Posts Tagged With: Sastra

Menyesal Mengenalmu

Dulu kau selalu berkata, jika banyak kawan banyak cerita, banyak canda dan banyak tawa. Hingga aku percaya saja akan perkataanmu. Membuatku mengenali satu demi satu kawanku. Begitu luas dunia hingga terkadang aku sampai lupa beberapa kawanku yang pernah kukenali sebelumnya. Namun dunia begitu sempit manakala aku mengenali seseorang yang ternyata seorang kerabat dari kawanku.

Berjalannya waktu membuatku semakin mengenal banyak orang. Benar katamu, akan banyak cerita, canda dan tawa yang menghiasi perkenalanku. Meski sebenarnya aku tak pernah tahu untuk apa kelak aku mengenal banyak orang, tapi aku begitu mempercayaimu. Sebab kamu tidak berdusta kepadaku. Cukup canda, tawa, dan cerita menjadi bukti nyata kebenaran perkataanmu.

Sebut saja saat ini kenalanku telah beribu-ribu. Hingga aku merasa bahagia. Namun hei, tunggu! Kian har cerita, canda, dan tawa kian membosankanku. Barangkali ini sebuah kehampaan sementara. Atau mungkin aku perlu beristirahat sejenak. Nyatanya kehampaan itu tak kunjung pergi. Aku berazzam ingin melanjutkan perjalanan ini, sementara hati tak kunjung berdamai. Apakah cukup sampai di sini diriku tuk kembali mengenali?

Hingga aku sadar dan aku menyesal. Bukan menyesali perkenalanku dengan ribuan orang. Bukan pula menyesali canda, tawa, dan cerita yang telah terlampau.

Mengenalmu adalah sebuah penyesalan terbesarku. Kupikir kau akan berlalu seperti ribuan orang yang kukenali. Namun tidak dengan dirimu. Kamu hadir sebagai penyesalan yang takkan mungkin kuhapuskan dalam hidupku. Sebab aku tidak pernah sanggup menghapusmu sekalipun telah ribuan orang kukenali.

Mengenalmu adalah sebuah penyesalan terbesarku, tapi jika tidak mengenalmu barangkali tak pernah ku temukan orang yang mampu bertahan di antara ribuan orang dalam anganku.

Categories: Tulisan | Tags: , | Leave a comment

Mencintaimu adalah Ketersakitan

Mencintaimu adalah ketersakitan…
Manakala para sahabat Rasulullah dalam suatu perang meminta harta rampasan perang
Namun Rasulullah tak memperkenankannya sembari berkata, “Jika kalian disuruh memilih antara harta atau cinta dariku, manakah yang kalian pilih?”
Lalu sahabat pun menangis dan memilih cinta kedua. Cinta kepada Rasulullah.

Mencintaimu adalah ketersakitan. Ketika dua kali sehari setiap harinya kau taklukkan Jabal Nur. Tuk mengantarkan sebungkus makanan untuknya. Sementara dirimu sedang hamil muda, namun langkahmu tak pernah surut selama 40 hari 40 malam. Itulah dirimu, Ummul Mukminin, Siti Khadijah.

Mencintaimu adalah ketersakitan. Dalam Gua Tsur, manakala dirimu merelakan kaki tuk disengat kalajengking, sebab memilih tak bergerak sedikit pun tuk karena takut mengganggu Rasulullah yang sedang tidur di atas kakimu. Hingga air matamu menetes mengenai Rasulullah dan membangunkan beliau. Seraya dengan mukjizatNya, kau sembuh manakala diusap dengan air liur Rasulullah. Itulah dirimu, Abu Bakar Ash Shiddiq.

Mencintaimu adalah ketersakitan. Manakala kau memilih meniduri tempat tidurnya, tuk mengelabui kafir quraisy yang bersiaga tuk membunuhnya. Hidup dan mati kau pertaruhkan. Hingga Allah pun menyelamatkanmu dan RasulNya, itulah dirimu Ali bin Abi Thalib.

Mencintaimu adalah ketersakitan. Manakala puluhan sahabat-sahabatmu melingkupimu di atas Bukit Uhud. Tak peduli dengan ratusan anak panah menancap di tubuh namun kau tetap tegak berdiri, sembari bershalawat dan berdoa kepadaNya.

Mencintaimu adalah ketersakitan. Ketika kau memilih memenuhi panggilanNya, sementara ada umat yang kau tinggalkan. Namun kau memilihNya. Sebab kau memilih mendoakan mereka di saat mereka mencela dan barangkali bersuudhon kepadamu. Sebab barangkali hanya Allah dan dirimu yang mengetahui bahwa kamu mencintai mereka karenaNya.

Categories: Tulisan | Tags: , , | Leave a comment

Mengapa Memilihku?

2 tahun yang lalu kuberanikan diri menuliskanmu dalam resolusiku. Namun entah mengapa Tuhan selalu berkata tidak. Pun demikian di tahun depannya. Lalu menyerahkah aku lantas tak menuliskanmu? Tidak ! Aku tetap menulisnya sebagai impian yang tak kunjung sampai. Benar, barangkali kehendakNya selalu datang tak disangka-sangka. Hingga tak terasa esok hari ku kan berada di sebuah tanah dambaan. 

Malam ini barangkali seharusnya aku telah memejamkan mata. Beristirahat tuk perjalanan panjang esok hari. Namun tak aku tak bisa memejamkan mata. Ketenangan yang seharusnya kuperoleh sepertinya tinggal angan. Aku insomnia. Bayang-bayang tentangNya terus mengawang dalam angan. Sampai timbul sebuah tanya, layakkah aku mendapatkannya? 

Mencoba merefleksi diri hingga berujung kepada sebuah kesimpulan. Terlalu banyak dosa yang telah kuperbuat padaNya.Tiada hari tanpa kekhilafan. Bahkan amal ibadah pun tak istiqomah. Seringkali bahkan aku menomorduakanNya. Hingga berujung pada kesimpulan bahwa tak layak aku dipilihNya. 

Masih terjaga aku masih tak mengerti. Padahal di sana banyak para hafidz Quran yang tak Kau pilih. Masih banyak para asatidz yang tiada henti menggemakan kalam illahi. Banyak pula para hizbullah yang bahkan belum sempat merasakan tanah impian itu. Atau para aktivis militan dakwah yang tiada henti menyeru padaMu. Namun mengapa Engkau tetap memilihku? 

Aku terjaga dan terus terjaga. Berharap segera terpejam. Sambil lisan ini terus berucap tiada henti kepadaNya. Menyambut esok hari yang panjang. Labbaikallahumma Labbaik…. 

Categories: Tulisan | Tags: , | Leave a comment

Jika…

Jika cinta adalah aksara
Biarlah aku menjadi pena
Sebab dengannya kan kugoreskan berjuta cerita
Agar ia tetap ada manakala aku tiada

Jika cinta adalah pena
Biarlah aku menjadi tinta
Sebab dengannya kan tersketsakan keindahannya
Agar ia tervisualisasi sepanjang masa

Jika cinta adalah tinta
Biarlah aku menajadi penutupnya
Sebab dengannya kan kubuat ia tetaplah cair
Agar ia tetap mampu menggoreskan cerita bersama pena

Categories: Puisi | Tags: , | Leave a comment

Blog at WordPress.com.