Euro Trip Day 2 – Paris: Garis Imaji Menuju Tanah Suci

Di tengah-tengah antrian untuk berfoto di depan Arc de Triomphe, sontak tiba-tiba ingatanku melayang ke sebuah novel yang kubaca di tahun 2011. “99 Cahaya di Langit Eropa” karya Mbak Hanum Salsabila Rais, yang kali pertama membacanya saat itu membuatku penasaran. Benarkah bahwa bangunan ini tepat menghadap kiblat? Sembari menunggu berfoto di depannya, iseng-iseng aku membuka Google QiblaFinder di hp ku. Aku berputar mengikuti arah kompas dari semula menghadap ke Arc de Triomphe, 180 derajat ke belakang hingga pandanganku menuju Champ Elyess, salah satu poros jalan utama di Paris. Dan aku pun bertasbih. Bahwa benar, sekalipun menyimpang sedikit, sekitar 5 derajat, bangunan iniΒ  menghadap ke Makkah. Kembali aku ingin memastikan sendiri. Percakapan Hanum dan dan Marion dalam buku 99 Cahaya di Langit Eropa seakan muncul kembali dalam ingatan. Axe Historique, garis imajiner yang katanya membelah Paris, kuamati pelan-pelan di aplikasi google maps-ku. Kulihat pelan-pelan, dan kembali lisan ini bertasbih. Di depanku tepat ada jalanan Champ Elyess, kemudian ketika ditarik garis lurus kembali ke arah Makkah, maka ia akan melewati Monumen Obelisk, Museum Louvre, hingga Arc de Triomphe de Carrousel. Masih terkesiap, kuberbalik kembali ke Arc de Triomphe. Di atasnya tampak patung kereta kuda Yunani Kuno, yang ditarik 4 ekor kuda dan diapit dua perempuan bersayap, kesemuanya menghadap ke arah kiblat.

24 Desember 2018, 22.35

Bus Eurolines yang mengangkut kami berempat, tanpa terasa telah sampai di Paris Galliani. Kami segera turun dan mencari mesin tiket metro. Berdasarkan Google Maps, dari situ kami harus naik Metro dua kali untuk sampai di penginapan kami di 4 Rue Bervic. Pertama metro nomor 3 dari Gallieni menuju Pere Lachaise. Lalu dari situ naik lagi menuju ke Estacao Barbes – Rochechouart. Harga naik satu kali adalah 2,1 Euro. Awalnya kami cukup membeli satu tiket (mungkin tiket-nya aktif satu jam begitu standarnya).

Metro pun datang dan kami pun tertawa terbahak-bahak saat melihat pintunya. Di era automasi seperti ini, pintu metro di Paris ternyata ada yang masih menggunakan seperti “Engsel Putar” untuk membukanya. Saat berhenti di stasiun Pere Lachaise kami sempat bingung karena pintu tidak membuka otomatis. “Woy mas, cepet buka pintunya -____-“. Aku berteriak ke Mas Tyar yang di depan pintu. Kami baru sadar kalau ini Paris, bukan Orendsuntag atau Pagatag di Swedia.

Dari situ, kami pun melihat kembali ke google maps memastikan stasiunnya benar. Lalu kami pun langsung menuju ke gerbang keberangkatan. Terlihat mesin tiket di situ. “Lah, tiketnya nggak bisa ya?” Kami mencoba masuk namun tidak bisa. Ternyata tiket tersebut memang hanya benar-benar untuk sekali perjalanan saja. “Ya Allah mahal banget 2,1 Euro cuman buat perjalanan ga sampe 5 menit -_____-“, aku menggerutu.

Lantas kami menuju ke mesin tiket, yang melihatnya kami lagi-lagi tertawa. Mesin ini seperti mesin ding dong, sudah tua, nggak pakai mouse ala komputer jaman sekarang, ._. . Kami membeli kembali tiket 2,1 Euro tersebut. Tepat di sebelahnya terdapat loket, dan kami memutuskan untuk membeli tiket sehari penuh untuk besok. Nah, masalahnya lagi, tiket di sini berbentuk lembaran kertas kecil yang bisa dibilang rawan hilang -____-“. Masalah kedua juga tidak seperti di Swedia yang aktifnya 24 jam itu menyesuaikan saat kita aktifkan di hp. Ia baru aktif jam 4 pagi sampai jam 4 pagi hari berikutnya. (FYI, tiket transportasi di Swedia bisa di beli online lewat aplikasi, dan bentuknya QR Code). Yak, bisa dibilang penurunan kualitas transportasi, tapi harganya naik T_T. Oke, 13,2 Euro untuk tiket sehari (mahalnya minta ampun). Masalah ketiga saat membeli, penjualnya bapak-bapak tua yang tidak bisa bahasa Inggris. Sudah bukan rahasia bahwa memang di Paris sebagian besar penduduknya tidak bisa berbahasa Inggris. Mereka memang bangga dengan bahasa mereka sendiri. Hingga saat membeli kita bercampur antara bahasa isyarat, bahasa Inggris, juga memastikan bahwa tiket yang kami beli benar aktif untuk besok, karena kita nggak ingin dong kehilangan 13,2 Euro ._.

Singkat cerita sampailah kami di Hotel Bervic Montmere tempat kami menginap. Kami pun bergegas tidur. Esok kami merencanakan untuk Shalat Subuh di Grand Mosque Paris, sekaligus berangkat pagi-pagi buta.

25 Desember 2018

Tepat pukul 04.00 pagi alarm ku berbunyi. Masih terlalu pagi, mengingat memasuki musim dingin di Paris, Subuh masih jam 06.45. Bergegas aku mandi dan bersiap diri. Sekitar pukul 06.15, kami sudah berada di Stasiun Metro. Kami naik metro nomor 4 menuju Odeon, lalu oper metro nomor 10 menuju Jussieu. Masih terlampau pagi, dan jalanan masih sangat sepi. Dari stasiun Jussieu, berdasarkan google maps, kami berjalan kaki sekitar 500 meter untuk sampai di masjid.

Grand Mosque Paris

Singkat cerita, kami sampai di masjid. Sempat kebingungan soal pintu masuk masjid, akhirnya kami berputar mengelilinginya, dan akhirnya menemukan pintu masuk utama. Alhamdulillah, masih sempat mengejar Subuh, walaupn shalat sudah dimulai. Masjid ini bisa dikunjungi saat siang hari, namun menurut website masuknya membayar 3 Euro (Untuk pelajar, 2 Euro) . Desain di dalamnya menyerupai Istana Alcazar Sevilla, dan menaranya menyerupai La Giralda Tower di Sevilla Cathedral. Sayangnya saat itu masih pagi, sehingga selepas Shalat Subuh, seperti umumnya masjid di Eropa, maka masjid ini ditutup, kami pun di minta petugas untuk segera keluar masjid.

Pantheon – Edisi Salah Foto di Belakangnya

Pantheon – Nah ini baru bener bagian depannya wkwk.

Dari situ sekitar pukul 07.30, kami segera menuju Pantheon cukup dengan berjalan kaki. Objek wisata terdekat dari Grand Mosque Paris. Di situ pun kami berfoto-foto sepuasnya. Lucunya kami tak sadar kalau hampir 2 jam menghabiskan foto-foto di belakang Pantheon. Saat mendekati jam 9, kami berjalan menuju halte bus yang akan mengantarkan kami ke Menara Eiffel. Dan kami pun terbelalak. Ternyata dari tadi kami hanya berfoto-foto di belakang bangunannya saja -____-“. Kami pun bergegas masuk bus karena tak sempat foto di depan pantheon. Untungnya bus masih sekitar 20 menit lagi berangkat, dan sopir bus berbaik hati mempersilahkan kami keluar kembali untuk berfoto-foto sebentar. Untuk kedua kalinya hari itu kami nyasar di “bagian belakang” objek wisata.

09.30 kami pun naik Bus dari Pantheon menuju Eiffel Tower. Ternyata kami salah naik bus. Akhirnya kami turun di salah satu bus stop, dan berganti dengan bus lain. Singkat cerita, baru sekitar pukul 10.30 kami sampai ke Eiffel Tower. Yang paling panik tentu saja saya dan Izzan, sebab hanya kami berdua yang membeli tiket naik ke menara Eiffel. Harganya 12,5 Euro untuk pemuda maksimal 24 tahun. (Ada dua tiket, yang satu sampai tengah menara Eiffel (8,5 Euro), yang satunya sampai puncak (12,5 Euro)). Nah berhubung kami terakhir kali di tahun 2018 kemarin berusia 24 tahun, kami pun memutuskan membeli tiket itu online. Mas Tyar dan Mas Adam nggak ikut, karena untuk usia mereka harga tiketnya sudah dua kali lipat, disamping juga katanya sih mau bawa istri sama anak ntar pas naik (nasib dua om om yang LDM).

Eifell Tower. Sebenarnya ada spot yang lebih bagus lagi dari ini untuk berfoto.

Memasuki menara Eiffel ternyata harus melewati pemeriksaan metal detector dan security yang ketat. Izzan sampai harus membongkar tas nya membuat kami tertahan lama di pintu masuk. Baru sekitar 10.45 kami bisa menuju pintu masuk untuk antri ke puncak menara Eiffel. Untungnya saat menunjukkan tiket ke petugas, kami masih diizinkan masuk. Padahal di situ sudah tertulis bahwa antrian masuk menara Eiffel dibuka untuk tiket yang jam 11.00. Sementara tiket kami jam 10.00. Kami pun naik ke atas, dan dari sana kami takjub akan keindahan kota Paris dari puncak menara Eiffel.

Pemandangan dari atas Menara Eiffel

Salah satu spot di atas menara Eiffel ==”.

Jam sudah menunjukkan sekitar pukul 12.00 dan kami memutuskan segera turun, karena sudah ditunggu Mas Tyar dan Mas Adam. Kasihan juga dua om om ini nunggu dua jomblo yang naik ke menara Eiffel wkwk. Dari situ kami memutuskan mencari makan. Terlihat di Google Maps ada Restaurant Indonesia, dan menyajikan rendang, sate ayam dan lain sebagainya. Jauh-jauh ke Paris, nyarinya nasi padang wkkw. Eh ternyata dan ternyata tutup. Ya, pada hari itu memang tanggal 25 Desember, dan tepat saat natal banyak restoran tutup. Dari situ kami pun berjalan, ternyata ada restaurant bangladesh yang buka. Harganya walaupun memang mahal, tapi itu sudah tergolong murah di Paris. (Sekitar 13 Euro per porsi).

Museum Louvre: Butuh Waktu Seharian buat Berkunjung ke Museum ini menurut review yang kami baca. Saat Natal, ia tutup.

Usai makan, kami segera menuju Museum Louvre. Museum ini juga memang tutup saat natal, dan kami sudah tahu hal itu, hanya ingin berfoto di luarnya. Dari Louvre juga terlihat Arc de Triomphe de Carousel (versi mini arc de triomphe hehe). Seusai dari Louvre, kami bergegas menuju Champ Elyess. Sengaja kami taruh di akhir karena menjelang malam, lampu-lampu di jalanan tersebut katanya terlihat bagus.

Sesampainya di sana, terlihat antrian untuk berfoto di depan Arc de Triomphe. Sebenarnya agak berbahaya juga, karena tempat tersebut tepat berada di tengah jalan.Β  Namun agaknya para pengendara di sini, dan turis-turis yang mengantri pun sudah paham. Kami pun menyebrang jalan dan segera mengantri untuk berfoto di depannya. Dan di sinilah saya membuktikan apa yang pernah saya baca 7 tahun lalu, Novel 99 Cahaya di Langit Eropa.

Usai berfoto di depannya, kami bergegas menuju Terminal Bus Paris Bercy Seine. Tertulis di tiket kami bus menuju Barcelona pada jam 19.00. Aku pun mengecek kembali untuk memastikan. Namun ternyata, saya salah membeli tiket bus. Jam keberangkatan tertulis jam 21.15, bukan yang jam 19.00. Setelah diskusi singkat, kami memutuskan menuju Champ de Mars, tempat yang menurut review bagus untuk melihat Eifell Tower di malam hari.

Paris dari Champ de Mars

Dan ternyata, keterlambatan kami benar-benar tidak sia-sia. Dari tempat ini, terlihat keromantisan kota Paris beserta Menara Eiffel di malam hari. Ditambah ada atraksi sparkling lights, juga suara pengamen yang memainkan biola menambah kegalauan saya di malam itu #Eaaaa.

 

Sekitar pukul 20.15, setelah mengambil beberapa foto kami menuju ke Paris Bercy Seine. Bus kami berangkat jam 21.15. Perjalanan 14 jam menuju Barcelona. Malam itu, tempat menginap kami di jalan: Flix Bus. Next Stop: Barcelona πŸ™‚

*Rincian Budget per orang

  1. Bus Eurolines Brussels – Paris : 9 Eur
  2. Hotel Bervic Montmartre (via booking.com): 22,25 Eur (penginapan termahal kami selama euro trip T_T, ratingnya biasa aja, kamarnya nyaman sayangnya pada waktu itu air panasnya habis (sistem pemanas air nya sepertinya pakai yang ditampung dulu) sehingga saya yang mandi terakhir kena air dingin ._.. Btw harga segitu sudah terhitung murah untuk di Paris)
  3. Transport Paris Galliani – Bervic Montmartre: 2 x naik kereta = 2 x 2,1 Eur = 4,2 Eur
  4. Tiket Menara Eiffel (purchase online): 12,5 Eur (harga untuk student, maksimal 24 tahun)
  5. Makan di Restaurant India : 14 Eur (harga rata-rata sekali makan di Paris belasan Euro T_T)
  6. Transport tiket terusan sehari: 13,2 Eur.
  7. Tiket Bus Flix Bus Paris – Barcelona: 55 Eur.
  8. Makan Malam beli Kebab + Kentang dekat Paris Bercy Seine: 6 Eur (ini bener-bener murah)

*Tips

  1. Ga cukup dong sehari buat Visit Paris wkwk.
  2. Sebaiknya cari hostel yang juga ada dapurnya, sehingga bisa menghemat pengeluaran selama di Paris. (Bisa masak waktu malamnya)
  3. Saat berkunjung ke menara Eiffel, memang benar untungnya kami waktu itu mengambil tiket yang jam 10 pagi. Sebab antriannya setelah itu, saat kami keluar dari area Eifell tower, Masya Allah, panjang sekali. Saran, ambil yang paling pagi saja, atau kalau memang mau mengambil yang tengah hari atau saat malam, usahakan datang 2 – 3 jam sebelum jam tertera di tiket. Antrian di pintu masuk Eiffell sangat panjang.
  4. Jangan berkunjung saat hari natal karena banyak tempat yang tutup. Contoh: Louvre Museum, dst. Tapi untungnya Eiffel buka saat hari tersebut.
  5. Selalu hati-hati dengan pencopet / stranger yang meminta menulis sesuatu. Anggap saja kamu tidak kenal, atau langsung acuh saat mereka mendekat. Pernah saat kami di menara Eiffel, saya dan Izzan di hampiri mbak mbak yang meminta kami menuliskan nama di kertas, katanya untuk donasi. Nah kami pas itu menolak. Ternyata pengalaman teman saya pernah ada yang setelah menulis langsung dipalak sama mereka. Selalu letakkan barang berharga di tas di depan, tutup dengan jaket, atau lebih bagus lagi kalau punya jaket yang ada saku dalamnya.

 

 

Categories: Europe | Tags: , , | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Euro Trip Day 2 – Paris: Garis Imaji Menuju Tanah Suci

  1. Arsitektur grand mosque agak mirip AL hambra ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: