Catatan Hikmah: Berangkat Haji dari Swedia

received_364478044445759.jpeg

Don’t save Hajj for the old age! You don’t know the date of your appointment with the angel of death. – Dr. Bilal Philips

Malang, November 2007

Pikiran ini melayang kembali ke 12 tahun yang lalu, saat saya masih bersekolah di MTsN I Malang. Saat itu, saya masih ingat betul di Lapangan Rampal, Malang, melepas kedua orang tua saya menuju Baitullah. Lantunan talbiyah dari lagu Opick menggema, membuat air mata saya pada waktu itu menetes. Saya memeluk ayah dan ibu sembari mendoakan keselamatan mereka berdua. Dari dalam bus, keduanya melambai, terlihat air mata mereka menetes perlahan. Hingga akhirnya bus pergi menuju Asrama Haji Surabaya. Saya pun pulang, berharap agar suatu saat bisa segera mendapatkan panggilan dariNya untuk ke Baitullah.

Hingga tak terasa, tibalah hari kepulangan. Saya menunggu dengan harap-harap cemas pada waktu itu. Alhamdulillah, ayah dan ibu dalam kondisi sehat. Masih teringat pada waktu itu ayah dan ibu saya berkata, “Nak, ibadah haji itu selain ibadah ruhani, ibadah harta, juga ibadah fisik. Makannya, nanti kamu jika ada kesempatan, sebaiknya pergi Haji saat masih muda. Karena fisikmu pada waktu itu masih kuat.” Maka sejak saat itulah, doa – doa kepadaNya senantiasa terlantun. Memohon agar Allah berkenan memanggil diri ini di usia muda.


Makkah, Februari 2015

Delapan tahun setelah kedua orang tua saya berhaji, alhamdulillah Allah cukupkan rezeki kepada kedua orang tua saya untuk berangkat umroh sekeluarga. Pada waktu itu kami juga mengajak Nenek dari Ibu, dan Kakek dari Ayah saya. Betapa banyak hikmah yang tertuang. Betapa banyak air mata yang menetes di sana. Merasakan betapa indahnya bersujud di masjdil haram, merasakan betapa air mata mengalir saat menyampaikan shalawat di depan Makam Rasulullah SAW. Terlebih juga melaksanakan bersama keluarga besar. Hingga pada waktu itu, saya teringat betul ibu saya berucap dan berniat mendaftarkan saya dan adik saya haji, mengingat antrian panjang di Indonesia. Namun pada waktu itu, saya secara spontan menolak, sembari berkata, “Sudah ma, nggak usah mama daftarkan. Mama doakan saja semoga nanti aku bisa S-2 di luar negeri, dan nanti berhaji dari sana, dengan uangku sendiri. Biar nggak merepotkan mama, juga karena di sana lebih cepat, nggak ada antrian”. Walaupun pada waktu itu saya belum tahu bagaimana caranya, dengan apa, dan hanya beberapa kali mendengar bahwa di luar negeri kesempatan haji lebih cepat dan lebih mudah, namun sejak itulah saya berazzam utk kelak bisa berhaji dari luar negeri.


Jakarta, Oktober 2017

Malam itu di perjalanan pulang meeting dari Karawang, saya gelisah sendiri di mobil. Pengumuman beasiswa LPDP pada hari itu akan dikeluarkan. Berkali-kali mencoba login LPDP, error. Sepertinya cukup banyak yang mengakses. Saya refresh berkali-kali hp saya, namun tetap saja not found. Hingga akhirnya setelah sekitar satu jam, saya berhasil masuk, dan… Alhamdulillah. Allah takdirkan saya menjadi salah satu penerima beasiswa ini. Setelah perjalanan panjang 12x penolakan (kisahnya bisa di scroll di blog saya ini ya), akhirnya Allah ijabahi doa saya untuk melanjutkan studi di Eropa. Swedia menjadi jawaban terbaik setelah berbagai negara menolak. Hingga pada waktu itu, terbayang kembali keinginan yang telah terpendam 10 tahun sebelumnya. Labbaikallahumma labbaik….


Lund, 20 Agustus 2018.

9 Dhulhijjah 1439 H, tepat sehari sebelum Idul Adha saya menginjakkan kaki di Lund, sebuah kota kecil di selatan Swedia. Sebelum berangkat ke Swedia, saya sempat bertanya ke beberapa senior mengenai orang-orang Indonesia yang pernah berhaji dari Swedia. Pun juga negara lain di Eropa, siapa tahu jika memungkinkan dan biayanya lebih murah *apalah saya yang masih mahasiswa ._.* . Hingga akhirnya kebetulan karena housing saya dekat dengan Islamic Center, maka saya pun bertanya-tanya ke Syaikh dan teman-teman saya di sana terkait pelaksanaan haji dari Swedia. Singkat cerita mereka merekomendasikan satu biro travel yang memang sudah terpercaya, karena sudah 30 tahun lebih berpengalaman di Swedia. Sejak hari itulah, saya mempersiapkan segalanya, terutaman aspek finansial….


Makkah, 6 Agustus 2019

Singkat cerita, Allah izinkan saya untuk menapakkan kaki kembali di tanah haram (Alhamdulillahilladzii bini’matihii tathimmusshaalihaat). Saya memilih paket express selama 2 minggu, dikarenakan akhir Agustus saya ada exam. Sebenarnya masih bisa mengambil exam di tahun depan, saat saya thesis karena sistem pendidikan di Swedia lebih fleksibel. Namun setelah berdiskusi dengan ayah saya, beliau menyarankan ambil saja yang express, dengan kembali lagi ke niat saya di awal datang ke Swedia ini untuk menuntut ilmu. Selain itu juga di tahun depan waktu exam juga terbilang mepet dengan waktu kepulangan saya ke Indonesia. Yang penting kewajibannya selesai. Apalagi juga untuk tahun ini, biro haji saya mengatakan untuk paket express juga ada ziarah ke Madinah walaupun hanya satu hari. Sebab di tahun sebelumnya malah tidak mampir sama sekali. Juga ayah saya mengingatkan untuk nanti di sana berdoa agar bisa dipanggil haji kembali tentu saja dengan istri, sehingga nanti saja mengambil paket waktu yang lama kalau sudah istri karena katanya akan terasa lebih indah kalau ada yang menemani (walah nasib jombs jombs wkwkwk)

Nah, udah cukup ini intronya, kayaknya kepanjangan. Tentu saja selalu pertanyaan pertama yang muncul dari teman-teman adalah Berapa Biayanya? Kebetulan tahun ini biaya haji dari Swedia naik cukup signifikan, sebab biro haji saya menginformasikan bahwa pemerintah Arab Saudi menerapkan aturan baru terkait kenaikan pajak sekitar 10%. Oh ya biro haji saya bernama Hadj Omra Resor yang berbasis di Masjid Stockholm, (bisa di cek di sini http://www.hajj.se), dan mereka memang biro haji pertama di Swedia dengan pengalaman sudah lebih dari 30 tahun. Biaya untuk paket Express (2 minggu) adalah 41,900 Swedish Krona, belum termasuk vaksin meningitis (menveo vaccine) 700 krona, serta membayar dam kambing (karena saya mengambil Haji Tamattu’), 1250 Swedish Krona. Jika kurs kan ke rupiah sekitar 65 juta, dan tentu belum termasuk beberapa perlengkapan haji yang lainnya (contoh koper, baju ihram cadangan, dst). Jangan dibayangkan juga seperti di Indonesia yang kita mendapat koper, baju batik, dst. Tentu di sini tidak sebanyak itu hehe.

Kalau dilihat memang lebih mahal 2x lipat dengan biaya haji dari Indonesia, namun dengan tanpa masa tunggu (saya mendaftar bulan April 2019), juga ketika melihat ONH Plus di Indonesia yang sekarang biayanya 150 juta, itu pun juga masih menunggu sekitar 5 tahun, maka sebenarnya tidak mahal-mahal amat. Bahkan menurut saya lebih murah, karena seakan kita “membeli waktu tunggu” di Indonesia yang saat ini sudah mencapai 25 tahun (untuk provinsi saya di Jawa Timur). Bayangkan jika langsung berangkat dari Indonesia, saya mendengar ada beberapa biro travel yang menawarkan langsung berangkat di tahun yang sama namun biayanya bisa 300 smpai 400 juta. Sehingga kalau dihitung Cost-Benefit Analysis nya, Insya Allah Benefit-nya jauh lebih berat 🙂

Nah, lalu bagaimana tantangannya? Saya pun akhirnya merasakan sendiri terutama faktor finansial, terlebih lagi modal nikah hohoho. Terlebih di usia-usia saya saat undangan hampir selalu ada tiap bulan (alamaak malah curhat). Dan memang benar betapa ketika sudah meniatkan berhaji semenjak awal saya datang di Swedia untuk aspek ini banyak sekali godaanya serta ujian dariNya. Mulai dari biaya travelling winter trip 2017 lalu yang ternyata membengkak, bahkan semakin mendekati pelaksanaan haji banyak sekali pengeluaran yang tak terduga, sekalipun tiap bulan saya sudah berupaya mengirit-ngirit pengeluaran (saving setiap bulan 4000 – 5000 krona, sekitar 50% dari beasiswa per bulan), kemudian laptop saya yang tiba-tiba rusak dan mengharuskan saya membeli laptop di sini (padahal usia laptopnya masih kurang dari satu tahun), lalu ada ‘panggilan pulang mendadak’ dari rumah dan membuat saya pulang di summer kemarin. Bahkan pasca kembali dari Indonesia sebelum haji, tabungan saya di Swedia sempat menyentuh angka sekitar 700 krona (sekitar 70 euro, atau 1 juta saja). Boro-boro udah nyicil rumah, status juga masih mahasiswa, modal nikah juga amblas (alamaak curhat lagi wkwk).

Namun di sinilah saya menguatkan diri, bahwa tak ada yang tahu kapan Malaikat Izrail menjemput. Tak bisa pula berkata bahwa esok hari masih ada nafas lagi. Bahkan semakin mendekati pelaksanaan ibadah haji, saya pada waktu itu semakin banyak menyendiri, sempat muncul rasa ketakutan jika beberapa hari sebelum keberangkatan ternyata Allah memanggil pulang, atau tiba-tiba sakit yang membuat saya tak bisa berangkat, atau yang lainnya. Sebab saya menyadari bahwa haji adalah panggilanNya, jika Dia berkehendak untuk memanggil maka bahkan dengan cara yang tak masuk akal pun kita akan sampai di tanah haram. Sebaliknya jika Allah belum berkehendak, maka sekalipun kita sudah memiliki kelapangan harta, kelapangan waktu, bahkan sudah tinggal menghitung hari keberangkatan, bukan tidak mungkin kita gagal berangkat ke tanah suciNya. Termasuk saat uang di rekening saya menipis, pada waktu itu sempat ada kekhawatiran, juga masih bersikeras tidak akan meminta ke orang tua, semata-mata hanya berharap pertolongan dariNya. Qadrullah, Allah berkehendak dana travel grant saya saat lomba di USA beberapa bulan sebelumnya cair di saat itu, dan setidaknya saya punya uang untuk melunasi pembayaran dam qurban pada waktu itu.

Sebab Allah-lah Sang Maha Pemberi Rezeki. Cicak yang tak bersayap pun makanannya Nyamuk, makhluk yang bersayap, yang secara logika juga tidak masuk akal bagaimana seekor cicak dapat bertahan hidup jika mangsanya bisa terbang menghindar ke mana-mana. Maka kembali lagi ke azzam diri 12 tahun sebelumnya, bahwa rezeki yang Allah beri akan dipergunakan untuk memenuhi panggilanNya.

Biaya yang dikeluarkan dalam perjalanan haji bagaikan pembiayaan di jalan Allah satu dirham diganjar dengan 700 kali lipat.
(HR Ahmad dan Tirmidzi).


Nah, sekarang masuk di aspek Q&A nih, termasuk beberapa pertanyaan yang sering masuk.

Question: Gimana memilih Agen Haji di Swedia?
Answer :
Swedia dibandingkan negara eropa lainnya, jumlah muslimnya termasuk tidak banyak, juga islam di sini hampir semua berasal dari imigran, dan baru berkembang 50 tahun terakhir. Dibandingkan negara-negara seperti Inggris, Perancis, juga eropa tengah yang kebanyakan muslim, tentu saja Swedia masih jauh. Sehingga juga jumlah travel agent di sini tidaklah melimpah ruah seperti di Inggris. Selain itu juga setelah bertanya sana sini, saya direkomendasikan untuk mengambil Hadj Omra Travel , karena dia biro pertama di Swedia dan paling berpengalaman (sudah 30 tahun lebih). Sebenarnya ada biro lain juga, yang menawarkan paket yang lebih murah, namun saya prefer memilih yang sudah terpercaya. Pilihan paket dari Swedia juga tidak banyak (apalagi membandingkan dengan Inggris dan Belanda), di biro saya ada empat paket (itu juga baru tahun ini, tahun sebelumnya hanya 3 paket), dan perbedaannya hanya jumlah hari, paket express 2 minggu, sedangkan paket yang lain (3 paket lainnya) tiga minggu. Perbedaannya untuk paket di atas saya, itu lebih lama namun hotel di Makkah tetap, sedangkan dua paket yang lain, hotel di Makkah berpindah setelah pelaksanaan ibadah haji ke lokasi yang walkable ke Masjidil Haram.Satu kamar di hotel diisi 4 orang. FYI, di sini saat pelaksanaan haji (sebelum ke arafah), hotel kami terletak 3km dari masjidil haram, sehingga untuk shalat ke sana kami naik shuttle yang disediakan biro haji (dan itu pun terbatas, sehingga jika sudah penuh alternatifnya naik taksi, sekitar 30 riyal).

Question: Persiapan Haji gimana aja?

Answer:
Ada 4 hal yang harus disiapkan setidaknya. Quwwah Jasadiyah, Quwwah Maaliyah, Quwwah Ilmiyah, dan Quwwah Ruhiyah.

1. Quwwah Ruhiyah: Niat, Niat, dan Niat.

Saya katakan persiapan ruhiyah ini yang paling penting terutama niat. Luruskan niat semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Jangan sampai untuk mengejar gelar dipanggil Haji sepulang dari sana. Tidak mengupdate status media sosial sama sekali selama di sana terutama saat proses belum selesai. Pun saya mengirim info sekaligus berpamitan haji kepada teman-teman dekat saja melalui japri atau grup-grup, tak perlu di broadcast juga. Jangan sibuk berfoto-foto, selfie apalagi selama pelaksanaan ibadah haji, karena itu benar-benar akan mengganggu kekhusyuan ibadah. Bahkan ada jamaah yang sibuk berfoto-foto selama di sana, memegang tongkat narsis saat sai dan tawaf (naudzubillah), dan saya ketika menemui hal itu langsung menjauh karena khawatir akan muncul kata-kata serta pikiran yang kurang baik dari saya. Foto dan video yang saya rekam selama prosesi (itu pun sangat sedikit) semata-mata bertujuan hanya untuk mengupdate kondisi terkini ke orang tua, terutama kakek dan nenek saya di desa, karena memang mereka yang meminta. Selain itu juga banyak mendekatkan diri kepada Allah, perbanyak tilawah, shalat sunnah, perbaiki shalat malam, menjelang pelaksanaan ibadah haji, apalagi saat mendekati. Ibaratnya jika haji adalah puncak dari ibadah, sudah tentu kita butuh pemanasan dulu dong hehe.

2. Quwwah Ilmiyah: Persiapan Ilmu.

Ini juga sangat penting. Bagaimana kita bisa beribadah dengan baik jika tidak tahu ilmunya. Bahkan jika bisa tidak sekedar tahu, namun memahami maknanya. Nah, berhaji dari Eropa jangan dibayangkan seperti dari Indonesia yang ada latihan manasiknya, kemudian pertemuan berkali-kali. Di sini semua benar-benar mandiri. Ada pertemuan itu pun hanya 3x, dan membahas pelaksanaan haji, itu pun juga tidak se-detail dengan ustadz-ustadz di Indonesia jika menyampaikan lho hehe. Sehingga kita harus pro aktif mencari sendiri. Singkatnya ada beberapa buku yang saya rekomendasikan untuk dibaca sebagai bekal ibadah haji.

  • Buku Tuntunan Manasik haji dan Umroh keluaran Depag.
    CoverCombine
    Nah. Kebetulan 3 buku di bawah ini sudah ada versi e-book nya. Bisa di download di website kemenag. Atau nanti saya sediakan link-nya di akhir postingan ini. Buku doa dan dzikir itu saya print saat saya pulang ke Indonesia, dan saya buat versi buku berkalung ala-ala jamaah haji dari Indonesia hehe. Karena di sini tidak dikasih buku oleh biro haji nya. Sehingga doa-doa harus dicari sendiri. Walaupun nanti di sana Syaikh-nya memimpin, tapi beliau pun memimpin dalam bahasa arab kan doanya, dan alangkah baiknya kalau kita memahami maknanya. Ketiga buku ini sudah cukup menurut saya, namun saya merasa pada waktu itu masih banyak peluang ilmu lain yang harus saya pelajari. Sehingga ada beberapa buku lain juga yang saya baca.
  • Buku Rahasia Haji & Umroh Imam Al-Ghazali.
    40445621_fb2399bb-e8ce-4360-be35-1198a981551a_500_500
    Nah, buku ini sangat sangat saya rekomendasikan. Sebagaimana yang kita tahu, Imam Al-Ghazali adalah ulama besar yang pakar dalam Ilmu Tasawuf. Menurut saya pembahsan di sini sudah ke dalam dimensi tasawuf. Juga yang saya suka dari buku ini terdapat doa-doa tambahan yang maknanya luar biasa, khususnya untuk doa-doa di Arafah. Bisa dibeli di bukalapak atau tokopedia.
  • Sirah Nabawiyah. Perjalanan haji juga merupakan perjalanan ziarah sekaligus napak tilas sejarah. Sangat terasa sekali manfaatnya ketika teman-teman mengetahui sejarah setiap tempat di Makkah, sejarah perjalanan Rasulullah, sejarah Nabi Ibrahim, juga para sahabat Rasulullah. Saya merasakan betul manfaatnya, dan betapa mudah air mata ini menetes di sana ketika mengunjungi tempat-tempat bersejarah, contohnya sperti makam baqi, bukit uhud, masjid quba, jabal rahmah, dst. Nah, saya nggak punya rekomendasi khusus terkait buku ini, versinya banyak, dan saya rasa bagus-bagus juga. Oh ya, pelajari juga sejarah kekhilafahan, terutama khulafaur rasyidin. Sehingga teman-teman punya banyak “bahan” untuk napak tilas selama di sana, dan punya “banyak pemicu untuk menangis karena mengingat sejarah di sana.
  • Buku tentang Asbabun nuzul beberapa ayat-ayat penting di dalam Al-Quran, arti dan makna dari surat-surat di Al-Quran. Nah, saya pribadi juga tidak banyak memahami, namun teman-teman bisa mencari di haramain.info, di situ terdapat rekaman setiap Imam Masjidil Haram dan Masjid Nabawi setiap shalat subuh, maghrib, dan isya. Coba kalau dilihat sebenarnya mereka punya semacam surat atau ayat favorit yang sering dibaca. Coba dengarkan, cari tahu artinya, resapi maknanya, cari tahu juga asbabun nuzulnya. Akan sangat-sangat indah dan terasa nikmat saat shalat di sana mendengarkan bacaan imam-imam yang selama ini hanya bisa kita dengarkan lewat murottal dan kita mendapat kesempatan mendengar langsung. Dan juga sekali lagi betapa mudah air mata tertumpahkan ketika kita memahami maknanya.
  • Buku-buku tambahan terutama mengenai Doa dan Dzikir, seperti Doa-Doa Harian, Kitab Al-Adzkar, Kitab Bidayatul Hidayah, Dzikir Ma’tsurot, Maulid Ad-Dhiya Ulami, Yasin & Tahlil, dst. Nah saya sarankan juga ini bisa dibaca-baca diamalkan juga ketika di tanah air. Bukan hanya ketika haji saja. Ingat, bahwa di tanah haram, setiap perkataan adalah doa, maka sudah seyogianya kita mengisi waktu dengan senantiasa berzikir dan berdoa. Nah, doa-doa di buku itu tadi (kalau teman-teman ada yang tahu buku lain yang recommended) bisa kita pilih doa-doa yang terbaik untuk dibaca di sana. Contoh setiap pagi dan sore tentu bisa membaca Dzikir Ma’tsurat. Bahkan doa-doa sehari-hari misal doa masuk kamar mandi, doa keluar kamar mandi, doa turun hujan, itu dibiasakan juga saat di tanah air. Atau peristiwa tertentu, seperti misal saat hujan, mendengar petir pun juga ada doanya :). Bahkan ketika saya thawaf melihat suami istri bergandengan bersama saat thawaf langsung keingat doa di QS. Al-Furqon ayat 74 (eaaaak baper lagi wkwk) . Sehingga ketika di sana, dalam setiap hal yang kita lihat, akan senantiasa doa yang terlontar insya Allah. Juga akan terbiasa mengamalkan ketika kita membiasakannya selama di tanah air.  :). Sekali lagi, setiap perkataan di tanah haram adalah doa, dan doa banyak diijabah di sana, jadi selalu isi dengan dzikir dan doa yang baik 🙂
  • Kajian di Youtube tentang Fiqih Manasik Haji dan Praktik Manasik Haji. Untuk ini, saya rekomendasikan milik Akhyar TV serta Al Muwattha, yang diisi oleh Ustadz Adi Hidayat. Pembahasannya cukup lengkap dan komprehensif. Berikut link-nya saya sertakan:
    Fiqh Ibadah Haji: https://www.youtube.com/watch?v=ZOQQxrxsOqM
    Fiqh Manasik Haji: https://www.youtube.com/watch?v=7mrzsoGT7Ag
    Esensi Ibadah Haji: https://www.youtube.com/watch?v=LR-RFLVlAf8
    Praktik Manasik Haji: https://www.youtube.com/watch?v=LPxHSKc6Vgg
    Juga dari Ustadz Abdul Somad & Buya Yahya,
    Haji Mabrur – Buya Yahya: https://www.youtube.com/watch?v=ST4m7xyhLPo
    Ilmu tentang Ibadah Haji – Ust. Abdul Somad: https://www.youtube.com/watch?v=KGxT4FMSdn4
    Fiqih Haji Umroh – Ustadz Ahmad Sarwat : https://www.youtube.com/watch?v=3-bWtoxhvuA & https://www.youtube.com/watch?v=NbdYrwbh_DQ

3. Quwwah Jasadiyah : Persiapan fisik

Persiapkan fisik dengan baik. Terutama di hari-hari menjelang Arafah.

“Haji adalah (wukuf) di Arafah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Nah, terkadang beberapa jamaah haji tidak aware, saat baru datang, entah itu memforsir diri dengan banyak ibadah, belanja, jalan-jalan, dan akhirnya malah saat di Hari Arafah tidak maksimal. Juga selama di sana saya benar-benar melaksanakan nasihat dari ibu saya. Tidak minum soda sama sekali, jus buah kalengan (karena kandungan gula-nya di sana sering bikin orang batuk), minum Vitamin C, Vitamin B, Habbatus Saudah, Propolis, serta madu setiap hari. Juga memakai masker ke mana-mana, karena di sana gurun begitu berdebu. Nah, ada teman saya jamaah haji asal Indonesia pada waktu itu memakai plester di mulutnya (bukan plester yang bikin mulut ketutup total ya wkwk). Dia malah nggak batuk sama sekali saat di sana. Karena konon katanya, salah satu penyebab jamaah haji batuk adalah masuknya debu-debuh gurun yang halus ke dalam mulut, dan bersarang di tenggorokan. Juga makan, apalagi di sana makanan enak-enak, daging kambing, domba, banyak banget hehe. Jangan sampai berlebihan, terutama kue-kue yang manis-manis karena itu akan membuat daya tahan tubuh bisa menurun. Utamakan sayur dan buah selama di sana. Juga bagus banget kalau sebelum berangkat entah fitness rutin, lari pagi, jalan kaki untuk latihan nanti saat melempar jumroh, thawaf, dan sai, karena jalannya cukup jauh.

4. Quwwah Maaliyah: Persiapan Harta

Nah ini juga penting. Bawa uang saku yang cukup, bahkan salah seorang kyai di Indonesia pernah berkata bawa uang yang banyak. Eitss bukan buat belanja ya, tapi buat sedekah. Ingat, segala amal ibadah di sana dilipatgandakan. Saya juga dipesani ibu saya untuk sesampai di sana memecah uang riyal dan minta tukar uang pecahan kecil-kecil, 1, 5, 10, riyal. Sepanjang jalan akan selalu ada pengemis yang meminta. Juga di masjidil haram diberikan ke cleaning service yang memberikan. Perbnanyak untuk memberi selama di sana. Saya juga membaca karena gaji mereka tidak terlalu besar, oleh karena jasa mereka pula lah masjidil haram, masjid nabawi juga tetap bersih. Bahkan saya juga mendengar dari ayah saya, ustadz.-ustadz di Indonesia banyak yang menyalurkan dam para jamaah haji nya langsung ke para fakir miskin di Arab (walau sebenarnya bisa lewat bank juga).

Questions: Untuk Berkas Dokumen dan Perlengkapan apa saja yang perlu dibawa?

Answer:

Untuk berhaji dari Swedia sebenarnya tidak ribet dari segi administrasi. Berikut hal-hal yang harus disiapkan:

  1. Paspor (harus berlaku 6 bulan at least dari tanggal keberangkatan) & Foto Copy
  2. Residence Permit (harus berlaku 6 bulan minimal dari tanggal keberangkatan) & Foto Copy
  3. Pas foto terbaru 4×4 dengan background putih. Untuk ukuran dan jumlah bisa jadi berbeda ya setiap tahun ketentuannya. Kalau waktu tahun 2019 ini saya hanya butuh 2 lembar foto.
  4. Vaksin Meningitis. Untuk vaksin ini bisa dilakukan di SVEA Vaccine. Biayanya 700krona untuk sekali vaksin. Nanti teman-teman akan dapat sertifikat vaksin buku berwarna kuning yang menandakan sudah vaksin. Nah ini langsung di staples di paspor saja ya sebelum diberikan ke agen, di staples di bagian belakangnya. Jangan lupa di scan atau di foto copy.
  5. Formulir yang harus diisi untuk pembuatan visa.
  6. Jangan lupa kalau sudah menikah maka persiapkan juga buku nikah, foto copy nya yang sudah di legalisir.
  7. Surat pernyataan mahram. Nah ini misal jika perempuan ada yang berhaji belum didampingi mahramnya. Teman saya perempuan berhaji dari Inggris juga menggunakan surat tersebut dalam tanda kutip dipersaudarakan dengan orang Indonesia lainnya yang membawa mahram, sehingga bisa untuk membuat visanya. Pun sudah saya tanyakan ke biro travel hajj.se , dan mereka bilang bisa untuk menggunakan mekanisme semacam ini.

Oh ya pastikan lagi semua dokumen harus punya copy dan scan nya di komputer juga ya. Saya juga bahkan download semua dan di simpan di hp saya, juga di google drive. Untuk berjaga-jaga. Juga saat ibadah haji bawa semua print copy-annya tersebut. Misal juga saat nanti untuk mendapat sim card, kita butuh menunjukkan foto copy paspor untuk registrasi. Untuk perlengkapan haji termasuk buku di atas sudah saya share di sini ya.

Questions: Tips, persiapan lain?

Hmm, apa ya, oh ya ini penting pake banget. Perbanyak Sabar. Ibadah haji benar-benar ibadah yang menguji kesabaran. Dari hal-hal simpel seperti antre lift hotel, antri ke kamar mandi, makan, melihat kondisi tenda di mina, saat tidur mabit di muzdhalifah, sampai hal-hal yang lain misal saat tawaf tersikut, atau terdorong, dan lainnya. Selalu banyak-banyak istighfar. Jangan berkata kotor, buruk, bahkan untuk sekedar berpikir buruk. Ingat bahwa:

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang diketahui, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berdebat di dalam masa mengerjakan haji.” – QS. Al-Baqarah: 197

Karena di sana doa begitu mudah di ijabah, dan omongan tiap orang adalah doa. Sudah banyak cerita-cerita dari jamaah haji terkait pengalaman di sana begitu mudah Allah membalas kebaikan yang kita lakukan, pun sebaliknya keburukan yang kita lakukan bisa dibalas dengan setimpal dalam waktu sekejap saja.


Nah, sementara ini dulu yang saya share ya. Izinkan saya menutup catatan ini bahwa haji adalah sebaik-baik perjalanan. Maka persiapkan dengan sebaik mungkin, dekatkan diri denganNya dalam prosesnya. Jika ada kesempatan, maka ambil. Jangan tunda-tunda, sebab kita tak tahu kapan Allah akan memanggil pulang.

Bersegeralah kalian berhaji-yaitu haji yang wajib-karena salah seorang diantara kalian tidak tahu apa yang akan menimpanya – HR Ahmad.

Termasuk jika ada kesempatan berhaji di usia muda, maka lakukanlah. Percayalah, haji memang benar-benar ibadah fisik. Tak usah menunggu, termasuk misal nih kalau teman-teman masih single, nanti saja kalau sudah ada pasangan. Jika memang kondisinya sedang tidak urgent soal menikah dan modal nikah, justru bukankah di sana kesempatan terbaikmu untuk menyebut dia dalam doa dalam setiap putaran thawafmu, dalam berdirimu segaris dengan multazam, sekaligus memohon agar kelak kamu dan dia kembali berhaji bersama di baitullah? (aiiih kenapa jadi gini bahasannya?! :’) )

Dan yakinlah….yakin, bahwa Allah akan senantiasa menolong hamba-hambaNya. Allah akan memanggil hamba-hambaNya yang Dia kehendaki. Namun tentu saja kita harus senantiasa memohon. Ibaranya nih, kalau teman-teman mengajukan duit pake proposal ke perusahaan buat jadi sponsor, tentu butuh waktu yang nggak mepet kan ? Nah apalagi jika teman-teman mengajukan proposal hidup kepada Allah, sudah tentu butuh doa yang istiqomah, butuh kelapangan hati, butuh kesabaran. Semoga bagi teman-teman yang sudah cukup rezekiNya, Allah segerakan untuk berhaji ke tanah suci. Bagi yang belum cukup, Allah berikan rezeki, kelapangan, dan kesempatan untuk berhaji ke sana.

Tak ada perjalanan terindah selain perjalanan memenuhi panggilanNya. Perjalanan yang mengajarkan banyak hal, terutama kesabaran. Perjalanan penuh air mata penyesalan akan dosa-dosa yang pernah dilakukan. Dalam thawaf aku merenungi alam semesta yang senantiasa berputar yang tak berhenti berzikir kepadaNya. Dalam Sai, aku sadar bahwa dalam hidup kita harus senantiasa berjuang, terkadang berjalan, terkadang berlari untuk mencapai tujuan. Dari zam-zam aku belajar tentang kisah keteguhan seorang Ibu yang tak lelah berjuang dan berharap kepadaNya. Dan di Masjidil Haram, aku belajar tentang kepemimpinan Nabi Ibrahim dalam berkeluarga, ketaatan Siti Hajar dan Ismail, dan berbagai peristiwa bersejarah zaman Rasulullah yang menguras air mata.

Mina, Muzdhalifah, dan Arafah, tak terhitung sudah air mata yang tumpah. Labbaikallahumma labbaik, kalimat talbiyah yang digaungkan ternyata memiliki makna yang begitu mendalam. Di mina aku banyak belajar tentang penerimaan dan kesabaran. Di Arafah, aku mengakui segala dosa yang pernah dilakukan, memohonkan ampun teruntuk orang-orang tersayang, bertafakkur akan diri, mengenal kembali diri sendiri, mengapa aku harus diciptakan. Di Muzdhalifah, aku belajar menahan geram, mengambil kerikil untuk melempar syaitan, mentekadkan dalam diri untuk mengenyahkan sifat-sifat buruk yang melekat di kepribadian. Lantas kembali lagi ke mina, kala kerikil kecil dilemparkan menuju Jumroh, muncul perasaan dan tekad kuat untuk menghilangkan segala sifat keburukan.

Madinah, kota Nabi Muhammad, kota yang penuh ketenangan. Ada banyak shalawat yang bergaung di Nabawi, ada air mata kerinduan pada baginda Nabi. Ada perasaan rindu pada sahabat Nabi saat mengunjungi Makam Baqi. Ada air mata yang tertumpah saat mengunjungi Uhud, mengingat Hamzah yang gugur menghadap Ilahi. Maka bershalawatlah senantiasa di Nabawi, agar kelak kita mendapat syafaat di hari kiamat, dari Sang Kekasih Ilahi.

Wahai Ilahi Rabbi, semoga Engkau segera panggil kembali ke tempat ini, kelak bersama keluarga-keluarga kami.

Lund, 30 Agustus 2019

*Additional: Jika ada pertanyaan monggo bisa ditanyakan ya 🙂

Categories: Journey | 4 Comments

Post navigation

4 thoughts on “Catatan Hikmah: Berangkat Haji dari Swedia

  1. MasyaAllah, ketika ada niat ikhlas, Allah kasih jalan ya. Barakallah

  2. Sangat menginspirasi, semoga jadi ilmu yang bermanfaat dunia akherat

  3. Halo faiz, terimakasih atas tulisannya. Saya jadi diingatkan kembali sama mimpi saya utk bisa haji sebelum umur 30. Insya Allah saya jadi termotivasi nabung uang beasiswa utk umroh daripada beli benda2 fancy dulu.
    Oiya, salam dari amerika ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: