Catatan Puasa Ramadhan di Eropa (1): Seminggu Pertama

IMG_20190419_150055-edit.jpg

Tanpa terasa sudah seminggu merasakan puasa di Swedia. Antara senang, sedih, rindu rumah, juga berusaha menguatkan diri, menyeimbangkan antara amalan yaumi dengan padatnya deadline bulan Mei yang sungguh luar biasa. Bahkan bisa dibilang di semester ini, nyaris semua weekend terpakai untuk mengerjakan aneka macam tugas dan deadline, atau sekedar membaca jurnal atau paper, atau yang lainnya.

(Sudah lama tak menulis, dan semoga nanti serial jejak islam di Eropa bisa saya selesaikan sebelum akhir juni ya, hehe. Karena bisa dibilang semester ini padat luar biasa)

Yang paling pertama dikhawatirkan adalah tentu saja durasi puasa yang bermula dari 17.5 jam dan nanti bertambah terus hingga menjadi 19.5 jam. Tentu saja kita harus yakin bahwa sudah pasti Allah Maha Adil dan akan senantiasa memberi kekuatan. Harus mengubah pola makan dengan mengurangi karbohidrat dan memperbanyak serat agar perut lebih lama kenyangnya (karena mencernanya lebih lama). Dan tentu saja suhu di sini tidak sepanas di Indonesia, sehingga tidak merasa sehaus ketika berpuasa di Indonesia. Begitu mungkin betapa Allah Maha Tahu, bahwa dibalik lamanya berpuasa juga kondisi cuaca yang tidak sepanas di Indonesia.

Yang kedua tentu saja adalah waktu tidur. Di sini saat hari kuliah apalagi hampir tidak bisa tidur full. Harus dibagi-bagi. Saya biasa tidak tidur setelah tarawih karena takut sahurnya terlewat (yang selesai biasanya sekitar jam setengah 12, dan akan mundur terus nantinya hingga puncaknya bisa baru dimulai jam setengah 12 dan selesai jam setengah 1), karena waktu subuh sekitar jam setengah 4 (yang akan terus maju nantinya hingga nanti mencapai jam setengah 3 pagi). Akhirnya mensiasati hal itu, maka tidur pun harus dibagi. Saya biasa tidur setelah subuh, dan bangun sekitar jam 7 untuk kuliah. Lalu di saat lunch break siang, saya mencari ruang sepi untuk ”power nap”, alias tidur sambil duduk . Kemudian saat sepulang kuliah, Ashar di sini masih sekitar jam 5, maka jika waktu Ashar sudah bisa pulang biasanya saya memutuskan untuk tidur sejam dua jam. Atau biasanya setelah ashar, sambil menunggu waktu maghrib tiba, maka saya akan tidur sejam. Dari situlah saya semakin bersyukur betapa nikmatnya puasa di negara sendiri, Indonesia.

Yang ketiga tentu saja target amal yaumi selama bulan Ramadhan. Sempat keteteran di awal-awal, mengingat deadline kuliah yang begitu banyak. Untuk Swedia sendiri memang liburnya bisa dibilang lebih cepat dibanding negara Eropa lainnya. Kami di awal Bulan Juni sudah libur, hal yang berbeda dengan negara Eropa lainnya yang baru bulan Juli. Sehingga bisa dibilang segala deadline tugas berkumpul di bulan Mei. Belum lagi juga harus mempersiapkan ujian untuk awal Juni. Akhirnya pun menjadi berusaha realistis sembari tetap berusaha maksimal agar hari demi hari jauh lebih baik lagi.

Dan tentu saja rasa rindu pada suasana tanah air. Tidak terdengar suara qasidah ala masjid, qiraah khas speaker masjid menjelang buka puasa, majelis ilmu yang menyebar di mana-mana, suara imsak yang bertalu-talu saat pagi hari, iklan marjan dan khong guan yang menghiasi layar televisi, dan masih banyak aktivitas-aktivitas ala tanah air yang lain.

Yang saya bersyukur tentu saja walau sebagai minoritas, namun saya sudah mengkomunikasikan hal ini ke teman-teman, dan mereka sangat-sangat memahami. Kadang di tengah grupwork saat mengantuk, saya disuruh tidur saja dulu bentar, 15 menit nanti dibangunin. Juga saat menjelang berbuka puasa (walau jam 9, tapi kadang masih grupwork) saya juga bisa pulang dahulu. Memahami juga saat pagi hari kadang saya masih harus tidur sehingga grup work yang biasanya jam 8 pagi, diubah menjadi jam 10 mulainya.

Puasa Ramadhan masih panjang. Masih 23 hari lagi. Masih banyak tantangan dan deadline yang akan dihadapi. Semoga Allah senantiasa menguatkan bagi umat muslim se-dunia yang menjalani. Khususnya teman-teman seperjuangan saya yang kali pertama merasakan puasa panjang di Belahan Bumi Eropa.

7 Ramadhan 1440 H
00.48 CET
Islamic Center Lund, sambil menanti waktu Sahur

Categories: Journey, Ramadhan Abroad | Tags: , | 4 Comments

Post navigation

4 thoughts on “Catatan Puasa Ramadhan di Eropa (1): Seminggu Pertama

  1. clumsyyellow

    Whoa thank you udah ngingetin untuk bersyukur bisa berpuasa di Indonesia! šŸ™‚ semoga Allah mudahkan puasanya ya!

  2. Waaaah menarik, sering-sering nulis suasana di sana ya Kak, baik tentang puasa atau hal lain, saya selalu senang dengar cerita dinamika hari teman-teman yang menetap di luar negri

Leave a Reply to Prita Pdinata Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: