Scholarship Journey (8) : Kegagalan Pertama – Swedish Institute Scholarship

SI-capture

Menapaktilasi perjuangan yang pada akhirnya telah sampai ke ujungnya. Perjalanan yang dimulai tahun 2016 yang lalu pasca menuntaskan amanah akademik kampus. Hingga hari ini, betapa banyak pelajaran yang dapat dipetik. Bahwa hanyalah Allah sebaik-baik perencana. Hanya Allah yang mengetahui tentang apa, kapan, di mana, dan bagaimana waktu yang terbaik untuk hamba-hambaNya. Ketika Dia merasa bahwa hambaNya telah pantas dan kuat menerima segala ketetapan dariNya, niscaya Allah tak akan segan-segan mengabulkan doa kita, bahkan memberikannya dengan cara yang jauh tak pernah kita sangka.

Januari 2017

Sembari menunggu segala hasil tes IELTS, pada waktu itu saya mendaftar aplikasi beasiswa SI Scholarship. Beasiswa ini merupakan beasiswa pertama yang ada di list saya. Pertengahan Januari sudah diharuskan memasukkan semua berkas, dengan opsional IELTS Certificate yang bisa menyusul hingga paling lambat tanggal 1 Februari 2017 pada waktu itu.ย 

Oh ya, mengenai detail prosesnya, dapat dilihat di Blog Mbak Kiky Edward di sini untuk bagian pertama, kemudian di sini untuk bagian kedua, serta bagi teman-teman yang masih bingung tentang overall information beasiswa SI, bisa dilihat juga di blog Mbak Kiky di sini.

Seperti post saya sebelumnya, pada akhirnya nilai saya keluar, dan bisa dibilang pas-pasan, namun Alhamdulillah telah cukup untuk dipergunakan mendaftar beasiswa SI Scholarship ini. (overall 6.5, each section no below 6.0)

Alhamdulillah saya juga diperkenalkan oleh teman saya, Bu Titi nama beliau, salah seorang warga Indonesia yang merupakan salah satu konsultan pendidikan di Swedia. Bersuamikan orang swedia membuatnya kini tinggal di sana. Beliau lah yang mereview segala essay saya agar dapat dikatakan layak untuk mengikuti beasiswa ini. (Jika teman-teman berminat kontaknya, bisa saya kasih dengan message via email atau ke medsos saya yang lain (lebih aktif di IG).

Pasca menyelesikan berkas untuk seleksi tahap pertama, tanpa disangka-sangka sebuah e-Mail masuk :

SI-capture2

Alhamdulillahirabbil’aalamiin. Pada waktu itu saya tak menyangka dapat lolos tahap pertama. Selain karena persaingannya dari seluruh dunia, beasiswa ini juga mensyaratkan pengalaman bekerja minimal 3000 jam. Ya, walaupun segala jenis pekerjaan termasuk voluntary, assistant lab, staff di organisasi bahkan bisa semua dimasukkan.ย  Apalagi pertanyaan yang diberikan di tahap pertama ini benar-benar sangat general. Misalnya, kamu berasal dari bidang apa, apa kontribusi yang telah kamu lakukan, Berapa lama pengalamanmu bekerja, lalu apa kontribusimu, yang kesemuanya ditulis dalam maksimal 250 kata. Sehingga pada waktu itu yang saya simpulkan saya sendiri pun tak tahu parameter pasti yang digunakan bagaimana panitia menyeleksi peserta “hanya dari 250 kata” yang dituangkan untuk setiap pertanyaannya.

Nah, lalu pada tahap kedua inilah di sini kita diwajibkan meng-upload beberapa berkas. Seperti surat pernah bekerja beberapa jam sesuai format yang telah ditentukan, serta motivation leter. Setelah mengalami revisi beberapa kali dari Bu Titi, pada akhirnya saya upload juga berkas-berkas saya tersebut. Maka, sekitar pertengahan Februari, selesailah proses saya untuk menyeleseikan berkas tahap 2 tersebut. Hanya berpasrah dan berdoa sekuat tenaga, bahwa telah banyak hal-hal yang dilakukan, waktu yang dikorbankan, dan semoga sikap ikhlas lah yang nantinya akan menjadi yang terdepan akan segala hasil dan keputsan dariNya.

April 2017

Tanpa terasa pada waktu itu pengumuman seharusnya sudah ada. Semestinya pada waktu itu terdapat e-mail masuk. Namun mengapa tidak ada? Apakah itu berarti saya tak lolos?

Kebetulan pengumuman universityadmission dilakukan sebelum pengumuman scholarship. Hasilnya saya justru lolos di pilihan kedua, Lund University. Pilihan pertama, pada waktu itu saya memilih Chalmers University, malah statusnya waiting for queue, yang dalam artian posisi saya sebagai cadangan.

Pada akhirnya saya memutuskan mencari yang pasti saja deh. Saya decline offfer untuk Chalmers University, dan saya accept untuk Lund University.

Pertengahan April pada akhirnya hasil seleksi SI keluar. Dari sekitar 15ribuan pendaftar di seluruh dunia hanya sekitar 300-an saja yang pada akhirnya lolos. Dari sekitar 300an orang hanya 60-an orang yang berasal dari Zona II (Zona negara Indonesia dan beberapa negara lainnya). Dan dari 60-an orang tersebut, hanya 10 orang saja yang berasal dari Indonesia.

Dan application number saya tak ada di dalamnya…

When you felt so optimist, and finally the result was below your expectation, what will you do?ย 

Kegagalan pertama. Ya, saya pada waktu itu menyikapinya biasa saja. Masih ada 12 beasiswa yang lain. Masih ada harapan di benua lain. Sebab beasiswa yang saya pilih tak ada lagi negara Eropa selain di Swedish Institute (dengan kondisi saat itu LPDP belum buka dan belum memutuskan akan ke negara mana jika mendapat chance di LPDP).

Perjalanan masih terus berlanjut. Tidak pantas tuk berlarut-larut. Sebab masih ada titian jalan beasiswa lain yang harus dirajut.

H-40 keberangkatan
Kampung Inggris, Pare, Kediri

Categories: Scholarship Journey | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: