Puisi

Pada Suatu Hari Nanti :)

Pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi…
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau tak akan kurelakan sendiri…

Sebab tiada sebuah keabadian dalam jagad raya ini, kecuali Dia dan mungkin beberapa hal atas kehendakNya. Adalah Tuhan yang menciptakanku menjadi seperti ini. Menjadi manusia biasa yang tertakdirkan mencintainya karenaNya. Aku tahu bahwa waktu terus berjalan. Sementara aku semakin dewasa, dan kau pun juga. Lalu lisan ini masih terkunci, dan waktu kian hari kian mendekati maut yang menanti. Begitu pun dengan dirimu. Barangkali hanya isyarat-isyarat kecil yang semu yang mampu menjawab keraguan ini. Namun jawaban itu kian hari kian semu, hingga ia hilang dalam kefanaan. Sebelum maut menjemput barangkali tentu aku ingin sekedar berkata kepadamu. Namun adakah keterizinan yang diberikan oleh waktu padaku?  Atau barangkali takdir mengatakan bahwa aku kan menemanimu dari alam sana?

Pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi…
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati…

Sebab itulah diriku. Lelaki yang hanya mampu membisukan cinta kepadamu melalui bait-bait yang tak berujung, sebab ujungnya adalah dirimu. Sementara suara ini kian hari kian mengecil hingga hanya menyisakan aksara tanpa suara. Lalu dirimu semakin nyaring berkata, namun barangkali bukan untukku. Aku tak tahu apakah catatan ini pernah sampai kepadamu. Sebab barangkali aku terlalu pemalu kepada kawan-kawan sejenismu. Begitu pun kamu, barangkali kamu memiliki surat cinta yang tak pernah sampai, sekalipun aku yakin bukan untukku. Namun, adakah yang lebih indah selain menyemukan namamu dalam rentetan aksara? Sekalipun takkan ada balasan yang kutunggu, biarlah ia memantul menjadi refleksi yang berhias mahligai cintamu kepadanya.

Pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi…
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau tak akan letih-letihnya kucari…

Sebab itulah aku. Izinkan aku mengatakan padamu bahwa aku terlanjur mencintai aksara karenaNya. Ingin jiwa ini terwaqafkan untuk menghasilkan berjuta karya yang menginspirasi manusia. Dan di antara barisan huruf itu, terdapat namamu. Ya! Namamu yang selalu membayang-bayangiku manakala kumenarikan jemari di atas keyboard ini. Sekalipun suatu saat nanti aku tak dikenal lagi, bahkan olehmu, yang saat ini terlalu dekat dengan mereka bahkan dia. Maka takkan lelah jemari ini menari. Menyisipkan namamu di antara prosa ini. Menarikan nyanyian cinta ini lewat kebisuan lisan, dan suara merdu goresan aksara ini. Serta menjadikanmu inspirasi dalam bait-bait cinta ini.

– Interpretasi Puisi –
Sapardi Djoko Damono

Categories: Puisi | Tags: | Leave a comment

Ketika ekspresi…

Ketika ekspresi…

Ketika ekspresi rindu adalah doa, tak ada cinta yang tak mulia

– Tuhan Maha Romantis by Azhar Nurun Ala,

View On WordPress

Categories: Puisi | Tags: , | Leave a comment

Hujan Di Bulan Juni :)

Hujan Di Bulan Juni 🙂


Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu*

Karena tak kusangka terjerumus ke dunia ini. Dunia yang sebenarnya jauh tak terimpikan di masa lalu. Sempat kuratapi resolusi-resolusi yang tertempel rapi di kamar tidurku. Dan di sana, tertulis jelas hingga membuat pandanganku tertuju kepadamu sebelum jiwaku berpaling dari ragaku, setiap…

View On WordPress

Categories: Puisi | Tags: , | Leave a comment

Blog at WordPress.com.