Cerita

Hujan dan Bumi

Aku berdiri di depan jendela. Memandang langit yang kian hari kian bermuram durja. Kata orang inilah hujan yang tertunda. Hingga ia tak terprediksi seperti dahulu kala. Ingin aku bertanya kepada langit. Mengapa ia menahan hujan yang telah lama ingin turun. Ia ingin menyapa kekasihnya di dunia. Sajak berkata, bahwa hujan hadir di Bulan Juni. Namun tidak untuk sekarang. Ia bisa turun sesuka hati. Membuat bumi merana. Adakah kekasih lain di langit sana yang membuat hujan tak lagi menyambangi dunia?

Tidak ada yang tahu di langit sana. Pun demikian dengan bumi. Hujan yang tlah lama tak menyapa pada akhirnya turun juga. Melepas rindu pada bumi yang hanya bisa menunggunya. Barangkali  hujan lupa bahwa berlebihan pun tak baik. Hingga luapan air pun membuat bumi merintih. Membasahi bagian yang seharusnya tak terkena air. Barangkali karena rindu yang menggunung, hujan pun lupa bahwa bumi punya keterbatasan. Ya, keterbatasan dalam menerima cintanya. Ataukah ada separuh hati yang terisi kan oleh selainnya?

Hujan tetap turun dengan derasnya. Sederas air mata rindu manusia yang lama tak berjumpa. Tak peduli dengan sakitnya bumi. Namun bumi tetaplah menerima. Ia tak pernah bergeser pun dari posisinya. Menerima rintik hujan apa adanya. Boleh jadi ketersakitan itu telah pergi bersama rindu. Bahkan sesekali menutup telinga kala guntur berbicara. Ya benarlah jika cinta tanpa ketersakitan, barangkali itu hanyalah sebuah kefanaan.

Perlahan ia mulai reda. Membuat angkasa tak lagi bermuram durja. Bahkan mentari siap tuk mengangkasa. Melukis gapura tujuh warna tuk membelah cakrawala. Agar bumi tersenyum walau hanya sementara.

Namun itu hanya sesaat. Hujan begitu melankolis. Ia berjanji. Esok akan menyambangi bumi kembali. Sekalipun semakin tajam menghujam gravitasi. Lalu bumi ? Ia semakin kuat. Menerima cinta yang kian deras dari hujan.

Categories: Cerita | Tags: | Leave a comment

Bersegeralah

Bersegeralah kamu dalam ibadahmu. Sebab kamu takkan tahu kesempatan yang terkaruniakan ruang waktu. Apakah ia masih mengasihanimu, atau bahkan siap mencabut nafasmu. Sebab itulah Tuhan menganjurkan kita mengawali bukan mengakhiri. Seringkali kita lalali karena duniawi, padahal nanti kau akan dihakimi di antara tiang-tiang keadilan. Maka siapkanlah nyalimu melalui amalmu untuk bersiap hadapi cinta kasih illahi rabbi. 

Bersegeralah kamu kepada ayahanda dan ibundamu. Sebab tak terhitung sudah pengabdian mereka untukmu dulu. Manakala berjalan, berbicara, bahkan buang air pun kau tak mampu. Mereka mtulus mencintaimu, sebab lelah itu terbayar hanya karena melihat senyum dan tawamu. Pun demikian saat kau beranjak dewasa, kau meminta ini itu. Sekalipun mereka tak mampu, mereka tetap berusaha menurutimu. Hingga saat kau dewasa, kau mulai beranjak meninggalkan mereka yang dulu merawatmu. Maka bersegeralah dalam pengabdianmu selagi kamu masih miliki banyak waktu. 

Bersegeralah kamu dalam sujudmu. Adakah yang jauh lebih sendu manakala kau melepas rindu dengan Tuhanmu? Sebab dia jauh lebih rindu kepadamu daripada kamu yang merindu. Jika air matamu membasahi mihrabmu, barangkali itu adalah dosa-dosamu yang luruh. Sebab itulah bersujudlah selagi kau masih mampu. 

Bersegeralah kamu meraih surgaNya. Bahkan para sahabat Nabi dahulu pun berlomba-lomba untuk syahid di jalanNya. Di sana kau dijanjikan keindahan, kenikmatan, serta kemuliaan tanpa batas. Maka dunia yang kau huni saat ini hanyalah medan laga semata yang kian hari kian terasa kefanaannya. Lalu jika memang begitu, masihkah dirimu begitu malas tuk mengejarnya? Kerjarlah jika memang kau ingin mengejarnya. Namun saat kau meraihnya, ingatlah Dia, niscaya niatmu kan lurus tuk menggapai kebadaian surgaNya. 

Categories: Cerita, Tulisan | Tags: | Leave a comment

SDE #4 : Sebab Kamu Belum Mengatakannya

Orange Juice dihadapannya sudah habis. Begitu pula semangkuk chicken katsu  di depan mereka. Menyisakan es batu yang masih belum mau melebur juga sendok yang menyilang menandakan kelelahannya melayani manusia di depannya. Sudah satu jam sepasang sisa menu tersebut teronggok di atas meja. Namun mereka tak kunjung beranjak. Barangkali masih penasaran menyaksikan dan mendengar dua manusia yang sedang duduk bercengkerama, disinari senja yang mulai tampak.

Tak tahu kenapa mereka tiba-tiba dekat dengan sendirinya. Sebegitu keraskah daun mencintai embun hingga sore itu mengantarkannya ke sebuah restoran jepang favoritnya. Sudah kesekian kalinya mereka menghabiskan waktu bersama di sore hari. Terkadang mereka belajar di sana bersama teman-temannya, atau sekedar bercengkerama berdua.  Orang biasa melihat mereka laksana kekasih yang barangkali tak terpisah. Sampai-sampai penjaga restoran itu hafal dengan meja favorit mereka, hari di mana mereka berada, dan jam mereka berdua berkunjung. Barangkali mereka berdua tak pernah sadar bagaimana bisa berada di tempat yang sama sejak pertama ke sana, hingga saat ini.

“Mbun, coba lihat deh, ini ada film baru premier minggu depan, bagus nih kayaknya. Gimana kalau kita berdua nonton?” Daun bertanya kepada Embun.

“Film apa kak? Kalau film horror Embun nggak mau. Nggak sehat, bikin merinding lihatnya,”jawab Embun sambil merajuk.

“Bukan dek, bukan film horor. Ini film 3D, action. Produksinya Disney, kayaknya kalau film ginian kamu suka. Gimana? Mau nggak? Kita nonton sore aja ya, biar kamu nggak malam-malam?”tanya Daun kembali

“Wah, kalau itu mau kak, nanti aku ajak adikku boleh? Dia masih SD, dan pasti suka film begitu kak.”ujar Embun

“Mau ajak ayah ibumu sampai nenekmu juga nggak apa-apa Mbuun hehehe. Tapi bayar sendiri hahahaa…”jawab Daun seraya tertawa.

Begitulah keseharian mereka. Tak jarang Daun mengunjungi Rumah Embun untuk mengajarkan pelajaran-pelajaran sekolahnya. Daun memang berikrar ia akan menjadi kakak terbaik bagi Embun, sebab itulah ia relakan waktu-waktu luangnya untuk Embun. Begitupula embun, ia bagai mendapatkan karunia terbaik dari Tuhannya. Sebab selama ini prestasi Embun bukanlah dibilang istimewa, namun sejak mereka menjalin kebersamaan, antara mereka mendadak menjadi eksis satu sekolah. Maklum nilai-nilai mereka menjadi nomor satu di angkatannya masing-masing. Maka adakah kebersamaan yang terindah selain kebersamaan tuk merajut prestasi?

_______________________________________________________________________________________________________

Tempat yang berbeda, namun suasana lagi-lagi sama. Senja di angkasa kembali menjadi ketiga diantara mereka berdua. Minggu yang dinanti telah tiba dan usailah mereka menonton film bersama. Kali ini mereka hanya berdua, sebab adik dari Embun tidak jadi membersamai mereka. Jadilah mereka kembali bersama di sebuah restoran dekat bioskop tempat mereka melihat film bersama. Kali ini mereka memesan es krim untuk berdua.

“Film-nya seru ya kak, hehe.. Makasih ya buat hari ini yaaa,”kata Embun kepada Daun.

“Iya sama-sama. Eh tuh dek es krim-mu belum habis tuh. Yassalaam, kok bisa belepotan di mulutmu itu,”ujar Daun tertawa.

“Eh iya kak? Kok perasaan Embun nggak ngerasa ya?”ujarnya sambil mengusap pipi dan mulutnya.

Entah siapa yang menggerakkan, dan hasta itu meluncur cepat ke arah mukanya. Sambil mengusapnya dengan tisu di tangannya. Pelan-pelan tapi pasti, dan tanpa permisi. Sesaat pria itu kaget dengan yang dilakukan barusan, malu dan memerah pipinya. Sementara gadis itu tidak ada satupun yang ia rasa, bahkan ia senang telah dibersihkan sisa eskrim di pipinya.

“Eh, sorry dek… Reflek aja ini tadi lihat muka kamu belepotan es krim kayak gitu,”ujar Daun buru-buru tersipu.

“Lho emang kenapa kak? Nggak apa-apa, malah aku bilang makasih udah mau membersihkan muka kumal ini, hehehe,”Embun terkekeh. Sambil tanganya tetap ia usapkan ke sekujur pipinya, memastikan tak ada lagi sisa eskrim yang masih menempel.

Tiba-tiba, “Embun sayang, yuk pulang. Udah ditunggu orang tuamu di rumah tuh,” terdengar suara lelaki dari belakangnya.

Sosok lelaki yang tiba-tiba muncul di samping mereka berdua. Ia memakai kaos hitam, jeans, dan sepatu kets, dan kacamata frame tebal. Tanpa permisi ia tiba-tiba mengajak Embun untuk pulang ke rumah. Daun pun terkesiap namun ia hanya bisa terdiam.

“Lho sayang, kebetulan kamu di sini. Mama yang minta kamu menjemput?”

“Iya dek, ini mama tadi barusan menghubungi aku, kebetulan aku juga pulang ngajar anak-anak binaanku. Eh ini temenmu? Kenalin, namaku Surya,”ujar pria itu menyalami Daun.

“Eh.. Oh, iya maaf.. namaku Daun. Kalian mau pulang nih?”tanya Daun.

“Iya Kak Daun, oh ya kenalkan ini Surya tunanganku, dia seumuran kok sama kakak, tapi sekarang kesibukannya mengajar anak-anak jalanan. Udah ya Kak, Embun pulang dulu. Makasih udah diajak jalan-jalan hari ini,”ujar Embun.

“Oh eh… iyaa.. sama-sama dek, hati-hati juga sama Surya,”jawab Daun.

Mereka berdua menghilang di telan lift. Menyisakan seorang pria yang kembali dalam kegalauannya seperti dahulu saat pertama kali mengenal embun. Ia hanya terdiam, sambil merenungi kebersamaan mereka yang hampir setahun berumur. Layakkah itu disebut sebuah pengkhianatan, atau sebegitu jahatkah Embun kepadanya. Ia tertunduk lesu, dan naluri lelakinya runtuh seketika. Menyaksikan sore yang begitu cepat dan berakhir dengan ketersiksaan jiwa.

Pemuda itu pulang ke rumahnya dengan gontai. Tak disantapnya masakan bundanya, sebab ia memilih langsung mengurung diri di kamar. Merenungi apa yang terjadi selama bulan-bulan ini. Ia bahkan sudah menceritakan segalanya kepada Bunda Pohon, dan sekarang ia harus bercerita apa kepada ibundanya? Daun pun tertunduk lesu, dan terkesiap saat menemukan sebuah amplop biru miliknya yang terselip di bawah catatan hariannya. Ia pun terkejut, cepat-cepat mengambil dan membuka isinya. Matanya terbelalak dan ia seakan tak percaya. Ya… Daun pun ingat sekarang, sebab kebersamaan mereka selama ini sudah jelas sia-sia. Sebab Daun belum mengatakannya.

Categories: Cerita | Tags: | Leave a comment

SDE #3 : Ketika Tatap Menjadi Kata

Pepatah bilang dari mata turun ke hati. Tapi bagiku dari mata turun ke kata. – faizalmushonnif, 2014 –

tumblr_m64l767Dgi1qil6vuPepatah bilang dari mata turun ke hati. Tapi bagiku  dari mata turun ke kata.

Begitulah pepatah berkata. Bagiku, sudah bukan zamannya lagi pepatah “dari mata turun ke hati”. Ya begitulah, ketika mata menangkap pesona, hati berbicara, rasa cinta bergelora. Cukup sampai di situlah rasa cinta. Ia hanya berputar-putar di ruang hati kita yang begitu kecilnya. Tanpa ada sebuah usaha, tiada kasat…

View On WordPress

Categories: Cerita | Tags: | Leave a comment

Blog at WordPress.com.