Posts Tagged With: Sastra

Hujan Telah Turun

Hujan telah turun. Membasahi bumi. Yang sekian lama bermesra dengan langit. Tapi langit hanya memberikan mentari. Ia hanya berpikir memberikan cerahnya cinta. Padahal cinta bukanlah soal cerah belaka. Ia terkadang bermuram durja. Laksana awan mendung yang menutupi mentari. Ia hadir buukan untuk membawa kesedihan. Namun semata untuk mendewasakan. Sebab rasa muram durja selalu ada sebabnya. Dan manusia dituntut dengan kedewasaannya mampu tuk menyeleseikannya. Serta berharap sadar, bahwa senantiasa ia harus menyebut dan mengingat akan Tuhannya.

Hujan telah turun. Membasahi padang rumput. Yang kian hari kian tandus. Hingga rumput pun menguning, mengering dan semakin hilang dari pandangan. Padahal mereka tiada henti bertasbih kepada Tuhannya. Ah betapa malu kita sebagai manusia. Yang sedikit sedikit menggerutu akan ketetapanNya, padahal berjuta nikmatNya telah diberikan cuma-cuma. Sementara rerumputan yang bahkan menderita karena hujan tak kunjung turun tetap bertasbih kepadaNya.

Hujan telah turun. Kembali ke peraduannya. Kembali ke asalnya. Ia kembali dengan bentuk yang berbeda. Menghadirkan kesejukan setelah sejenak singgah di langit. Menjadi tetesan tetesan kecil yang menghujam dunia dari angkasa. Jika saja ia mau barangkali takkan kembali ia kepada bumi. Namun hujan terlalu berbakti kepada bumi. Sekalipun di sana ia tercemari ia tetap kembali. Membawa kesejukan yang selalu dinikmati.

Hujan telah turun. Menyertainya dengan langit yang kelabu. Membawa awan dengan guntur yang menggelegar. Menghadirkan angin yang berembus kencang. Hingga hadirkan ketakutan bagi siapapun yang terjebak di tengahnya. Namun ia hanya sementara. Sebab ketika reda, ia hadirkan pelangi dan mentari yang kembali bercahaya. Membuat mata takjub akan kuasaNya.

Categories: Tulisan | Tags: , | Leave a comment

Menjauhimu

Sebab pertemuan selalu terjadi di manapun, kapan pun, dan dengan siapa pun bahkan sekalipun kamu tak mengharapkannya. Mungkin itulah yang terbersit dalam diriku tentang dirimu. Bahwa kamu lah yang menjadikan hati – hati ini tertawan. Bahwa kamu lah yang membuat pikiran ini kadang membayang. Kalau aku bertanya kepada hati, ia tak pernah mau menjawab. Mengapa ia tertambatkan kepadamu. Barangkali ia terlalu malu, atau tak tahu. Ya, benar kata orang bijak bahwa ia bisa hadir tanpa sebuah alasan.

Diriku dan dirimu barangkali tak pernah merencanakan. Tentang percakapan yang tiba-tiba berbuah kedekatan dengan sendirinya. Tentang cerita-cerita hidup yang ternyata sama. Visi hidup yang sama. Sampai pada suatu titik sulit dicari perbedaan antara kita. Hingga suatu hari muncul pertanyaan yang sama, lantas mau apakah kita dengan kesamaan-kesamaan yang barangkali telah ditakdirkan olehNya?

Pepatah berkata tidak ada keabadian di dunia, sebab kita hanyalah manusia. Bukan Tuhan yang Maha Kuasa, bukan pula Dewa-Dewi yang sakti mandraguna. Tak selamanya pula kesamaan itu kan bertahan. Sebab seringkali kita terlena, hingga dalam perjalanan kehidupan akhirnya kita temukan irisan-irisan perbedaan. Ia datang dengan sendirinya. Sama dengan pertemuan kita dulu, demikian pula ketika kita dalam fase menemukan kesamaan.

Hingga sampailah kita pada sebuah titik perbedaan. Kita pun menjauhkan satu sama lain. Barangkali kita sudah saling tahu namun berkata pun tak mampu. Tentang sesuatu yang pernah membuat Ali dan Fathimah membisu. Bukankah seharusnya kita makin penasaran? Ah, tapi itulah anomali cinta. Semakin ia berkembang semakin ia menjauh. Membuat jarak yang kian jauh dalam kefanaan.

Lalu aku khawatir. Adakah kita akan dalam posisi hampir tak mengenal. Atau bahkan kita kan saling melupakan. Kamu pun tak lagi mudah tersenyum seperti dulu. Sebab hanya tatapan dingin yang membalas sapaanku. Hingga tatap mata pun tak lagi bertemu sekalipun kita berpapasan dalam ruang waktu.

Pada akhirnya barangkali kita menyadari. Bahwa keterjauhan ini telah tersketsa oleh sang Maha Pencipta. Sebab menjauhimu bukan berarti tak mencintaimu. Menjauhimu adalah caraku, caramu, cara kita bahkan caraNya untuk menjaga. Menjaga akan kefitrahan ini. Menjaga hingga akad terlantunkan dalam ikatan suci.

Categories: Tulisan | Tags: , , | Leave a comment

Hujan dan Bumi

Aku berdiri di depan jendela. Memandang langit yang kian hari kian bermuram durja. Kata orang inilah hujan yang tertunda. Hingga ia tak terprediksi seperti dahulu kala. Ingin aku bertanya kepada langit. Mengapa ia menahan hujan yang telah lama ingin turun. Ia ingin menyapa kekasihnya di dunia. Sajak berkata, bahwa hujan hadir di Bulan Juni. Namun tidak untuk sekarang. Ia bisa turun sesuka hati. Membuat bumi merana. Adakah kekasih lain di langit sana yang membuat hujan tak lagi menyambangi dunia?

Tidak ada yang tahu di langit sana. Pun demikian dengan bumi. Hujan yang tlah lama tak menyapa pada akhirnya turun juga. Melepas rindu pada bumi yang hanya bisa menunggunya. Barangkali  hujan lupa bahwa berlebihan pun tak baik. Hingga luapan air pun membuat bumi merintih. Membasahi bagian yang seharusnya tak terkena air. Barangkali karena rindu yang menggunung, hujan pun lupa bahwa bumi punya keterbatasan. Ya, keterbatasan dalam menerima cintanya. Ataukah ada separuh hati yang terisi kan oleh selainnya?

Hujan tetap turun dengan derasnya. Sederas air mata rindu manusia yang lama tak berjumpa. Tak peduli dengan sakitnya bumi. Namun bumi tetaplah menerima. Ia tak pernah bergeser pun dari posisinya. Menerima rintik hujan apa adanya. Boleh jadi ketersakitan itu telah pergi bersama rindu. Bahkan sesekali menutup telinga kala guntur berbicara. Ya benarlah jika cinta tanpa ketersakitan, barangkali itu hanyalah sebuah kefanaan.

Perlahan ia mulai reda. Membuat angkasa tak lagi bermuram durja. Bahkan mentari siap tuk mengangkasa. Melukis gapura tujuh warna tuk membelah cakrawala. Agar bumi tersenyum walau hanya sementara.

Namun itu hanya sesaat. Hujan begitu melankolis. Ia berjanji. Esok akan menyambangi bumi kembali. Sekalipun semakin tajam menghujam gravitasi. Lalu bumi ? Ia semakin kuat. Menerima cinta yang kian deras dari hujan.

Categories: Cerita | Tags: | Leave a comment

Seharusnya

Sebab kamu hanya mengenal kata “tepat waktu”. Sementara Tuhan mengetahui kata “di waktu yang tepat”.

Mimpi mimpi boleh saja diimpikan setinggi angkasa. Bahkan semustahil apapun mimpimu tak ada larangan tuk membangun imaji. Melebihi ruang batas tempat serta waktu. Kamu pun bebas mau mengingatnya dalam angan, menulisnya, menggambarkannya, atau bahkan memvisualisasikannya ke dalam gerak. Ia juga bebas hadir kapanpun. Bisa saja ia hadir hari ini besok telah berganti. Atau bahkan ia telah hadir sepanjang kamu hidup namun dalam sekejap kau hilangkan.

Namun kadang kamu lupa. Bahwa impianmu hanyalah tentang kamu dan sekitarmu. Padahal itu tentang kamu, sekitarmu, dan Tuhanmu. Bukankah Dia yang Maha Kuasa atas segala sesuatu ? Bukankah Dia yang memegang ketetapan itu ?

Kamu berhak menuliskan.Tentang impianmu. Tentang waktu kamu mencapainya. Namun tetaplah saja Tuhan yang memutuskan. Sebab kamu hanya mengenal kata “tepat waktu”. Sementara Tuhan mengetahui kata “di waktu yang tepat”.

Yah seharusnya kamu menyadari hal ini dari dulu. Sehingga kamu tidak lalai dalam mengingat Tuhanmu. Ya… seharusnya. Barangkali keterbalikan dari ujian yang diberikan Tuhanmu ada sebuah kesuksesan besar yang menanti. Dan kamu tak pernah tahu. Sebab itu adalah misteri illahi rabbi.

Categories: Tulisan | Tags: ,

Blog at WordPress.com.