Posts Tagged With: Prosa

Percakapan Bumi dan Langit

Langit : Mengapa kau inginkan kita bersatu? Sementara kita terpisah jauh?
Bumi : Sebab aku lelah tiap hari hanya melihatmu. Melihat gagahnya sang mentari, melihat eloknya rembulan, melihat warna-warni pelangi, melihat gumpalan awan nan menabjubkan. Ya, aku hanya mampu melihat, tak mampu bergerak menghampirimu. Langit, tidakkah kau merasakan hal yang sama?
Langit : Aku pun juga sesungguhnya lelah. Lelah dengan cinta ini. Cinta yang seolah membuatku terbelenggu. Aku pun juga lelah hanya mampu melihat hijau sawahmu, biru lautmu, kemegahan gunungmu, atau sekedar gersangnya gurunmu. Namun bumi, bagiku bersatu bukanlah sebuah pilihan yang bijak bagi kita?
Bumi : Mengapa kau katakan itu langit? Padahal ribuan tahun kita telah memendam rindu. Sejak pertama kali diciptakan ribuan tahun yang lalu hinga kin. Mengapa kau katakan tak bijak, padahal telah lama kita saling menunggu. Atau jangan-jangan kau telah menyerah untuk membersamaiku?
Langit : Tidakkah kamu lupa bahwa ada kehidupan yang kau topang di atasmu. Pun demikian ada kehidupan yang kunaungi di bawahku. Jika saja kita bersatu, maka aku akan runtuh menimpamu. Kau hancur, dan aku kehilanganmu. Inilah sunnatullah yang harus kita lakukan. Dengan penuh ketulusan, dengan penuh keikhlasan.
Bumi : Lalu kapankah kita akan bersatu?
Langit : Yang aku percaya suatu hari nanti. Saat waktu itu tiba, saat pasak-pasakmu berhamburan laksana kapas yang beterbangan, saat isi-isi perutmu kan dikeluarkan, pun demikian dengan aku. Barangkali kita sama-sama hancur, namun tidak. Tentu saja tidak. Kita sesungguhnya sedang melebur. Ke sebuah alam yang sesungguhnya abadi. Di sana, kita akan bersama tidak lagi saling memandang dalam kejauhan, tidak lagi saling merindu dalam keterpisahan.

@faizunaa | mushonnifunfaiz.com

Categories: Tulisan | Tags: | Leave a comment

Kesamaan yang Menumbuhkan

Ibarat hujan di siang hari yang terik, kau datang tiba-tiba. Padahal sesungguhnya kau telah ada di atas langit sana. Namun barangkali aku tak pernah menyadari kehadiranmu. Bahkan tak pernah pula mengharapkanmu. Sebab siang adalah waktuku tuk bepergian ke sana kemari. Namun akankah sesuatu itu menghalangiku tuk pergi? Ternyata tidak. Justru aku menikmatinya. Hujan di tengah terik mentari adalah anomali yang kunanti.

Adalah lapis-lapis lingkaran yang menakdirkan kita bertemu. Sekalipun tak pernah kita saling bertatap bahkan beradu lisan, namun cukuplah aku tahu tentangmu. Dari mimpimu, dari tulisan-tulisanmu, dan dari pemikiranmu, izinkan aku membacamu. Hingga tanpa sadar aku telah berdiri di satu di antara berjuta lingkaran. Lalu diujung sana hanya ada dirimu. Aku dan kamu dalam satu lingkaran yang sama.

Akhirnya aku tahu tentangmu. Tentang impianmu. Tentang capaianmu yang semerbaknya hingga mencapai tempatku berpijak. Yang tanpa sadar mozaik-mozaik itu menjadi satu garis lurus di samping garis yang kugoreskan. Jika saja garisku dan garismu menapak lurus berjalan menuju surgaNya, mengapa kita tidak menggabungkannya bersama?

Ah, barangkali mustahil rasanya ia tumbuh tidak dari pertemuan, namun justru dari sebuah kesamaan. Tapi nyatanya itulah yang kurasakan.

Categories: Tulisan | Tags: | Leave a comment

Terkadang

Terkadang ia bisa membuat jemari ini lentik menari. Menuliskan aksara, merangkainya menjadi kesatuan kata, hingga menggabungnya menjadi bait-bait sastra 

Namun terkadang ia bisa membuat jemari ini kaku. Tak tahu harus kutuliskan apa tentangmu. Entah karena ia lelah menari, atau memilih diam dalam bisu.

Yang pasti biarlah perasaan ini melaju. Sebab bisa saja terkadang ia kian pasti melaju, atau bahkan terkadang ia tak tentu. 

Terkadang aku berharap tentangmu, namun bahkan kau tak mengenal diriku. Atau mungkin kau pura-pura tak tahu. Atau jangan-jangan ini hanyalah anganku.

Categories: Tulisan | Tags: , | Leave a comment

Menyesal Mengenalmu

Dulu kau selalu berkata, jika banyak kawan banyak cerita, banyak canda dan banyak tawa. Hingga aku percaya saja akan perkataanmu. Membuatku mengenali satu demi satu kawanku. Begitu luas dunia hingga terkadang aku sampai lupa beberapa kawanku yang pernah kukenali sebelumnya. Namun dunia begitu sempit manakala aku mengenali seseorang yang ternyata seorang kerabat dari kawanku.

Berjalannya waktu membuatku semakin mengenal banyak orang. Benar katamu, akan banyak cerita, canda dan tawa yang menghiasi perkenalanku. Meski sebenarnya aku tak pernah tahu untuk apa kelak aku mengenal banyak orang, tapi aku begitu mempercayaimu. Sebab kamu tidak berdusta kepadaku. Cukup canda, tawa, dan cerita menjadi bukti nyata kebenaran perkataanmu.

Sebut saja saat ini kenalanku telah beribu-ribu. Hingga aku merasa bahagia. Namun hei, tunggu! Kian har cerita, canda, dan tawa kian membosankanku. Barangkali ini sebuah kehampaan sementara. Atau mungkin aku perlu beristirahat sejenak. Nyatanya kehampaan itu tak kunjung pergi. Aku berazzam ingin melanjutkan perjalanan ini, sementara hati tak kunjung berdamai. Apakah cukup sampai di sini diriku tuk kembali mengenali?

Hingga aku sadar dan aku menyesal. Bukan menyesali perkenalanku dengan ribuan orang. Bukan pula menyesali canda, tawa, dan cerita yang telah terlampau.

Mengenalmu adalah sebuah penyesalan terbesarku. Kupikir kau akan berlalu seperti ribuan orang yang kukenali. Namun tidak dengan dirimu. Kamu hadir sebagai penyesalan yang takkan mungkin kuhapuskan dalam hidupku. Sebab aku tidak pernah sanggup menghapusmu sekalipun telah ribuan orang kukenali.

Mengenalmu adalah sebuah penyesalan terbesarku, tapi jika tidak mengenalmu barangkali tak pernah ku temukan orang yang mampu bertahan di antara ribuan orang dalam anganku.

Categories: Tulisan | Tags: , | Leave a comment

Blog at WordPress.com.