Scholarship Journey (7) : Memaknai Hasil Perjuangan Pertama

Menapaktilasi perjuangan yang pada akhirnya telah sampai ke ujungnya. Perjalanan yang dimulai tahun 2016 yang lalu pasca menuntaskan amanah akademik kampus. Hingga hari ini, betapa banyak pelajaran yang dapat dipetik. Bahwa hanyalah Allah sebaik-baik perencana. Hanya Allah yang mengetahui tentang apa, kapan, di mana, dan bagaimana waktu yang terbaik untuk hamba-hambaNya. Ketika Dia merasa bahwa hambaNya telah pantas dan kuat menerima segala ketetapan dariNya, niscaya Allah tak akan segan-segan mengabulkan doa kita, bahkan memberikannya dengan cara yang jauh tak pernah kita sangka.

Jum’at, 27 Januari 2017

“Izzz, ayo wes wayahe jumatan (Iz, ayo sudah waktunya jumatan),”teriak Mas Dalu, senior saya di kantor. Ya, selepas menuntaskan Tes IELTS 13 hari sebelumnya, dan kursus IELTS 21 hari sebelumnya, saya langsung mendapatkan tawaran untuk bekerja di Ternaknesia, Start Up yang pada tahun itu baru dirintis oleh senior saya di kampus. Selain bagi saya merupakan tantangan baru (karena bekerja di perintisan usaha), juga waktu yang cenderung fleksibel bagi saya untuk menyambi aneka macam beasiswa yang telah saya rencanakan untuk apply ke dalamnya. (Seperti tulisan saya sebelumnya di sini) 

Hari itu juga semestinya nilai IELTS saya diumumkan. Saya yang gelisah dari pagi sambil menyeleseikan pekerjaan, berulang kali membuka tab pengumuman IELTS. Berulangkali dari pagi saya memasukkan nomor tes saya dan tanggal lahir, lalu klik “Check”, namun ternyata belum kunjung keluar juga nilainya. Sampai waktu jumatan pun juga belum kunjung keluar. Shalat pun juga menjadi sedikit kurang khusyu’. Karena hasil tes inilah yang nanti pun akan menentukan perjalanan saya selanjutnya. Juga tentu saja dengan biaya tes yang tidak murah, membuat saya begitu risau saat itu memikirkan jika saja seandainya gagal.

Usai shalat jumat, saya bergegeas kembali ke kantor, ke depan laptop. Saya kembali memasukkan nama, nomor tes, dan tanggal lahir saya, dan ternyata… hasilnya sudah keluar…….

…..and It’s Below My Expectation

Menargetkan beberapa pilihan ke kampus di UK tentu saja membutuhkan IELTS dengan overal 7.0, bahkan ada beberapa kampus yang minimal setiap section-nya mencapai 6.5. Untuk listening – reading justru 6.0, sementara writing dan speaking 6.5. Dua aspek yang bagi saya cukup susah untuk mengasahnya.

Berbekal optimis, karena selama sebulan terakhir intensif, tanpa bermaksud sombong, saya bisa mencapai 7.0. Namun lagi-lagi hanyalah Allah yang tahu hasil yang terbaik untuk hambanya. Hari itu juga saya entah merasa kecewa, sedih, bercampur senang, juga masih ada rasa syukur yang menghinggapi.

Hingga akhirnya, ternyata beginilah hasil saya yang keluar:

Hasil bisa dibilang “pas-pasan” atau “nge-pas”. Overall, hampir semua beasiswa mensyaratkan persyaratan seperti ini. Overall band score 6.5 dengan nilai each section tidak kurang dari 6.0. Ada sedikit kekecewaan mengingat saya begitu merasa optimis di Listening dan Reading saya mencapai setidaknya 8.0. Namun, tetaplah hasil ini yang harus disyukuri. 2 hari kemudian, tepatnya hari Senin, 30 Januari 2017, saya mengambil sertifikatnya ke IALF Surabaya. Hasil yang seyogianya di syukuri karena itu berarti setidaknya saya tak perlu ambil tes lagi. Hanya saja jika masi idealis mengejar beberapa kampus di UK, serta juga beberapa kampus di Belanda, tentu saja saya harus tes lagi.

Pada akhirnya advice Ayah saya hanya satu, “Terserah kamu, tapi itu berarti tandanya Allah mengetahui maqam terbaik bagi kamu nak,”. Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk menggunakan sertifikat yang telah diperoleh untuk meng-apply beberapa kampus yang masih masuk persyaratan. Say Good Bye to several campus in UK, Netherlands, and Australia.

Hari itu saya belajar tentang makna penerimaan. Tak selamanya yang kita perjuangkan justru sesuai dengan yang terbayangkan. Saya juga belajar tentang makna bersyukur, sebab banyak diantara rekan-rekan seperjuangan saya yang bahkan gagal di tes pertamanya. Ada yang mengambil bahkan sampai sepuluh kali tes baru berhasil. Sudah seyogianya saya mensyukuri bahwa di sini saya ditakdirkan olehNya untuk melewati etape perjuangan ini. Sebab perjalanan untuk mencapai belahan bumi lainnya masih panjang.

“Allah itu Maha Baik. Dia tahu yang terbaik. Seringkali hal-hal yang terjadi tak sesuai ekspektasi, atau bahkan buruk sekali, justru itu yang terbaik. Hanya saja, ketidakpuasan kita akan keputusan-Nya lah seringkali membuat kita lupa akan Sifat Maha BaikNya.”

Trowulan, Mojokerto
Sembari menapaktilasi perjuangan
H-50 keberangkatan

 

Categories: Scholarship Journey | Tags: | 3 Comments

Post navigation

3 thoughts on “Scholarship Journey (7) : Memaknai Hasil Perjuangan Pertama

  1. Semoga persiapannya lancar ya dek…tetep jadi Faiz yang selalu menginspirasi. Barokallah dek 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: