Renungan

Keputusan

Aku selalu penasaran terhadap segala keputusanNya. Terkadang sesuai yang diekspektasikan, atau bahkan melebihi, namun tak jarang menghasilkan kegagalan.

Aku yang sudah merencanakan sedemikian rupa, lantas bisa berubah hanya dalam beberapa detik saja. Yang imbasnya tak hanya satu dua saja, namun bisa jadi seluruhnya. Hingga akhirnya mozaik-mozaik itu seolah tercecer kembali.

Aku ingin memberontak, namun tak mampu, dan tentu saja tidak boleh. Tetap saja Dia Yang Maha Kuasa. Apalagi mau mengubah, memang siapakah diri kita ini?

Continue reading

Categories: Renungan | Tags: | Leave a comment

Bersyukur yang (Tak Pernah) Mudah

Bersyukur seringkali terlihat mudah. Padahal itu bukan sekadar mengucap Alhamdulillah. Atau mengadakan syukuran dari sederhana hingga mewah. Ada pula yang mewujudkan dalam bentuk sedekah. Namun justru pasca itu kegelisahan kembali merekah.

Ada hal-hal yang seringkali kita lupakan dari syukur itu sendiri. Ketika kita melalaikan amanah jabatan, padahal tak semua orang mendapat kesempatan memegang tampuk amanah yang telah dipercayakan. Ketika kita bermalas-malasan dalam pekerjaan, padahal di luar sana masih banyak pengangguran. Continue reading

Categories: Renungan | Tags: | Leave a comment

Doa

Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina“. (QS. Ghafir: 60)

Kekuatan yang barangkali seringkali kita lalaikan. Padahal ia tak terukur. Bahkan bisa saja keberhasilan kita hari ini karena doa doa orang tua dan kawan kawan kita. Bukan doa kita sendiri, yang banyak berlumur dosa.

Tentu saja ini tak sama dengan mengemis. Atau sekedar meminta minta. Semakin banyak doa yang kita panjatkan justru semakin menunjukkan ketidakberdayaan kita di hadapanNya. Semakin kita merasa rendah diri di hadapanNya. Serta dan semoga menjadikan diri ini tak sombong di hadapanNya. Continue reading

Categories: Renungan | Tags: , | Leave a comment

Sekadar Berharap

Kita tentu saja akan senantiasa memohon kepadaNya. Agar kelak dapat merasakan kenikmatan Surga. Hingga doa-doa yang senantiasa kita panjatkan setiap harinya. Setidaknya 2 kebaikan : Di dunia dan di akhirat. Juga satu ketakutan : agar terhindar dari api neraka. Menjadi doa wajib yang senantiasa menutup rangkaian munajat panjang kita kepadaNya.

Bahkan tentu saja kita tak ingin merasakan kenikmatan itu sendiri. Ada kedua orang tua kita yang senantiasa kita doakan. Memohon kepadaNya dengan penuh sungguh agar dosa-dosa mereka, termasuk dosa kita diampuni olehNya. Agar Allah mencurahkan kasih sayangNya kepada ayah dan ibunda kita, sebagaimana mereka mencurahkan kasih sayangnya pada kita saat kecil. Ya, hanya itu yang bisa kita lakukan, sebab sekuat apapun kita membalas, takkan mampu menyamai kasih sayang mereka kala kita tak berdaya. Continue reading

Categories: Renungan | Tags: | Leave a comment

Blog at WordPress.com.