Malaysia

#LostAtMalaysia #Day2 : Forging ASEAN Youth Network through Volunteerism

New Family, New Buddy

Universiti Utara Malaysia. Di sinilah tempatku bersama teman-teman peserta ASEAN University Youth Summit dikumpulkan. Malam harinya dilakukan briefing singkat untuk acara keesokan harinya. Di sinilah awal mula aku mengenal kawan-kawan dari berbagai negara. Di kelompokku aku mendapat buddy seorang alumnus UUM yang kini aktif dalam berbagai kegiatan Volunteerism di negara-negara Asia Tenggara. Syafiq namanya.

Kemudian aku pun berkenalan dengan Iqbal, seorang mahasiswa UMY Jogja, Helmy dari UNAIR Surabaya, Handoyo dari UII, Pat dari Chiang Mai University Thailand, Affan dari Mercubuana University, serta Rabbani dari Malaysia.

Malam itu kami berkumpul dalam kelompok kecil lebih ke arah internalisasi. Kebetulan aku duduk di sebelah Pat, dan kami banyak bertukar info mengenai budaya Indonesia dan Thailand.

Darinya aku mengetahui ternyata bahasa Indonesia di Thailand menjadi semacam mata kuliah pilihan di universitasnya, bahkan beberapa universitas mewajibkannya.  Sesi sharing selesai dan dilanjutkan esok hari saat hari pertama konferensi.

Day #2 : Youth Volunteerism

Hari kedua kami memulai acara konferensi dengan sarapan pagi di EDC, UUM. Selanjutnya acara dibuka oleh rektor dan oleh Chief Minister Kedah, Dato’ Seri Haji Mukhriz Tun Mahathir. Beliau merupakan putera ketiga dari Perdana Menteri Malaysia, Mahatir Mohammad.

Sekitar pukul 11.00, diskusi dimulai. Round pertama dari diskusi ini bertemakan “The Role of Youth Volunteers as Agents of Change Towards ASEAN Community 2015”. Pada round table kali ini kami mendiskusikan tentang bagaimana seharusnya peran pemuda dalam bidang volunteerism khususnya memasuki ASEAN Economic Community. Secara garis besar, dari forum kali ini dapat diambil kesimpulan.

Pertama, kami semua bersepakat bahwa cara terbaik menjadi seorang volunteer adalah dengan melakukan aktivitas sesuai bidangnya masing-masing dan passion masing-masing. Sebab, tidak bisa dipungkiri AEC 2015 dengan adanya hal ini, maka negara-negara ASEAN sudah seharusnya meningkatkan kepedulian mereka satu sama lainnya.

Kedua, dari hasil diskusi panjang kami, rata-rata banyak program volunteerism hanya berjalan eventual atau jika memang sudah selesai ya sudah, tidak ada follow up kembali. Hal itulah yang umumnya dapat menjadi evaluasi bersama. Bahwa seharusnya ada rencana strategis untuk pengembangan suatu daerah. Bahkan ada juga yang hanya acara beberapa hari, selesai dan ya sudah. Seolah itu hanya menjadi kewajiban program kerja atau agenda saja.

Diskusi sesi pertama berlangsung selama satu jam. Diskusi ini cukup seru sebab pada sesi ini banyak peserta yang men-sharingkan tentang aktivitas sosialnya di negara masing-masing. Mulai dari bidang religi, seni dan budaya. Sempat waktu itu saya mensharingkan bersama beberapa teman saya dalam konferensi tersebut tentang pengabdian masyarakat berbasis keprofesian yang banyak dilakukan oleh hampir semua jurusan di ITS. Mereka tertarik, dan berharap suatu saat dapat mengunjungi ITS.

Sesi diskusi kedua bertemakan tentang “Mobilizing Youth Volunteerism for Sustainable Social Development”. Pada sesi kali ini, di ambil perwakilan setiap negara untuk mempresentasikan gerakan-gerakan sosialnya. Indonesia pada waktu konferensi ini diwakili oleh seorang delegasi dari Universitas Negeri Yogyakarta yang mempresentasikan mengenai GMB atau Gerakan Mari Berbagi.

Sesi ketiga kaligus menjadi sesi terakhir dari diskusi ini bertemakan Streghtening Youth Volunteerism in ASEAN. Pada sesi ini kami mengambil kesimpulan mengenai diskusi. Bahwasanya sudah bukan lagi saatnya negara-negara ASEAN melakukan pengabdian secara terpisah. Namun ke depannya diharapkan dapat melakukannya secara bergantian di berbagai negara.

New Friend, New Connection

Pada setiap sesi makan ataupun duduk, saya selalu membiasakan dan memberanikan diri untuk bergabung dari teman-teman dari negara lain. Ya, salah satu chance besar dari konferensi ini adalah menjaring koneksi, dan karena ini merupakan konferensi pertama saya, tentu saya tak akan menyianyiakannya. Kami saling bertukar kontak dan berharap komunikasi dapat terjaga sekalipun sudah kembali ke negara masing-masing.

Bahasa inggris yang masih pas-pasan tidak menjadi masalah. Justru inilah kesempatan terbaik kita semua untuk practice. Secara general, Alhamdulillah saya tidak merasa kesulitan berkomunikasi dengan sesama rumpun ASEAN. Sebab secara logat bicara mereka nyaris sama dengan orang Indonesia pada umumnya, dan pronounciation mereka masih jelas.

Sempat mencari-cari dari berbagai negara yang berkuliah di jurusan Teknik Industri, sayangnya hingga konferensi berakhir saya belum menemukannya. Namun, ada satu teman, jonas namanya, berasal dari Filiphina, dan kebetulan dia Teknik Mesin. Akhirnya pembicaraan kami panjang mengenai kurikulum, mata kuliah, sampai tentang dosen-dosen yang killer dan lain sebagainya. Ia ternyata juga aktif sebagai Sekertaris Letran Calamba Student Government (semacam Badan Eksekutif Mahasiswa).

Ada juga Asdy, Fatin, dan Isha. Mahasiswa Universitas Brunei Darussalam. Dari mereka saya mengetahui tentang kuliner khas brunei. Mereka di sana ternyata terbiasa memakan sagu. Bahasa yang mereka gunakan juga bahasa melayu, beberapa kali saya mencoba menggunakan bahasa indonesia bercampur baur inggris dan Melayu untuk berkomunikasi.

Saya pun berkenalan juga dengan Nob, JJ, dan Phanom, dari Thailand. Yang sedikit membuat saya kesulitan rupanya mereka masih belum lancar berbahasa inggris. Bahkan mereka berkata, bahwa Indonesian people has good english skill. Untuk pertama kalinya saya begitu tersentak, sebab ternyata bayangan buruk tentang Indoensia yang ketinggalan, atau apapun itu ternyata tak seburuk yang saya kira. Mereka berkata bahwa memang di Thailand bahasa inggris sesungguhnya masih menjadi kendala, dan masih banyak yang belum dapat menguasainya. Hmm, rupanya masalah negara berkembang hampir sama semua.

Tak juga lupa saya berkenalan dengan teman-teman dari berbagai universitas di Indonesia. Sesi konferensi hari itu selesai sekitar pukul 17.00 sore. Banyak sekali ilmu yang bisa diperoleh, teman baru, wawasan baru, dan yang terpenting koneksi baru. Tentu saya berharap suatu saat dapat berkeliling ASEAN, dan kembali bertemu dengan mereka.

Categories: Malaysia, Travelling | Tags: | Leave a comment

#LostAtMalaysia #Day1: Twin Tower

25 Januari 2015

Suasana di asrama PPSDMS waktu itu masih lengang. Maklum saja pada waktu itu suasana masih liburan. Beberapa dari kami masih libur di daerah masing-masing. Namun tidak dengan beberapa anak di antara kami. Pagi itu sekitar jam 9, sampailah aku di asrama. Dengan membawa ransel dan beberapa barang bawaan lainnya. Rasanya masih tidak percaya jika malam nanti aku akan bertolak ke Negara tetangga. Ya, begitu besar nikmatNya, sehingga 9 di antara kami mendapatkan kesempatan mengikuti konferensi pemuda tingkat Asia Tenggara. ASEAN University Youth Summit 2015. Tepatnya di Universiti Utara Malaysia, Kedah.

Siang itu, mendadak suasana asrama yang sepi menjadi gaduh karena kedua rekan perjalananku, Galih dan Ainun ribut. Hal itu dikarenakan Galih, yang baru datang dari KKN-nya, baru saja membuka email e tiket yang sudah dibelinya sejak jauh jauh hari. Dan sesuai dengan julukan yang melekat kuat di asrama “Mr. Typo” dan malangnya kejadian typo pun menimpa dan kali ini di tiket pesawat yang ia beli. Penulisan nama Galih dan Ainun di tiketnya salah karena kurang hanya satu huruf. Galih Kurnia G. A . “Stanto” (huruf U) dan Muhammad Ainun “Tamiyah” (ini kurang huruf I dan parahnya tidak ada nama belakang Indra). Sontak saja kami bertiga yang masih polos untuk urusan keluar negeri ini khawatir. Ya, jelas saja khawatir karena ada kesalahan penulisan nama. Bayang-bayang tidak jadi berangkat pun membayangi dua orang temanku itu.

