Tak Usah Pulang, Nak!

F : Ma, bulan depan aku pulang ya. Liburnya lumayan
M : Berapa hari memangnya?
F : 3 hari. Ya bisalah dua hari di rumah. Seharinya buat perjalanan pakai kereta
M : Lhoalah, cuman 3 hari toh, nggak usah pulang le. Nanti kamu kecapekan

Setiap kita mengabarkan kepulangan kita, tak jarang barangkali kita mendapat jawaban seperti di atas. Kepulangan yang sesungguhnya sudah pasti dinanti oleh kedua orang tua kita. Namun mereka telah cukup kuat membesarkan hati atas segala kondisi kita di rantau. Mereka telah cukup mengerti bahwa pekerjaan kita menuntut konsentrasi tinggi, emosi, juga harus sepenuh hati. Mereka bukan berpura-pura, tapi justru jauh lebih menyayangi kondisi fisikmu.

Tapi, pertemuan tetaplah mahal. Bagian yang tak bisa diganti dengan sebanyak apapun uang. Bagian yang tak bisa dirasakan walaupun setiap hari bertatap melalui video call. Maka karena itulah kuantitas waktu yang singkat seringkali melahirkan kualitas pertemuan yang tinggi.

Coba saja kamu pada akhirnya menuruti mereka untuk tak pulang. Mereka pun pasti tak masalah dan legawa. Tapi seandainya kamu memaksa untuk pulang, mereka pun tak menolak. Justru mereka akan menyambutmu dengan sebaik-baik sambutan. Membangkitkan kenangan masa kecilmu bersama mereka. Sekedar bertanya ingin dimasakkan apa, atau ingin makan di mana, atau ingin jalan-jalan ke mana. Ibumu akan bersemangat merapikan dan membersihkan kamarmu yang berdebu. Ayahmu bersemangat barangkali men-servis dan mencuci mobil untuk nanti dapat berjalan-jalan bersamamu.

Setidaknya dengan kepulanganmu kamu akan sadar ketika menatap lekat-lekat wajah mereka. Wajah ayah dan ibu yang membesarkanmu. Wajah itu terlihat makin mengeriput seiring bertambahnya waktu. Rambut mereka sudah mulai memutih seiring usia yang semakin lanjut. Langkah mereka kini tak selincah dahulu lagi saat masih bisa berlarian bersamamu kala kamu kecil.

Kepulanganmu juga akan senantiasa menyadarkanmu. Mungkin waktumu tak banyak lagi untuk membuat mereka tersenyum. Membuat mereka tertawa atas candaan-candaanmu. Atau terkadang serius manakala kau membicarakan masa depan dan calon pendamping hidupmu. Bahkan mungkin menangis ketika kau menceritakan perjuanganmu ditanah rantau.

Jadi, pulanglah walau mereka tak menyarankan. Selagi mereka masih ada di dunia. Rasa lelahmu dalam menempuh perjalanan pulang, tak sebanding dengan rasa lelah ibumu saat begadang di masa-masa bayimu. Tak sebanding dengan rasa lelah ayahmu yang mencari nafkah untuk menghidupimu.

Jakarta, 27 Februari 2018

Mushonnifun Faiz Sugihartanto

Categories: Renungan, Tulisan | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: