Scholarship Journey (9): Titik Jenuh

Menapaktilasi perjuangan yang pada akhirnya telah sampai ke ujungnya. Perjalanan yang dimulai tahun 2016 yang lalu pasca menuntaskan amanah akademik kampus. Hingga hari ini, betapa banyak pelajaran yang dapat dipetik. Bahwa hanyalah Allah sebaik-baik perencana. Hanya Allah yang mengetahui tentang apa, kapan, di mana, dan bagaimana waktu yang terbaik untuk hamba-hambaNya. Ketika Dia merasa bahwa hambaNya telah pantas dan kuat menerima segala ketetapan dariNya, niscaya Allah tak akan segan-segan mengabulkan doa kita, bahkan memberikannya dengan cara yang jauh tak pernah kita sangka.

Juli 2017

“Saya isi endeavour nggak bisa Iz, password-nya udah expired…”.

Lengkap sudah pada hari itu kegagalan saya di beasiswa ke 12. Kali ini sedikit konyol sebenarnya karena sedang musim lebaran dan saya lupa memberitahukan kepada salah satu pemberi rekomendasi saya untuk melengkapi berkas rekomendasi online. Saya di kampung, dan beliau pun juga di kampung. Sama-sama sedang tidak bisa membuka laptop.

Yup, pasca kegagalan Swedish Institute, saya harus lebih bersabar lagi untuk menerima berbagai kado pahit kegagalan beasiswa yang saya daftar. Berbeda dengan swedish Institute yang mana saya bisa lolos sampai akhir, sementara beasiswa yang lain saya gagal semua di tahap awal.

Flashback April – Juni 2017

E-mail aplikasi saya ditolak oleh King Saud University, Saudi Arabia

Dimulai dari pada tanggal 12 April 2017 saat mendapat e-mail bahwa aplikasi saya ditolak oleh King Saud University, Saudi Arabia. Belum hilang rasa kekecewaan saya, besoknya mendapat e-mail dari New Zealand Scholarship bahwa aplikasi saya gagal.

New Zealand Scholarship : Gagal lagi hehe…

Untuk beasiswa New Zealand ini sebenarnya saya juga tidak terlalu kaget karena bidang saya sebenarnya tidak ada dalam bidang prioritas. Namun pada waktu itu ya coba saja iseng-iseng berhadiah hehe. *ternyata tetap fail :)). Setelah itu ternyata King Abdul Aziz pun juga gagal.

Lalu berlanjut ke beasiswa Taiwan NTUST, yang ternyata saya hanya diterima di Universitasnya saja dan tidak mendapatkan beasiswa. Berlanjut pula ke beasiswa MOE & MOST Taiwan yang keduanya pun gagal.

Awal Mei mendapat e-mail dan ternyata Alhamdulillah berhasil diterima di Asian Institute of Technology, Thailand…

Asian Institute of Techology – Tidak Fully Funded

Tapi ternyata saya hanya mendapat potongan di Registration Fee-nya saja. Tutition Fee tetap membayar, belum juga untuk biaya hidup dan lainnya ==”. Akhirnya beasiswa ini pun tidak saya ambil.

Kemudian sekitar awal Juni mendapat pengumuman dari Fulbright USA, bahwa saya juga gagal.

Fulbright Failure

Jarak satu hari pasca itu ternyata besoknya Australian Awards juga sudah pengumuman dan gagal hehe.

Australian Awards Failure

Hingga terakhir saat masih ingin memperjuangkan beasiswa Asian Scholarship dari Chulalongkorn University, hasil tes kesehatan saya telat keluar sehingga pada akhirnya tidak bisa saya kirimkan berkas untuk Chulalongkorn University ini.

Lengkap sudah 12x kegagalan, dan masih menyisakan LPDP yang pada waktu sekitar Juni sudah saya submit. Namun, masihkah diri ini dihinggapi rasa optimis?

Pada waktu itu saya berada pada titik rendah dalam hidup. Masih terus idealis dengan beasiswa, atau mencoba mengambil kesempatan untuk bekerja di sebuah perusahaan yang telah settel. Dengan kondisi pada waktu itu saya bekerja di Ternaknesia, namun cukup jauh dari linearitas bidang studi saya.

Hingga akhirnya, hasil istikharah serta diskusi dengan orang tua membuat saya mantap untuk mulai melamar pekerjaan. Pada waktu itu saya tak peduli apapun pekerjaannya saya apply semua yang sedang buka. Baru sekitar awal Juni saya mulai mencoba-coba, ternyata akhir Juni, saya diterima di salah satu perusahaan manufaktur otomotif terbesari di Indonesia. It’s beyond my expectation!!!

Juli 2017 menjadi penanda bahwa perjuangan beasiswa saya barangkali akan sejenak berhenti. Pada waktu itu saya beranggapan barangkali jalan menjadi seorang akademisi bukan jalan saya. Adalah profesional di sebuah perusahaan merupakan jalan yang akan saya tekuni ke depannya. Namun, siapa sangka, perjalanan dan jawaban Allah sesungguhnya baru dimulai setelah ini….

Terminal 3 Soekarno Hatta
Sambil menunggu boarding tengah malam
17.00

Categories: Scholarship Journey | Tags: | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Scholarship Journey (9): Titik Jenuh

  1. Nia Fitri Nur Masithoh

    Menginspirasi mas faiz…sangat malahan
    .
    Semoga impian sya yg hampir sama seperti mas faiz bisa terwujud…
    …. Terus menginspirasi ya mas… Semangat 🙏🙏

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: