Hong Kong

Menemukan Islam di Negara Minoritas

Tiga kali saya pergi ke Hong Kong, namun telah berjuta kali saya dibuat kagum oleh negara ini. Hong Kong, sebuah negara layaknya Singapore, one city one country ini dikenal sebagai salah satu negara maju yang menerapkan kedisiplinan tinggi. Ah, barangkali saya belum pernah merasakan ke Jepang yang katanya sudah menerapkan disiplin sejak zaman dahulu kala. Bahkan budaya-budaya mereka pun banyak diadopsi ke perusahaan-perusahaan multi nasional yang mereka miliki. Sebutlah Toyota, Astra, Honda, Suzuki dan lain sebagainya. Salah satunya kita mengenal budaya kerja 5S yaitu Seiri (Ringkas), Seiton (Rapi), Seiso (Resik), Seiketsu (Rawat), Shitsuke (Rajin). Ya, begitulah budaya mereka. Dan di negeri Hong Kong saya pun sudah cukup dibuat terperangah (semoga suatu saat saya berkesempatan mengunjungi Jepang).

Pantaslah Syaikh Muhammad Abduh, salah seorang ulama’ besar asal Mesir pun tak mampu berkata-kata ketika ditanya Renan, salah satu filsuf perancis yang juga merupakan pengamat dunia timur tengah bertanya, “Tolong tunjukkan satu komunitas muslim di dunia yang bisa menggambarkan kehebatan ajaran Islam!” Lalu Syaikh Muhammad Abduh pun hanya terdiam.

Satu abad kemudian Professor Hossein Askari, guru besar Fakultas Bisnis dan Hubungan Internasional Universitas George Washington ingin membuktikan tantangan Renan. Bersama rekannya, Professor Scheherazade S. Rehman, mereka melakukan riset dengan menyusun lebih dari seratus nilai-nilai luhur islam seperti kejujuran (shiddiq), amanah, keadilan, kebersihan, ketepatn waktu, empati, toleransi, dan sederet ajaran Al-Quran serta Akhlaq Rasulullah SAW. Nilai-nilai tersebut kemudian disederhanakan ke dalam dua belas dimensi prinsip ekonomi islam, kemudian terdapat sub divisi dari setiap dimensi tersebut.

Lalu bagaimana hasilnya? Jangan harap ada negara islam menempati posisi teratas. Jangnkan 5 besar, 10 besar bahkan sampai 25 besar pun tidak ada satupun negara yang mayoritas islam menempatinya. Peringkat pertama, kedua, dan ketiga ditempati oleh Irlandia, Denmark, dan Luxemburg. Sementara negara yang saya kunjungi, Hong Kong berada di peringkat 12. Lalu di mana negara islam? Oh, rupanya ia baru muncul di peringkat 33 dengan Negara Malaysia. Disusul Kuwait di peringkat 42, Kazakhstan di peringkat 54, Brunei peringkat 55, dan seterusnya. Sementara negara tempat islam diturunkan sendiri, Arab Saudi, justru berada di peringkat 91. Lalu bagaimana Indonesia? Ternyata ‘masih’ berada di ranking 104, dari 208 negara yang disurvei.

Tepatnya tahun 2005 lalu saya mendapatkan kesempatan untuk berceramah di sekitar 1000 jamaah pengajian Akbar Forum Muslimah Al-Fadhilah. Saya yang masih polos saja sudah bisa terkagum-kagum dengan kualitas perilaku masyarakat Hong Kong yang benar-benar mencerminkan keislaman. Tidak ada serondol menyerondol saat antri. Pertama kali datang ke bandara yang katanya berdiri di atas pulau buatan tersebut (bayangkan, satu pulau isinya bandara semua, betapa besarnya), sudah tertulis jelas bahwa merokok di sana di denda 5000 HKD (sekitar 7 juta). Pun demikian dengan lingkungan yang bersih, masyarakat yang ramah, serta cara berjalan orang Hong Kong yang seperti berlari. Saya pun awalnya kewalahan mengikuti penjemput saya yang berjalannya seperti ada mesin jet-nya di kakinya. Saya merasakan di sana waktu dihargai. Padahal prinsip mereka adalah time is money, waktu adalah uang, dan mereka sudah menghargai waktu tersebut dari cara berjalannya saja. Lalu bagaimana dengan umat islam yang berprinsip Al-Waqtu Ruuhun atau waktu adalah nyawa? Jika orientasi keduniaan mereka saja bisa membuat masyarakat Hong Kong begitu menghargai waktu, bagaimana dengna islam yang mengajarkan orientasi akhirat?

Kekaguman saya tidak berhenti sampai di situ. Ketika menaiki MTR (kereta bawah tanah) pun mereka begitu tertib. Satu persatu antri, padahal penumpang begitu padat. Di stasiun kereta bawah tanah terdapat line (garis) yang menunjukkan area penumpang keluar kereta, dan area penumpang masuk. Sepanjang saya 3 kali ke Hong Kong belum pernah saya melihat mereka melanggar. Pun demikian di MTR ketika berhenti di stasiun, mereka mendahulukan penumpang yang keluar. Setelah itu baru masuk. Beda cerita di Indonesia ketika pintu kendaraan umum terbuka, maka penumpang keluar dan masuk berdesakan berebut cepat-cepat.

Victoria Park, Hong Kong. Taman yang dijadikan sarana berolahraga muda mudi Hong Kong. Kebersihannya? Jangan ditanya lagi!

Di dalam kereta pun demikian. Beberapa kali saya melihat kaum mudanya pun peduli dengan bapak ibu atau mereka yang membawa anak. Ketika melihat orang tua yang berdiri atau anak-anak, mereka yang muda yang awalnya mendapat tempat duduk dikarenakan terlebih dahulu berada di kereta, langsung berdiri mempersilahkan orang tersebut untuk duduk. Masya Allah, saya hanya mengelus dada melihat peristiwa tersebut yang tidak hanya terjadi sekali, namun tak terhitung jumlahnya.

Masjid Ammar and Osman, Hong Kong

Masalah ketepatan waktu pun jangan ditanya. Ini yang saya rasakan ketika mendapatkan kesempatan menjadi delegasi Indonesia dalam Make A Difference Forum awal 2015 yang lalu. Acara selalu mulai dengan tepat waktu, bahkan kami para delegasi dari Indonesia pun sempat terlambat mengikuti acara yang telah kami pilih, sehingga kami ketinggalan rombongan dan harus merubah plan dengan cepat. Perlu diketahui dalam acara konfrensi yang sedikit nyentrik ini (karena berbeda dengan konferensi umumnya), dibentuk forum-forum kecil sesuai dengan bidang minat masing-masing yang diadakan dengan mengunjungi daerah-daerah terpencil di Hong Kong. Sehingga sebelum keberangkatan kita sudah memilih secara online akan mengikuti kelompok tour yang mana. Di situ pun terdapat jam keberangkatan peserta dari Kwai Fong Theathre menuju ke lokasi forum.

Pun demikian di jalanan, kendaraan-kendaraan pun patuh terhadap lampu lalu lintas. Di area pejalan kaki Hong Kong pun terdapat beberapa jalan yang sedikit timbul permukaannya, dan ternyata itu diperuntukkan untuk mereka yang buta. Sehingga di Hong Kong tidak aneh jika melihat orang buta berjalan sendiri, menyeberang sendiri tanpa ada yang menuntun dan ia pun juga tidak tertabrak mobil, sebab semua taat aturan.

Begitulah sekelumit kisah perjalanan saya selama tiga kali mengunjungi Hong Kong, tepatnya pada 2005, 2007, dan 2015 yang lalu. Kesan saya pun masih sama, Hong Kong makin bersih, dengan budaya displin yang tinggi. Jika di negara seperti Hong Kong saja yang islamnya minoritas mampu melaksanakan hal tersebut, bagaimana dengan negara kita yang islamnya mayoritas?

Categories: Hong Kong, Travelling | Tags: , | Leave a comment

#TravellingToHongKong #Day4: Hello Stranger :)

Pukul 04.30 aku terbangun. Masih terlampau pagi untuk sebuah negara bernama Malaysia. Ya, sebab di sini Subuh baru sekitar pukul 06.15 pagi. Namun pagi itu pukul 05.30 aku harus segera berangkat menuju airport Sultan Abdul Halim. Ya, tepat pada pagi ini, aku melanjutkan perjalanan ke Hong Kong. Untuk mengikuti forum keduaku, yang kali ini skala asia. Make A Difference Forum 2015. Sebuah forum yang di mana kita akan membicarakan kehidupan para Villagers serta nantinya kita langsung di ajak untuk meng-eksplore kehidupan pedesaan di Hong Kong.

Usai melaksanakan qiyamu lail, aku berkemas. Memaksakan diri mandi di tengah dinginnya Malaysia. Pukul 05.15, saya dan Ainun (rekan satu perjalanan yang juga lolos ke Hong Kong) melakukan check out dari penginapan. Kami bergegas turun dan di situ Bis Universiti Utara Malaysia ternyata telah menunggu.

Di tempat itu ternyata cukup ramai. Beberapa teman kami pun juga pulang pagi itu menuju Alor Setar. Saya, Ainun, dan Mas Aga (delegasi dari ITS, red) berjalan bersama-sama ke bandara.

Sesampai di bandara sekitar pukul 06.30 lekas kami menuju surau untuk melaksanakan Shalat Subuh terakhir kami di Malaysia. Pada pukul 08.30, saya dan Ainun berlepaslandas menuju kuala lumpur. Dan di sinilah sebuah pertemuan itu terjadi. #apasih

Hello Stranger

Perempuan berjilbab tertutup itu duduk di dekatku. Aku penasaran. Seumur-umur baru pertama kali bersebelahan langsung dengan seorang perempuan yang begitu tertutup, bahkan bercadar. Warnanya serba hitam, dan ia memakai syal bermotifkan bendera palestina. Penasaran, kuberanikan diri menyapanya.

Sarah namanya. Secara usia, ia berarti masih di bawahku. 19 tahun. Ia berkuliah di Universiti Islam Malaysia dengan mengambil jurusan Syariah. Tujuannya ke Kuala Lumpur ternyata untuk berlibur kembali pulang ke rumah keluarganya. Ia tidak sendiri. Ia pulang bersama temannya yang mengambil jurusan akuntansi di univeristas yang sama.

Perjalanan satu jam terasa singkat manakala diskusi tentang keislaman di Malaysia dilangsungkan. Saya banyak mendapat informasi tentang keislaman di Malaysia. Dan itu menjawab keheranan saya, sebab selama berada di Kuala Lumpur, saya tak pernah satupun melihat perempuan dan laki-laki berjalan berduaan, terutama penduduk lokalnya. Bahkan orang-orang yang saya temui di jalanan, yang mereka berwajah melayu semua berhijab. Sarah mengatakan malah beberapa daerah malah terdapat petugas atau polisi khusus yang menegur warganya jika menemukan berduaan, bergandengan tangan atau apapun itu apalagi jika mereka belum menikah. Bahkan ada pula daerah atau negara bagian mereka yang menerapkan aturan jika ketahuan berduaan akan langsung dinikahkan. Saya hanya bisa menggeleng-nggelengkan kepala mendengarnya.

Perjalanan masih berlangsung panjang. Kami bercerita tentang bagaimana masalah toleransi islam di Indonesia yang begitu tinggi. Pun demikian Sarah rupanya tertarik dengan bagaimana umat islam di Indonesia bisa mewarnai kondisi Indonesia, sebab sebagian besar penduduknya beragama islam.

Yang membuat saya kagum dengannya, saya mengamati selama kami bicara pada awalnya ia tak mau menatap wajah kami. Menundukkan pandangan matanya. Mungkin karena sepertinya dia merasa tidak enak, akhirnya sempat bertatap mata walau sepertinya ia malu. Mencoba peka dengan hal tersebut saya mengatakan, “It’s no problem, if you don’t see me, i know there is are some  muslimah who still do that.” Ia pun mengangguk dan kelihatan merasa lega.

Perjalanan satu jam menjadi tak terasa. Rasanya masih kurang untuk berbicara banyak dengannya. Sebenarnya saya berupaya meminta kontaknya, sebab mungkin dia suatu saat bisa saya wawancarai untuk dijadikan bahan tulisan saya. Namun, saya sungkan dan sepertinya dia mungkin tak mau memberikannya. Saya sempat sampaikan hal tersebut ke Asma, temannya yang berkuliah di jurusan akuntansi bahwasanya hal tersebut berlaku di Malaysia khususnya untuk perempuan seperti Sarah,  tidak akan sembarangan memberikan kontaknya kepada orang yang baru dikenal.

Tak terasa jam  menunjukkan 09.40. Kami pun mendarat di Bandara Alor Setar, Sultan Abdul Halim Airport. Seusai turun, kami memberanikan diri untuk mengajaknya berfoto bersama. Untungnya dia mau dan tak masalah baginya. Dan Cheeessss, finally sebuah kenangan manis terukir di Kuala Lumpur.

Maybe it’s not the last, Insya Allah

Selepas mengambil bagasi, kebetulan kami satu pesawat dengan Alisha, teman kami yang berkewarganegaraan Malaysia, salah satu volunteer di conference AUYS 2015. Pesawat kami masih pukul 16.30 sore, itu artinya kami masih punya sekitar 7  jam untuk menunggu. Namun, kami tak mungkin keluar bandara, karena itu terlalu singkat. Jadilah Alisha mengatakan, sebaiknya kami menunggu di bandara, sebab jika mau berjalan-jalan ke KL Sentral, untuk perjalan ke sana paling cepat menggunakan LRT saja membutuhkan waktu 1.5 jam sekali pergi. Padahal untuk penerbangan Internasional kami harus sudah 2 jam berada di bandara untuk amannya. Akhirnya kami menghabiskan waktu di bandara dengan berkeliling, dan makan di McD. Saya pun memutuskan untuk menghabiskan dengan menuliskan catatan perjalanan saya ini. Singkat cerita, sekitar 16.30, pesawat Air Asia AK-130 yang saya tumpangi lepas landas ke Hong Kong.

Assalamu’alaikum Hong Kong !

Pukul 20.30. Selama di pesawat saya duduk bersebelahan dengan Kakek Hyun, beliau berasal dari Korea. Sempat kami bercakap-cakap sebentar, dan saya cukup kagum ternyata beliau memiliki bahasa inggris yang bagus. Beliau bercerita sedang berlibur berdua dengan istrinya ke Hong Kong. Oh maaan, alangkah romantisnya. Hahaha..

Kami sampai dan segera menuju ke imigrasi. Bandara Hong Kong International airport, yang terletak di Chep La Kok Island, adalah bandara terbesar ketiga di dunia, menjadikan saya sempat ngos-ngosan karena saking jauhnya berjalan dan panjangnya antrian imigrasi.

Hingga akhirnya kami bertemu dengan peserta lain MaD Forum 2015 yang sudah kami chat dan komunikasi lewat whatsapp sebelumnya. Kami pun berkenalan satu sama lain, mulai dari UGM, Politeknik Sriwijaya, serta universitas lainnya. Selanjutnya kami berpisah. Ada yang menginap di alumni-nya, madsol kebtulan dia alumni insan cendekia, ada yang menginap di kos TKI, di mansion. Sedangkan saya sendiri termasuk beruntung mendapatkan penginapan gratis di Kedutaan Besar Indonesia Hong Kong.

Pukul 00.30. Aku merenung. Masih panjang perjalanan ini. Pertemuan dengan Sarah di pesawat kemarin menyadarkanku bahwa masih banyak ternyata umat islam yang terus berjuang dalam eksistensi dakwahnya. Aku menjadi penasaran, lalu bagaimana dengan kondisi islam di Hong Kong, sebuah negara yang begitu tinggi sekulerismenya? Ah aku tak tahu, dan berharap nanti di forum MaD Asia bertemu dengan Sarah-sarah lainnya, atau kawan lain dari Asia yang semoga bisa di ajak bertukar informasi.

Malam itu mataku terpejam. Atas kuasaNya, atas izinNya, akhirnya aku kembali menjejakkan kaki di negeri beton ini. 2005 dan 2007, ya dulu aku sempat menjejakkan kaki di sini untuk berdakwah di pengajian TKI. Dan semoga semangat militansi mereka tak kunjung padam.

Indonesian Embassy

Waktu Berkah Subuh

05.54

Categories: Hong Kong | Tags: | Leave a comment

#LostAtMalaysia #Day3 : Going to Volunteerism Activity

Interaksi dengan Bocah Malaysia

Pada hari ketiga konferensi ini kami langsung melakukan aktivitas volunteer yang sesungguhnya. Seluruh peserta konferensi di bagi ke berbagai kelompok. Ada yang membantu warga memasak, membersihkan kampung, mengajar di sekolah, dan lainnya. Saya sendiri masuk ke dalam kelompok yang pergi ke Sekolah Dasar Kedah. Sebuah sekolah umum katanya, menurut Rabbani, temanku dari Malaysia.

Di sekolah tersebut saya begitu terkejut. Kesan pertama : besar, dan di daerah perbukitan. Sekolah ini memiliki TK dan SD yang jadi menjadi satu. Terdapat ratusan murid di sana. Baru saja kami masuk, anak-anak yang masih polos tersebut terlihat mengintip dari jendela dan melambai-lambaikan tangan. Seolah-olah kami artis mungkin, hehehe.

Selanjutnya kami mendapat tugas untuk membersihkan lingkungan sekolah, walaupun pada akhirnya kami bingung karena sekolah ini sudah begitu bersih. Akhirnya kami memutuskan membersihkan dedaunan kering yang banyak menumpuk di pekarangan.

Usai bersih-bersih sekolah, ternyata bertepatan dengan waktu istirahat sekolah. Anak-anak Malaysia pun keluar, dan kami pun berinteraksi dengan mereka. Lucunya mereka memiliki 3 seragam. Seragam kuning untuk mereka yang duduk sebagai Dewan Pengawas Sekolah. Mereka adalah semacam komite kedisiplinan. Seragam biru adalah Dewan Pengawas tiap kelas, sedangkan seragam putih biasa adalah siswa biasa. Satu hal yang membuat saya salut, masalah kedisiplinan bahkan para siswa sekelas SD pun sudah mampu menjadi tangan kanan guru-gurunya untuk membimbing adik-adiknya.

Budaya lain di sekolah ini, sekalipun ini sekolah umum, namun saya melihat pergaulan mereka benar-benar dijaga. Antara laki dan perempuan selalu terpisah. Nyaris tak satupun saya melihat laki dan perempuan bergerombol dallam satu meja. Dengan usia mereka yang belum balligh,  bahkan saat kami bermain bersama pun, laki dan perempuan anak-anak tersebut terlihat sungkan jika diminta bergandengan tangan antar lawan jenis. Saya pun menjadi malu, karena dulu ketika sekolah dasar tak pernah menerapkan aturan seperti itu. Bukan strict, bahkan justru itulah yang benar. Sekalipun belum balligh dan masih tidak apa-apa, namun saya sepakat bahwa penanaman nilai-nilai keagamaan haruslah dilakukan sejak dini kepada anak-anak.

Kami pun bermain bersama, dan sempat yang justru membuat saya kaget mereka mengajak menyanyikan lagu “Rasa Sayange”.  Saya pun menyanggupi karena tak mungkin bertengkar dengan anak-anak kecil. Namun sekaligus merasa miris, karena sepertinya memang lagu ini telah benar-benar menancap bahkan di anak-anak Malaysia bahwa lagu tersebut adalah lagu Malaysia.

Kami pun bermanin, berlari, bernyanyi dan akhirnya sekitar siang hari acara selesai. Seperti kebanyakan anak-anak umumnya mereka masih terlihat malu-malu untuk berinteraksi. Namun di akhir, tentu saja kami dan mereka berharap bertemu kembali entah kapan.

Usai acara itu, kami melanjutkan dengan makan siang dan acara dilanjutkan dengan Tour Universiti Utara Malaysia. Universitas seluas 450 hektar lebih ini sudah cukup untuk membuat saya berdecak kagum. Kami mengunjungi anjungan tamu dan gedung rektorat. Usai berfoto-foto puas, kami kembali ke penginapan untuk beristirahat. Mempersiapkan diri untuk penutupan acara.

Closing, The Most Unforgottable Moment

Tak terasa, 3 hari telah terlampaui. Kebersamaan pastilah ada perpisahan. Malam itu kami berkumpul di gala dinner sekaligus penutupan acara. Berbagai negara menampilkan kesenian dan keunikan masing-masing. Ada dari Brunei Darussalam, Filiphina, Thailand, Malaysia, dan tentu Indonesia.

Hari terakhir, hari ini aku banyak mengambil foto dengan kawan-kawan dari berbagai negara. Banyak kisah, banyak cerita, dan aku mendengar tahun depan AUYS akan di adakan dan dengan Universitas Teknologi Sumbawa sebagai tuan rumahnya. Tentu saja semoga aku dapat kembali. Bukan lagi sebagai peserta, tapi sebagai Buddy atau volunteer dalam acara tersebut. Yah,itulah wishlist malam itu dan semoga Allah mengabulkan doaku.

Mc Donalds KLIA2,

Di sela-sela menunggu penerbangan ke Hong Kong

12.17

Categories: Hong Kong, Travelling | Tags: | Leave a comment

Blog at WordPress.com.