Resensi Buku

Resensi Buku : Api Tauhid

Jika saya punya seribu nyawa, saya siap mengorbankan semuanya demi membela satu kebenaran syariat. Karena ia adalah sumber kebahagiaan dan kesejahteraan. TETAP TIDAK DENGAN CARA YANG DILAKUKAN PARA PEMBERONTAK DAN PERUSUH ITU! – Badiuzzaman Said Nursi

Sempat beberapa waktu memendam, akhirnya pada tanggal 7 Mei 2015 yang lalu saya pergi ke Islamic Book Fair dan memborong banyak buku-buku bacaan. Salah satunya adalah Novel Sejarah yang katanya begitu fenomenal ini, siapa lagi penulisnya kalau bukan Kang Abik, – sapaan akrab Habiburrahman El Shirazy.

Barangkali hanya segelintir penulis di Indonesia yang mampu membawa sejarah dalam sebuah novel sehingga membacanya pun menjadi menarik dengan alur cerita yang ganda di dalamnya, di sisi lain bercerita tentang kehidupan tokoh fiksi yang diluksikan dalam novel tersebut. Di sisi lain pula bercerita tentang kehidupan tokoh nyata yang diluksikan dalam sejarah tersebut. Tokoh fiksi tersebut bernama Fahmi, Mahasiswa asal Indonesia yang sedang berkuliah di Universitas Islam Madinah, dan tokoh sejarah tersebut adalah Syekh “Badiuzzaman” Said Nursi, ulama’ besar asal Turki yang hidup pada masa pemerintahan sekulerisme Turki sekitar tahun 1890-an hingga 1960-an.

Dirundung rasa penasaran yang tinggi novel setebal ini mampu saya selesaikan hanya dalam waktu sekitar 2 hari satu malam saja, itu pun sambil menjalani beberapa aktivitas. Malamnya saya begadang hingga pagi karena begitu penasarannya dengan novel ini. Dalam keheningan malam tersebut, saat saya membaca saya serasa berada di tiga negara. Pertama di Madinah ketika sosok Fahmi, asal Lumajang itu menghabiskan hari-harinya di Masjid Nabawi untuk mengkhatamkan Quran. Hal itu pun menghadirkan memori tersendiri bagi saya terlebih saat beberapa bulan yang lalu saya mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan ibadah umroh. Tentang mudahnya meneteskan air mata, tentang nur Muhammad yang seakan menyinari masjid nabawi, serta tentang beberapa keajaiban yang saya alami selama di Madinah.

Cerita dimulai dengan sosok Fahmi yang menghabiskan tujuh hari terakhirnya di Masjid Nabawi untuk iktikaf tanpa henti. Ia ingin mengkhatamkan Al-Quran sebanyak 40 kali. Hingga kawan-kawan asramanya pun mencarinya. Pada hari ke delapan ia telah 12 kali mengkhatamkan Quran. Ia ditegur oleh Ali, teman satu kamarnya bahwa hendaknya ia tak menyiksa diri. Namun Fahmi tetap teguh pendiriannya. Hingga hari ke lima belas berada di masjid Nabawi, ia pun akhirnya kembali didatangi Ali. Kali ini ia tak sendiri, bersama Hamza, kawannya yang lain. Yang mereka temukan justru Ali yang tak sadarkan diri sembari meneteskan darah dari hidungnya. Singkat cerita Fahmi masuk rumah sakit, dan benarlah bahwasanya ia sedang dirundung masalah yang begitu berat hingga melahirkan keputusan nekadnya untuk beribadah tiada henti. Untuk menghibur dirinya, ia diajak Hamza, rekannya sesama mahasiswa yang berasal dari Turki untuk menapaktilasi jejak salah seorang ulama’ besar Turki, Syekh Badiuzzaman Said Nursi. Tawaran itu pun ia terima bersama Subki, rekannya sesama mahasiswa Indonesia. Kebetulan mereka sedang libur selama tiga bulan.

Maka jadilah mereka bertiga ditambah Emel dan Aysel, keluarga perempuan dari Hamza yang berasal dari Turki mengelilingi Turki dengan mobil Hamza. Sepanjang perjalanan mereka mendapatkan cerita dari Hamza tentang tempat-tempat bersejarah di Turki, dan tentang jejak hidup Said Nursi.

Said Nursi lahir dari pasangan suami istri Mirza dan Nuriye. Di antara semua saudara-saudaranya, ia terlihat paling menonjol. Hal itu ditunjukkan sejak kecil ia begitu bersemangat belajar tentang agama Islam kepada ayahnya. Bahkan ia sering mengikuti diskusi dan perdebatan-perdebatan keagamaan bersama ayahnya semasa ia masih kecil sekali. Di usianya yang masih 15 tahun ia telah mampu menghafal dan memahami 80 kitab karya ulama’ klasik. Daya hafalnya sungguh sangat luar biasa. Bahkan beliau hanya membutuhkan waktu 2 hari untuk menghafal Al-Quran. Karena keajaibannya itulah gurunya, Muhammed Emin Effendi memberikannya julukan Badiuzzaman yang artinya keajaiban zaman.

Di usianya yang masih muda ia pun berani berkelana dari satu daerah ke daerah yang lain. Bahkan melewati hutan sendirian, tidur di tengah ancaman binatang buas. Namun setiap kali ditanya apakah dia tidak takut, jawabannya sama. Ia hanya takut kepada Allah, sebab hidup dan matinya hanyalah milik Allah semata. Hingga di usianya yang masih muda seringkali banyak orang yang iri kepadanya. Bahkan ulama’-ulama’ serta guru-guru dari berbagai sekolah tak jarang banyak yang mengetesnya dengan berbagai pertanyaan yang kesemuanya mampu dijawab Said Nursi tanpa keraguan sedikit pun. Dan dalam beberapa kali uji publik, Said Nursi mampu melewatinya dengan baik.. Hal itu menjadikannya memiliki banyak pengikut di usianya yang masih muda.

Semangatnya untuk belajar selalu tidak kenal padam. Di usianya yang 9 tahun ia menyatakan ingin belajar di madrasah tempat kakaknya mengajar. Padahal syarat minimalnya haruslah berusia 12 tahun. Hingga selama belajar di sekolah karena Said paling kecil ia di buli oleh teman-temannya. Namun Said adalah seorang pemberani. Ketika di buli, ia tidak hanya diam saja, namun melawan  walaupun pada akhirnya kalah karena ukuran tubuhnya masih kecil pada waktu itu. Kemudian ia berpindah pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Hingga puncaknya pada usia 15 tahun ia berhasil menguasai 80 kitab yang seharusnya dikuasai orang biasa selama 15 tahun – 30 tahun.

Perjanalannya ke berbagai daerah dalam berdakwah tak ayal menjadikan nama Badiuzzaman Syaikh Said Nursi begitu terkenal. Ia selalu dinanti dimanapun berada akan tausiyah dan pemikirannya. Pada awalnya keberadaannya tidak dianggap berbahaya oleh Pemerintahan Sekulerisme Turki pada masa itu. Namun, keterlibatannya pada dunia politik, serta pemikirannya yang menyebar melalui tulisannya menyebabkannya seringkali ditangkap. Bahkan pernah ia nyaris dijatuhi hukuman mati. Namun Said Nursi tak pernah gentar. Ia terus berdakwah dari satu daerah ke daerah yang lain. Pada perang dunia pertama bahkan Said Nursi menyerukan jihad.

Hingga fase akhir hidupnya ia habiskan berpindah dari satu penagasingan ke pengasingan lainnya. Dari satu penjara ke penjara lainnya. Justru pada fase itulah ia mampu menulis sebuah karya fenomenal tentang Tafsir Al-Quran setebal kurang lebih 6000-an halaman yaitu Risalah Nur. Selama di penjara tak jarang ia menulis dengan kertas bekas bungkus rokok penjaga, sisa-sisa daun, atau lainnya. Kemudian dilemparkannya keluar penjara dan diluar terdapat murid-muridnya yang diam-diam memungutnya dan menjadikannya buku setebal itu.

Syaikh Said Nursi merupakan tokoh pembaharu yang juga mengenalkan sistem pendidikan baru, kombinasi ilmu pengetahuan umum dan agama dalam sistem pendidikan modern Turki. Beliau pun dikenal sebagai sosok yang Nasionalis dan Islamis. Beliau begitu mencintai Turki dan tak pernah ragu ketika diminta berjuang untuk Turki.

Lalu bagamana dengan kisah Fahmi? Sentuhan roman dalam novel ini sudah dimulai ketika Fahmi diminta oleh Pak Lurah desanya untuk menikah dengan putrinya, Nur Jannah. Menghadapi permintaan itu, keluarga Fahmi pun memutuskan untuk istikharah. Belum tuntas istikharahnya, datang Kyai Arselan, seorang Kyai besar di Lumajang, meminta agar Fahmi bersedia menikahi Nuzula, anaknya. Singkat cerita mereka menikah, lalu berpisah karena Fahmi harus melanjutkan tesisnya di Madinah. Namun apa yang terjadi? Memasuki bulan keempat pernikahan, Kyai Arselan datang ke Madinah dan meminta Fahmi menceraikan Nuzula. Belum usai permasalahan itu, muncullah sosok Emel dan Aysel, Gadis Turki yang menemani perjalanan Fahmi. Aysel gadis Turki yang semasa hidupnya sudah biasa mencandu seks bebas, dan sosok Emel yang begitu cantik dan Hafal Quran serta pemahaman agamanya yang baik. Lalu ke manakah cinta Fahmi kan melangkah?

Kombinasi sejarah heroisme Syaikh Badiuzzaman Said Nursi serta Kisah Cinta Romantis Fahmi menjadi hal yang luar biasa dalam buku ini. Seperti gaya bahasanya biasanya, Kang Abik selalu mampu melukiskan kondisi dalam novel hingga membuat bayangan ini melintasi tiga negara. Indonesia – Turki – Saudi Arabia. Overall saya memberikan nilai 9/10 pada novel ini. Buku ini pantas untuk kita semua yang masih mungkin barangkali malas dalam membaca sejarah. Terkesan berat padahal sesungguhnya ringan dan nikmat untuk dibaca.

Categories: Resensi Buku | Tags: | Leave a comment

Resensi Buku : @Allah, Masihkah Engkau di Dalam ?

Judul Buku : @Allah, MasihkahEngkauDiDalam?

Penulis      : Rio Al-Fajri
Penerbit      : Mizan
Halaman     : 100 halaman
Tahun        : 2015

Semuanya berawal dari sini nih :

Hehe, yup. Ceritanya salah seorang kawan saya di Rumah Kepemimpinan PPSDMS Nurul Fikri Regional Bandung sudah mengeluarkan karya pertamanya. *buseet kalah gue*. Nah, diminta me-review bukunya nih. Lumayan nih dapat ilmu gratisan *lho* hehe. Sekaligus bisa belajar nih bagaimana karakter tulisan yang bisa tembus penerbit nasional. Gak main-main lho, Mizan, salah satu penerbit di mana banyak buku-buku populer diterbitkan. Singkat cerita, inilah sedikit resensi dan review dari saya . Selamat menikmati teman-teman

Sejak kemarin aku ingin menyampaikan sesuatu kepada-Mu, tetapi pagi tadi aku bangun kesiangan. Ceritaku sulit dijelaskan dengan kata-kata. Apalagi kalau mesti dipadatkan dalam 140 karakter. Namun bagaimana aku tahu kalau tidak mencoba? Belakangan ini, aku merasa seperti berjalan dengan begitu banyak bawaan. Semua berjejalan di dalam ranselku. Ada angan-angan, tugas belajar, sampai cita-cita orangtua. Tanganku pun menjinjing harapan dari sesamaku. Semakin jauh, aku merasa jalanku semakin sulit juga. Di depan, ada jembatan selebar tali tambang yang mesti dilalui. Namun disaay bersamaan, aku begitu takut melangkahkan kaki. Aku takut jatuh dan tertimpa barang-barang bawaanku sendiri. Sebetulnya tujuanku sederhana dan mungkin sama saja dengan orang lain. Aku ingin berbahagia dan berguna bagi sesamaku. Namun entah bagaimana tujuan itu terasa jauh sekali. Allah, masihkah engkau di dalam hatiku? Maaf ya, baru ketika merasa takut, aku buru-buru memejamkan mata dan menyebut nama-Mu.

Begitulah sekilas cuplikan buku @Allah, Masihkah Kau di Dalam. Ditulis dengan bahasa yang gaul, ringan, dan sedikit kocak, saya rasa buku yang ditulis Bang Rio ini memang segmentasinya ditujukan untuk kalangan remaja. Membacanya, terasa ringan namun berisi dan berbobot. Hanya butuh waktu sekitar 2 jam saja bagi saya untuk melahap dan menghabiskan buku ini. Kesan saya pertama : “Ringan, dan Berisi”.

Agaknya buku ini mampu menjawab problematika pemuda saat ini kebanyakan. Ya, benar, buku ini mengingatkan bahwasanya seringkali dalam aktivitas sehari-hari kita melupakan sosok yang menciptakan kita, Allah SWT. Padahal dalam setiap hembusan nafas kita, tentu Allah tak pernah melupakan hamba-hambaNya. Allah pun tak berlepas dari rahmat hambaNya. Bayangkan jika 1 menit saja nafas ini diambil oleh Allah, bagaimana rasanya? Mungkin kita sudah tinggal batu nisan dan gundukan tanah saja ya… *Naudzubillah…*

Penyajian buku ini saya rasa juga cukup interaktif. Disajikan dengan aneka grafis, dan dengan hashtag-hashtag tertentu seperti #Tips, #SekilasInfo, #SedikitInfo, #SedikitSerius, dan hashtag lainnya yang semakin menambah “kental” aroma remaja di buku ini.

Dimulai dari dasar pertama bahwa “Saat Jatuh, Ingatlah Allah”, di sini penulis menjabarkan agar kita senantiasa mengingat Allah. Disajikan dengan kisah-kisah sederhana yang pada intinya seringkali terjadi dalam kehidupan kita. Kemudian dari situ penulis menarik benang merah, dan menulisnya dengan ayat-ayat Quran, serta beberapa mutiara hikmah dari tokoh-tokoh terkenal seperti Bunda Marwah Daud Ibrahim, Andrea Hirata, serta dengan tokoh lainnya.

Lalu penulis mengajak kita untuk bermimpi, bahwasanya impian adalah kunci dari keberhasilan. “Bermimpilah maka Tuhan akan Memeluk Mimpi-Mimpimu”, begitu kata pembuka khas Andrea Hirata mengawali bagian ini. Lalu penulis mengarahkan mindset kita, bahwa Allah takkan pernah salah. Ya, sebab tak bisa dipungkiri seringkali dalam perjalanan kita dalam meraih mimpi-mimpi ini, adakalanya kita merasa tak puas, bahkan naudzubillah, kita seringkali menyalahkan Allah jika kita gagal mencapai impian kita.

Di bagian selanjutnya penulis menjabarkan agar kita mampu menciptakan gol yang tepat, dan tidak menyia-nyiakan peluang. Ya, dua kunci tersebut cukuplah sebagai jawaban agar kita mampu meraih kesuksesan. Lalu puncak dari segalanya adalah ketika kita mampu membuktikan cinta kita kepada Allah. Cinta sama manusia saja butuh bukti, bagaimana cinta kepada Tuhan? Hehe…

Overall saya nilai 7.5 dari 10 lah untuk buku seperti ini di kelasnya. Disajikan dengan bahasa ringan, disertai dengan kisah-kisah kondisi kekinian, serta dibumbui dengan Quran dan Hadits. Buku ini recomended untuk kamu para remaja yang sering galau, yang masih merasa Allah ada ketika kamu butuh. Bukan kamu ada kapan pun untuk Allah baik saat kamu dalam masa senang maupun susah. Semoga bermanfaat, dan buat yang belum membaca, saya rekomendasikan untuk membelinya

Categories: Resensi Buku | Tags: | Leave a comment

Resensi Buku: Self Driving, Menjadi Driver / Passenger ?

Awal tahun 2015 ini saya membaca sebuah buku. Ya, dari salah satu seorang penulis favorit saya. Beliau adalah Rhenald Kasali, guru besar FE-UI yang kaya akan gagasan-gagasan brilian. Buku ini merupakan bukunya yang paling baru. Khususnya buat teman-teman yang masih ragu untuk membeli buku ini saya rekomendasikan untuk membacanya. Mungkin ini sedikit gambaran tentang buku ini.

Self Driving. Pada hakekatnya, manusia terlahir sebagai seorang driver. Ia diberikan anugerah yang luar biasa oleh Allah SWT untuk menentukan nasibnya sendiri. Anugerah itu berupa kendaraan yang bernama “Self”.  Dengan kendaraan tersebut manusia akan mampu mencapai semua mimpi dan memaksimalkan potensinya bahkan dengan cara yang tak pernah terbayangkan.

Namun, problematika sistem pendidikan di Indonesia dari tahun ke tahun adalah sama. SDM yang dihasilkan lebih dari 90% menjadi seorang passenger. Mereka cenderung pasrah akan keadaan, memilih hidup dengan zona nyamannya sebagai seorang penumpang keadaan. SDM tersebut dilahirkan dengan sebuah budaya pendidikan yang dinamakan “proteksi”. Ya, tentunya pendidikan dimulai dari lingkungan keluarga terlebih dahulu. Tradisi mengasuh anak dengan proteksi yang berlebihan dengan dalih “kasih sayang” tidak sepenuhnya pula benar.

Kalau kita membaca sejarah Nabi Muhammad SAW,  bahkan di usianya ke 12 tahun beliau sudah terbiasa menggembala kambing dan berdagang lintas negara. Bahasa sekarangnya beliau bahkan telah menjadi international entrepreneur. Melewati gurun pasir dan melakukan perjalanan darat dengan berjalan kaki berhari-hari lintas negara tentu bukanlah hal yang mudah. Namun di usianya yang masih belia, beliau telah membuktikannya.

Akibat dari proteksi yang berlebihan tersebut jelas, ketika dewasa hal itu terbawa. Kaum muda justru cenderung menjadi lumpuh dalam mengambil keputusan. Fakta di Indonesia menunjukkan bahwa banyak kaum muda yang selepas dari universitas yang ia jalani dengan susah payah dan biaya yang tidak murah justru bingung mau ke mana di dunia pasca kampus?

Pendaftar SNMPTN berdasarkan data dari Depdiknas dari tahun ke tahun mengalami kenaikan. Dalam tempo 4 tahun sejak tahun 2008 jumlah peminatnya naik hampir mencapai 3x lipat. Apakah hal tersebut meruapakan kabar gembira? Sementara dari 7.7 juta penduduk Indonesia yang menganggur hampir 500.000 orang di antaranya adalah sarjana.

Dalam dunia riil tidak dibutuhkan seorang pegawai atau pekerja yang bertipe “pemegang ijazah”. Namun yang dibutuhkan adalah manusia yang memiliki keterampilan memindahkan pikiran ke dalam tindakan nyata. Tindakan hanya bisa didapat melalui latihan dan disimpan dalam muscle memory (myelin). Sedangkan pengetahuan di simpan dalam brain memory. Brain akan berkembang jika manusia mampu melatih myelin-nya. Celakanya di bangku kuliah pelatihan semacam itu tidak didapatkan. Sehingga sarjana yang lulus hanya memiliki kompetensi dan pengetahuan saja, namun tidak tahu bagaimana cara menerapkannya.

Maka tidak heran, perusahaan-perusahaan di Indonesia selepas menerima sarjana harus melatih ulang mereka. Entah itu disebut dengan management trainee atau yang lainnya. Jika kondisinya demikian, mengapa tidak dilakukan reform ulang sistem pendidikan dan kurikulum sekolah-sekolah di Indonesia?

Pada hakikatnya menjadi passengers tidaklah masalah. Asal menjadi passengers yang baik. From bad passengers transform to be good passengers. Sebelum bertransformasi lebih jauh menjadi good driver, hendaknya ia bisa mengikuti sistem yang ada dengan baik. Sistem perkuliahan, sistem organisasi yang diikutinya atau yang lain. Setelah ia menjadi good passengers, ia akan lebih mudah diarahkan menjadi seorang good drivers.

Bad drivers bisa juga disebut dengan sopir ugal-ugalan. Mereka adlaah sekumpulan oran gyang sakit hati, agresif, mudah tersulut kebentcian, lebih mencari pembenaran ketimbang kebenaran. Sehingga ujung–ujungnya reputasi orang tersebut makin hancur dan semakin tidak terpercaya. Efeknya? Luar biasa. Mereka bisa membuat good passengers menjadi buruk.

Sedangkan good drivers, banyak sebutan yang layak disematkan kepada meraka. Mereka bisa saja seroang enterepreneur, profesional, CEO, dan sebagainya. Yang membedakan adalah mereka selalu keluar dari zona nyamannya. Sebut saja Soekarno, Hatta, Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan tokoh-tokoh pergerakan lainnya mereka adalah contoh dari good drivers. Mereka merupakan inisiator, tokoh perubahan, dan mampu menjadi role model bagi banyak orang.

Karakteristik lain dari good drivers adalah mereka memiliki pola pikir “out of the box”. Pola pikir iniah yang di tahun 1960-an banyak ditekankanoleh para ahli untuk melatih para eksekutif menemukan cara-cara baru. Karakter ini pada dasarnya merupakan langkah awal seorang passenger untuk menjadi seoran driver. Ingat bahwa driver adalah seorang pengemudi yang harus tahu jalan mana saja yang akan ia lalui. Ia tahu segala resikonya, konsekuensi, dan segala hal yang harus ditanggung bila ia mengambil keputusan tersebut.

Self driving memiliki tujuan besar menjadi pendobrak diri dalam beraksi. Sehingga mereka lebih waspada, insiatif tinggi, berani mengambil langkah, lebih fleksibel namun tetap kritis. Seorang good drivers dan good passengers pada hakikatnya merupakan seorang winner. Ia mampu mengambil segala kesempatan dan memaksimalkan potensi dirinya. Sebaliknya, seorang bad drivers dan bad passengers merupakan seorang loser. Ia selalu mencari alasan ketika akan bertindak atau berbuat.

Buku ini merupakan buku yang saya rekomendasikan untuk dibaca. Ditulis dengan gaya bahasa yang mengalir dan ringan, mudah dipahami oleh kawula muda khususnya. Sekali lagi, Rhenald Kasali menunjukkan karakteristiknya dalam kepenulisan buku-bukunya. Ia menulis berdasarkan pengalaman dan fakta-fakta yang di lapangan yang pernah dialaminya sendiri, atau dari sumber terkait lainnya. Fakta tersebut diperkuat oleh tinjauannya secara ilmiah dan gagasan-gagasan yang semakin menguatkannya.

Khsusunya bagi anda kawula muda, semoga bisa tersadarkan. Bahwasanya IP tinggi tak menjamin kita mampu survive dalam kehidupan ini. Rhenald Kasali telah membuktikan melalui riset dan penelitiannya. Juga melalui pengalamannya dalam berkelana ke berbagai negara. Mengubah mental memang tidak semudah membalikkan mata uang. Apalagi mengubah sistem pendidikan negara kita ini menjadi sistem pendidikan yang mencetak driver. Namun jika kita tidak mampu mengubah diri kita sendiri, lalu bagaimana kita mampu mengubah negeri ini?

Categories: Resensi Buku | Leave a comment

Resensi Buku: Hidup Sekali, Berarti, lalu Mati.

Judul Buku          : Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati

Penulis                 : Ahmad Rifa’i Rifan

Penerbit              : PT Elex Media Komputindo

Cetakan ke         : VII, Oktober 2014

Tebal                     : 210 Halaman

“Aku lebih memilih mati secara berarti, daripada hidup tanpa arti” – Corazon Aquino

Ada sekelompok manusia yang memadatkan usianya dengan beragam karya. Namun ada pula yang sudah merasa cukup hidup dengan aktivitas yang apa adanya. Tak penting meereka siapa. Yang lebih penting, kita termasuk yang mana?

Ada yang mengisi hari dengan beragam kontribusi. Namun ada pula sekelompok manusia yang hidupnya hanya memperjuangkan kesenangan dan kebahagiaan diri sendiri. Tak penting mereka siapa. Yang lebih penting, kita yang mana?

Ada yang memilih mengabadikan hidup jadi pahlawan, namun ada pula yang hanya puas jadi petepuk tangan. Tak pentin gmereka siapa. Yang lebih penting, kita termasuk yang mana?

Ada yang ketika lahirnya semua orang di sekitarnya tersenyum manis, dan ketika tiada semua orang sesenggukan tak bisa menahan tangis. Namun ada pula orang yang ketika lahirnya semua orang di sekitarnya tersenyum manis, dan ketika ia tiada, senyum orang di sekitarnya ternyata terasa semakin manis. Tak penting mereka siapa. Yang lebih penting, kita termasuk yang mana?

Ratusan abad silam dunia dikejutkan dengan dengan kehadiran seorang pria yatim yang mampu menoreh prestasi tak terkira. Baru meninggalkan usia balita, ia sudah piatu. Lengkap sudah hidup tanpa ibu ayah di usia yang masih sangat belia. Tapi ia bukan anak manja. Di usia dua belasan tahun, ia memegang unit usaha internasional Abu Thalib sampai ke Syam dan berhasil menjadi penjual yang sukses berkat kejujuran yang dipegangnya. Usia dua puluhan ia dipercaya memagan bisnis besar yang diingestasikan Khadijah.

Tak lama kemudian, beliau membuktikan diri sebagai panglima dan administrator militer yang tidak ada duanya. Sepuluh tahun di Madinah, tiga ratusan detasemen beliau pimpin dengan sukses luar biasa. Dua imperium besar saat itu, Persia dan Romawi, terpaksa mengakui keagungannya. Dan dunia mengenalnya dengan nama yang agung itu, Muhammad SAW.

Begitulah hidup memang bermula dengan “B” (Birth) dan berakhir dengan “D” (Death). Dan yang harus senantiasa teringat, bahwa antara “B” dan “D” ada “C” yang berarti Choice. Hidup adalah pilihan. Mau jadi pahlawan atau pecundang. Numpang lewat atau menabar manfaat. Pingin jadi winner atau looser. Mau jadi juara atau biasa-biasan saja.

Hidup hanyalah sekali. Maka pilihlah hidup yang penuh arti. Yang penuh prestasi dan kontribusi. Yang jasadnya mati tapi namanya tetap abadi. Yang hidupnya mulia, matinya dikenang sejarah. Yang di dunia bahagia, di akhirat meraih suraga. Yang di dunia dicintai manusia, di akhirat hidup bersama ridha Tuhannya.

Hidup sekali berarti, lalu mati.

Ahmad Rifai Rif’an lagi-lagi kembali dengan buku motivasi islamnya. Gaya bahasanya begitu khas. Ringan dibaca namun bermakna dalam. Buku ini disajikan dengan kisah-kisah singkat penuh hikmah. Kemudian di setiap kisah, penulis melakukan pembahasan sesuai dengan topik dari kisah tersebut.

Secara garis besar, buku ini terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama bertajuk Hidup Sekali. Bagian ini menceritakan tentang bagaimana manusia dapat hidup dengan damai dan tenteram. Namun pada intinya menekankan bagimana manusia agar bisa bermanfaat. Hal yang ditekankan di sini bahwa manusia hanya diberi kesempatan hidup sekali. Maka sungguh sangat rugi bila manusia tidak bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Bagian kedua bertajuk Berarti. Pada bagian ini dijelaskan ladang-ladang kontribusi bagi para manusia. Intinya adalah bagaimana kita bisa mengabdi dan menghasilkan karya yang penuh arti. Tidak harus berkarya, namun bisa saja kita bekerja kerasa dengan niat untuk bermanfaat bagi sesama manusia.

Bagian ketiga bertajuk lalu mati. Akhirnya sebenarnya pilihan mati dengan cara apa dan bagaimana sebenarnya ada pada diri kita sendiri. Apakah kita akan mati sebagai pribadi yang khusnul khatimah, atau mati secara su’ul khotimah. Semuanya adalah pilihan kita, karena kita lah yang akan menjalani kehidupan ini.

Secara garis besar, buku ini menyajikan kisah yang luar biasa. Bahasanya ringan, disertai kisah-kisah yang menggugah dan merubah. Untuk seukuran buku motivasi, buku ini cukup komplit menjelaskan hal-hal mulai dari hidup sampai mati, serta ibadah apa yang harus kita lakukan.

Categories: Resensi Buku | Leave a comment

Blog at WordPress.com.