Dai Cilik

Diasah Ayah, kelas V Ceramah di Hong Kong

Oleh:Yosi Arbianto, Wartawan Radar Malang (Jawa Pos Group), Selasa 10 Juli 2007

Mushonnifun Faiz. Nama ini sudah tak asing lagi bagi warga Kota Malang. Terutama di kalangan dunia pendidikan. Faiz, selain dikenal sebagai dai cilik, juga mahir mendalang, baca puisi, dan mendongeng

Faiz mengambil potongan pizza yang disuguhkan Radar di atas meja. Mulanya dia sedikit bingung mengambilnya. Sebab, keju yang meleleh melekatkan potongan makanan Itali itu satu dengan lainnya. Akhirnya, dengan lugas, dia pun mengaku, “Lha makan pizza memang belum jadi kebiasan saya,”ungkap murid kelas VII MTsN Malang I lugas.

Sikap lugu seorang anak pun ditampakkannya dengan menggoyang-goyangkan kaki yang menggantung di atas kursi selama berbincang dengan awak redaksi.

Faiz sengaja silaturahim ke kantor Radar Jumat (6/7) setelah dua tahun tidak pernah berjumpa. Kedatangan dai cilik ini, juga terkait rencana keberangkatannya ke Hong Kong, guna memberikan tausiyah atas undangan Forum Muslimah Al-Fadhilah Hong Kong (FMA-HK).

Mulai Sabtu (7/7) hingga Selasa (10/7), Faiz akan memberi siraman rohani kepada tenaga kerja wanita (TKW) di Hong Kong. Itu pernah dia lakukan 2005 lalu.

“Pihak pengelola TKW di sana merasa cocok dengan tausiyah yang diberikan Faiz. Ya sudah, kami terima tawaran kedua kali ini,”kata Ali Imron, ayah Faiz yang mendampinginya.

Faiz bercerita, pada 19 Juni 2005 lalu, dia pernah diundang oleh Persatuan Dakwah Victoria Hong Kong (PDV-HK). Faiz diminta memberikan siraman rohani kepada para TKW. “Waktu itu saya masih kelas V MIN Malang I,”kenang bocah yang kini menginjak 13 tahun ini.


Di bawah terik matahari sekitar 35 derajat celcius, lebih dari 5000 TKW Hong Kong kala itu tidak beranjak dari tempat duduk mendengarkan tausiyah Faiz. Gaya dia berceramah yang fluktuatif, terkadang kocak, terkadang mengharukan, dan kadang dengan…. mimik serius membuat perasaan jamaah terhibur.

“Terkadang ngakak, terkadang menangis. Namanya juga orang dewasa melihat anak berdakwah,”sahut Imron.
Isi tausiyah yang diberikan Faiz, juga dinilai mengena dengan kondisi para TKW. Dalam acara Pengajian Akbar dan Wisuda Iqro’ di Masjid jami’ Tsim Tsa Tsui, Kowloon Hong Kong, Faiz berupaya mengobarkan semangat TKW agar bekerja sungguh-sungguh. Dia juga bisa “menasehati” agar TKW berperilaku hemat dan tidak berfoya-foya.

“Agar banyak dolar Hong Kong yang dibawa untuk keluarganya. Selain juga untuk meningkatkan devisa negara,”ujar Faiz yang juga pemain Panembromo dan Karawitan ini.

Faiz juga sempat memuji para TKW sebagai tulang punggung keluarga dan pahlawan devisa negara. Sebab, kata pemilik 50 tropi kejuaraan ini, devisa yang dihasilkan TKI sangat besar, tiap tahun mencapai 24 triliun (4% dari APBN).

“Itu data yang saya peroleh dari Depnakertrans”, ujar penggondol Juara I dan Juara Favorit Pemirsa Festival Dai Pelajar Nasional versi Telkomsel itu.

Faiz melanjutkan, dia sangat peduli dengan TKW karena sangat ingat dengan sabda Nabı Muhammad 15 abad yang lalu.
Almar’atu ‘imaadul bilaad. Perempuan itu adalah tiang negara”lanjut siswa yang sering juara cerita dan membaca puisi itu.
“Ternyata, kakak-kakakku TKW malah bisa menjadi imaadul baladaini. Tiang dua negara besar. Imaadul Indonesia wa Imadu As-Shiin. Tiang Negara Indonesia, dan tiang Negara Cina,”tukas siswa yang jadi langganan baca puisi dan doa di balai kota Malang itu.

Ia juga mengisahkan, bahwa sejak kecil memang suka membaca dan mengaji. Ayahnya yang dosen di Universitas Negeri Malang (UM) itu adalah orang kali pertama melihat bakat orator Faiz.

Saat itu, ia masih beruia 4 tahun. Faiz terus mendapatkan asuhan dari ayahnya. Sejak duduk di kelas 3 sampai 6 di MIN Malang I, Faiz menjuarai lomba da’i kecil tingkat kecamatan Lowokwaru. Ia pun maju ke tingkat Kota Malang. Lagi-lagi Faiz menembus juara utama. Kemampuannya pun dilirik banyak warga luar kota. Ia pun pernah mendapat tawaran ceramah hinga ke Jawa Barat, Jateng, dan wilayah Jatim.

Meski jam terbang berpidato di depan khalayak sangat padat, Faiz mengaku tak pernah mau surut belajar. Ia tak hanya suka membaca buku berbagai judul dan kisah, tapi juga diskusi dengan orang tua dan gurunya.

“Nah, di Radar ini, saya juga sedang belajar. Oh, begini to, cara menulis berita itu. Suatu saat, saya akan menulis buku,”ujar Faiz saat melihat proses editing di Radar. (*)

Categories: Dai Cilik | Tags: , | Leave a comment

Malang Life: Da’i Cilik Faiz Ceramah Di Hong Kong

Surya, Sabtu 7 Juli 2007

Siswa kelas I MTsN Malang I, Mushonnifun Faiz Sugihartanto, 13, Sabtu (7/7) ini akan bertolak ke Hong Kong. Didampingi ayahnya, Drs. Ali Imron, M.Pd, bocah yang biasa disapa Faiz itu akan memberikan ceramah kepada ribuan tenaga kerja wanita (TKW) asal Indonesia di Kota Kowloon.  Continue reading

Categories: Dai Cilik | Tags: , | Leave a comment

Sebelum Manggung Bergaya di Depan Kaca Dulu

Lebih Dekat Dengan Mushonnifun Faiz, Dai Cilik Berprestasi Siswa MTsN I Malang.
Oleh: Yulianti, Wartawan Radar Malang (Jawa Pos Group) Sabtu, 21 Oktober 2006

Puluhan prestasi dalam setiap ajang lomba dakwah diraihnya. Itu karena kepiawaiannya dalam menyampaikan tausiyah di hadapan umum. Setelah diundang berdakwah di Hong Kong dua tahun lalu, siswa kelas I MTsN I Malang ini, kembali menyabet Juara I dai pelajar dalam Telkomsel Ramadhan Festival Da’i Pelajar 2006.

”Ayo kita berpuasa dengan penuh semangat. Jangan loyo, lakukan semua ibadah di bulan yang penuh berkah ini hanya karena Allah Swt, pasti Allah akan menerima amal ibadah kita dan berhasil meraih kemenangan saat Idul Fitri tiba……….”ucap Faiz, sapaan akrabnya dengan lantang pada Malam Grand Final Festival Da’i Pelajar 2006 di Telkomsel GraPARI Malang belum lama ini. Continue reading

Categories: Dai Cilik | Tags: , | Leave a comment

Da’i Cilik

Kompas, Sabtu, 18 Juni 2005

Dari kecil aku memang cerewet, aku suka ngomong kok,”kata Mushonnifun Faiz Sugihartanto yang kerap di sapa Faiz. Bocah berusia 11 tahun tersebut memang cerewet dan bawel. Namun kecerewetannya itu, menjadikan bocah yang tidak biasa. Ia pintar berceramah dan sangguo berbicara di depan banyak orang. Kepiawaiannya itu, sudah di kenal luas hingga ke luar negeri.

Bagaimana tidak, tepat tanggal 19 Juni 2005 dia akan berdakwah di depan tenaga kerja Indonesia di lapangan Victoria, Hong Kong.

Sang Ayah mengatakan, bahwa sejak kecil Faiz memang bawel. Anak sulung dari dua bersaudara tersebut, kerap mengomentari apa pun. Bahkan ketika sedang berbincang-bincang dengan seseorang, Faiz kerap datang dan menutup mulutnya. ”Kalau sudah begitu, dia yang ngomong, saya yang nggak boleh ngomong,”ujarnya tertawa.

Lalu ketika Faiz berusia enam tahun dan bisa membaca, ia sangat suka membaca, terutama majalah Bobo. Dia sanggup menghafal materi-materi di majalah Bobo ketimbang isi pelajarannya. ”Enggak tahu kenapa dia bisa menghafal isi Bobo dengan mudah, tapi kalau pelajaran kok sulit,”kata Ali.

Sampai-sampai, di sekolah pun, akhirnya Faiz dibimbing oleh kepala sekolahnya, untuk menyalurkan ”bakat” kecerewetannya seperti mendalang dan berpidato. ”Saya juga belajar mendalang”,ujar Faiz.

Karena kelebihannya itu, saat masih duduk di taman kanak-kanak kelas B besar, ia sering diminta untuk mengisi acara cerita untuk anak di radio TT 77 Kota Malang. Banyak cerita yang biasa saya bawakan saat itu,”katanya. ”Di antaranya Si Kancil yang Cerdik, Si Jambreng yang nakal, dan lain sebagainya.

Kepiawaiannya itu, membuat ia memenangi perlombaan pidato saat ia masih duduk di kelas dua SD, tepatnya di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) I Kota Malang. Perlombaan yang baru pertama kalinya dia ikuti itu, memberinya kemenangan juara pertama.

Kemenangan itu membuatnya sadar bahwa ia memiliki bakat sebagai ahli ceramah dan pidato. Ketika ditanya tentang cita-citanya kelak, dengan mimik jenaka yang selalu menghiasi wajahnya, ia menjawab,”Aku ingin seperti A’a Gym,”katanya.
Mengapa? Menurut pemahaman bocah kelas lima MIN itu, A’a Gym orangnya sopan tutur bahasnya halus, dan tutur katanya mudah dipahami. (HLN/BEE)

Categories: Dai Cilik | Tags: , | Leave a comment

Blog at WordPress.com.