Jaminan

Begitu sering rasa khawatir melanda kita dalam kehidupan. Mulai dari anak-anak kecil hingga mereka yang dewasa dan tua memiliki kekhawatirannya masing-masing. Ada banyak penyebab yang membuat mereka cemas, lantas hidup pun menjadi tak tenang.

Anak-anak sering khawatir akan nilai-nilai sekolahnya. Kadang, mereka bahkan takut pulang untuk sekedar bertemu kedua orang tuanya. Takut dimarahi, takut tak boleh bermain seperti biasanya.

Memasuki masa remaja, kekhawatiran manusia menjadi lebih kompleks. Dari aspek sekolah mereka, bisakah menembus sekolah favorit. Atau akankah aku menjuarai lomba ini, lomba itu. Apakah aku bisa membanggakan nama sekolah nantinya. Termasuk kala benih-benih cinta mulai tumbuh, rasa khawatirmu semakin kompleks. Kali ini kamu tidak hanya memikirkan dirimu sendiri, namun juga orang lain. Orang yang kau sayangi, yang ingin kau bersamai.

Lalu tibalah di mana masa-masa usia matang, kala kamu menapaki masa perkuliahan. Lagi-lagi kekhawatiranmu semakin kompleks. Tentang bagaimana perjuanganmu mendapatkan kampus favorit impianmu. Bagaimana nantinya kamu di kampus menjadi mahasiswa organisatoris, study oriented, atau kompetisi oriented, atau bahkan hanya kupu-kupu. Semakin tinggi tingkatanmu, semakin kau khawatir akan kelanjutan pasca kampusmu. Bagaimana segera berlepas dari uang saku orang tua, kau ingin segera bekerja.

Ada juga bahkan yang tetap idealis memegang prinsip mengabdikan diri ke masyarakat. Atau tak mau melamar kerja satu pun, dan kau pun semakin khawatir akan tidak membahagiakan kedua orang tuamu.

Pasca itu, ketika dirasa cukup, kau memulai pencarian teman hidup yang akan membersamaimu. Dan kembali kau khawatir karena tanpa sadar keasyikan berkarir membuatmu lupa akan usia. Tentang siapa yang membersamai, bagaimana dia bisa menerimamu nanti, bagaimana keluarganya akan menjadi keluargamu juga.

Hingga usai menikah pun tetap saja ada khawatir yang mengikuti. Kali ini bagaimana kau akan menafkahi istrimu, serta anak-anakmu. Memastikan bahwa esok hari mereka dapat makan. Bagaimana kamu akan memasukkan mereka ke pendidikan terbaik. Bagaimana agar keutuhan keluargamu tetap terjaga.

Lalu tanpa sadar akhirnya kau memasuki masa-masa senja. Rasa khawatir itu pun semakin banyak. Tentang pekerjaan dan jabatanmu, istrimu, serta sikap anak-anakmu kepadamu. Kemudian aneka macam penyakit dan larangan makan mulai menghinggapimu.

Coba kita refleksi diri. Ada begitu banyak kekhawatiran yang barangkali terjadi dalam kehidupan kita. Padahal sudah seharusnya, semakin tua kita harusnya semakin bijak menyikapi kekhawatiran. Bukankah Allah menjamin segalanya kepada hamba-hambaNya?

“…… dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan dijamin Allah rezekinya” (Surah Hud, ayat 6)  

Coba kita hitung, berapa kali kita khawatir pada hal-hal yang telah dijamin olehNya? Sementara berapa kali kita khawatir akan nerakaNya. Berapa kali kita khawatir akan ibadah kita. Berapa kali kita khawatir takkan mendapat syafaat RasulNya?

Sejauh kita berusaha, sejauh kita berdoa, maka sudah seyogianya kita tak perlu khawatir. Sebab Allah sendiri yang telah bersumpah dalam Quran, bahwa Dia akan menjamin rezeki kita.

Ada banyak kekhawatiran kita yang justru terjadi pada hal-hal yang dijamin oleh-Nya. Sementara sedikit sekali kekhawatiran kita pada hal-hal yang seharusnya kita perjuangkan untuk kelak bertemu dengan-Nya. 

Jakarta, 03 April 2018
Sore yang Cerah
Mushonnifun Faiz Sugihartanto

Categories: Renungan | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: