Master Journey (#MJ1) : Swedish Academic Atmosphere

PhotoGrid_1537474736423

Tanpa terasa, tepat tanggal 20 September 2018 kemarin, genap sudah satu bulan saya menjejakkan kaki di daratan Swedia. Banyak sekali rasanya yang ingin saya tuliskan di blog ini, mulai dari bagaimana kondisi “desa” Lund tempat saya studi ini, bagaimana kerennya sustainability di Swedia, kisah saya menjadi “pemulung” waste station, sampai tentang pengalaman bikin satu corridor terbangun gara-gara alarm kebakaran yang nyala gara-gara ulah saya pagi-pagi =)).

Tapi wait, saya rasa kembali pada niat awal di sini untuk studi, menuntut ilmu sebanyak-banyaknya, maka hal inilah yang akan saya tulis terlebih dahulu 🙂 Atmosfer akademik Swedia. Hmm, mulai dari mana yah, oke mulai dari hal-hal yang paling sederhana dulu 🙂

Course & Grading System

Yak, kita mulai dulu dari matkul dan sistem penilaian di sini. Tidak semua jurusan di Lund University seperti jurusan saya dengan menerapkan sistem seperti ini. Sistem semester di Lund dibagi menjadi dua term. Jadi semester pertama ini saya memiliki 4 mata kuliah, dan belajarnya nggak langsung keempat-empatnya begitu. Tapi dibagi menjadi dua paruh waktu. Dan ujiannya adalah di minggu ke-8 kuliah. Jadi 2 mata kuliah diseleseikan dalam waktu 2 bulan saja termasuk ujiannya hehe. Menurut saya cukup challenging dan di sini waktu terasa cepat sekali haha -______-“. Tapi positifnya adalah kita bisa fokus di dua mata kuliah tersebut, lebih mendalami, dan tidak ter distract dengan banyaknya mata kuliah. Karena dua matkul itu saja sudah Masya Allah tugas-tugasnya haha =)).

Why everyone afraid with grade? In Lund, “C” is good
— Speaker of Academic Seminar

Sistem penilaian di sini bergantung tiap dosen. Tidak ada aroma kompetisi seperti di Indonesia. Ada yang bahkan cuman memakai Pass / Fail saja, ada yang memakai skala Fail, 3, 4, atau 5. Jadi bergantung dosen juga. Bahkan kata salah seorang academic staff yang memberikan materi kepada kami para mahasiwa baru Lund pada waktu orientasi berkata bahwa nilai C itu sudah bagus -__-“. Haha, tapi bukan berarti kita tidak berusaha mencapai lebih dari itu kan? 🙂

Kelas : Attendance is not Mandatory

Nah, ini juga yang beda dengan di Indonesia. Di sini kita ga wajib hadir pas kelas, bahkan tidak ada presensi. Yang penting tugas – tugas kita ngerjain, pas group work datang,dan juga ngerjain, pas presentasi dan ujian kita datang. Selebihnya terserah kamu hehe.

Saat kelas juga sistemnya banyak break-nya. Jadi setiap 45 menit sekali kita ada break 15 menit. Misal nih hari itu saya kuliah 4 jam. Maka setelah 45 menit dosen bicara, ada 15 menit break. Kita bisa ngopi, alias “FIKA”, yak budaya Swedia, yaitu minum kopi. FYI, swedia termasuk negara yang penduduknya pecinta kopi. Jam perkuliahan juga walaupun tertulis jam 13.00 misalnya, tapi perkuliahan dimulai pada jam 13.15, jadi 15 menit itu ya buat kita sante-sante di kelas dulu hehe. Nanti setelah 45 menit, jam 14.00 berarti ada break 15 menit smpe jam 15.00. Begitu seterusnya.

Saat kelas juga dosen sangat suka diajak diskusi, dan kita bisa aktif tanya jawab tanpa rasa sungkan tentunya hehe. Jadi jangan diam-diam aja kalau ada yang nggak ngerti. Dosen di sini sangat open sekali sama question, sekalipun juga ada beberapa teman-teman saya yang bahasa inggris-nya terbata-bata, tapi kita sangat dihargai bahkan dibantu oleh teman-teman lainnya.

Dosen & Orang Dewasa – Setara Layaknya Teman Kita

“Just call their first name directly, without his / her title (e.g. Professor, Sir, etc)”

Nah, ini hal yang berbeda juga. Swedia adalah negara yang menggaungkan kesetaraan. Parlemennya juga banyak diisi oleh perempuan. Fasilitas kampus juga sangat mendukung bagi mereka yang berkebutuhan khusus, dilihat saja dari kamar mandi setiap tempat ada khusus untuk mereka.

Masalah panggil memanggil juga kita langsung memanggil nama orang itu, tanpa professor, pak, atau julukan lainnya. Jadi kalau nama dosennya misalnya Pak Eko, ya tinggal manggil Eko aja hehe. Nggak usah Masuk Pak Eko, tapi Masuk Ekoo wkwk. #garing

Dosen di sini juga sangat open dengan kita, bisa bahkan seakan-akan menjadi guru privat. Misal ketika kita tidak mengerti suatu pelajaran, atau soal, kita feel free langsung ke ruangannya dan saat dia sedang tidak sibuk dia langsung bisa bener-bener ngajarin kita. Ada juga beberapa dosen yang harus bikin appointment dulu via email, tapi intinya mereka benar-benar akan membantu kita agar bisa mengerti mata kuliah.

Course Material & Syllabus

Ini mostly akan selalu ada di hampir semua universitas top 100 dunia. Kelebihan universitas-universitas unggulan ini adalah hampir semua terkait akademik sudah ada di online. Saya pun ingat ketika dulu awal-awal browsing aneka universitas saat mencari beasiswa, semua informasi sangat lengkap sekali (maap kalimatnya ga efektif wkkw) di website universitas – universitas tersebut.

Termasuk materi perkuliahan, segala informasi sudah diinfokan di setiap email masing-masing. Jadi harus rajin mengecek email yaaa, juga buka semacam portal akademik kampus masing-masing.

Di sini materi perkuliahan sudah diupload termasuk silabus pembelajaran, sehingga menuntut kita untuk aktif membaca sendiri sebelum kuliah, sehingga harapannya saat kuliah bisa menjadi sarana diskusi yang menarik antara kita dengan dosen.

Group Work

Naaah ini yang menurutku bener-bener beda dan challenging. Banyak sekali nantinya aneka group work dan kamu akan menemui aneka macam karakter orang di kelompokmu. Di sini yang saya pelajari adalah kita tidak seperti saat S1 dulu. Langsung dibagi tugas gitu aja, trus kerjain. Koreksi dikit, gabungin, trus beres deh. Absolutely not.

Tapi di sini saya bener-bener merasakan capeknya pikiran saat brainstorming dalam grup. Kita bisa berdebat, benar-benar mencari solusi terbaik dari study case yang diberikan. Untuk menulis 2 lembar report saja diskusinya bisa sebulan haha, karena banyak sekali approach yang bisa digunakan untuk report tersebut.

Kebetulan kelompok saya untuk matkul fundamental logistic berisikan orang asia semua, dan mereka cenderung juga cepat saat berdiskusi. Lain halnya dengan grup saya yang lain yang hanya saya sendiri orang Indonesia, sementera 4 lainnya orang Swedia. Awalnya saya sempat kagok dan menganggap mereka kurang efektif dalam bekerja. Kita benar-benar brainstorming, diskusi seru, *saya ngikut aja dan aktif di diskusi walaupun masih agak nggak nyaman karena ini kok nggak langsung dibagi aja biar cepet dan efektif*.

Namun dari diskusi itu sepertinya udah menjadi kebiasaan mereka untuk benar-benar brainstorming, dan justru banyak ide-ide yang muncul dari diskusi ini. Hal lain yang tak kalah penting adalah kita semua jadi benar-benar dan sama-sama paham terkait solusi atau apa yang akan dituliskan sebagai pemecahan study case yang diberikan dosen.

Group Work ini juga gampang-gampang susah, sebab biasanya juga kadang satu grup punya pendapat masing-masing dan egonya cukup tinggi. Tapi di sinilah seninya dan serunya :))

Ujian : 5 Jam

Yak, hal yang cukup shock bagi saya kali pertama adalah ujian semester atau tiap period nanti berlangsung 5 jam. Saya hanya berpikir emang soalnya sebanyak apa, bakal sesusah apa dst. Namun ternyata setelah diskusi dengan teman-teman saya yang Swedia, mereka berkata bahwa 5 jam itu santai. Kamu bisa sambil ke kamar mandi, makan dulu bahkan, dst. Sehingga mostly tidak ada pressure waktu.

Salah satu teman saya yang pernah merasakan summer course di Australia berkata, cukup kaget saat ujian di Australia hanya dua jam saja, sama dengan di Indonesia. Hingga akhinrya mereka cukup merasa kelabakan saat mengerjakan ujian.

Kalau gagal apakah ngulang Mata Kuliah? Nah alhamdulillah, kebetulan tidak. Hanya diberi kesempatan re-take exam nya sampai 3x, jika masih gagal juga maka biasanya melakukan oral presentation di depan para dosen.

Swedish People : Study Hard, Work Hard, Play Hard.

Orang Swedia bisa dikatakan mereka totalitas. Dalam artian saat kuliah mereka benar-benar 100% memperhatikan, dan begitu pun saat belajar dan group work. Namun umumnya mereka tidak akan mau jika bekerja sampai malam, apalagi diganggu waktu weekend-nya. Jadi mereka ketika sore atau malam, kampus udah sepi dan mereka bersiap untuk entah party, atau pergi ke pub. Pun demikian saat weekend.

Hal positif yang saya ambil dari mereka adalah totalitas mereka. Benar-benar 100% saat memang waktunya belajar, dan tidak mudah terdistract oleh kondisi apapun. Tentu saja tidak dengan budaya party mereka. Dan disinilah betapa mereka menghargai akan keyakinan saya, prinsip saya juga dalam beragama islam. *kapan kapan akan saya tulis soal ini hehe*.

Satu bulan telah berlalu tanpa terasa, tentu saja saya berharap agar dapat melewati bulan – bulan selanjutnya dengan baik.

Categories: Master Journey | Tags: , , | 11 Comments

Post navigation

11 thoughts on “Master Journey (#MJ1) : Swedish Academic Atmosphere

  1. cerita bagian alarm kebakaran sepertinya menarik, mas.hehe

  2. Wah … menarik skl pendidikan di swedia ya ….terimakasih sdh share
    Btw, kuliah S2 ya mas? Dapat beasiswa dr lembaga apa mas? Dan apa ada utk S 2 perikanan di situ ya? Mf banyak yg ditanya he he

  3. 😮kece bangettt bisa kuliah di sweden, aduh, gimana caranya itu?

  4. Keren. Bagian yang group work itu rada-rada “nonjok” ya. Bahkan sampai sekarang saya kerja (masih di Indonesia), kalau ada tugas kelompok bawaannya bagi-bagi, gabungin jadi satu, kelar. Hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: