu, barangkali wajah itu kan terlebur, namun tidak dengan hati-hati mereka.

Hingga tibalah kita pada golongan yang barangkali kecil jumlahnya. Mereka berkata, “Aku menyukainya, tapi aku tak pernah tahu mengapa,”. Kata-kata itu seringkali muncul dari sebagian kecil di dunia ini. Terkadang kita tidak memahami. Sebab cinta selalu punya alasan tersendiri untuk hadir. Cinta selalu memiki motif dibalik ketersembunyiannya dalam hati manusia. Lalu jika cinta itu hadir tanpa alasan, apakah itu hanya ketersmuan belaka?

Namun mereka bergeming. Mereka ceritakan dongeng nenek moyang mereka bahwa ada sepasang pasangan tua. Yang satu telah sakit jiwa hingga membuatnya hilang ingatan. Satunya telah tua renta. Mereka terpisah jauh karena pria tersebut tak sanggup lagi merawatnya dan hanya hidup sebatang kara. Sementara anak-anaknya telah merantau semua. Tinggallah ia sendiri di rumahnya. Sesekali tetangganya membantunya dalam sehari-hari. Sementara ia tak pernah kekurangan sebab anak-anaknya selalu mengiriminya.

Lalu pasangannya, seorang wanita tua renta, tinggal dua puluh kilo meter jauh-nya di sebuah panti pengasuhan. Pria itu setiap pagi datang untuk menyuapinya. Mendengar keluh kesah wanita itu. Menghapus air matanya manakala ia menangis. Menatap matanya dengan penuh cinta sekalipun tatapannya kian hari kian kosong. Ketika di tanya tentang pria itu, wanita itu hanya menggeleng tak tahu apa-apa. Sementara pria itu dengan senyum tulusnya berkata, “Ia adalah istriku, separuh agamaku, pengisi ruang-ruang cintaku,”.

Cinta tanpa karena barangkali telah tergambarkan diantara mereka berdua. Bukan karena rupa, sebab mereka telah renta. Bukan karena hati, sebab separuhnya telah hilang ingatan bahkan sakit jiwa. Bukanpula karena harta sebab mereka tak lagi miliki apa-apa. Adalah ikatan abstrak yang barangkali tak mampu manusia menjelaskannya. Cukup satu kata Kun Fayakun dari Tuhan Yang Maha Kuasa, maka jadilah sebuah cinta tanpa karena.

Lalu jika cintamu masih terkandung suatu ‘karena’, bisakah kau katakan itu sebuah ketulusan cinta?

Categories: Tulisan | Tags: , | Leave a comment

Blog at WordPress.com.