#ScholarshipJourney #5 : IELTS Real Test

Menapaktilasi perjuangan yang hingga hari ini belum selesai. Perjalanan yang dimulai tahun 2016 yang lalu pasca menuntaskan amanah akademik kampus. Hingga hari ini, betapa banyak pelajaran yang dapat dipetik. Bahwa hanyalah Allah sebaik-baik perencana. Hanya Allah yang mengetahui tetnang apa, kapan, di mana, dan bagaimana waktu yang terbaik untuk hamba-hambaNya. Ketika Dia merasa bahwa hambaNya telah pantas dan kuat menerima segala ketetapan dariNya, niscaya Allah tak akan segan-segan mengabulkan doa kita, bahkan memberikannya dengan cara yang jauh tak pernah kita sangka.

Melanjutkan tulisan saya yang terhenti tepat setahun silam. Pada akhirnya saya berpikir untuk melanjutkannya agar senantiasa menjadi pengingat bahwa pada setiap impian akan selalu ada perjalanan panjang dan pengorbanan. Semoga bermanfaat.

5 Januari 2017

Hari itu barangkali menjadi hari yang tak pernah terlupa dalam catatan kehidupan. Ya, tepat hari itu, saya bersama teman-teman menyeleseikan program Master Class. Rasanya lega sejenak terbebas dari tekanan tugas, tidur malam, speaking sendirian di Tongkis Pare sampe kayak orang Gila ==”, dan aktivitas pembelajaran bahasa inggris yang lainnya. Namun tentu saja akan banyak kenangan-kenangan yang barangkali akhirnya begitu dirindukan. Mulai dari kuliner yang super murah meriah (Dapur Jawa, Nasi Goreng 6000, Nasi pecel belakang TEST English School, Nasi Pecel 3000, Susu Mbok Darmi, Ketan Susu, Lalapan Warung Kita, Tahu Bulat sore hari, Masakan Jepang (lupa namanya) di Tongkis, dan lainnya), suasana pembelajaran yang begitu kondusif, mengingat kala semangat turun sedikit saja, lingkungan sekitar yang melihatkan bagaimana setiap orang berusaha melafalkan bahasa inggris, tanpa sadar menjadi pelecut yang luar biasa.

Sore itu kami berfoto bersama, lantas malamnya lanjut makan bareng. Menulis impian kami dan setiap orang menuliskan pesan keliling di sebuah kertas sebagai kenangan sederhana. Eh ada juga yang menangis terharu, ada yang senang, hingga kami berempatbelas diberi kesempatan bicara satu per satu tentang kesan dan pesan kebersamaan selama 3 bulan terakhir. Diantara kami semua ada yang memutuskan kembali, ada yang masih memutuskan menambah intensif lagi di Kampung Inggris. Saya sendiri memutuskan kembali ke Malang sembari menenangkan diri. Karena di antara teman-teman satu kelas, baru saya yang memberanikan diri untuk mem-booking real test IELTS tepat tanggal 14 Januari 2017.  Pikiranku pada waktu itu simple, mumpung masih “hangat-hangat tahi ayam” hehe.

Rumah

“Dulu, seminggu sebelum real test IELTS, waktu itu aku kan nggambil di Surabaya Iz. Jadi pas itu aku tinggal di rumah saudaraku, terus di dekatnya rumahnya kebetulan ada musholla. Waktu itu aku sudah nggak belajar lagi. Fokus ibadah, minta ke Allah SWT. Tiap hari bersihin musholla, ngaji di situ, dll. Karena waktu itu seandainya aku gagal di situ, maka pupus sudah impianku buat daftar LPDP yang batch II tahun 2016.”

– Hanif Azhar, S.T., M.Sc. , senior inspiratif dulu di kampus

 

Agaknya mungkin waktu itu aku masih belajar, barangkali belum percaya diri. Sambil tetap mendekatkan diri kepadaNya, memperbanyak ibadah di rumah. Writing entah tetap menjadi momok bagi saya, hingga pada waktu itu saya mencoba mencari soal-soal real test writing terbaru dan ter-update di internet. Untungnya waktu itu, Mr. Eddy, guru saya di English Studio bersedia mengkoreksi hasil writing saya secara jarak jauh. Di h-sekian hari real test IELTS kami masih saling mengontak via telepon untuk berdiskusi. Tetap saja masih ada problem di writing saya. Selain itu, sesuai tips dari Mister Muflih, mendekati hari H perbanyak kembali baca kosakata-kosakata yang telah di hafal beserta sambil mengingat-ingat collocation-nya.

H-3 tes pada akhirnya kucukupkan untuk menyentuh segala buku. Fokus ibadah. Tilawah, shalat malam, dan amalan-amalan baiknya. Sembari tetap refreshing lihat bola, dan lainnya agar tidak jenuh dan tegang saat hari tes.

D-Day : IELTS TEST

 

Oh ya, mengenai lokasi tes, pada waktu itu saya sengaja mengambil di IALF Malang, Balai Bahasa Universitas Negeri Malang. Pertimbangannya cuman karena dekat dengan rumah, dan juga alangkah nikmatnya kalau sebelum berangkat tes bisa mencium tangan orang tua hehe. Selain itu juga lokasi tes di Malang tentu saja tidak seramai dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya seperti Surabaya bahkan Jakarta. Ternyata benarlah. Sesampai di sana, jumlah peserta tes hanya 40 orang dan dibagi ke dua ruangan. Tempat tes ada di lantai 3 kalau tidak salah ingat. Di sana saya tiba satu jam sebelum tes, sembari menyempatkan Shalat Dhuha terlebih dahulu.

Kemudian seluruh tas dan alat-alat tulis termasuk alat elektronik harus diletakkan diluar ruang kelas. Kami hanya diperkenankan membawa kartu identitas. Pada waktu sebelum masuk kelas, kami mengisi presensi sembari panitia penyelenggara mengambil foto kami satu per satu untuk nantinya di taruh di sertifikat hasil tes IELTS.

Dan… tibalah saat itu. Hasil perjuangan selama 5 bulan terakhir pada akhirnya hari itu juga ditentukan. Waktu itu kami masuk kelas dan tempat duduk juga sudah disesuaikan dengan nomor registrasi pendaftaran. Sesi pertama dimulai dari Listening , Reading, dan terakhir baru Writing. Overall, Alhamdulillah tidak ada kesulitan yang berarti semasa saya mengerjakan Listening dan Reading. Pun demikian dengan writing, topiknya ternyata tidak terlalu susah, baik task 1 maupun task 2 nya. Hanya saja pada waktu itu saya tidak sempat menghitung jumlah kata yang saya tulis, juga sepertinya ada unbalance antara body 1 dan body 2 yang saya tulis.

Selepas menyeleseikan kesemuanya, tibalah untuk tes speaking. Nah, di sinilah kami harus mengantri. Untungnya saya waktu itu kalau tidak salah kebagian antrian ketiga. Sehingga tidak perlu menunggu lama. Nah di sinilah saya sempat membuat kesalahan dengan membuang waktu pada saat taking notes di sesi speaking section 2 hanya karena miss understanding dengan examinernya. Examiner untungnya saya mendapat yang baik, walaupun ketika speaking saya mencoba melucu namun dia tidak tertawa *entah saya yang garing atau emang dia jaim. Akhirnya untuk part 2 saya sedikit kurang terstruktur dalam menceritakan case yang diminta, karena hanya membuat notes sedikit.

Overall, hari itu lancar dan berjalan sesuai yang diekspektasikan, walaupun agak tersendat sedikit di speaking. Yah, duit 2.85 juta sekali tes hanya demi sertifikat hitam putih hari itu aku pertanggungjawabkan. Masih 13 hari lagi seharusnya pengumuman, jika tidak ada penundaan, seharusnya pada tanggal 27 Januari 2017 sudah keluar via website. Sembari menunggu, aku kembali mempersiapkan berkas-berkas beasiswa yang lainnya. Menyusun kembali timeline pendaftaran, sembari membuat backup plan seandainya ada kemungkinan-kemungkinan yang gagal.

“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Maka cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hambaNya”
QS – Al-Furqan (25) : 58

4 (+1) bulan perjuangan bahasa inggris pada akhirnya hari itu tertuntaskan melalui serangkaian IELTS Real Test. Terlepas apapun hasilnya, pada akhirnya kita sebagai manusia hanya bisa bertawakkal. Seperti yang telah saya tuliskan di atas, bahwa Allah mengetahui akan segala hasil yang terbaik yang telah kita ikhtiarkan. Tugas kita hanya menerima segala keputusanNya, sembari menyiapkan rencana-rencana yang lainnya.

Categories: Scholarship Journey | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: