Campus

#ProfkilGoesToThailand (1) : Lika-Liku Perjuangan Menuju Keberangkatan (1)

Abstrak, Awal Perjuangan

Semua bermula pada suatu hari di grup whatsapp tanggal 5 November 2015, jam 23.27 malam, ketika aku mem-post peluang paper conference AASIC di Thailand.

Ya, ceritanya pada waktu itu, teman-teman kami, dari Kabinet Departemen Media dan Informasi HMTI 14/15 (mereka dipanggil rowers), lolos dalam perlombaan di Yogyakarta dan masuk babak final *lupa mereka juara apa nggak*. Entah mengapa pada waktu itu ada rasa “merasa kalah”. Ya, sebagai Departemen Keprofesian dan Keilmiahan HMTI ITS, yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam riset keprofesian, seharusnya kami bisa memberikan contoh yang baik kepada warga Teknik Industri ITS. Namun entah mengapa pada waktu itu aku pribadi merasa “tersalip” oleh departemen sebelah *haha*. Hingga akhirnya, kami mencoba berikhtiar. Sesuatu yang sepertinya mustahil.

Singkat cerita pada waktu itu akhirnya kami mulai “membiasakan diri” membaca jurnal-jurnal penelitian. Yah, tentang Supply Chain. Walaupun setelah beberapa minggu pun dari sekian jurnal yang di download dan di print, hanya 1 atau 2 yang dibaca -__-“ *penyakit mahasiswa*. Dan pada waktu itu kami memutuskan mencoba meminta Prof. Iwan Vanany, salah satu dosen kami di TI sebagai pembimbing kami.

2 Desember 2015 : Hari itu kami bertemu dengan Pak Iwan untuk pertama kalinya. Ya, pada waktu itu kami berkonsultasi tentang konsep Halal Supply Chain. Dan hasilnya beliau menyarankan dengan waktu penelitian yang relative singkat, yaitu satu bulan, ditambah waktu liburan, akhirnya kami beliau menyarankan untuk mengangkat tema customer awareness.

Lalu bagaimana pasca itu ? Hasilnya kami tidak berkumpul lagi. Ditambah Dita yang lomba di Yogyakarta, akhirnya setiap kali ingin kumpul hanya menjadi wacana belaka. Dan…. waktu terus berjalan. Diskusi hanya berlangsung dari whatsapp. Tanpa terasa sudah tanggal 20 Desember 2015. Horeee hari ibu….(?). Bukan itu mameeeen…itu artinya H-1 pengumpulan abstrak. Dan mungkin karena hanya 300 kata itulah kami di sini semua meremehkan…..

Singkat cerita sampailah pada tanggal 21 Desember 2015. Deadline tinggal beberapa jam lagi. Dan akhirnya….

Ya, akhirnya sekitar pukul 9 malam, terupload-lah abstrak 300 kata yang telah kami buat dengan “perjuangan yang sangat keras”. Waktu itu hashtagnya #GoesToThailand2016 . Entah abstrak super kilat yang belum sempat diasistensikan kembali ke Prof. Iwan dan belum di benarkan grammarnya ke saudaranya Dita yang pernah exchange di USA itu bisa lolos, entah lah kita juga tidak. Tahu. Yang terpenting berjuang. Berjuang hingga detik-detik akhir masa-masa peng-upload-tan….

Lolos Abstrak ? Perjuangan Baru Dimulai Guys….

1 Januari 2016. Jika berdasarkan website semestinya sudah pengumuman. Ya, pada waktu itu kami gelisah. Gelisah apakah hasil perjuangan “instan” ini membuahkan hasil. Hingga tengah malam, tidak ada notifikasi di email. Pun demikian di website dan di fanpage facebook AASIC. Yah, mungkin ditunda. Walaupun sempat muncul kekhawatiran tidak lolos, karena beberapa conference yang saya tahu pada waktu itu notifikasi biasanya cukup melalui email saja.

2 Januari 2016, akhirnya yang dinanti tiba. Notifikasi email masuk, dan kami dinyatakan lolos tahap abstrak. Itu artinya ? Kami bersiap melewatkan liburan semester dengan berjuang mengerjakan paper penelitian. Waktu itu saya langsung mengabari Prof. Iwan selaku supervisor kami. Yah, pengumuman itu rasanya pada waktu itu menjadi spirit baru di tengah hecticnya Ujian Akhir Semester 7.

Dan perjuangan dimulai. Liburan yang mungkin semestinya bagi beberapa anak di angkatan kami menjadi waktu terakhir bersantai sebelum berjuang tugas akhir, ada juga yang sudah memulai pengerjaannya dahulu, atau aktivitas lainnya bagi kami adalah perjuangan. Maklum, kami barangkali tidak memiliki pengalaman matang terkait bagaimana melakukan penelitian. Diskusi terus berlangsung, sesekali kami menemui advisor kami, dan kami pada waktu itu memutuskan menggunakan kuisioner untuk pengambilan data, serta decision tree untuk pengolahan data. Ditambah dengan saran Prof. Iwan untuk menggunakan crosstab analysis untuk mengetahui hubungan antar atributnya.

12 Januari 2016. Pada waktu itu di tengah sibuknya kami mengerjakan paper, sekali-sekali lah kami melakukan internalisasi. Niatnya nge-eskrim , malah larinya ke pizza hut. Eh ternyata Rahmadita mau traktiran ultah (?) padahal ga ultah.

“Mulyosari dulu, nanti lanjut ke destinasi lainnya”. Sepertinya memang iseng, tapi itu harapan kami. Yah, harapan yang pada akhirnya nanti kami tak menyangka akan sampai di sana.

15 Januari 2016. Hari itu kami mulai menyebar kuisioner. Sementara sudah H-15 pengumpulan. Hingga akhirnya pada tanggal 21 Januari kuisioner kami sudah mencapai target yang kami inginkan. H-9 pengumpulan, sementara kuisioner belum diolah, dan paper belum ditulis ._. . Singkat cerita paper kami pun berhasil terselesaikan dan akhirnya terkirim sebelum deadline berakhir.

(bersambung)

Jittakorn Hostel, Salaya, Mahidol

Sembari beristirahat menanti kabar baik

13 Mei 2016

09.26.

Categories: Campus, Thailand | Tags: , | Leave a comment

Catatan #KPleri (3) : “Sudah ada Calon Iz?”

2 Agustus 2015. Berarti itu adalah weekend kedua yang saya jalani selama kerja praktik di Jakarta. Ya, weekend kali ini selain sehari sebelumnya saya mengunjungi teman-teman kontingen MTQ Mahasiswa Nasional ITS, saya juga berencana mengunjungi pernikahan senior saya di PPSDMS, ialah Mbak Uty dan Mas Denny. Akad nikah mereka dilangsungkan di sore hari, dilanjutkan dengan resepsi pernikahannya di malam hari.

Sekitar pukul 08.00 pagi saya tiba-tiba teringat akan salah seorang senior saya yang lain. Mas Bagus Surya Bahari namanya. Kami berkenelan dan pertemu kali pertama dalam sebuah event perlombaan Dai di Malang. Tepatnya pada tahun 2007 di dua event sekaligus. Yaitu di acara Dai Mboiz yang diselenggarakan IM3 dan Festival Da’i Pelajar yang diselenggarakan oleh Telkomsel. Lucunya di festival dai Mboiz ini kami sama-sama masuk final, namun tidak mendapatkan juara. Sedangkan di Festival Dai Pelajar, kami sama-sama mendapatkan juara I. Saya di kategori SMP/MTs sedangkan Mas Bagus di kategori SMA/MA. Itulah pertemuan pertama dan terakhir kami. Mas Bagus yang notabene berasal dari Bali ini jauh-jauh bersekolah di Malang, dan beberapa kali kami tetap menjalin silaturrahmi sekalipun hanya melalui SMS. Sempat putus dan tak pernah berkontak lagi *karena sepertinya kami sama-sama ganti nomor*, akhirnya sekitar September 2014 saya menemukan facebook dengan nama “Bagus Surya Bahari”. Lho kok sepertinya tidak asing, dan saya pun meng-add nya. Pucuk di cinta ulam pun tiba, alhamdulillah silaturrahim itu terjalin kembali.

Percakapan di Wall FB. Setelah lama nggak kontak ._.V

Hingga akhirnya ketika saya mendapatkan kesempatan sebulan kerja praktik di GMF AeroAsia, Tangerang. Sempat update di facebook, dan di comment oleh Mas Bagus. “Iz mampir yak kalau ada waktu, harus mampir pokoknya”. Akhirnya waktu itu tiba juga hehe ^^

Dari Universitas Indonesia, saya putuskan naik Go-Jek. Mumpung 10ribu ke semua tujuan. Hehehe ^_^”. Perjalanan memakan waktu sekitar 45 menit, karena jalanan yang macet. Sekitar pukul 11.30, sampailah saya di sebuah rumah di daerah Cipedak. Kedatangan saya disambut istri beliau, Mbak Fay namanya *klo ga salah sebut namanya ._.V*. Ternyata Mas Bagus masih keluar sebentar. Saya pun menunggu sebentar.

Sekitar 10 menit kemudian datanglah beliau dan saya pun bersyukur. Alhamdulillah, ternyata bisa juga bersilaturrahim dengan kakak yang begitu inspiratif ini. Dan kami pun sama-sama pangling dengan kondisi “badan”. “Lho mas sampean saiki kok lueeemu ngono?” tanyaku. “Dek Faiz, saiki yo kok awakmu lemu pisan?”. Kami pun tertawa sembari bernostalgia pertemuan pertama 8 tahun yang lalu.

Mulai bertanya dari kondisi masing-masing, perjalanan hidup, sampai kesibukan masing-masing saat ini. Setelah itu saya lebih banyak mendengar petuah-petuah hidup dari Mas Bagus hehe.

“Gimana Iz, sudah ada calon?”tanya Mas Bagus. “Waduh, repot ini njawabnya hehehe,”jawabku. “Lho serius, antum kan udah tahun keempat, pasti udah ada lah minimal yang dibidik,”kata Mas Bagus. “Saya mau fokus dulu deh mas, nyeleseikan amanah dan kuliah. Kalau masalah calon mah, doain aja yang terbaik,”jawabku.

“Wah kamu ini, Mas dulu nikah muda lho sama istri. Dapatnya orang bandung sekalipun mas orang bali hehe. Saya dulu menikah kalau nggak salah sekitar 22 tahun 10 bulan. Jangan kamu kira pas saya nikah dulu kondisi udah mapan kayak gini. Ini rumah saja masih baru saya beli kok,”kata Mas Bagus. Saya pun manggut-manggut.

“Saya percaya bahwa menikah itu membuka pintu rezeki. Alhamdulillah, bahkan ini rumah saya beli bukan dari hasil kerja selama di Pertamina. Saya termasuk baru lho Iz masuk Pertamina itu. Rumah ini alhamdulillah dari kerja keras wirausaha, nggak ada sama sekali kaitannya dengan Pertamina. Alhamdulillah Allah berikan rezeki dari segala hal yang tidak pernah kita sangka,”katanya. Saya pun kembali lagi manggut-manggut.

“Kamu piye? Udah ada calon? Atau mau tak kenalin adik-adik kelasnya istriku di UNPAD sana? di SMAN 3 Bandung?” *yang di tanya malah ketawa sambil salah tingkah*. “Waduh mas, jangan ganggu fokus saya mas, hehee. Lulus dulu laaah wkwkwk ._.V,”jawabku.

Mas Bagus pun melanjutkan ceritanya. “Saya juga Alhamdulillah bisa diterima di PERTAMINA. Selepas dari ITB dulu saya lanjut S-2 langsung, dan habis lulus langsung ngelamar di sini. Alhamdulillah, diterima. Nah kalau kamu nanti pengen ke Pertamina, atau butuh magang, hubungi aku aja Iz, hehehe,”katanya menambahkan.

Beliau pun bercerita tentang proses seleksi dahulu di Pertamina. “Yang terpenting IP masih di atas 3, dan ada pengalaman organisasi. Bukan sekedar pengalaman saja, tapi juga apa dampak yang kamu lakukan di organisasi itu. Misal ketika jadi ketua himpunan, apa yang kamu ubah, apa yang kamu teruskan, bagaimana impactnya, dsb,”. Saya pun kembali manggut-manggut.

“Kemudian dulu ada satu pertanyaan yang mungkin udah mainstream, tapi dulu mas jawabnya anti mainstream,”kata Mas Bagus. “Apa mas?”tanyaku. “Waktu itu ditanya tentang visi hidup dan gimana skala prioritas kepada perusahaan. Kamu tahu mas jawab gimana?”tanyanya kepadaku. Aku hanya menggeleng.

“Waktu itu saya menjawab, menjadi imam yang adil. Saya ingin menjadi pemimpin yang adil, pemimpin rumah tangga dan juga di perusahaan mungkin nantinya. Ketika ditanya prioritas, mungkin kebanyakan orang akan menjawab perusahaan, tapi saya nggak dek. Saya menjawab keluarga. Keluarga adalah prioritas pertama saya. Pas itu akhirnya penguji menanyakan itu kembali, dan saya perjelas. Maksudnya adalah seandainya perusahaan mengalami kondisi genting sedangkan anak saya di rumah sakit, maka sudah pasti saya berada di rumah sakit menemani anak saya. Dalam artian tentu saja saya tidak mengutamakan kepentingan individu pada keluarga untuk senang-senang, tapi tentu saya mengutamakan perusahaan selama keluarga dalam kondisi yang baik-baik saja,”ujar Mas Bagus. Saya pun bergetar mendengarnya.

“Waktu itu aku juga menambahkan ke bapak interviewernya Iz, bagi saya seandainya saya nanti kehilangan pekerjaan itu tidak masalah. Sebab Allah membuka pintu rezeki dari mana saja, dan rezeki itu bisa dicari. Tapi seandainya saya kehilangan keluarga saya, atau rumah tangga itu hancur, saya tidak tahu harus mencarinya dari mana lagi,”. Lagi-lagi aku bergetar mendengarnya. “Dan Eh, Masya Allah, beberapa waktu kemudian pengumuman, ternyata saya diterima di Pertamina, nggak masuk akal kan sepertiya?” tanyanya kepadaku.

Pernyataan terakhir tersebut hingga sekarang pun terngiang-ngiang di benakku. Ya benar sekali, bahkan sangat benar. Bahwa keluarga memang bukan segalanya, tapi segalanya barangkali berawal dari keluarga. Mas Bagus juga menceritakan tentang temannya temannya *aduh gitu lah, maaf kalau mbulet* yang sukses menjadi seorang Vice President di sebuah perusahaan dalam usia yang masih sangat muda. Secara karir ia memang sukses, namun secara rumah tangga hancur. Sebab komitmen awal yang mereka bangun di pernikahan salah. Urusan anak dan segalanya biar istri yang mengurus. Sementara dia hanya urusan duit atau uang saja. Padahal membangun rumah tangga bukanlah soal kita berduit banyak, tapi ada keberkahan di dalam setiap keringat kita sekalipun uangnya tak seberapa.

Selepas sharing-sharing yang lumayan lama tersebut, saya beristirahat di kamar. Sembari menunggu waktu sore untuk berangkat ke pernikahan Mbak Uty. Di kamarnya saya melihat foto Mas Bagus bersama Mbak Fay mengenakan almamater ITB dan UNPAD, dengan foto memakai baju wisuda. Nah ini nih yang bikin nggak bisa tidur -_-“. Nanti aku pake almamater ITS dan….. *isi sendiri*.

Ya, hari ini banyak mendapat inspirasi. Tentang perjuangan seorang ayah muda yang berusaha menafkahi keluarganya. Sesekali saya melihat bagaimana Mas Bagus membangun ikatan emosi bersama Rasyad kecil *nama anak beliau* dengan mengajaknya bermain. Semoga sakinah mawaddah wa rahmah, hingga bertemu kelak di surgaNya mas, Insya Allah :). Terima kasih atas inspirasinya mas.

*Btw waktu itu lupa nggak foto ya ._.V*

Categories: Campus, Journey | Leave a comment

Catatan #KPleri (2) : Inspirasi dari Pejuang Al-Qur’an

Izinkan ku menuliskan artikel ini sebagai sebuah penyemangat diri dan kita semua. Barangkali kita masih malas untuk membaca Al-Quran. Yang barangkali kita masih ragu untuk menghafalkannya. Padahal bukankah surga yang Allah janjikan kepada orang-orang yang memuliakan Al-Quran. Barangkali pula tulisan ini adalah rasa syukurku kepadaNya yang memberikan kesempatan dan nafas kepadaku untuk menghadiri sebuah event yang begitu bergengsi. Ya, sebab di sinilah para wajah-wajah yang Insya Allah bermandikan cahaya surga berkumpul, berkompetisi, beradu kecintaan pada Al-Quran.

Tepat tanggal 1-8 Agustus 2015 yang lalu, sebuah event besar yaitu MTQ Mahasiswa Nasional XIV diselenggarakan di Universitas Indonesia. Tentu saja ITS tak ketinggalan untuk berpartisipasi dalam event tahunan yang telah diselenggarakan ke-14 kali ini. Kebetulan ada tiga rekan yang saya kenal dalam event ini yang turut mewakili delegasi ITS. Mereka adalah Misbahul Munir (Lomba Karya Tulis Al-Quran), Syakir Almas Amrullah (Lomba Musabaqah Fahmil Quran), dan Diani Ainun Nisa (Lomba Musabaqah Tilawatil Quran). Jadilah weekend pertama dan kedua saya yaitu tepatnya tanggal 31 Juli 2015, dan 7 Agustus 2015 saya pergi ke Universitas Indonesia untuk mengikuti pembukaan di awal yang katanya sih begitu meriah, serta penutupan untuk mengikuti pengumuman pada tanggal 7 Agustus 2015.

Sekitar pukul 18.20 saya baru sampai di Stasiun Universitas Indonesia. Kemudian saya langsung menuju ke Masjid Ukhuwah Islamiyah untuk melaksanakan Shalat Maghrib. Kemudian saya bertemu dengan Syakir dan Misbah lalu kami pergi ke Balairung bersama untuk mengikuti pembukaan.

Malam itu sebanyak 1863 peserta yang mengikuti pembukaan tersebut, membuat saya bergetar berada di sekitar mereka. Bagaimana tidak. Dibandingkan dengan saya mereka tentu jauh lebih memahami tentang Al-Quran. Mereka lah pejuang-pejuang Al-Quran yang saat itu sedang berkompetisi. Barangkali kejuaraaan itu hanyalah bonus bagi mereka dari Allah SWT sebab mereka telah mewaqafkan diri menjadi pejuang Al-Quran.

Dalam pembukaan itu, Rektor UNSRI yang baru terpilih, Prof. Dr. Ir. H. Anis Saggaff, MSCE, mendapatkan kehormatan untuk membacakan Al-Quran pada pembukaannya. Untuk kesekian kalinya hati saya bergetar. Bapak Anis, yang merupakan lulusan Teknik Sipil dan menjadi rektor UNSRI ini adalah seorang yang Hafid Al-Quran. Beliau bahkan menjadi salah seorang jebolan pemenang Hafidz Quran Nasional pada tahun 1983.

Suasana yang mulanya ramai mendadak hening ketika beliau maju membuka dengan bacaan Al-Quran-nya. Tanpa terasa air mata saya menetes, mendengar bacaan beliau. Suaranya begitu merdu, mendayu-dayu menggema di gedung Balairung UI. Benarlah janji Allah barangsiapa yang mau mengisi hari-harinya dengan Al-Quran maka Allah tentu akan mengangkat derajatnya baik di dunia maupun di akhirat. dan salah satunya adalah beliau, Pak Anis, yang menjadi seorang rektor. Background beliau di Teknik Sipil tiada menjadi penghalang untuk menghafalkan Al-Quran.

Acara pun selanjutnya dimeriahkan dengan berbagai penampilan kesenian islam. Mulai dari tarian, musik khas islam, serta berbagai kesenian khas islam lainnya. Ah, sayangnya event yang begitu luar biasa seperti ini tidak dijadikan headline besar-besaran oleh media. Sebab bagiku itu luar biasa. Hampir 2000 orang pejuang dan pecinta Al-Quran berkumpul dalam satu tempat dan menyuarakan kecintaannya melalui lomba di sana.

Kemudian terakhir, lagi-lagi hati ini bergetar. Pertunjukan yang paling menarik bagiku adalah saat ada penampilan pembacaan Qiraah Sab’ah. dan Masya Allah, lagi-lagi Bapak Anis pun maju untuk menampilkan bacaan Qiraah Sab’ah nya. Hadir pula Bapak Said Agil Siraj, serta satu orang lagi *saya lupa namanya*. Sehingga mereka bertiga ke depan secara berantai membacakan ayat Quran.

Saya pun kembali merinding, bahwa ketiga tokoh tersebut, tentu usianya sudah tidak muda lagi. Sudah beruban. Namun Allah pun menjaga keindahan suara dan kefasihan bacaan Al-Quran mereka. Sekali lagi benarlah janji Allah, bahwa siapa yang menjaga Al-Quran, maka Allah akan menjaganya.

Dari acara itu rasanya diri ini semakin kecil. Semakin tidak ada apa-apanya. Lalu masih pantaskah jika diri ini memohon kepadaNya untuk dimudahkan masuk ke dalam surgaNya? Terima kasih kepada rekan-rekanku para pejuang Al-Quran di MTQ MN, sebab karena kalian lah, wasilah yang dibawa oleh Rasulullah SAW berabad-abad yang lalu tetap terjaga.

Ah, barangkali malam itu aku hanyalah redup di antara ribuan cahaya yang bersinar
Jika mereka seterang bintang, barangkali aku adalah bumi
Jika mereka seterang bulan, barangkali aku hanyalah bintang
Jika mereka seterang mentari, barangkali aku hanyalah bulan
Padahal cahaya mereka bersumber dari Al-Quran
Aduhai kawan, siapakah yang tak ingin memiliki cahaya seperti itu?

Categories: Campus, Journey | Leave a comment

Silaturrahim dengan Rekan-Rekan PPSDMS Jabodetabek

tumblr_inline_p006oow6xz1qe5sxz_540

Kerja Praktik. Begitulah salah satu proses perkuliahan yang harus kulalui di Jurusanku, Teknik Industri ITS. 2 sks yang ‘cukup’ menguras biaya, namun sesungguhnya inilah yang paling menyenangkan.  Singkat cerita setelah saya di PHP oleh sebuah perusahaan sekitar Mei, saya kelabakan mencari perusahaan. Hingga akhirnya atas pertolongan salah seorang teman saya, Alhamdulillah saya mendapatkan tempat di PT GMF Aero Asia yang terletak di Bandara Soekarno Hatta – Jakarta. Continue reading

Categories: Campus, Journey, Rumah Kepemimpinan | Tags: | Leave a comment

Blog at WordPress.com.