Posts Tagged With: Prosa

Memaknai Hujan

Hujan turun lagi. Membasahi bumi. Setiap hari entah akhir-akhir ini ia begitu sering menyambangi. Seakan ada isyarat yang ingin diberi. Kita bisa memandang tak ada perbedaan sama sekali. Tapi seiring bertambahnya waktu, entah mengapa pemaknaan akan hujan berbeda kian waktu, kian hari.

Hujan kini bukan lagi tentang dahulu, ketika kita masih kanak-kanak. Kita hanya tahu tentang air yang turun dari langit. Tentang perubahan siklus air. Dari air bumi menguap mengangkasa menjadi awan hingga turun kembali. Ada gemuruh halilintar yang bersuara lantang yang menyambar-nyambar. Sesederhana itu kita dahulu memaknainya.

Hujan kini adalah tentang pemaknaan. Ia bisa tentang kerinduan kepada seseorang. Ia juga bisa bermakna kepergian. Atau bahkan kehilangan. Tak terdengar lagi suara katak bersahut-sahutan, yang ada hanyalah bayangan masa lalu yang tak kunjung hilang. Ditemani jendela, tersibakkan tirai-tirainya, agar mata dapat memandang keluar. Ia tak memandang rintik hujan, namun seringkali tatapan kosong tak berkesudahan.

Hujan kini adalah tentang doa. Waktu yang baik dan dianjurkan. Semoga pemaknaan yang dalam akan hujan dapat kita sederhanakan. Tentang kenangan, kerinduan, kehilangan, kepergian semoga segera melebur dalam kesederhanaan. Sesederhana pertemuan.

Categories: Tulisan | Tags: , | Leave a comment

Menyapa Fajar

Jika senja selalu ramai diperbincangkan karena keindahannya, sesungguhnya fajar pun tak kalah indah. Bukan hanya indah, malahan dia juga berkah. Tak hanya berkah namun dia juga menggugah. Dari kematian sementara manusia menuju ke kehidupan yang nyata.

Tak banyak manusia yang mampu menikmatinya, maka dari itulah Fajar begitu istimewa. Berjuta keutamaan terdapat menjelang kedatangannya. Bahkan ia diabadikan menjadi nama ibadah, “Shalat Sunnah Fajar”. Yang keutamaannya mengalahkan dunia seisinya. Continue reading

Categories: Tulisan | Tags: , | Leave a comment

Di antara keduanya

Aku bisa saja mengatakannya, namun tidak untuk sekarang. Sebab ada amanah yang tentu harus dituntaskan. Kewajiban yang tak mungkin dilakukan bersamaan dengan sebuah keutamaan. Tapi aku tak akan merelakannya begitu saja. 

Aku bisa saja merelakannya, namun tidak akan kubarkan. Sebab barangkali kau telah terlahir untukku, dan aku terlahir untukmu. Tentang isyarat dan pancaran auorora yang semakin kuat di antara kita. Sebab aku yakin aku yang terbaik untukmu, dan kau yang terbaik untukku. Tapi ternyata tak seberani itu aku mengatakannya.

Tentu saja aku tak akan mengatakan. Aku juga tak akan merelakan. Yang aku lakukan sekarang adalah memperjuangkan. Sembari menyeleseikan amanah yang disandang. 

Categories: Tulisan | Tags: , | Leave a comment

cinta, beban & kebutuhan

azharnurunala:

“Ridha dengan ketetapan Allah yang tidak menyenangkan adalah tingkat keyakinan yang paling tinggi.”

—Ali bin Abi Thalib

Kalau Allah menetapkan manusia untuk hidup berkecukupan, kalau Allah memberikan berbagai kemudahan dalam setiap usaha yang kita lakukan, kalau Allah jauhkan kita dari berbagai penyakit yang menyengsarakan kita, siapa yang tidak rela? Siapa yang akan protes?

Kalau setiap apa yang kita inginkan terpenuhi, kalau dengan duduk manis nonton TV semua persoalan hidup tuntas, kalau dengan diajak jalan-jalan ke mall setiap hari anak-anak tumbuh menjadi manusia-manusia yang berguna dan berbakti pada orangtua, kalau dengan mendengarkan musik setiap pagi kita mendadak khusyuk dalam shalat, betapa indahnya dunia. Betapa indahnya hidup.

Sayangnya sejarah mencatat hidup tak berjalan dengan cara semacam itu. Allah berfirman, “Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan mengatakan ‘kami telah beriman’, sedang mereka belum diuji?”

Apabila untuk bahagia dunia-akhirat kita perlu beriman, dan untuk jadi beriman kita perlu diuji, maka hidup sejatinya hanyalah ujian.

Pada titik ini kita mestinya menyadari bahwa ujian bukan cuma tentang penderitaan, bukan cuma soal kemiskinan. Ujian adalah kemiskinan, juga hidup yang berkecukupan. Ujian adalah ketidakmengertian, juga ilmu pengetahuan. Ujian adalah kesendirian, juga kebersamaan. Ujian adalah kesakitan, juga kesehatan. Ujian adalah kecacatan, juga kesempurnaan.

Orang yang buta diuji, apakah dengan ketidakmampuannya untuk melihat ia bersabar, atau terus menerus mengutuki hidupnya. Orang yang matanya sehat juga diuji, apakah dengan kemampuan melihatnya itu ia akan lebih khusyuk dalam melakukan kebaikan, atau justru semakin khilaf karena terbuai berbagai keindahan dunia yang semu.

Kita seringkali iri pada mereka yang selalu terpenuhi kebutuhannya karena banyak harta, padahal mereka posisinya sama dengan kita: sama-sama sedang diuji. Tiap-tiap kita diuji dengan persoalan-persoalan yang mampu kita selesaikan. Jadi, bila kita tidak diuji dengan banyaknya harta, barangkali kita memang belum punya kapasitas untuk menaklukkannya.

Tak perlu juga menyalahkan siapa-siapa. Sebab Allah hanya akan menguji sesuai dengan kemampuan manusia, dan hanya akan memberi sesuai kebutuhan manusia. Itu kaidahnya.

Cacing-cacing yang hidup di dalam tanah tak diberi mata dan telinga, karena mereka memang tak butuh itu—buat apa? Seandainya cacing-cacing itu diberi mata dan telinga, justru itu akan jadi beban bagi mereka.

Kalau kita memberikan peralatan bengkel pada seorang dokter untuk memudahkan pekerjaannya, si dokter akan terbebani karena dia tak butuh itu. Apa yang ia butuhkan untuk melakukan pekerjaannya adalah peralatan kesehatan.

Apa-apa yang kita miliki tapi sebenarnya tak kita butuhkan hanya akan menjadi beban.

Maka pantaslah jika Allah membutakan hati dan pandangan kita dari jalan-Nya, kalau kita tidak merasa membutuhkan petunjuk dari-Nya. Sebab itu hanya akan jadi beban bagi kita. Bukankah kita semua ingin hidup senang—melayang-layang tanpa beban?

….

Azhar Nurun Ala
dikutip dari Novel ’Seribu Wajah Ayah’ hal 97-99

Categories: Tulisan | Tags: , | Leave a comment

Blog at WordPress.com.