Epilog Scholarship Journey (12-end) : 12 Failures, Never Ending Persistence and Hope

Just because you fail, doesn’t mean the end of your struggle. Failures actually your next step to open more and more opportunities. Just because you fail, doesn’t mean giving up. It just because sometimes His answer is almost reached, but you stop your effort. Try, try, and always try to pursue your dream. Pray, pray, and always pray to Allah, because his plan is always unpredictable, unbelievable, and often happened in unexpected time. 

20 Agustus 2018, 13.30 – Copenhagen Airport, Arrival Gate

Aku termenung. Seakan tak percaya bahwa kaki ini terizinkan olehNya tuk menginjak bumi Eropa. Masih tak percaya di bangku Qatar Airways, mataku tak pernah lepas dari jendela. Jembatan yang menghubungkan Denmark – Swedia terlihat jelas dari pesawat. Mataku berkaca-kaca. Lisanku tak henti-hentinya mengucap syukur kepadaNya. 2 tahun perjuangan bukanlah waktu yang singkat, namun begitu cepat tak terasa.

Terkadang masih tak percaya, mengapa Allah justru memilih hamba yang berlumur dosa ini untuk berada di sini. Ada banyak mereka yang lebih layak, jauh lebih berprestasi, jauh lebih pandai, jauh dari sosok yang tak ada apa-apanya ini. Masih teringat beberapa rekan-rekan seperjuanganku beasiswa, yang nyatanya mereka benar-benar outstanding saat perkuliahan, namun beberapa justru kandas di tengah jalan. Hingga dari situlah aku semakin menyadari bahwa aku tak ada apa-apanya. Bukan karena perjuanganku barangkali aku berada di sini, sebab hanya karena rahmatNya dan doa-doa dari kedua orang tua, saudara, keluarga, juga bapak ibu guru dan dosen yang setiap kali bertemu, aku hanya ingin meminta doanya.

Menapaktilasi ulang, 10 Agustus 2016 di sini, seolah menjadi sebuah hikmah bahwa benar adalah bahasa merupakan kunci pembuka dunia. Sempat ada penyesalan pada waktu itu mengingat betapa parah dan payahnya kemampuan bahasa inggris dalam diri, mengapa baru sekarang, mengapa tidak dari dahulu saja, namun tentu tak ada kata terlambat.

Hingga akhirnya sebulan tanpa terasa berlalu, dan dengan kondisi writing dan speaking masih hancur. Aku bersedih, sempat menangis melihat betapa payahnya diri. Namun pada waktu itu terima kasih kepada papa dan mama yang senantiasa mendukung. Mengingatkan akan syair dari Sayyidina Ali karomallahu wajhah, bahwa “wash-tibarin” , kesabaran adalah menjadi kunci sukses para penuntut ilmu. Dan akhirnya, sebulan pasca itu setelah wisuda dan belajar grammar mandiri di rumah, aku kembali ke Pare.

3 bulan pun berjalan, dan masih banyak kesalahan. Di situlah aku belajar bahwa kita akan sulit untuk mencapai kesempurnaan, namun bukan berarti kita tak mau memperjuangkan. Hingga akhirnya masa itu terlalui dan kuputuskan mengambil tes IELTS sekitar seminggu setelah les berakhir. Hingga Allah tunjukkan bahwa kadang yang kita ekspektasikan tak sesuai dengan kenyataan. Skor bisa dibilang “nge-pas” , dan beberapa universitas otomatis harus tercoret dari daftar. Bisa saja sebenarnya mengambil lagi, namun pada waktu itu karena pertimbangan waktu, juga biaya les dan tes yang cukup mahal, maka pada akhirnya aku menerima.

Etape pertama sudah terlampaui, dan tibalah mendaftar aneka macam beasiswa. Di beasiswa pertama ada rasa keyakinan yang cukup tinggi bahwa ternyata aku bisa sampai lolos tahap terakhir, Swedish Institute – Scholarship. Namun ternyata, Allah berkehendak lain. Itu menjadi kegagalan pertama, dan pembuka kegagalan-kegagalan selanjutnya.

Hingga tibalah titik jenuh, di mana 12 kali sudah Allah takdirkan untuk gagal. Menyisakan LPDP yang baru saja aku submit aplikasinya. Di sinilah keyakinanku kian menciut, bahwa mungkin Allah takdirkan untuk merasakan dunia kerja profesional. Pada bulan itu, aku akhirnya memutuskan mulai mendaftar aneka jenis perusahaan, dan tanpa disangka begitu cepat hingga Agustus 2018, aku sudah berada di sebuah perusahaan otomotif swasta terbesar di Indonesia, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia.

Tanpa disangka, justru di situlah jawaban sekaligus ujianNya datang kembali. Pengumuman interview LPDP datang ketika justru aku baru dua bulan bekerja. Sempat dilanda kebingungan akan karir ke depan, namun diri ini kembali merefleksi tentang life plan yang telah dibuat. Apalagi tak semua orang mendapat kesempatan hingga sampai tahap akhir seleksi LPDP. Maka kuajukanlah izin ke atasan dengan resiko tentu saja aku bisa tidak diangkat menjadi permanen sekalipun LPDP gagal, karena life plan ke depan tetaplah menjadi seorang akademisi, bukan profesional.

Hingga akhirnya jawaban itu datang di 25 Oktober 2017. Aku lolos, dan tanpa disangka justru menelan pil pahit bahwa baru diberangkatkan 2019. Sementara setelah berdiskusi dengan atasan, sudah fix bahwa aku tak akan dipermanen, dan diberikan hak untuk menghabiskan kontrak kerja. Berarti aku harus mencari tempat “belajar” lagi selama setahun ke depan, sekaligus menafkahi diri agar tak lagi bergantung ke orang tua.

Sempat naik turun semangat untuk memperjuangkan, pada akhirnya, Jawaban Allah sesungguhnya datang di bulan penuh berkah, Ramadhan 1438. Hari Senin, jam 07.41 pagi, sebuah e-Mail yang akan menjadi titik balik kehidupan itu datang tanpa disangka-sangka. Aku diberangkatkan tahun 2018. Seolah menjadi rasa syukur tersendiri karena itu tepat sebelum kontrakku dengan Toyota berakhir.

Dua tahun perjalanan pencarian hingga tibalah pagi ini tanpa terasa, telah memasuki hari pertama perkuliahan. Bahwa perjuangan tetap saja belum selesai. Justru baru dimulai kembali. Begitulah siklus hidup manusia, bahwa setelah di titik keberhasilan dialah justru kembali lagi ke titik 0. Memulai sesuatu kembali untuk berjuang meraih target yang lebih tinggi.

Maka teruntuk para pejuang pecinta ilmu, teruslah berjuang walau akan banyak rintangan menghadang. Tak ada yang mudah dalam menuntut ilmu, namun tak ada kata menyerah sebelum segala ikhtiar telah dicoba, bahkan biarlah Dia sendiri yang menghentikannya, bukan kita. Teringat kisah Ibnu Hajar yang sesungguhnya memiliki nama Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar Al-Kannani Al-Qabilah. Dikenal sebagai Ibnu Hajar  (batu) karena kegigihannya, saat beliau belajar begitu jauh tertinggal dari teman-temannya, seolah seperti batu. Namun ia jadikan sebuah batu di gua yang berlubang karena air, menjadi motivasinya untuk terus belajar, mengejar ketertinggalan, hingga pada akhirnya ia melampaui teman-temannya dan menjadi ulama besar dalam sejarah Islam.

Teruntuk para pecinta ilmu, saksikanlah bahwa perjuangan kita tak ada apa-apanya. Sebagaimana termaktub dalam firmanNya:

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.’” (al-Baqarah [2]: 214)

Bahwa ingatlah, surga barangkali masih jauh dari kita. Tak pernah kita mengalami cobaan seberat generasi Rasulullah, tak pernah kita sengsara seperti mereka, aneka macam goncangan keimanan, bahkan ancaman pembunuhan. Namun mereka tak pernah surut untuk berjuang, menuntut ilmu sedalam-dalamnya, hingga akhirnya melahirkan generasi emas islam yang sempat membuat Eropa dan dunia terperangah.

Dan catatan ini sekaligus menjadi penutup dari episode perjuangan beasiswa. Sekaligus pembuka catatan perjalanan selanjutnya : Study Journey. Semoga penuh manfaat, bahwa diri ini penuh alpa, dan mohon maaf jika banyak kata-kata yang kurang berkenan.

Europe, I’m coming !
3 September 2018
Hari pertama kuliah 🙂

Categories: Scholarship Journey, Study Abroad | Tags: , , , , , , , , | 4 Comments

Post navigation

4 thoughts on “Epilog Scholarship Journey (12-end) : 12 Failures, Never Ending Persistence and Hope

  1. ditunggu tulisan study journeynya Faiz. Wah kamu di Lund ya? saya dulu hampir kuliah disana juga sebelum jadi abdi negara 🙂 tapi saya masih bermimpi bisa ke swedia dan negara2 eropa lainnya

  2. Wah salut deh kak, dari kampus tetangga ternyata. Salam kenal😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: