Implementasi Tawazun pada Budaya Swedia : Lagom

IMG_20181015_162328

Banyak hal-hal yang islami berada di negeri yang tidak bersetempel islam tetapi banyak yang hal-hal tidak islami pada negara yang bersetempel islam. Saya pernah ke eropa dan disana tidak memakai setempel islam tapi punya bagian-bagian yang bagus seperti tepat janji.  – KH. Hasyim Muzadi, dalam salah satu ceramahnya, “Menjadi Negara Bangsa”

Petikan ceramah beliau yang akhirnya saya amini semenjak merasakan atmosfer di Eropa. Yak, tanpa terasa sudah tiga bulan saya berada di negara nordic ini. Ada banyak sekali hal-hal positif yang dapat saya pelajari di negara ini, selain keilmuan tentu saja bagaimana berinteraksi serta membangun jaringan dengan teman-teman dari berbagai negara di kelas saya.

Mengingat kembali saat sekitar tahun 2014 silam, saya membaca berita tentang sebuah penelitian yang dipublikasikan melalui Global Economy Journal, Edisi ke-2 tahun 2010, Volume 10, yang ditulis oleh dua peneliti asal University of Washington, yaitu Scheherazade S. Rehman dan Hossein Askari.  Dalam penelitian yang berjudul “How Islamic are Islamic Countries” tersebut, mereka meneliti seberapa islami sebuah negara berdasarkan segala kebijakannya di berbagai bidang, dari politik, ekonomi, keuangan, hukum, dan lain sebagainya. Hasilnya, ternyata Swedia menempati posisi ke-15 secara overall Index (rata-rata index dari semua aspek penilaian), dan bahkan untuk aspek economic islamic index, Swedia berada di posisi ke-4. Dari sekian banyak nilai-nilai yang saya temukan di negara ini, ada satu nilai yang menurut saya entah menarik. Nilai yang mengakar secara historis dari Bangsa Viking. Nilai itu adalah “Lagom”.

Secara bahasa, lagom berarti cukup atau seimbang. Hal itulah yang saya rasakan di sini. Ada beberapa hal yang cukup menarik untuk saya tuliskan di sini terkait bagaimana implementasi lagom, yang sesungguhnya beberapa kali disebutkan dalam Al-Quran mengenai tawazun atau seimbang, ternyata justru benar-benar mengakar kuat di negara yang bahkan islam hanya minoritas di sini.

Pertama, adalah soal kondisi akademik. Sangat tidak lazim ketika kita belajar sampai malam di kampus. Swedia benar-benar menanamkan budaya work life balance. Mungkin karena itu juga ya saya hampir tidak pernah melihat orang-orang yang obesitas di sini haha. Kampus saat jam 5 sore sudah benar-benar terasa lengang. Masih ada beberapa yang belajar, tapi hampir bisa dipastikan mereka bukan orang Swedia. Kecuali kalau menjelang exam ya, bisa dipastikan kampus bakal ramai sampai malam.

Nah, apalagi dengan budaya lembur. Kalau kita justru kadang bangga dengan lembur, di sini malah kalau tidak benar-benar terpaksa dan dikejar deadline kampus sudah sepi. Nah, pengalaman salah seorang senior saya di Swedia, Mas Rayendra di sini, bisa jadi salah satu buktinya. Beliau yang sedang menempuh pendidikan PhD nya di sini pernah ditegur oleh supervisornya karena setiap hari lembur. Itu tidak baik dan bukan merupakan salah satu budaya Swedia.

Namun, memang di situlah kelebihan mungkin juga kebanyakan orang-orang Eropa. Saat memang belajar ya benar2 fokus. Tidak mudah ter-distract oleh entah itu sambil hp-an, buka IG, dst. Jadi belajar efektif, dan akhirnya benar-benar masuk ke otak. Hal yang berusaha saya terapkan di sini walau terkadang masih fail juga hehe.

Kedua, adalah budaya belanja. Alih-alih kebiasaan menumpuk barang ala emak-emak, di sini orang-orang membeli sesuatu secukupnya. Ketika memang sudah tidak terpakai, mereka akan menjualnya dengan sangat murah, menaruh di waste station, atau memberikan ke toko barang bekas. Nah, di sini pula saya surprise waktu ke salah satu pusat perbelanjaan di Lund saat weekend, eh ternyata sepi amat kaya kuburan wkwk. Beda jauh ketika saya ke Eriksjhalpen, salah satu pusat belanja barang bekas, ramainya minta ampun.

Sebuah negara dengan biaya hidup yang mahal, dan pendapatan termahal di dunia, namun masyarakatnya tidak gengsi untuk beli barang bekas, termasuk memungut “sampah” di waste station seperti tulisan saya sebelumnya di sini. Oh ya kata yang saya sebutkan di atas “memberikan ke toko barang bekas”, iya jadi beberapa toko barang bekas di sini memang tidak membeli barang kita, tapi kita memberikannya, dan keuntungan penjualannya digunakan untuk kepentingan sosial.

Ketiga adalah “family comes first”. Lagi-lagi soal menyeimbangkan kehidupan. Swedia termasuk negara yang bisa dibilang sangat ramah terhadap kehidupan keluarga *walau belum pernah ngerasain eeaaaaaa*. Ada sistem parental leave di mana bahkan kita bisa diberikan cuti sampai 480 hari dan tetap digaji saat kelahiran anak (baik suami maupun istri). Diluar itu, jam kerja bahkan bisa dikurangi sampai 25% sampai anak berusia 8 tahun dengan gaji yang tetap.

Keempat adalah tutupnya toko-toko saat hari sabtu – minggu. Hah? Ya, ini salah satu yang unik. Alih-alih justru kalau di Indonesia toko-toko ramainya saat weekend, di sini malah saat weekend mereka banyak yang tutup. Lagi-lagi menghabiskan waktu bersama keluarga. Satu lagi implementasi nilai tawazun yang saya dapatkan di sini.

Kelima adalah sistem pemerintahan yang sosialis – demokratis. Swedia termasuk negara yang penduduknya sangat bangga membayar pajak, bahkan pajaknya tinggi. Semakin tinggi pendapatan, semakin tinggi penghasilan orang. Sebab itulah, di negara ini tidak ada yang “benar-benar kaya”. Namun pajak berbanding lurus dengan fasilitas yang diberikan negara seperti pendidikan gratis, sarana transportasi, layanan masyarakat, dan lain sebagainya.

Menutup tulisan ini, sejenak saya merenungi, bahwa kehidupan seimbang seyogianya haruslah dijalani, karena Allah telah memberikan isyarat kepada kita melalui ayatNya.

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? – QS. Al-Mulk : 3

Walau tak semua bisa diambil pelajaran dari budaya lagom di sini (contoh seimbang antara party dan kerja wkwk), namun tetap saja kita mengambil yang baik dan buang yang buruk. Budaya yang seyogianya kita jauh lebih unggul karena Allah gariskan di dalam Quran, baik antara Jasmani – Akal, dan kita memiliki satu hal yang mungkin tak dilakukan orang-orang Swedia di sini : Ruhani.

Hampir setengah tahun saya di sini, Lagom mengingatkan saya akan tawazun. Di sebuah negara yang hanya sekitar 21% penduduknya aktif beribadah, justru mereka mampu mengimplementasikan nilai islam di kehidupan mereka.

Sumber :
1. http://walisongoonline.com/ceramah-kh-hasyim-muzadi-menjadi-negara-bangsa/
2. https://www.slideshare.net/itmamul_akwan/how-islamic-are-islamic-countries
3. https://hossein-askari.com/wordpress/wp-content/uploads/islamicity-index.pdf

Categories: Journey, Master Journey | 3 Comments

Post navigation

3 thoughts on “Implementasi Tawazun pada Budaya Swedia : Lagom

  1. Ketiga adalah “family comes first”.
    Hmmmm…family without marriage iki Iz 😀
    Banyak pasangan mambo dan sambo.
    Dan jare koncoku arek Swedia, buat dapet tunjangan sebejibun itu tyda harus menikah. Cukup mau tinggal serumah…

    • Udah tau mah kalau itu. Saya tidak sedang meng ekspose sisi negatifnya, paham lah, di sini kan married by law juga, bukan by religion, wong gereja aja juga sepi hehe.
      Tapi work lyfe balance di sini. Sama kehidupan keluarga di sini emang harus diacungi jempol ya

  2. Negara non muslim yang islami (y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: