Author Archives: Mushonnifun Faiz Sugihartanto

About Mushonnifun Faiz Sugihartanto

24 | ENTP | Industrial Engineering ITS | Alumni Rumah Kepemimpinan #7 | LPDP Awardee PK-122 | M.Sc Student of Logistics and Supply Chain Management - Lund University | Indonesia - Sweden

Scholarship Journey (9): Titik Jenuh

Menapaktilasi perjuangan yang pada akhirnya telah sampai ke ujungnya. Perjalanan yang dimulai tahun 2016 yang lalu pasca menuntaskan amanah akademik kampus. Hingga hari ini, betapa banyak pelajaran yang dapat dipetik. Bahwa hanyalah Allah sebaik-baik perencana. Hanya Allah yang mengetahui tentang apa, kapan, di mana, dan bagaimana waktu yang terbaik untuk hamba-hambaNya. Ketika Dia merasa bahwa hambaNya telah pantas dan kuat menerima segala ketetapan dariNya, niscaya Allah tak akan segan-segan mengabulkan doa kita, bahkan memberikannya dengan cara yang jauh tak pernah kita sangka.

Juli 2017

“Saya isi endeavour nggak bisa Iz, password-nya udah expired…”.

Lengkap sudah pada hari itu kegagalan saya di beasiswa ke 12. Kali ini sedikit konyol sebenarnya karena sedang musim lebaran dan saya lupa memberitahukan kepada salah satu pemberi rekomendasi saya untuk melengkapi berkas rekomendasi online. Saya di kampung, dan beliau pun juga di kampung. Sama-sama sedang tidak bisa membuka laptop. Continue reading

Categories: Scholarship Journey | Tags: | Leave a comment

Scholarship Journey (8) : Kegagalan Pertama – Swedish Institute Scholarship

SI-capture

Menapaktilasi perjuangan yang pada akhirnya telah sampai ke ujungnya. Perjalanan yang dimulai tahun 2016 yang lalu pasca menuntaskan amanah akademik kampus. Hingga hari ini, betapa banyak pelajaran yang dapat dipetik. Bahwa hanyalah Allah sebaik-baik perencana. Hanya Allah yang mengetahui tentang apa, kapan, di mana, dan bagaimana waktu yang terbaik untuk hamba-hambaNya. Ketika Dia merasa bahwa hambaNya telah pantas dan kuat menerima segala ketetapan dariNya, niscaya Allah tak akan segan-segan mengabulkan doa kita, bahkan memberikannya dengan cara yang jauh tak pernah kita sangka.

Januari 2017

Sembari menunggu segala hasil tes IELTS, pada waktu itu saya mendaftar aplikasi beasiswa SI Scholarship. Beasiswa ini merupakan beasiswa pertama yang ada di list saya. Pertengahan Januari sudah diharuskan memasukkan semua berkas, dengan opsional IELTS Certificate yang bisa menyusul hingga paling lambat tanggal 1 Februari 2017 pada waktu itu.  Continue reading

Categories: Scholarship Journey | Tags: | Leave a comment

Scholarship Journey (7) : Memaknai Hasil Perjuangan Pertama

Menapaktilasi perjuangan yang pada akhirnya telah sampai ke ujungnya. Perjalanan yang dimulai tahun 2016 yang lalu pasca menuntaskan amanah akademik kampus. Hingga hari ini, betapa banyak pelajaran yang dapat dipetik. Bahwa hanyalah Allah sebaik-baik perencana. Hanya Allah yang mengetahui tentang apa, kapan, di mana, dan bagaimana waktu yang terbaik untuk hamba-hambaNya. Ketika Dia merasa bahwa hambaNya telah pantas dan kuat menerima segala ketetapan dariNya, niscaya Allah tak akan segan-segan mengabulkan doa kita, bahkan memberikannya dengan cara yang jauh tak pernah kita sangka.

Jum’at, 27 Januari 2017

“Izzz, ayo wes wayahe jumatan (Iz, ayo sudah waktunya jumatan),”teriak Mas Dalu, senior saya di kantor. Ya, selepas menuntaskan Tes IELTS 13 hari sebelumnya, dan kursus IELTS 21 hari sebelumnya, saya langsung mendapatkan tawaran untuk bekerja di Ternaknesia, Start Up yang pada tahun itu baru dirintis oleh senior saya di kampus. Selain bagi saya merupakan tantangan baru (karena bekerja di perintisan usaha), juga waktu yang cenderung fleksibel bagi saya untuk menyambi aneka macam beasiswa yang telah saya rencanakan untuk apply ke dalamnya. (Seperti tulisan saya sebelumnya di sini)  Continue reading

Categories: Scholarship Journey | Tags: | 3 Comments

Kegigihanmu

“Kegigihanmu dalam mencari apa yang telah dijamin untukmu dan kekuranganmu dalam melaksanakan apa yang diminta darimu menjadi bukti butanya mata hatimu

– Ibnu Atha’illah al-Iskandari, dalam Kitab Al-Hikam

Bukankah sering kita melakukan hal ini, sementara kita tak menyadari. Padahal panggilanNya selalu datang pada kisaran waktu yang sama. Sejak engkau kecil dahulu, hingga saat ini, azan berkumandang dalam deviasi waktu yang tak jauh berbeda. Namun mengapa ia seringkali justru terkalahkan oleh keegoisanmu kepada hal-hal duniawi. Ia kalah oleh pertemuan, rapat, yang bahkan kau sendiri mampu me-reschedule-nya.

Kau begitu gigih dalam memperjuangkan urusanmu. Kau siapkan presentasi terbaikmu, kau berlatih, kau memukau di depan customer-mu. Kau pun juga siapkan pakaian terbaik, parfum paling wangi, serta sepatumu tak kalah mengkilat. Sementara Dia tak pernah meminta banyak hal. Dia hanya memanggil sejenak, bahkan mungkin tak sampai setengah jam telah cukup untuk menyeleseikannya. Tapi kau seolah terlalu sibuk, serta beranggapan masih ada waktu nanti.

Continue reading

Categories: Renungan | Tags: , | Leave a comment

Blog at WordPress.com.