Campus

Visi Besar + Ilmu yang Bermanfaat

Sumber Gambar : Facebook Gus Darmadji

Pagi ini saya membaca di timeline tentang sebuah posting yang cukup menggugah. Seseorang yang berkarismatik yang menyempatkan paginya untuk sekedar menyapa para juniornya. Rasanya cukup menyesal melewatkan momen tersebut, namun setidaknya kata-kata beliau telah hadir dalam perjuangan ini.

“Saya seratus persen ITS. S1, S2 dan S3 di ITS. Dan, saya mengalahkan walikota-wali kota dunia”. – Tri Rismaharani, dalam Sambutan di GERIGI

Continue reading

Categories: Campus | Leave a comment

#ProfkilGoesToThailand (5-Habis) : Bermimpilah Bersama Maka Tuhan Akan Memeluk Mimpi-Mimpimu Bersama-Sama

Bahagia 27 kali

Pulang. Pada akhirnya kami kembali. Kembali ke tanah air tercinta. Di pesawat aku menyalakan laptop, sembari menyeleseikan tulisan tentang perjalanan kami. Sesekali aku melihat ketiga kawanku yang tertidur. Ada raut kelelahan di wajah mereka, namun aku yakin kami memiliki perasaan yang sama. Lega sekaligus bahagia.

Rasanya masih belum percaya jika kami dapat berangkat bersama. Tanpa bermaksud apapun, sepertinya berprestasi seorang diri rasanya sudah biasa bagiku, namun kali ini kami melakukan bersama-sama. Ada sesuatu yang berbeda ketika kita melakukannya dalam kebersamaan.

Bahagia 27 kali. Barangkali inilah yang kami rasakan. Analogi 27 kali aku mengingatnya dari sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Shalat berjamaah itu lebih baik dari shalat sendiri, dengan keutamaan sebesar 27 derajat.

Kami memang bukan melaksanakan shalat. Bukan beribadah barangkali. Tapi titik poinnya adalah kebersamaan. Ya, Allah SWT menekankan bahwa dengan kebersamaan semua akan terasa jauh lebih indah. Barangkali itulah hakikat mengapa Allah memerintahkan dalam beribadah pun ketika dilakukan dengan berjamaah, maka janjiNya adalah balasan 27 kali lipat. Barangkali itu juga menimpa perasaan bahagiaku dan mungkin rekan-rekan seperjuanganku pada hari itu. Bahagia dua puluh tujuh kali.

Refleksi Tahun 2014

Sejenak aku mengingat pertemuan dengan mereka bertiga. Pertemuan yang tak disangka-sangka. Kalau boleh jujur, Profkil adalah departemen pilihanku terakhir ketika memilih departemen saat screening Staff BPH HMTI ITS 13/14. Akhir tahun kedua aku memutuskan mencalonkan diri menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Industri ITS. Pada akhirnya aku menjadi juara 2 (LOL).

Selepas kekalahan itu, di tahun 2014 lalu,  aku sempat selama lima hari menjadi Sekertaris Umum. Sampai ketika suatu malam, aku bertemu dengan murobbiku, Mas Mukhlis. Dan terjadilah percakapan di antara kami: *percakapan seingat saya, tidak sama persis, tapi intinya sama*

M : Piye iz kabarmu? Wes lego kan ? (Bagaimana kabarmu Iz, sudah lega kan ?)

F : Alhamdulillah selow mas, legowo wae lah, wong podo angkatane dhewe hehe. (Alhamdulillah, slow mas, udah rela lah, kan sama-sama angkatannya sendiri)

M : Wes dadi opo awakmu saiki? (Jadi apa kamu sekarang)

F : Jadi Sekum I mas, urusan eksternal, UMTI, sama pengembangan organisasi

M : Owalah… mantap wes. Trus departemen liyane wes onok peneruse ? (owalah, mantap deh. Terus departemen yang lain udah ada penerusnya?)

F : Nah iku mas, durung. Onok Profkil karo KWU. Profkil iki masalahe wedok kabeh, trus peneruse iki sing arep nerusne sek mikir2, soale dheweke kan arek Suroboyo, pasti nek dadi fungsionaris yo kudu siap mulih esuk kan, masalah dheweke omahe adoh. Nek KWU ancen iki durung onok sing arep nerusne mas sing sakjane di plot pengen aktif ning njobo, soale kondisi organisasine iku sing ning jobo luwih butuh dheweke. (Nah itu mas, belum. Ada Profkil sama Kewirausahaan. Profkil ini masalahnya perempuan semua, dan calon kadep nya itu juga masih berpikir lagi. Karena dia kan anak Surabaya, nah kalau jadi fungsionaris kan harus siap pulang pagi kan. Nah dia cewek dan rumahnya jauh. Kalau kewirausahaan memang belum ada yang mau neruskan mas, karena yang di plot seharusnya itu dia pilih aktif di luar, di organisasi yang lebih butuh dia).

M : (mikir). Kenopo awakmu gak dadi Kadept Profkil wae ? Kan awakmu sek onok bakat nulis, wingi gawe PKM toh? Trus koyoke wajah-wajahmu iku wajah-wajah scientist haha -_-” (Kenapa ga kamu aja yang jadi Kadept. Profkil aja? Kan kamu ada bakat nulis, kemarin juga bikin PKM kan? Trus kayaknya wajah-wajahmu itu wajah-wajah ilmuwan, hahaha)

F : Mas -_______-“. Piye yoh mas… Mas, biyen iku profkil iku pilihanku terakhir, yo mosok aku dadi Kadept-e ..__.. (Mas -_-“, gimana ya mas. Dulu Profkil itu pilihanku terakhir ya masa’ aku jadi kadeptnya)

M : Yo gak masalah toh. Iz, saiki awakmu kudune siap ditempatne ning endi wae. Aku ndeloke awakmu Insya Allah iso lah penyesuaian cepet. Moso’ awakmu tego karo wedok2 ngono sing ngurus sak departemen thok? (Ya gak masalah kan iz.. Seharusnya kamu siap kan ditempatkan di manapun. Aku lihatnya kamu Insya Allah bisa lah menyesuaikan. Masa kamu tega sama cewek-cewek gitu ngurus satu departemen sendiri?)

F : Hmmmm piye yo mas, yo, tapi Sekum iku kan enak seh, ga patio abot sakjane hehe. Trus yo secara posisi tapi luwih duwur dadi wakil (Hmm, gimana ya mas, tapi kan Sekum kan enak mas. Nggak terlalu berat. Trus secara posisi kan lebih tinggi jadi wakil hehe… )

M : HE LURUSNE NIATMU!!! LAPO AWAKMU NGINCAR POSISI?! SING PENTING KONTRIBUSIMU LE. DELOKEN SAIKI AWAKMU LUWIH DIBUTUHNE NING ENDI [HE ! LURUSKAN NIATMU. KENAPA KAMU MALAH MENGINCAR POSISI? YANG PENTING KONTRIBUSIMU. LIHAT SEKARANG KAMU LEBIH DIBUTUHKAN DI MANA!!!]

F : (terdiam, beristighfar). Yo wes mas mengko tak pikir-pikir maneh mas. [Ya udah mas nanti aku pikirkan lagi mas)

M : Yowes, pikirno maneh. Sing penting awakmu iku kontribusi gawe HMTI le. (Ya udah, pikirkan lagi. Yang penting kamu bisa kontribusi buat HMTI)

F : Iyo mas tak pikir-pikir maneh. (Iya mas, tak pikir-pikir lagi)

Aku masih ingat malam itu aku tidak bisa tidur nyenyak seperti biasanya. Ada pikiran yang mengganjal. Ke manakah kontribusi ini nantinya. Setelah semalam berpikir, esoknya aku menemui Novangga, kahima terpilih. Pada akhirnya aku yang meminta kepadanya untuk dipindahkan ke Departemen Profkil. Ya, hari itu selepas menjadi Sekertaris Umum I selama “5 hari” pada akhirnya aku berpindah. Dan di situlah awal mula aku mengenal mereka, sebagai partner yang nantinya akan bekerja selama satu kepengurusan.

Entah mengapa selama satu kepengurusan di himpunan sejujurnya aku tidak bisa merasa sepenuhnya dekat dengan mereka. Apa karena mereka cewek semua sehingga aku merasa canggung ? Mungkin, karena belum pernah aku mengalami kondisi seperti ini. Belum juga karakter mereka yang berbeda-beda.

Problem lainnya adalah kesibukan diluar Profkil. Padahal semua amanah diluar Profkil telah kulepaskan, kecuali dunia kepemanduan. Ya, masih teringat pada waktu itu adalah masa-masa internalisasi di Rumah Kepemimpinan. Kegiatan kami yang begitu padat. Bahkan pernah suatu kali ketika proker Pemilihan Mawapres, aku di tengah proker izin karena di asrama ada kegiatan. Aku pun masih ingat kala lagi-lagi meninggalkan mereka di Bulan September 2014 untuk mengikuti perlombaan di Universitas Indonesia. Kemenangan pada waktu itu rasanya pahit karena muncul kasak kusuk agar aku segera pulang. “Iz, profkil jangan ditinggalin, iz kamu itu sibuk banget…” dan seterusnya.

Sampai di situ?! Ternyata tidak. Usai itu aku mencoba kembali berfokus ke Profkil. Namun apa daya, Akhir Januari Hingga minggu ketiga Februari lagi-lagi aku meninggalkan mereka. Pada waktu itu sekitar akhir januari sampai awal februari, 25 Januari 2015 hingga sekitar tanggal 3 Februari 2015 aku pergi mengikuti konferensi di Malaysia berlanjut ke Hong Kong. Plan awal tentu saja tak bertabrakan dengan agenda himpunan dan tanggal segitu masih libur. Namun ternyata setelah terlanjur mendaftar, membeli tiket dan sebagainya, pengangkatan Mahasiswa Baru Mundur satu bulan dikarenakan berbagai konstrain. Dan tanggalnya…. bertepatan dengan pengangkatan. Allahu akbar.. ujian macam apa lagi ini yang menimpaku. Singkat cerita aku kembali mencoba mengkomunikasikan hal ini ke Kahima dan rekan-rekan fungsionaris. Pun demikian dengan rekan-rekan kabinet. Hingga akhirnya alhamdulillah mereka masih memaklumi.

Usai masalah satu, ternyata masalah lain datang. Bukan masalah namun lagi-lagi masalah timing. Awal Januari 2015 aku bersama keluargaku sebenarnya telah merencanakan Umroh bersama. Sesuai kesepakatan kami di awal Insya Allah dilaksanakan saat Januari. Sehingga tidak mengganggu kuliah dan aktivitas organisasiku. Namun yang terjadi? Karena Januari puncak musim dingin di Arab, akhirnya ayah memutuskan untuk memundurkan menjadi Februari. Ya, sebab kami umroh bersama kakek dan nenek kami, yang beliau memang sudah sepuh (tua). Kami dijadwalkan berangkat hari Selasa, tanggal 10 Februari 2015. Namun apa daya, agen perjalanan kami mendapatkan email mendadak, bahwa jadwal tiket digeser secara sepihak oleh Saudi Arabia Airlines menjadi minggu depan. Otomatis ? Kegiatan perkuliahan dan kegiatanku di Profkil semakin kacau. Lagi-lagi aku harus meminta maaf kepada teman-teman seperjuanganku.

Pada waktu itu aku hanya tertunduk. Tak terasa air mata ini menetes. Seberapa banyakkah dosa hamba ini Ya Allah jika ini memang ujian untuk mensucikan diri hamba. Setelah dilakukan berbagai lobbying, akhirnya kami bisa berangkat minggu itu juga. Pada hari Kamis, 12 Februari 2015. Namun konsekuensinya adalah karena penerbangan hanya ada hari Selasa dan Kamis, maka kepulangan kami dimundurkan pada tanggal 24 Februari 2015. Entah saya merasa bahagia atau sedih. Bahagia karena mendapat kesempatan lebih lama mengunjungi Madinah dan Makkah. Namun di sisi lain sedih, lagi-lagi amanah yang ada harus saya tinggalkan.

Di tengah kegalauan itu, Ustadz Sobri selaku pembimbing kami pada waktu itu berkata, bahwasanya hakikat umroh maupun haji adalah panggilan Allah. Barangkali memang kami tak diizinkan berangkat Selasa itu karena panggilan Allah itu sendiri baru datang pada tanggal 14 Februari.  Dan Allah berkehendak melamakan kita di rumahNya, barangkali karena Allah rindu kepada kita semua. Lagi-lagi air mataku hanya menetes.

Singkat cerita, selama di Madinah aku mencoba fokus beribadah. Kata ayah, sudah seharusnya kamu meninggalkan pikiran duniawi. Namun semakin mencoba fokus entah mengapa wallahu a’lam apakah ini syetan  yang mencoba menggoda, ataukah memang bawaanku yang selalu kepikiran. Pada waktu itu yang terpikir di benakku masalah akademik dan masalah organisasi. Hingga akhirnya pasca dari madinah, kami menuju ke Makkah. Pikiranku semakin kalut. Dan pasca pelaksanaan umroh pertama, aku jatuh sakit. Malam itu badanku begitu panas. Akhirnya di Makkah justru aku melewatkan kesempatan menyentuh Hajar Aswad karena kondisi  badanku yang tak memungkinkan. Di tengah kalutnya pikiran itu, malam itu tiba-tiba seakan Allah mengingatkanku akan sebuah firmanNya di Al-Quran Surat Ali Imran ayat 92:

“Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”

Memang bukan harta, namun organisasi dan akademik. Keduanya adalah hal-hal duniawi. Seakan di tengah sakit demam tinggi tersebut aku mendapat tamparan keras. Bahwa selama Umroh seakan aku justru menduakan Allah SWT. Seakan selama ibadah itu aku tak sepenuhnya mempercayakan urusan duniawiku kepada Allah. Malam itu aku menangis sejadi-jadinya. Astagfirullah, ampuni aku Ya Allah. Bukankah segala kekuatan itu bersumber kepadaMu? Bukankah ketakutan-ketakutanku akan kedua hal duniawi tersebut akan teratasi jika aku mendekat kepadaMu? Allah maafkanlah aku….

Singkat cerita aku pulang tanggal 24 Februari 2016. Hampir sebulan lebih aku meninggalkan mereka. Aku masih ingat sekalipun aku meninggalkan mereka, ada buku tulis yang selalu kubawa ketika di makkah maupun madinah. Ya, buku itu berisikan doa-doa titipan. Terkhusus untuk mereka, terkhusus untuk kawan-kawanku, dan terkhusus untuk keluarga, serta untuk “dia”.  Dan masalah di Profkil pun ternyata selama aku pergi, tak pernah satu pun rapat karena sedang sibuk di IE Fair. Sementara ada proker kami yang cukup berat menanti di Bulan April. Pada akhirnya proker tersebut dapat terlaksana dengan sukses walaupun dalam persiapannya kurang maksimal.

Satu kepengurusan selesai, dan pada akhirnya kami menyeleseikan kepengurusan di Profkil dengan pencapaian yang barangkali tidak bagus-bagus amat. Pada waktu itu entah saya juga merasa gagal, dan paling bersalah. Ah, coba aku dulu tetap di Sekum, coba aku dulu mungkin ga lanjut di HMTI, mungkin beda ceritanya. Mungkin Profkil bisa lebih baik lagi. Mungkin kekeluargaan di sini bisa lebih erat lagi. Begitulah pada waktu itu pikiran itu menghantuiku.

Melunasi Sebuah Janji LPJ di SUMTI

Ekspresi Bahagia Setelah LPJ. Sekitar setahun lebih 7 hari, 23 Mei 2015

Aku masih ingat ketika pada waktu SUMTI atau LPJ Profkil terakhir, Mas Ginna (kadept profkil sebelumnya) berkata ketika menantang aku untuk menjadi inspirator yang militan atau apapun itu untuk membangitkan atmosfir keilmiahan di TI dan bismillah, aku menyanggupinya. Hingga pasca itu aku berpikir bagaimana bisa melakukan sendirian, dan tentu tidak optimal, ditambah perkuliahanku semester itu aku mengambil 23 SKS.

Hingga suatu malam seperti yang saya ceritakan di sini, kami pun iseng-iseng mengikuti AASIC, sebuah perhelatan yang diselenggarakan PPI Thailand. Seolah selain ingin melunasi janji, ada “dosa” lain yang ingin saya tebus. Dosa pertama adalah ketika dulu memenangkan lomba Essay di UI. Ketika waktu itu, kasak-kusuk rekan-rekan BPH HMTI beberapa orang yang seolah menganggapku terlalu sibuk, hingga muncul kata-kata “Profkil jangan ditinggal terus”. Dosa kedua adalah ketika aku meninggalkan himpunan keluar negeri dalam waktu nyaris sebulan. Dosa pertama adalah ketika aku berprestasi sendirian, dosa kedua adalah ketika aku keluar negeri juga sendirian. Seolah waktu itu adalah kesempatan untuk “menebus dosa itu”. Berprestasi bersama dan Keluar Negeri Bersama.

Man Jadda Wa Jada. Siapa bersungguh-sungguh dia akan berhasil. Man Saaro ala Darbi Wasola. Siapa yang melangkah di jalannya, maka ia akan sampai pada tujuannya. Bismillah, dan akhirnya setelah melalui perjuangan panjang seperti terlukiskan di sini, di sini, dan di sini, pada akhirnya janji itu semoga terlunasi. Janji yang telah terucap setahun silam, dan butuh waktu hampir setahun untuk melunasinya. Semoga pencapaian kami ini dapat menjadi inspirasi bagi adik-adik kami, bagi warga TI, untuk dapat meningkatkan atmosfer keprofesian dan keilmiahan di TI. Lillah… Fillah…. Billah…

Bermimpilah Bersama, Maka Tuhan akan Memeluk Mimpi Kalian Bersama-Sama

Ketika kebersamaan adalah obat dari segala kerinduan….

Kita barangkali berawal tidak dengan sesuatu yang sama. Namun pada akhirnya dalam perjalanan kita berusaha menyamakan visi sekalipun perbedaan itu tetap ada. Kita mungkin bukan yang terbaik, tapi setidaknya kalian telah memberikan momen yang terbaik. Sebab tanpa kalian, barangkali hidup tak se-berwarna seperti dahulu.

Uswatun Maulidiyah, Diyah. Sekertaris Departemen. Aku masih ingat dulu barangkali paling sering bertengkar sama manusia satu ini. Pernah masalah LPJ yang aku dianggap nggak peka. Pernah masalah sama Dita dan Lintang yang dinilai nggak ndeketin staff, sampai aku pun kena semprot karena dianggap nggak bisa deket sama kabinet. Di antara ketiga kabinet Profkil, mungkin dia yang paling vokal dan frontal entah itu ke saya, entah itu ke staff-staff kami.

Lintang Delia Putri, Lintang. Kabiro Keprofesian. bawaannya kalem. Tapi soal kinerja jangan ditanya, dia yang paling konsisten. Semasa staff pernah menjadi staff terbaik di Profkil, dan kadang aku sendiri tidak bisa mengikuti ritmenya. Ya, kadang dia sendiri yang membimbing staff-staff kami, mendekati secara personal, meng sms satu persatu, dan entah saya sebagai kadept yang kurang follow up ke Lintang atau ke staff-nya.

Rahmadita Filaili, Dita. Kabiro Keilmiahan, tapi entah saya merasa sektor keilmiahan juga sering di backup sama Lintang *peace*. Dulu dia cenderung tertutup, tapi dibanding Lintang dan Diyah, barangkali saya paling mudah berkomunikasi dengan dia karena cenderung lebih nyaman jika diajak bicara. Seringkali juga menjadi penyampai aspirasi dari Diyah atau Lintang kepadaku ketika mereka ngerasa saya nggak peka. Dia juga mungkin yang paling gak baperan dibanding kedua kabinet yang lainnya.

Lalu teruntuk staff-staffku: Suhawi, Bima, Tareq, Diyah, Riris, Noga, Frida, dan si kecil Pinop, yang ga bisa aku deskripsiin satu per satu, terima kasih. Barangkali karena kalianlah kami berempat sebagai kabinet menjadi lebih dewasa. Karena kalianlah yang bermacam-macam karakternya, kami menjadi belajar memahami orang. Karena kalianlah yang membuat Profkil kepengurusan kalian semua staff-nya mau melanjutkan perjuangan. Karena kalianlah barangkali kami mampu menjejak langkah di sini, di negeri Gajah Putih.

Sebab itulah teruslah bermimpi, teruslah berjuang mewujudkan mimpi itu. Sebab kami berempat telah membuktikan sendiri, ketika mimpi itu telah kami impikan bersama, Maha Besar Allah, dan Allah pun memeluk mimpi-mimpi kami bersama, dengan izinNya pun mewujudkanNya bahkan barangkali melebih dari apa yang pernah dulu kami impikan.

Apa yang kau impikan hari ini, adalah kenyataan di masa depan – Hasan Al Banna

Tepat Setahun lebih Seminggu pasca Profkil Renaissance 14/15 menyeleseikan LPJ-nya tertanggal 23 Mei 2015

Maaf jika belum mampu menjadi sosok yang baik dahulu, sekarang, dan mungkin di masa depan

Catatan Penutup Kisah Perjalanan ke Thailand *edisi Baper*

Kamar Kos, 30 Mei 2016

21.00

Categories: Campus, Thailand | Tags: , | Leave a comment

#ProfkilGoesToThailand (4): It’s time to Fun :)

11 Mei 2016

Pagi itu aku terbangun sekitar pukul 04.00 setelah hanya tidur sekitar dua jam pada pukul satu malam lebih pasca packing. Selepas subuh rasana masih ngantuk. Namun kupaksakan untuk tidak tidur.  Ya ada beberapa packing yang belum terselesaikan. Pagi itu kami lagi-lagi intens berkomunikasi lewat whatsapp. Memastikan segala sesuatunya telah siap.

Dan lagi-lagi perdebatan di grup terjadi. Antara aku dan diyah. Semasa menjadi sekertaris departemen dulu, dan aku sebagai kepala departemen,  mungkin kami yang paling sering bertengkar, haha… Dan pagi itu terjadi lagi hanya karena persoalan sepele antara kami berangkat naik taksi bersama atau sendiri sendiri. Masalah uber car yang sempat terpesan namun dibatalkan, hingga akhirnya lagi-lagi aku terbawa emosi. Untunglah seakan kami sekelompok sudah memahami karakter masing-masing. Bayangan khawatir tertinggal pesawat akhirnya sirna ketika kami semua sudah berada di Juanda.

Singkat cerita kami take off sekitar pukul 11.30 siang dari Juanda. Di pesawat kami ternyata juga ada beberapa delegasi AASIC dari ITS dan ada juga dari Universitas Airlangga. Perjalanan kami sekitar 4 jam lamanya pada akhirnya kami mendarat sekitar pukul 15.30 sore. Assalamu’alaikum Bangkok! Sawaddee krab Thailand! Alhamdulillah sore itu kami mendarat dengan selamat dengan penerbangan Air Asia. Usai itu kami bergegas menuju imigrasi dan selanjutnya mengambil bagasi. Sekitar pukul 16.30 kami keluar dari imigrasi, dan di sana sudah ada ternyata beberapa panitia AASIC melambai-lambai. Alhamdulillah, setidaknya kami akan mendapat penunjuk jalan di situ. Selanjutnya kami shalat jama’ takhir di Musholla di lantai 2. Mushollanya ternyata cukup besar dan nyaman. Sebuah rasa syukur ternyata negeri yang hanya 5% penduduknya yang beragama islam di sini masih menghargai para pemeluk islam. Usai itu kami pun memutuskan memesan Uber. Ya, mode transportasi bertajuk digital ini ternyata sama murahnya dengan di Indonesia. Jarak ke penginapan kami sekitar 33 km, dan biayanya sekitar 200 baht, atau sekitar 80 rb. Tapi mobilnya… adalah…. Toyota New Camry. Sesuatu yang membuat kami berempat speechless. Standar thailand dan Indonesia ternyata berbeda hehe. Bandingkan di Indonesia yang “hanya” avanza, xenia, dan lainnya.

Kami sampai sekitar pukul 20.30 malam. Kebetulan di situ, Mas Jamhari orang yang membantu menghubungkan kami ke tempat penginapan sudah menunggu. Kami pun bergegas menyeberang melalui jembatan penyeberangan dan makan malam. Kebetulan di situ ada kios makanan halal. “Di sini, kalau makanan halal cuman ada kios ini dek, itu pun adanya malam, dan biasanya cepat habis”. Malam itu kami beristirahat di kamar kami masing-masing. Saya bertiga bersama teman saya dari ITS dan UNAIR, sementara geng cewek menempati kamar lain. Esok hari acara mulai sekitar pukul 09.00

AASIC 2016 : The Day of Presentation

12 Mei 2013, hari itu kami mengikuti pembukaan AASIC 2016. Momentum seperti ini harus kami manfaatkan untuk mencari link seluas-luasnya. Selepas registrasi kami mengikuti materi dari salah satu keynote speaker, Mrs. Beliau merupakan associate professor dari Mahidol University.

Singkat cerita, sesi presentasi kami baru sore hari dan itu pun giliran terakhir. Presentasi di klaster sosial terdapat lima belas tim. Berbagai riset mulai dari mahasiswa S1 sampai S3 dipresentasikan. Saya sendiri hanya geleng-geleng apalagi jika melihat riset saya dibandingkan dengan mahasiswa-mahasiswa S-3 barangkali tidak ada apa-apanya. Mendapat sesi presentasi terakhir, saya akhirnya kepikiran memberikan sedikit pembeda dengan memberikan “punch” ala pengisi materi biasa di kampus biasanya. Alhamdulillah, dengan pembukaan yang sedikit heboh, antusiasme penonton kembali meningkat.

Sesi Presentasi Paper penelitian kami : Indonesian Customer Purchase Intention for Halal Food toward Halal Supply Chain

Pemberian Sertifikat Presenter

Alhamdulillah, usai sudah sesi presentasi. Tanggapan dari penonton pun cukup positif. Mungkin karena penelitian kami “sedikit berbeda” dikarenakan terdapat aspek Halal dan nilai-nilai keislaman di dalamnya. Sesi presentasi berakhir sekitar pukul 18.00. Masih ada waktu untuk gala dinner. Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar Mahidol University.

Delegasi ITS di depan Patung Prince Mahidol

Partner In Crime : Quartet Kabinet Profkil HMTI 14/15

Malamnya, kami mengikuti Gala Dinner. Ini barangkali acara yang ditunggu-tunggu. Makan gratis dan pastinya lebih enak dari makanan-makanan sebelumnya, hehe. Malam itu kami berempat duduk di satu meja. Sebuah kebetulan yang spesial karena kami pada waktu itu terdapat seorang bapak-bapak berasal dari Jepang yang kebetulan pada waktu itu presentasi bersama kami di suatu ruangan. Mr. Kato Yasuki namanya. Beliau mahasiswa S-3 bidang Humanities di Mahidol University. Beliau berasal dari Jepang dan kebetulan mempresentasikan riset mengenai kondisi masyarakat di Jepang. Beliau ternyata cukup tertarik dengan riset kami dan kami banyak berdiskusi tentang perkembangan makanan halal di Jepang. Selain itu yang membuat kami kagum adalah bagaimana table manner beliau. Beliau dengan sopan selalu menawarkan untuk menuangkan minum ke gelas-gelas kami, termasuk selalu menawarkan menuangkan makanan ke piring-piring kami. Bahkan saya sempat menangkap ketika ada yang orang yang memfoto pertunjukan di depan, beliau dengan tanggapnya menundukkan kepalanya. What an amazing attitude, barangkali karena inilah Jepang bisa maju karena mereka memiliki adab yang baik.

Bersama Mr. Kato Yasuki (tengah, tampang Jepang)

It’s time to Fun (?)

Hari kedua semestinya barangkali menjadi hari yang menyenangkan bagi kami. Ya, pada hari itu kami sudah berencana jalan-jalan. Sebenarnya masih ada sesi presentasi lain dari klaster kesehatan, namun kami berencana “sedikit nakal” dengan memutuskan jalan-jalan. Namun semua itu berubah ketika panas demam menyerang. Malam itu sekitar jam 00.30, pintu kamar saya diketok. Ternyata diyah. “Iz, kamu ada parasetamol nggak? Ini Lintang badannya panas banget, masih tinggi panasnya”. Sebagai satu-satunya laki-laki di tim, saya pun langsung tidak bisa tidur. Malam itu saya mau keluar juga tidak tahu apakah apotik masih buka, dan juga khawatir obat yang ada tidak halal. Bismillah, akhirnya malam itu saya mencoba mengetuk kamar mas Jamhari. Tidak bangun-bangun juga. Akhirnya iseng saya buka kamarnya, dan tidak dikunci. Singkat cerita saya berhasil membangunkan mas-nya dan meminta obat. Masnya memberikan paracetamol yang dosis tinggi, sekitar 500gram kandungannya. Usai memberikan obat itu, kami kembali ke kamar masing-masing. Pada waktu itu ketakutan saya cuman satu. Kalau sampai penyakit itu menular ke diyah dan dita yang satu kamar, selesai sudah ._.V. Akhirnya saya mencoba memejamkan mata walaupun tidak nyenyak.

Pagi itu, ternyata kondisi Lintang belum membaik. Akhirnya pagi itu saya ke 7-Eleven. Membeli madu, dan beberapa makanan lainnya. Sembari itu saya juga membeli nasi putih di depan penginapan. Hanya itu, yang lain tingkat kehalalannya dipertanyakan. Untungya dita membawa abon dan serundeng dari rumah. Rekan sekamarku, Diyan Wahyu dan Gagang pada waktu itu aku minta berangkat terlebih dahulu, sebab acara pagi itu hanyalah presentasi dari kelompok lain dan sesi keynote speaker. Sembari menemani mereka di kamar, bisa juga sambil melakukan hal-hal produktif lain seperti menulis ini hehe.

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 11.00 siang. Waktunya jumatan, dan Thailand sedang puncak-puncaknya musim panas sekitar 38 derajat. Karena kondisi Lintang belum baik juga akhirnya terpaksa aku meninggalkan mereka bertiga. Mereka berjanji akan menyusul nanti sekitar jam 2 mendekati penutupan, karena kami mendaftar untuk mengikuti campus tour. Pukul 11.15, dan ternyata kunci kamarku hilang di kamar. Waduh, disaat seperti ini kenapa tidak ada ._. . Sekitar 10 menit mencari akhirnya kunci saya ketemu. Langsung saja saya keluar kamar dan berlari menuju lokasi conference. Kebetulan di situ ada Muslim Center, yang jaraknya sekitar 1.5 kilometer atau 15 menit jalan kaki. Saya sampai sekitar pukul 12.00 dan ternyata…………………………belum dimulai. Alhamdulillah, masih sempat. Saya jumatan di teater Mahidol, karena memang Mahidol tidak menyediakan musholla atau pun masjid. Dengan kondisi seperti itu, saya benar-benar mampu merasakan bagaimana seolah eratnya persaudaraan muslim di antara kami, sesama umat islam.

Pukul 14.00, seusai sesi makan siang akhirnya Diyah, Dita, Lintang tiba di lokasi. Kami segera menuju ke lokasi penutupan di Main Auditorium Mahidol Learning Center. Di situ dilakukan penyerahan penghargaan kepada para pemenang kategori Best Paper dan Best Presentator. Untuk kali ini, kami belum mendapatkan kesempatan untuk mendapat penghargaan. Di klaster kami, Best Paper diraih oleh Mr. Kato Yasuki dengan riset S-3 nya, Best Presentator dari mahasiswa S-3 Kriminologi Universitas Indonesia juga dengan riset S-3-nya. Yah, sepertinya memang kami kalah dari mereka karena memng kami masih S-1, hehe. Usai itu, kami mengikuti campus tour. Yeah, it’s time to fun. Campus Tour di sini kami mengunjungi beberapa tempat.

Rumah Kayu, Mahidol University

Di dalam Kereta. Moda transportasi di sini menggunakan semacam mobil terbuka saya lupa namanya. Semacam bus kampus

Di depan Prince Mahidol Hall, katanya venue tersebut tempat Wisuda dan Acara Besar Universitas

Di depan Mahidol University

It’s time to Walk Around Thailand

Ya, hari itu kami akhirnya memutuskan jalan-jalan walaupun kondisi Lintang belum membaik sepenuhnya. Kami berangkat sekitar pukul 06.30 selepas sarapan seadanya. Kali ini kami mencoba transportasi lain. Pagi itu kami naik Bus A-52 menuju ke Victoria Monument. Bus yang tampang luarnya buruk, ternyata dalamnya ber-AC dan dilengkapi WiFi. Sesampai di victoria monument, kami naik Sky Train, dan menuju ke Phaya Thai. Di sana, ada teman kami, Ainun sudah menunggu untuk menjadi tour guide kami.

Phaya Thai Sky Strain Station

Destinasi pertama kami adalah…………………… Sarapan. Ya, kebetulan di daerah Phaya Thai ada perkampungan muslim. Kami pun makan di situ. Harganya standar jakarta, sekitar 40 – 60 Baht. Dari situ kami menuju ke Siam. Kata Ainun, belum ke Thailand namanya kalau tidak pernah merasakan Siam. Thailand dulunya bernama Siam, dan dulu daerah tersebut merupakan pusat kota dan pusat pemerintahan. Nama Thailand sendiri diperoleh ketika mereka merdeka, dan artinya adalah Thai (pembebeasan) land (daratan) atau lebih dikenal Daerah Pembebasan. Sekarang daerah ini ternyata menjadi aneka pusat perbelanjaan kelas menenegah ke atas. Di bawah Siam Paragon Plaza sebenarnya ada Seaworld yang cukup besar. Namun tiketnya sekitar 800 baht dan mana mungkin kami ada uang sebanyak itu ._.

Bersama Geng Rumah Kepemimpinan Surabaya di Siam Center

Dari Siam Center kami menuju ke Chulalongkorn University. Siam merupakan daerah yang kepemilikan tanahnya dimiliki oleh Chulalongkorn. Sehingga bayangkan tentu saja keuntungan dari penjualan barang-barang di pertokoan Siam akan masuk ke Chulalongkorn University. Pantaslah universitas dengan peringkat 117 dunia ini memiliki berbagai fasilitas yang mumpuni. Kami menuju Chulalongkorn menggunakan Bus Universitas. Bus-nya sudah menggunakan teknologi Bus Listrik, dan kenyamanannya juga baik. Kami kemudian menuju ke bagian depat Chulalongkorn untuk mengambil foto sejenak.

Di depan patung King Chulalongkorn, cuman bertiga. Lintangnya sakit nggak mau diajak foto karena udara panas

Di depan King Mahidol House

Pasca dari Chulalongkorn University kami menuju ke Bangkok Art and Culture Center. Semacam supermarket tapi di lantai atasnya berisi kesenian dari berbagai seniman-seniman di Thailand. Cukup menarik di lantai bangunan dengan lantai 7 sampai 10 berisi aneka macam kesenian.

Ini foto yang Totally Failed. Niat saya untuk berfoto candid ,tapi di kesemuanya ada “makhluk lain” -___-. Yang memfoto pun sepertinya sengaja tidak memberi tahu, dan saya juga tidak menge-ceknya. Foto di tengah setelah selesai sesi foto.

Beberapa aksi “kenarsisan kami” di Bangkok Arts Culture

Selepas dari tempat yang dingin-dingin, kami melaksanakan Shalat terlebih dahulu di daerah Siam Plaza. Kebetulan terdapat musholla di sana. Usai dari situ kami menuju ke Candi Budha. Ada pula yang bilang belum ke Thailand rasanya jika kami tidak menuju ke Candi – Candi Budha. Lokasi terdekat adalah Victoria Monument. Kami menaiki bus ke sana, dan kemudian sesampainya di sana tiket masuknya 20 baht atau sekitar 8000. Kami pun masuk ke dalam dan melihat beberapa aktivitas peribadatan umat budha.

Golden Mountain, Thailand

Di atas Golden Mountain

Golden Mountain, di Puncak Candi setelah menaiki anak tangga yang cukup tinggi

Selepas kami berjalan, karena budget semakin tipis akhirnya kami mencukupkan kunjungan ke candi tersebut. Ah paling juga candi isinya hanya begitu-begitu saja pikir kami. Kami segera menuju ke pelabuhan Sungai Chaop Raya. Cukup jauh juga kami berjalan dan di situ kami melewati beberapa Candi yang lain.

Di depan Rumah Raja Thailand. Ga sembarang orang bisa masuk ke dalam

Usai itu kami menuju ke destinasi wisata terakhir kami hari itu. Yaitu Asiatique. Daerah pelabuhan yang malam hari katanya menyajikan pemandangan yang romantis. Sangat tidak cocok sekali untuk kami berempat karena kami semua jomblo-jomblo (sampai halal insya Allah wkwkwk). Tapi ya kami tetap ke sana saja. Kami berangkat menaiki Kapal Wisata yang menelusuri sungai Chaop Raya. Dan pemandangan sore hari menjelang terbenam memang benar-benar indah, menyajikan romantisme tersendiri bagi saya.

Dalam pelayaran menuju Asiatique. di Sungai Chaop Raya

Asiatique, banyak sekali makanan di sana. Termasuk makanan halal. Kebetulannya di depannya ada masjid dan pujasera berisikan makanan halal di samping masijd tersebut. Akhirnya lapar seharian terbayarkan dengan tuntas

Ya, seharian sudah kami internalisasi. Internalisasi yang bukan sekedar internalisasi #asek. Karena kelelahan yang luar biasa, kami akhirnya memesan Uber untuk kembali. Malam itu adalah malam terakhir kami di apartement. Sementara itu mungkin teman-teman sudah tertidur, aku membuka laptopku. Meng-copy foto-foto kami sembari sejenak bernostalgia akan perjuangan kami. Esok hari adalah hari terakhir, di mana kami akan pergi ke Chatuchak Market untuk membeli oleh-oleh dan beberapa benda khas Thailand untuk kami sendiri tentunya.

Hari terakhir kami berkemas sekaligus berpamitan dengan Mas Jamhari serta mengucapkan terima kasih atas bantuan mereka selama di penginapan. Tak lupa kami memberi oleh-oleh Krupuk Samijali dan Sambal Bu Rudy sebagai oleh-oleh khas Surabaya. Di tengah panasnya Thailand kami pun berbelanja. Sambil membawa koper dan tas berat kami berkeliling pasar tradisional tersebut. Untungya di situ ada tempat sarapan halal.

Warung Saman. Harga makanan di sini sekitar 150 baht sampai 200 baht. Cukup mahal memang, namun rasanya dan porsinya tidak mengecewakan.

Usai dari chatucak market, bergegas kami menuju Bandara Don Muang. Kami cukup was-was mengingat jam penerbangan yang sudah mepet. Dan sesampainya di sana….. Alhamdulillah penerbangan ternyata delay ._. Setelah mengantri bahkan kami sempat bongkar pasang bagasi kami setelah kami coba timbang ternyata hampir semua bagasi kami kelebihan. Akhirnya menggunakan trik mengeluarkan barang dan membawanya ke tas punggung kami. Untunglah bagasi kami pada akhirnya tak kelebihan.

Pada akhirnya sampailah kami di Ruang tunggu pesawat. 5 hari sudah kami di berkelana di negeri orang dan pada akhirnya kami kembali. Rasa lelah, capai, senang, bercampur menjadi satu. Dan lagi-lagi pesawat kami mengalami penundaan untuk kedua kalinya. Hufft. 16.45. Pada akhirnya pesawat kami take off. Perjalanan sekitar 4 jam dan sampailah kami di Surabaya sekitar pukul 9 malam. Lintang dan Dita sudah kembali dijemput keluarga masing-masing. Sementara aku dan diyah naik uber untuk kembali ke tempat kami masing-masing. And finally our journey was end. But my story, actually just begin….

—-masih bersambung —

Asrama RK Surabaya

Sembari rapat persiapan momen terakhir

Menuju 31 Mei 2016

23.40

Categories: Campus, Thailand | Tags: , | Leave a comment

#ProfkilGoesToThailand (3) : Lika-Liku Menuju Keberangkatan (3) – Problem Klasik Bernama Dana

10 Maret 2016

Berbekal tabungan sendiri, bismillahirrahmanirrahiim, akhirnya aku menalangi terlebih dahulu untuk biaya registrasi presenter. Panitia tahun ini sepertiya berbeda dengan panitia AASIC tahun kemarin. Sebab berdasarkan penuturan kawanku, tahun lalu panitia memberikan kelonggaran yang lebih kepada peserta terkait tenggat waktu pembayaran registrasi. Namun setelah bernegosiasi dengan panitia melalui email, ternyata panitia tidak dapat memberikan tenggat waktu kembali.

Oke, rintangan pertama terlewati. Selanjutnya rintangan selanjutnya adalah biaya registrasi ketiga anggota kelompok yang deadlinenya tanggal 1 April 2016. Sementara itu proposal kami masih ditahan oleh jurusan. Beberapa kali di follow up namun proposal tetap saja tertahan dikarenakan entah dosen TKK yang masih keluar kota, dan lainnya. Hingga akhirnya proposal kami tertahan selama hampir  3 minggu dan akhirnya selesai. Kami bergegeas memasukkan proposal ke fakultas dan dekanat. Agar bisa bergerak, kami akhirnya memutuskan mencoba mengirim proposal keluar ITS hanya berbekal tanda tangan Kajur. Sudah akhir maret dan H-1 bulanan. Sementara itu copy proposal yang lain kami bawa ke fakultas, dekanat, rektorat, dan IKOMA.

1 April 2016. Hari deadline pembayaran pun tiba, sementara kami masih belum mendapat uang sepeser pun. Malam itu, kami berempat berkumpul di Lab Sistem Manufaktur. Sembari membicarakan apakah rekan-rekan bertiga jadi berangkat ataukah tidak. Dan hasil diskusi malam itu, untungnya Lintang mau menalangi uang registrasi Dita dan Diyah terlebih dahulu. Bismillah, malam itu juga kami akhirnya melakukan pembayaran. Rintangan kedua pun tak terasa terlewati.

Segala keputusan pasti mengandung resiko. Sekarang, dengan kondisi kami belum mendapat sponsor dan telah melakukan pembayaran, otomatis kami mau tidak mau harus berangkat agar tidak merugi tentunya. Ya, akhirnya kami mengirim beberapa proposal ke perusahaan-perusahaan.

6 April 2016, salah satu perusahaan menghubungi kami. Perusahaan tersebut meng-acc Proposal kami sebesar satu juta rupiah. Alhamdulillah. Sesedikit apapun harus disyukuri. 14 April, akhirnya satu juta yang dinanti telah di tangan. Sembari tiap hari membagi fokus di tengah persiapan seminar Tugas Akhir, kami juga mem-follow up berbagai sponsor yang ada.

28 April 2016. Sekitar H-2 minggu keberangkatan. Sudah beberapa perusahaan menjawab dengan penolakan. Entah mengapa kami semakin pesimis. Apalagi uang kami sudah terpakai untuk membayar conference. Yah, minimal tiket keberangkatan dan kepulangan yang selalu menjadi momok ketika mengikuti acara di luar negeri.

29 April 2016, di tengah grup chat yang tegang seperti ini.

Ya, akhirnya kami mendapat kepastian mendapatkan uang dari sponsor. Dengan kondisi seperti itu, pada waktu itu kami bisa mendapatkan tiket pulang pergi. Alhamdulillah. Rasa syukur tak terhingga. H-12 keberangkatan, dan pada akhirnya yang dinanti datang juga. Namun lagi-lagi badai permasalahan tidak sampai di situ saja. Harga tiket yang dulu semula dengan uang seperti itu cukup untuk pulang pergi, ternyata sudah melonjak sekitar 30%-an. Akhirnya uang yang didapat tak cukup untuk melakukan pembelian tiket.

Nah, masalah lain ketika kami akan melakukan pembelian tiket online, ternyata diminta memasukkan nomor paspor. Sementara Diyah, salah satu anggota tim kami belum memiliki paspor. 30 April 2016, dan ada yang belum punya paspor dan belum punya tiket pesawat. Bahkan pengurusan paspor pun kami sempat pesimis bisa selesai lebih cepat karena adanya long weekend dari tanggal 5 – 8 Mei 2016. Hingga rasa pesimis pun keluar….

Di tengah tekanan yang tak kunjung mereda, kami tetap berusaha berbaik sangka kepada Allah. Bismillah, jika memang ini jalannya, Insya Allah mimpi untuk keluar negeri bersama bukan hanya sekedar impian.

2 Mei 2016, H-9 keberangkatan. Pada akhirnya kami mendapatkan tambahan dana dari kampus. Sehingga jika ditotal cukup untuk membeli tiket keberangkatan dan kepulangan. Problemnya adalah dana tersebut tentu belum cair dan sudah menjadi rahasia umum pencairan dana kampus selalu setelah acara itu selesai. Akhirnya pada hari itu kami mencoba mencari pinjaman uang. Sementara hari itu juga dari uang yang sudah didapat dari sponsor, kami membeli tiket untuk keberangkatan.

Di tengah kebingungan mencari dana, kami pun belum mengerjakan PPT untuk presentasi paper. Sementara jobdesc itu dibagi ke aku, dan dari tanggal 3 Mei 2016 Hingga tanggal 8 Mei 2016 aku harus ke Jakarta untuk mengikuti National Leadership Camp 2016 Rumah Kepemimpinan. Akhirnya? PPT dibuat sembari perjalanan Surabaya – Jakarta di kereta. Tentu dengan koneksi internet yang tak stabil. Sementara Lintang dan Dita menemani Diyah sembari mencoba me-lobby ke Imigrasi agar paspor bisa selesai lebih cepat.

4 Mei 2016, pada akhirnya aku mendapat pinjaman. Kami bisa segera membeli tiket untuk kepulangan. Sementara dita juga mendapat pinjaman, Lintang juga mendapat pinjaman, sementara Diyah belum mendapat pinjaman akhirnya aku talangi dulu. Akhirnya malam itu kami membeli tiket pulang. Selesai. Allahu Akbar! Pada akhirnya insya Allah kami berangkat ke Thailand. H-7 keberangkatan. Di tengah dana yang masih banyak cair, ternyata kami mampu melakukannya.

5 Mei 2016, kembali sponsor menghubungi kami. Alhamdulillah, kembali mendapat tambahan walaupun tak banyak. Cukup setidaknya untuk penginapan, dan sedikit uang saku selama di sana. Hari itu juga aku pasca NLC 2016 di kamar, mencoba menyeleseikan deadline presentasi di tengah acara NLC yang begitu padat. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 23.30 malam. Aku baru masuk kamar, sebab acara baru selesai, dan beberapa orang sudah tertidur pulas. Acara NLC kali ini benar-benar menguras tenaga. Hampir setiap hari acara selesai pada pukul 11 hingga tengah malam. Sementara pukul setengah empat pagi, kami harus sudah bangun untuk melaksanakan Qiyamu Lail. Sementara aku masih ada tanggungan power point. Bismillah karena inilah perjuangan, aku mencuci mukaku lalu menyeleseikan power point. 01.30, akhirnya ppt selesai terkirim. Masih ada waktu 2 jam untuk memejamkan mata. Dan aku pun tertidur pulas.

Pasca itu, pembicaraan kami di grup berubah ke arah penginapan. Masalah lain, kami belum mem-fikskan tempat penginapan kami, sembari mencari yang murah atau bahkan gratisan. Singkat cerita kami mendapatkan penginapan yang benar-benar murah, hasil dari kekepoanku di linked in mencari mahasiswa Indonesia di Mahidol University. Sekarang kami menjadi lebih santai. Mulai membicarakan nanti jalan-jalan ke mana, tukar uang, dan persiapan teknis lainnya. Yah perjuangan itu pada akhirnya menghantarkan kami ke negeri gajah.

10 Mei 2016. Malam itu aku nyaris tak bisa memejamkan mata. Sembari melakukan packing barang-barang bawaan, aku merenungi. Perjuangan panjang sejak November 2015 yang lalu, barangkali ini buah perjuangan kami. Selalu ada pengorbanan yang dilakukan, sempat ada pertengkaran-pertengkaran kecil, semangat yang naik turun, tapi begitulah perjuangan. Tidak akan indah jika hanya berjalan mulus. Sebab dinamika-lah yang membuatnya indah untuk dikenang.

(masih bersambung)

Di sela-sela Seleksi Rumah Kepemimpinan Angkatan 8

Gedung AMEC, UNAIR

17.22

Categories: Campus, Thailand | Tags: ,

Blog at WordPress.com.