Posts Tagged With: Prosa

Mencintaimu adalah Ketersakitan

Mencintaimu adalah ketersakitan…
Manakala para sahabat Rasulullah dalam suatu perang meminta harta rampasan perang
Namun Rasulullah tak memperkenankannya sembari berkata, “Jika kalian disuruh memilih antara harta atau cinta dariku, manakah yang kalian pilih?”
Lalu sahabat pun menangis dan memilih cinta kedua. Cinta kepada Rasulullah.

Mencintaimu adalah ketersakitan. Ketika dua kali sehari setiap harinya kau taklukkan Jabal Nur. Tuk mengantarkan sebungkus makanan untuknya. Sementara dirimu sedang hamil muda, namun langkahmu tak pernah surut selama 40 hari 40 malam. Itulah dirimu, Ummul Mukminin, Siti Khadijah.

Mencintaimu adalah ketersakitan. Dalam Gua Tsur, manakala dirimu merelakan kaki tuk disengat kalajengking, sebab memilih tak bergerak sedikit pun tuk karena takut mengganggu Rasulullah yang sedang tidur di atas kakimu. Hingga air matamu menetes mengenai Rasulullah dan membangunkan beliau. Seraya dengan mukjizatNya, kau sembuh manakala diusap dengan air liur Rasulullah. Itulah dirimu, Abu Bakar Ash Shiddiq.

Mencintaimu adalah ketersakitan. Manakala kau memilih meniduri tempat tidurnya, tuk mengelabui kafir quraisy yang bersiaga tuk membunuhnya. Hidup dan mati kau pertaruhkan. Hingga Allah pun menyelamatkanmu dan RasulNya, itulah dirimu Ali bin Abi Thalib.

Mencintaimu adalah ketersakitan. Manakala puluhan sahabat-sahabatmu melingkupimu di atas Bukit Uhud. Tak peduli dengan ratusan anak panah menancap di tubuh namun kau tetap tegak berdiri, sembari bershalawat dan berdoa kepadaNya.

Mencintaimu adalah ketersakitan. Ketika kau memilih memenuhi panggilanNya, sementara ada umat yang kau tinggalkan. Namun kau memilihNya. Sebab kau memilih mendoakan mereka di saat mereka mencela dan barangkali bersuudhon kepadamu. Sebab barangkali hanya Allah dan dirimu yang mengetahui bahwa kamu mencintai mereka karenaNya.

Categories: Tulisan | Tags: , , | Leave a comment

Mengapa Memilihku?

2 tahun yang lalu kuberanikan diri menuliskanmu dalam resolusiku. Namun entah mengapa Tuhan selalu berkata tidak. Pun demikian di tahun depannya. Lalu menyerahkah aku lantas tak menuliskanmu? Tidak ! Aku tetap menulisnya sebagai impian yang tak kunjung sampai. Benar, barangkali kehendakNya selalu datang tak disangka-sangka. Hingga tak terasa esok hari ku kan berada di sebuah tanah dambaan. 

Malam ini barangkali seharusnya aku telah memejamkan mata. Beristirahat tuk perjalanan panjang esok hari. Namun tak aku tak bisa memejamkan mata. Ketenangan yang seharusnya kuperoleh sepertinya tinggal angan. Aku insomnia. Bayang-bayang tentangNya terus mengawang dalam angan. Sampai timbul sebuah tanya, layakkah aku mendapatkannya? 

Mencoba merefleksi diri hingga berujung kepada sebuah kesimpulan. Terlalu banyak dosa yang telah kuperbuat padaNya.Tiada hari tanpa kekhilafan. Bahkan amal ibadah pun tak istiqomah. Seringkali bahkan aku menomorduakanNya. Hingga berujung pada kesimpulan bahwa tak layak aku dipilihNya. 

Masih terjaga aku masih tak mengerti. Padahal di sana banyak para hafidz Quran yang tak Kau pilih. Masih banyak para asatidz yang tiada henti menggemakan kalam illahi. Banyak pula para hizbullah yang bahkan belum sempat merasakan tanah impian itu. Atau para aktivis militan dakwah yang tiada henti menyeru padaMu. Namun mengapa Engkau tetap memilihku? 

Aku terjaga dan terus terjaga. Berharap segera terpejam. Sambil lisan ini terus berucap tiada henti kepadaNya. Menyambut esok hari yang panjang. Labbaikallahumma Labbaik…. 

Categories: Tulisan | Tags: , | Leave a comment

Hujan Telah Turun

Hujan telah turun. Membasahi bumi. Yang sekian lama bermesra dengan langit. Tapi langit hanya memberikan mentari. Ia hanya berpikir memberikan cerahnya cinta. Padahal cinta bukanlah soal cerah belaka. Ia terkadang bermuram durja. Laksana awan mendung yang menutupi mentari. Ia hadir buukan untuk membawa kesedihan. Namun semata untuk mendewasakan. Sebab rasa muram durja selalu ada sebabnya. Dan manusia dituntut dengan kedewasaannya mampu tuk menyeleseikannya. Serta berharap sadar, bahwa senantiasa ia harus menyebut dan mengingat akan Tuhannya.

Hujan telah turun. Membasahi padang rumput. Yang kian hari kian tandus. Hingga rumput pun menguning, mengering dan semakin hilang dari pandangan. Padahal mereka tiada henti bertasbih kepada Tuhannya. Ah betapa malu kita sebagai manusia. Yang sedikit sedikit menggerutu akan ketetapanNya, padahal berjuta nikmatNya telah diberikan cuma-cuma. Sementara rerumputan yang bahkan menderita karena hujan tak kunjung turun tetap bertasbih kepadaNya.

Hujan telah turun. Kembali ke peraduannya. Kembali ke asalnya. Ia kembali dengan bentuk yang berbeda. Menghadirkan kesejukan setelah sejenak singgah di langit. Menjadi tetesan tetesan kecil yang menghujam dunia dari angkasa. Jika saja ia mau barangkali takkan kembali ia kepada bumi. Namun hujan terlalu berbakti kepada bumi. Sekalipun di sana ia tercemari ia tetap kembali. Membawa kesejukan yang selalu dinikmati.

Hujan telah turun. Menyertainya dengan langit yang kelabu. Membawa awan dengan guntur yang menggelegar. Menghadirkan angin yang berembus kencang. Hingga hadirkan ketakutan bagi siapapun yang terjebak di tengahnya. Namun ia hanya sementara. Sebab ketika reda, ia hadirkan pelangi dan mentari yang kembali bercahaya. Membuat mata takjub akan kuasaNya.

Categories: Tulisan | Tags: , | Leave a comment

Menjauhimu

Sebab pertemuan selalu terjadi di manapun, kapan pun, dan dengan siapa pun bahkan sekalipun kamu tak mengharapkannya. Mungkin itulah yang terbersit dalam diriku tentang dirimu. Bahwa kamu lah yang menjadikan hati – hati ini tertawan. Bahwa kamu lah yang membuat pikiran ini kadang membayang. Kalau aku bertanya kepada hati, ia tak pernah mau menjawab. Mengapa ia tertambatkan kepadamu. Barangkali ia terlalu malu, atau tak tahu. Ya, benar kata orang bijak bahwa ia bisa hadir tanpa sebuah alasan.

Diriku dan dirimu barangkali tak pernah merencanakan. Tentang percakapan yang tiba-tiba berbuah kedekatan dengan sendirinya. Tentang cerita-cerita hidup yang ternyata sama. Visi hidup yang sama. Sampai pada suatu titik sulit dicari perbedaan antara kita. Hingga suatu hari muncul pertanyaan yang sama, lantas mau apakah kita dengan kesamaan-kesamaan yang barangkali telah ditakdirkan olehNya?

Pepatah berkata tidak ada keabadian di dunia, sebab kita hanyalah manusia. Bukan Tuhan yang Maha Kuasa, bukan pula Dewa-Dewi yang sakti mandraguna. Tak selamanya pula kesamaan itu kan bertahan. Sebab seringkali kita terlena, hingga dalam perjalanan kehidupan akhirnya kita temukan irisan-irisan perbedaan. Ia datang dengan sendirinya. Sama dengan pertemuan kita dulu, demikian pula ketika kita dalam fase menemukan kesamaan.

Hingga sampailah kita pada sebuah titik perbedaan. Kita pun menjauhkan satu sama lain. Barangkali kita sudah saling tahu namun berkata pun tak mampu. Tentang sesuatu yang pernah membuat Ali dan Fathimah membisu. Bukankah seharusnya kita makin penasaran? Ah, tapi itulah anomali cinta. Semakin ia berkembang semakin ia menjauh. Membuat jarak yang kian jauh dalam kefanaan.

Lalu aku khawatir. Adakah kita akan dalam posisi hampir tak mengenal. Atau bahkan kita kan saling melupakan. Kamu pun tak lagi mudah tersenyum seperti dulu. Sebab hanya tatapan dingin yang membalas sapaanku. Hingga tatap mata pun tak lagi bertemu sekalipun kita berpapasan dalam ruang waktu.

Pada akhirnya barangkali kita menyadari. Bahwa keterjauhan ini telah tersketsa oleh sang Maha Pencipta. Sebab menjauhimu bukan berarti tak mencintaimu. Menjauhimu adalah caraku, caramu, cara kita bahkan caraNya untuk menjaga. Menjaga akan kefitrahan ini. Menjaga hingga akad terlantunkan dalam ikatan suci.

Categories: Tulisan | Tags: , , | Leave a comment

Blog at WordPress.com.