Pengalaman Apply Housing di Swedia: Terima Kasih Waste Station!

Tanpa terasa, sudah tiga bulan saya menempuh pendidikan di Swedia ini. Ceritanya, lagi pengen nostalgia jaman-jaman perjuangan dapat housing. Saya termasuk beruntung mendapat housing yang bisa dibilang mungkin termurah dibandingkan teman-teman di Lund, dengan kamar yang cukup luas (20++ meter persegi), kamar mandi dalam, dan sharing dapur. Walaupun tanpa perabotan tapi nggak masalah, karena ada… Waste Station :)). Mungkin teman-teman bertanya-tanya sebenarnya itu apa sih waste station, yak, jadi izinkan saya bercerita dari awal dahulu saat mulai mencari housing :)).

Sekitar pertengahan Juli 2018, saya mendapatkan e-Mail dari LU Accomodation. Isinya mengenai kepastian saya mendapatkan housing di Swedia. Pada akhirnya saya mendapatkan email tentang kepastian tempat tinggal saya, setelah sempat was-was karena hampir semua teman-teman saya sudah mendapatkannya. Bisa dibilang, mendapat housing di Swedia sangat susah, karena jumlah housing yang tersedia dengan jumlah mahasiswa tidak sebanding, namun kami sebagai International student sangat dijamin mendapatkannya.

Jadi sekedar pengantar, bahwa ada periode kita setelah dinyatakan di terima di Lund University, kita diberi kesempatan memilih housing yang tersedia. Eittsss tapi jangan senang dulu. Karena nanti pada akhirnya yang menempatkan itu Universitas, bukan murni pilihan kita. Nah, kita diberi pilihan sampai di 5 housing oleh LU Accomodation. Nah, kalau ditanya milih yang kayak gimana? Tentu saja saya pilih yang lokasinya dekat dengan universitas dan murah! Saya lihat harga, lokasi, lalu saya pilih. Singkat cerita saya masukkan 5 pilihan saya, yang itu sudah termurah, dan dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari universitas. Bismillah saya submit.

Lalu ternyata……..

Beberapa minggu kemudian saya mendapatkan email, dan mendapat di housing yang bahkan tidak ada dalam list saya, jauh, dan mahal. T_T. Bayangkan saja, standar harga untuk housing tipe koridor (sharing dapur) di sini adalah 3000-4000 Swedish Krona. Sementara saya mendapat housing yang namanya “Eddan”, dan harganya pun sungguh sangat “Eeedaaann” juga yaitu sekitar 4500-an Swedish Krona, dengan kamar pun tipe koridor (dapur sharing). Padahal untuk harga segitu biasanya sudah mendapat tipe Studio (Dapur Pribadi). Kedua juga jaaauuuh dari universitas, ditambah jalannya naik saat berangkat.

Namun ternyata lagi-lagi semua ada hikmahnya. Karena saya mendapat email termasuk terakhir-terakhir dari semua teman-teman, di email itu kita diberi waktu sekitar 10 hari (kalau tidak salah), untuk menyetujui atau tidak. Ternyata sekitar akhir Juli, pada waktu itu ada layanan housing lain yang memang dikenal murah, yaitu “AFB atau AF Bostader”, penyedia housing terbesar di Lund selain LU Accomodation, baru membuka aplikasi pendaftarannya.

Sistemnya juga unik. Ada periode registrasi di mana kita mendaftar. Lalu nanti akan tiba satu hari di mana kita akan mendapatkan “lotre” secara random untuk mendapatkan nomor antrian. Jadi nomor antriannya bukan berdasarkan urutan kita mendaftar, tapi di lotre, bisa saja yang mendaftar terakhir kali malah dapat nomor lotre bagus. Nah, bisa dibayangkan yang ngantri berapa ribu orang nih pas tahun ajaran baru, sementara jumlah housing yang tersedia juga terbatas. Setelah berkonsultasi sana-sini, akhirnya bismillah, saya daftar, dan berharap mendapat nomor lotre yang bagus.

Anyway, beberapa kelebihan housing di AFB ini adalah pertama harganya banyak yang lebih murah hehe, kedua adalah banyak housing yang kontrak bayarnya 9 bulan saja (pas summer 3 bulan gratis chooy). Ketiga adalah sistem pindah yang lebih fleksibel (kita perlu bilang kalau mau pindah itu maksimal 1 bulan sebelum pindah, ga seperti Lu Accomodation yang harus 3 bulan sebelumnya).

Nah, singkat cerita saya apply, dan yak. Saat nomor lotre datang, saya mendapat nomor yang bisa dibilang ga bagus-bagus amat tapi juga ga jelek-jelek banget. Saya punya waktu sekitar 8 hari untuk mendapat AFB, karena jika tidak, saya tidak berani bertaruh untuk tetap menggantungkan di AFB. Hal itu, seandainya dalam delapan hari saya tidak mendapat housing di AFB, maka terpaksa saya accept tawaran dari Lu ACC, sembari tetap antri di AFB, nanti saat dapat, baru mengajukan pindah.

Akhirnya saya apply setiap hari. Setiap hari kita sebaiknya apply mendekati jam 12 malam swedia, dengan mencari housing yang sekiaranya murah, namun kita punya nomor antrian yang bagus di situ. Jadi, dulu hampir tiap selesai subuhan di masjid (waktu itu lagi di Pare, Kampung Inggris), mendekati jam 5 waktu Indonesia saya langsung selalu buka laptop buat apply housing yang ada.

Nah, beberapa kali saya gagal, hingga akhirnya tinggal 2 hari lagi. Pada waktu itu posisi saya sudah cukup bagus, di ranking 4 dari sekian puluh antrian untuk tiap housingnya. Saya waktu itu pasrah dengan kemungkinan dapat sangat kecil (yang dapat biasanya nomor 1, atau 2, kalau nomor 4, berarti 3 orang di atas kita harus cancel agar kita bisa dapat).

Hingga akhirnya, 2 hari sebelum deadline saya accept LU Accomodation, saya mendapat eMail dari AFB. Ternyata saya mendapatkan housing. Namanya Vildanden, dengan sewa per bulan 3156 Swedish Krona. Alhamdulillah, saya langsung bersyukur.

Vildanden – Housing yang saya tempati

Tapi ternyata… sama jauhnya dengan Eddan. Kalau Eddan di pucuk timur, ini di pucuk barat. Dan ternyata, housing saya kosongan alias tanpa perabot. Sebenarnya saat apply housing sudah ada notice atau keterangan soal ini. Namun, saya kurang teliti pada waktu itu, karena mepet jam 12 waktu swedia, sehingga saya book saja yang murah pada waktu itu. Hingga akhirnya saya mendapat Vildanden itu.

Setelah berdiskusi dengan beberapa senior, akhirnya saya memutuskan ambil. Pertimbangannya adalah pertama sama jauhnya, ya sudah pilih yang murah. Kedua, beli perabotan juga ga semahal selisih harga sewa housing jika dikalikan sampai 12 bulan, juga di sini banyak barang bekas dijual. Ketiga, dekat dengan Islamic Center. Nah, alasan nomor 3 ini yang amat saya syukuri, karena setidaknya masih bisa shalat jamaah di situ.

Nah, lalu balik ke judul nih. Waste Station itu apa? Well, jadi intinya, setiap housing di Swedia itu punya TPA. Eit, tapi jangan dibayangin tempat sampahnya kumuh kayak di Indonesia ya, bahkan saya nggak percaya kalau itu TPA wkwk. Modelnya saja buang sampah harus dipisah smpai 7 jenis sampah. Nah, satu lagi adalah tempat sampah khusus barang-barang yang besar, kayak meja, kursi, atau apapun yang rusak. Namanya Waste Station.

Waktu di Indonesia, saya dikasih tahu senior saya kalau di waste station itu katanya harus sering-sering cek, katanya bahkan kasur, lemari, kursi, dst itu bisa dibuang. Bahkan banyak alat elektronik bagus itu dibuang :)). Saya sih awalnya nggak percaya. Mungkin itu udah rusak.

Tapi ternyata… perkatan orang yang sudah pernah mengalami juga nggak akan bohong wkwkw. Saat saya datang, kamar saya kosong melompong. Bayangkan di hari pertama saya datang, setelah kaki gempor bawa koper 30kg + tas ransel sekitar 22 kg, saya harus tidur beralaskan sajadah wkwk. Namun, alih-alih ke IKEA, atau cari barang bekas di FJB facebook, saya malah langsung ke waste station besoknya, serta ke tempat beberapa senior untuk ambil barang lungsuran gratisan dari mereka *beberapa juga ada yang saya beli saat saya di Indonesia, ceritanya mereka bukalapak di grup PPI wkkw*.

Dan saya pun terbelalak. =)). Akhirnya rajin tiap hari ke waste station. Bisa dibilang 90% perabotan di kamar saya itu berasal dari waste station kecuali :
1. Kasur. Saya sengaja nggak ambil ini dari waste station, karena diperingatkan banyak kutunya kadang-kadang yang di sana. Yak, bayangin kasur ikea masih bagus di buang. Di sini hampir semua perabotan dari IKEA *standar orang swedia wkwk*. Ini saya beli, dan itu pun bekas. Lokasinya kebetulan dia sama-sama di Vildanden, dengan harga 400 krona saja . (Kasur IKEA Sultan, barunya sekitar 1600-an kr), ditambah matrass-nya (sekitar 400-an kr). Nah, jadi di facebook itu banyak sekali forum jual beli di Lund, yang menjual aneka macam barang bekas, murah-murah, dan bahkan ada yang memberikannya secara gratis (kita disuruh ngambil di tempatnya tapi)

2. Tempat Baju Kotor. Awalnya dapat dari waste station, tapi akhirnya beli baru dengan harga 28kr. Ikea lagi. Yang dapat di waste station kebetulan udah ringkih dan rusak, dan nunggu belum ada orang yang buang lagi, ya udah terpaksa beli wkwk :))

3. Beli murah dari lungsuran senior : Magic Com, Pemanas Air, Sepeda, Dufet + Selimut Tebal + Aneka sarung bantal, router Wifi, lampu tidur, kabel roll, dan karpet.

4. Gorden. Ini juga termasuk darurat, karena awalnya nggak ada penutupnya, jadi jendelanya bukaan. Saya pun juga beli bekas, kebetulan mencari di FB, dan menemukan yang punya di Vildanden juga, sehingga ukurannya pas. Harganya 120kr saja.

Dari dalam kamar (itu rak dan rak sepatu dapat di Waste Station, wkwk)

Udah seingat saya itu.
Sisanya seperti : Meja Belajar, Rak Buku, Rak Besi, Rak Sepatu (nemu 2), Meja Makan kecil, Kursi kayu (2), Kursi lipat (1), Kursi Kantor yang bisa muter-muter (1), Gantungan jaket, gantungan baju, Speaker logitech, penyedot debu electrolux, Wajan, Teflon, Microwave, Coffee Mixer, alat pel, sapu, cikrak, tempat sampah, keset, sandal, sepatu boot (ini beruntung banget nomornya pas, dan merk-nya lumayan bagus),  dan aneka perabotan makan, dan masih banyak lagi, semua, saya menemukannya di waste station. Bahkan sempat ada beberapa TV Flat, monitor komputer, dan aneka barang lainnya dibuang wkwk. Cuman ya itu, harus cepat. Kalau pas ke sana dan menemukan, sebaiknya langsung diambil, karena ternyata persaingan begitu ketat bung wkwk.

Meja, Lampu Belajar, Kursi, Speaker Logitech, juga dapat dari Waste Station

Nah, salah satu penyebab kenapa banyak barang dibuang padahal masih bagus-bagus adalah, kebijakan AF Bostader di sini ketika pertama kali mendapat housing yang kosongan, maka ketika kita meninggalkan housing itu juga harus dalam kondisi kosong. Kalau nggak? Maka kena denda mahal hehe. Jadi, ketika dijual nggak laku, ya apa boleh buat, harus di taruh di Waste Station.

Microwave + mejanya juga nemu di waste station :))

Terakhir kemarin lusa saya menemukan headphone gaming, kok kelihatannya masih bagus, dan saya ambil. Ternyata masih berfungsi dengan baik.  Setelah di cek harganya sekitar 330-an pounds = 3800-an kr = sekitar 5 juta. Whattt? Barang kayak gini dibuang -___-.

Jadi, buat kamu yang mau lanjut di Swedia, khususnya di Lund, ga usah takut buat ambil housing kosongan. Orang sini tidak malu ke Waste Station untuk mengambil barang bekas, ga ada gengsi harus barang baru, dan perasaan lainnya. Padahal negara ini merupakan salah satu negara dengan biaya hidup dan standar gaji tinggi. Namun masyarakatnya tidak malu dengan memakai bahkan memungut barang bekas. Mungkin ini terkait dengan budaya Lagom (yang akan saya bahas di tulisan saya kapan-kapan hehe).

Jadi, besok, dapat “harta karun” apa lagi ya? Wkwkwk. #IstiqomahSilaturrahmiKeWasteStation #MasihBerharapNemuMacBook

Categories: Master Journey | Tags: , | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Pengalaman Apply Housing di Swedia: Terima Kasih Waste Station!

  1. Wah keren, budaya orang LN begitu menginspirasi

  2. Nice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: