Posts Tagged With: Marriage

Suami Bagimu Belum Tentu Ayah Bagi Anak-Anakmu

The world has change, and from year to year, children become fatherless – Anonymous

Seorang ahli psikologi berkata bahwa dunia berubah. Semakin banyak anak-anak yang yatim sekalipun ia memiliki seorang ayah. Ayah yang kehadirannya kian lama tak dirasakan lagi. Peran ayah kini kian lama kian bergeser. Hanya menjadi pencari nafkah tanpa memedulikan bagaimana tumbuh kembang anaknya karena sudah percaya pada ibunda. Maka ketika hasil pendidikan ibu yang didadaptkan tidak sesuai ekspektasi, akhirnya ayah cenderung menyalahkan istri, “Kamu nggak becus mendidik anak!”. Continue reading

Categories: Tulisan | Tags: , | Leave a comment

Saudara Sampai Surga, A True Story My Friends who Already Married.

tumblr_inline_p00o439v501qe5sxz_540.jpg

Kisah ini adalah kisah nyata saya dan seorang kawan saya. Namanya Muhammad Ainun Taimiyah Ainun Indra. Sobat sejak saya di SMAN 3 Malang dulu. Kami berkenalan ketika mengikuti sebuah perlombaan puisi dan pidato. Ia berasal dari SMAN 10 Malang beasiswa Sampoerna Academy. Sejak saat itu setiap kami mengikuti lomba entah itu pidato atau puisi, kami selalu bertemu. Kadang saya juaranya, kadang dia juaranya. Entah kami jusru menjadi rival abadi dalam tiap perlombaan.

Memasuki perkuliahan, kami memilih jalur yang berbeda. Ainun ingin diterima di ITB, dan saya ingin diterima di UI. Ternyata lucunya kali ini kita sama-sama gagal di pilihan pertama SNMPTN Tulis, dan harus merelakan diterima di pilihan kedua yang ternyata sama-sama di ITS. Saya jurusan Teknik Industri, Ainun jurusan Teknik Material Metalurgi. Continue reading

Categories: Rumah Kepemimpinan | Tags: | Leave a comment

Karena Kecantikanmu Membuatku Takut Kelak Jika Menikahimu

Dalam sebuah kajian pra – nikah di asrama, pada waktu aku melontarkan sebuah pertanyaan ke Ustadz Sukron. Beliau adalah seorang konsultan pernikaan islami sekaligus pengasuh pondok pesantren mahasiswa Griya Madani di Surabaya. 

“Ustadz, dalam Quran Surat An-Nur ayat 26 disebutkan bahwa Wanita Baik untuk Lelaki Baik, pun demikian dengan sebaliknya. Lalu, mengapa fenomena saat ini yang terjadi dan cukup sering terkadang lelaki baik justru mendapat wanita yang tak baik atau bahkan sebaliknya?” tanyaku. 

Dengan takzim Ustadz Syukron menjawab, “Sebab pada hakikatnya menikah adalah kembali kepada niatnya. Ingat kan tentang hadis Rasulullah SAW, bahwa wanita dinikahi karena empat hal, yaitu karena kecantikannya, kekayaannya, keturunannya, dan karena agamanya. Maka kamu diperintahkan untuk memlih karena agamanya. Nah, seringkali zaman sekarang banyak orang yang salah niat dalam menikahi seseorang. Agama bukan dijadikan landasan utamanya. Ada yang karena hartanya, keturunannya, bahkan kecantikannya atau hal-hal yang lainnya. Sebab itulah lelaki yang baik pun terkadang luput atau salah niat dalam memilih wanita terbutakan oleh kecantikannya. Pun demikian dengan wanita, seringkali juga terbutakan oleh ketampanan sang pria. Karena kesalahan niat di awal itulah barangkali banyak mereka yang tak mendapatkan sesuai yang dilukiskan Allah dalam Al-Qur’an”.

Yah, penjelasan beliau membuatku merenung cukup lama hingga insomnia selepas kajian tersebut. Tidak mudah menjaga niat memang. Sebagai manusia biasa tentu ketertarikan muncul berawal dari pandangan. Bukankah Allah berfirman dalam Quran-Nya Surat Ali Imran ayat 14, 

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang lebih baik (surga).” Bahkan Allah pun memfirmankan bahwa dalam ayat tersebut pandangan manusia memang dijadikan indah kepada hal-hal yang tersebut. 

Aku kembali merenung jika nanti suatu saat memilihmu. Benarkah karena agamamu. Ataukah jangan-jangan hanya karena kecantikanmu. Atau memang sih agamamu baik, tapi benarkah semua yang kuniatkan ini berawal dari agamamu dan bukan dari kecantikanmu? Pertanyaan itu terus terngiang-ngiang di anganku. 

Menjaga niat agar tetap lurus di jalanNya, tak ubahnya sama dengan menjaga cinta agar tetap mencintainya karenaNya. Kadang aku berpikir apakah harus mencari yang tak cantik menurutku, atau mengabaikanmu. Tapi aku tahu dibalik kecantikanmu, kau pun memiliki pemahaman agama yang barangkali cukup bagiku dan tentu kelak kita akan sama-sama belajar, karena bukankah pembelajaran itu hingga ke liang lahat nanti?

Atau nanti bisa saja aku tak memilihmu. Tapi aku benar-benar mencari yang baru. Menitipkan proposal ke murobbiku seraya menunggu, dan tsiqoh terhadap apa yang dikatakannya selama ayah dan bunda menyetujuinya. Tapi aku teringat kisah bulan, matahari, dan bumi. Bahwa bumi yang pada awalnya mencintai matahari yang indah dengan sinar teriknya,  pada akhirnya memilih bulan. Sebab bulan yang selama ini telah ia kenal, yang telah membersamai bumi dalam setiap rotasinya, yang selalu muncul di setiap malam di belahan bumi, sekalipun ia tak punya cahaya. Sebab bumi telah mengenal bulan dan siap dengan segala kelebiihan dan kekurangannya. 

Ya, kali ini kecantikanmu membuatku takut kelak jika menikahimu. Sekalipun agamamu baik, namun benarkah cintaku ini karena agamamu? Ada pepatah yang mengatakan “Bukan titik yang sebabkan tinta, namun tinta yang sebabkan titik. Bukan cantik yang sebabkan cinta, namun cinta lah yang sebabkan cantik”. Aku hanya ragu apakah cintaku lah yang membuatmu cantik? Atau jangan-jangan cantikmu yang membuatku cinta? 

Semoga karena agamamu. Semoga karenaNya, bukan karenamu. Allah luruskanlah, mudahkanlah, dan dekatkanlah…

Sembari terus berusaha memperbaiki diri, 
Untukmu, semoga cinta ini karenaNya
Semoga semua berawal dariNya. 

01.05
Di tengah mempersiapkan mengambil data esok hari untuk Tugas Akhir

Categories: Tulisan | Tags: , | Leave a comment

Kuliah 2: Memahami Karakter Anak ala Rasulullah

laninalathifa:

“Pendidikan yang keras dan kasar hanya akan menghilangkan kelapangan jiwa, melenyapkan semangat, menumbuhkan kemalasan dan karakter dusta, sehingga pada akhirnya dapat menimbulkan sikap licik. Jika hal ini menjadi kebiasaan dan akhlaknya, niscaya rusaklah nilai kemanusiaannya.”

– Ibnu Khaldun dalam buku Muqaddimah

Bismillaahirrahmanirrahim…

Artikel ini adalah lanjutan dari artikel Kuliah 1. In syaa Allaah akan ditulis berkesinambungan. Semoga bermanfaat. 🙂


Pada dasarnya, metode Nabawiyah menekankan aspek dasar pendidikan adalah dengan kelembutan. Meski demikian, pendidikan Nabawiyah pun tidak menafikan adanya hukuman, bahkan dengan pukulan. Hal ini agaknya berseberangan dengan teori psikologi Barat yang bahkan “mengharamkan” mengucapkan kata “jangan” pada anak-anak. Padahal Al-Qur’an telah berkali-kali merangkumkan kalimat larangan dan penegasan yang diawali dengan kata “jangan”.

Namun, penetapan hukuman dalam pendidikan pun harus dilakukan dengan tahapan. Jelas tidak dapat dibenarkan ketika ada anak yang berbuat salah, kemudian tanpa tedheng aling-aling sang guru maupun orangtua memukulnya dengan dalih mengikuti sunnah Rasul. Jelas tidak dapat dibenarkan menghukum dengan keras tanpa mempertimbangkan karakter anak maupun tingkat kesalahannya. (Tentang tahapan menghukum ini, in syaa Allaah akan saya ringkaskan pada artikel selanjutnya).

Pada artikel ini, in syaa Allaah pembahasannya mengerucut pada cara Rasulullah dalam memahami karakter anak. Rasulullah adalah suri teladan final dalam segala hal. Termasuk dalam hal mendidik anak. Saya begitu terkesima ketika mendengar kisah-kisah Rasulullah yang begitu lembut ketika membersamai anak-anak. Sungguh, beliau adalah seorang panglima dan punggawa di medan perang, namun di sisi lain, beliau pun telah menjadi pemenang di hati seluruh umat manusia. Maa syaa Allaah. Shalaatu wassalaam ‘alayk yaa Rasulullaah… :’)


Setidaknya ada 5 hal yang perlu kita perhatikan, sebagai orangtua, calon orangtua, maupun orang yang menggeluti dunia anak-anak; para pendidik misalnya.

1. Menjaga perasaan anak

Pernah dengar kisah Rasulullah yang memanjangkan sujudnya saat Hasan atau Husein sedang asyik menaiki punggung beliau? Kemudian ketika para shahabat bertanya mengapa sujud beliau lebih lama dari biasanya, apa jawaban beliau?

“Sesungguhnya tadi cucuku sedang menaiki punggungku. Aku hanya tak ingin mengganggunya hingga mereka puas melakukan itu.”

Bagaimana? Terkesima? Sabar dulu. Itu baru contoh pertama di poin pertama. 🙂

2. Memeluk dan mencium anak

Rasulullah, sebagai seorang Nabi sekaligus Rasul, tentu saja beliau adalah orang yang dianugerahi kecerdasan dan keluasan ilmu yang luar biasa. Namun, di hadapan anak-anak, beliau tak pernah merasa “jaim” untuk “menurunkan derajat” keilmuannya itu. Beliau tak pernah jaim untuk berbaur bersama anak-anak. Beliau tak pernah bermuka masam kepada anak-anak. Beliau tak pelit dalam menyatakan rasa sayang. Bahkan beliau adalah orang yang paling murah dalam mengulurkan tangannya untuk menggendong, memeluk, atau sekadar mengelus kepala anak-anak.

Saya kutipkan sebuah hadits berisi cuplikan kisah yang dibawa oleh Anas bin Malik, asisten kesayangan sekaligus orang kepercayaan Rasulullah.

“Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih sayang kepada anak-anak daripada Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam. Putra Nabi (yang bernama) Ibrahim memiliki ibu susuan di daerah Awaali
di kota Madinah. Nabi pun berangkat (ke rumah ibu susuan tersebut) dan kami bersama beliau. Beliau masuk ke dalam rumah yang ternyata dalam keadaan penuh asap, karena suami ibu susuan Ibrahim adalah seorang pandai besi. Nabi pun segera mengambil Ibrahim lalu menciumnya, lalu beliau kembali.” (HR. Muslim)

Atau dalam kisah yang lain, Rasulullah di tengah kesibukannya dalam tugas kenabian ternyata sempat meluangkan waktunya untuk bermain dengan anak-anak. Usamah bin Zaid pernah bercerita, “Rasulullah pernah mendudukkanku di satu pahanya dan mendudukkan Hasan di paha yang satunya. Kemudian beliau merangkul kami berdua sambil berdoa,

“Ya Allah cintailah keduanya, sungguh aku mencintai mereka berdua.” (HR. Bukhari)

3. Melayani imajinasi anak

Pikiran anak-anak ibarat lemari yang berisi segudang imajinasi. Ada sebuah kisah menarik lainnya yang kali ini terjadi antara Rasulullah dan salah seorang istri tercintanya; Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Kisah ini diceritakan oleh ‘Aisyah sendiri.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah tiba dari perang Tabuk atau Khaibar, sementara kamar ‘Aisyah ditutup dengan kain penutup. Ketika ada angin yang bertiup, kain tersebut tersingkap hingga mainan boneka ‘Aisyah terlihat. Beliau lalu bertanya, “Wahai ‘Aisyah, apa ini?” ‘Aisyah menjawab, “Itu mainan bonekaku.”

Lalu beliau juga melihat patung kuda yang mempunyai dua sayap. Beliau bertanya, “Lalu sesuatu yang aku lihat di tengah-tengah boneka ini apa?” ‘Aisyah menjawab, “Boneka kuda.” Beliau bertanya lagi, “Lalu yang ada di bagian atasnya itu apa?” ‘Aisyah menjawab, “Dua sayap.” Beliau bertanya lagi, “Kuda mempunyai dua sayap?”

‘Aisyah menjawab, “Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai kuda yang punya banyak sayap?” ‘Aisyah berkata, “Beliau lalu tertawa hingga aku dapat melihat giginya.”
(HR. Abu Daud)

Lihat, bagaimana Rasulullah menanggapi imajinasi ‘Aisyah yang kala itu masih berusia belia. ‘Aisyah berimajinasi bahwa boneka kuda memiliki sayap (dalam siroh dijelaskan bahwa imajinasi ini ternyata dibenarkan dengan dalil bahwa kuda Nabi Sulaiman memang memiliki sayap). Beliau mendengarkannya dengan seksama, bahkan menimpalinya dengan tawa. Tak sedikitpun mematahkannya.

4. Jangan pernah berbohong pada anak

Rasulullah telah mengajarkan bahwa ternyata memanggil anak kecil untuk diberi sesuatu padahal ia tidak punya yang dijanjikan tersebut dinilai sebagai sebuah kedustaan, dan itu dilarang. Hal ini didasarkan pada hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amir radhiyallahu ‘anhu.

“Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam pernah datang ke rumah kami yang saat itu aku masih kecil. Lalu aku ingin keluar untuk bermain. Ibuku pun memanggilku, “Hai kemarilah, aku akan memberimu sesuatu. Kemudian, Rasulullah bertanya, “Apakah kamu benar-benar ingin memberinya sesuatu?”

Ibuku menjawab, “Aku akan memberinya kurma.”

Rasulullah pun bersabda, “Jika saja kamu tidak memberinya apa-apa, niscaya dicatat atasmu
perbuatan dusta.” (HR. Abu Daud).

5. Menjaga lisan terhadap anak

Termasuk bentuk menjaga lisan terhadap anak adalah dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar, tidak menggunakan bahasa “alay”, dan lebih baik menggunakan bahasa baku. Sebab Rasulullah telah menjadi teladan bagi kita sebagai seorang yang memiliki kemampuan berbahasa yang sangat baik.

(Materi ini disampaikan oleh Ust. Galan Sandy; Manajer Kuttab Al-Fatih)

Sekiranya tulisan ini bermanfaat, silakan disebarkan. Allaahu a’lam. 🙂

Ilmu parenting, lagi-lagi harus banyak mendalaminya. Rabbi habli minassholihiin, :”)

Categories: Tulisan | Tags: , | Leave a comment

Blog at WordPress.com.