Hal itu semakin runyam manakala mereka berdua mencoba menghubungi Call Centre Air Asia. Katanya nama sudah tidak bias diubah dikarenakan minimal perubahan haruslah H-1 hari. Yang terjadi justru pihak call centre meminta kami berurusan dengan pihak bandara langsung.

Singkat cerita, penerbangan kami yang masih jam 20.30 malam, akhirnya kami harus terpaksa lebih awal menuju bandara untuk menghindari kemungkinan terburuk. Jam 16.15 kami sudah berangkat dari asrama. Sampai di bandara sekitar 17.15 dan ternyata setalah di crosscheck petugas hal itu tidak masalah. Oke masalah satu selesai.

Lautan Awan Cumulanimbus

Bayang-bayang kecelakaan air asia sekitar hampir sebulan yang lalu tentu masih saja membayang-bayangiku. Awalnya aku merasa tenang. Namun, selepas boarding pass, ketika pesawatku Air Asia AK-363 bersiap untuk take off di runaway, ia tidak segera take off. Aku melirik jam, dan sudah pukul 20.45. Artinya ia seharusnya telat 15 menit. Entah kenapa pesawat berhenti sejenak dan posisi dudukku yang berdekatan dengan jendela membuatku melihat jelas bahwa langit sedang mendung tebal. Dan tiba-tiba ada fenomena yang membuatku gugup. Terlihat kilat garpu membelah angkasa. Usai kilat itu datang, take off lah pesawat saya.

Tidak hanya sampai di situ saja. Ketika take off entah kenapa begitu lama. Saya memang belum berpengalaman ke Malaysia, namun pengalaman ke Hong Kong 7 tahun silam saat cuaca cerah menggunakan Garuda, take off tidak selama itu. Sampai 30 menit lebih pesawat saya masih gelap dan kondisi siaga sabuk pengaman masih dinyalakan. Sementara dari jendela saya, kilat awan komulanimbus terlihat di mana-mana. Beberapa kali pesawat mengalami getaran walaupun hanya sedikit. Namun itu sudah cukup membuat jantung saya berdegup kencang.

Sekitar 45 menit usai take off, barulah lampu indikator sabuk pengaman mati, dan lampu kembali menyala. Pesawat berada di ketinggian 38000 kaki. Yah, singkat cerita, Alhamdulillah happy ending. Pesawat saya dapat mendarat sekitar pukul 00.05 waktu Malaysia di KLIA2 dengan selamat sentausa. Oke, ujian kedua terlewati.

KLIA 2. Pertemuan.

Di bandara ini, tanpa sengaja di sector imigrasi kami bertemu dengan teman kami satu asrama. Pak We dan Helmy. Keduanya memutuskan naik Lion dari Jakarta setelah sebelumnya menempuh perjalanan kereta dari Surabaya. Mereka beralasan masih takut naik air asia dari Surabaya. Kami berlima pun segera menyeleseikan urusan imigrasi dan mengambil bagasi. Karena 3 diantara kami belum shalat isya’ kami pun memutuskan untuk shalat isya. Saya dan Ainun menunggu di terminal bus.

Rencana awal kami malam itu langsung menuju Kuala Lumpur City Central untuk mengambil foto di depan Twin Tower Petronas. Namun itu berantakan. Ya, karena kelelahan perjalanan kereta, Pak We dan Helmy justru malah tidur-tiduran di Musholla. Alhasil ternyata kami baru mengetahui bahwa bus ke KLCC hanya ada sampai jam 2. Bus yang lainnya jam 5.15 baru ada. Sedangkan jika naik taksi biayanya luar biasa. Maksimal 1 mobil 4 orang dan biayanya 300 RM. Haloooww, satu juta lebih hanya untuk perjalanan sekali ke KLCC. Yah, belum takdirnya rupanya berfoto di depan Twin Tower dengan gemerlap lampunya. Akhirnya kami memutuskan membeli tiket bis jam 05.15 dan seraya menuju musholla bandara untuk tidur. Rupanya di situ pun banyak backpacker seperti kami yang tidur juga.

Pukul 04.30 aku terbangun. Subuh di Malaysia masih jam 06.00. Kemudian aku segera mengambil air wudhu untuk melaksanakan Qiyamu Lail sejenak. Sekitar 30 menit kemudian tepatnya jam 05.00 aku membangunkan kawan-kawanku. Bergegas menuju Bus. Kali ini kami berharap tidak ketinggalan.

And Twin Tower, Here we Go!

Jam 06.27, sampailah kami di Pudu Raya Bus Station. Segera aku nyalakan GPS-ku mencari Masjid Jami’ terdekat. Sampailah kami sekitar pukul 06.42. Matahari masih belum jua terbit. Lokasi masjid tersebut berdekatan dengan LRT Station. Kami pun segera melaksanakan Shalat Subuh, dan inilah WBS kami berlima pertama di luar negeri. “Maka Nikmat Tuhan Manakah yang Engkau Dustakan?”

Selepas subuh, secara tidak sengaja kami melihat Kuala Lumpur Tower terlihat dari Masjid kami. Wah, kebetulan berarti lokasinya tidak jauh. Kami pun memutuskan untuk bergegas sarapan. Di sekitar masjid banyak penjual makanan. Kami pun membeli Nasi Ayam. Harganya 5 ringgit, menggunakan beras merah. Setelah dirasakan rasanya mirip ayam bumbu kacang, namun aroma khas Malaysianya begitu terasa.

Seharusnya ke KLCC bisa menggunakan LRT. Namun, gedung yang sepertinya terlihat dekat membuat kami berasumsi bahwa lokasi twin tower pun tak jauh dari tempat kami. Akhirnya kami berlima pun memutuskan berjalan untuk menghemat biaya. Namun, akhirnya kami nyasar dan 2 di antara kami sudah tumbang terlebih dahulu. Pak We dan Helmy memutuskan kembali ke pudu raya untuk menuju changloon, lokasi konferensi kami. Sementara aku, ainun dan Galih pantang menyerah menuju Twin Tower dengan berjalan kaki.

Hasilnya? Kami membutuhkan waktu 2.5 jam. Bayangkan kami belasan kilo meter berjalan dengan membawa beban berat barang bawaan kami. Sekitar jam 10 kami bertiga baru sampai di Twin Tower. Itu pun setelah bertanya ke sana kemari. Dengan bersimbah keringat kami beristirahat sejenak.

Puas berfoto-foto selama satu jam, sekitar pukul 11 kami memutuskan kembali dengan menggunakan LRT karena lelah berjalan. Setelah bertanya ke sana kemari kami menemukan stasiun Kuala Lumpur City Centre yang ternyata terletak di bawah menara Petronas. Masuk ke dalamnya dan kami membeli tiket LRT untuk kembali ke Stasiun Masjid Jami’. Dan ternyata ? Harganya hanya 8.4 RM untuk kami bertiga. Itu sekitar 30ribu rupiah. Di dalam kereta, kami tertawa bersama. Bayangkan saja, hanya 10ribu selama 30 menit dan nyaman pula. Sedikit kami tadi menyesali mengapa tidak naik kereta saja, sehingga dapat menjangkau spot-spot lain untuk berfoto. Namun nasi telah menjadi bubur. Kami harus segera ke puduraya bus station untuk menuju Changloon Bus Station untuk mengikuti acara kami.

Di Bus, kami bertiga tertidur pulas, mungkin kecuali yang sedang menulis ini ya, hehe. Tapi so pasti saya sudah tidur sekitar 2.5 jam. Sakitnya pundakku baru terasa. Ya, memang beban 11 kilogram di pundak saya, dengan badan yang kecil seperti ini harus menempuh belasan kilometer untuk berjalan kaki.

Pelajaran hari ini. Satu, tidak semua yang terlihat dekat itu dekat. Dua, seharusnya kami lebih berani bertanya. Ya, awalnya kami enggan untuk bertanya dengan kesoktahuan kami bertiga menelusuri jalanan Malaysia. Ternyata gedung tersebut begitu jauh. Padahal di sana kami pun masih bisa menggunakan bahasa Indonesia, walaupun seringkali kami sok-sok menggunakan bahasa inggris. Ya, sekalian berlatih lah heehe.

Ya, inilah kisah perjalananku hari pertama. Masih 7 hari lagi, karena penulis tanggal 29 langsung melanjutkan perjalanan ke Hong Kong untuk mengikuti Make A Difference Forum. Perjalanan masih panjang, dan semoga penulis diberikan kekuatan dan kesehatan untuk Allah SWT di tengah padatnya agenda ini. Yang terpenting, semoga bisa tetap belajar dari kesalahan.

ASEAN University Youth Summit 2015, we are coming !

Gurun, Malaysia Utara
16.40

Categories: Malaysia, Travelling | Tags: | Leave a comment

Blog at WordPress.com.