Sekadar Berharap

Kita tentu saja akan senantiasa memohon kepadaNya. Agar kelak dapat merasakan kenikmatan Surga. Hingga doa-doa yang senantiasa kita panjatkan setiap harinya. Setidaknya 2 kebaikan : Di dunia dan di akhirat. Juga satu ketakutan : agar terhindar dari api neraka. Menjadi doa wajib yang senantiasa menutup rangkaian munajat panjang kita kepadaNya.

Bahkan tentu saja kita tak ingin merasakan kenikmatan itu sendiri. Ada kedua orang tua kita yang senantiasa kita doakan. Memohon kepadaNya dengan penuh sungguh agar dosa-dosa mereka, termasuk dosa kita diampuni olehNya. Agar Allah mencurahkan kasih sayangNya kepada ayah dan ibunda kita, sebagaimana mereka mencurahkan kasih sayangnya pada kita saat kecil. Ya, hanya itu yang bisa kita lakukan, sebab sekuat apapun kita membalas, takkan mampu menyamai kasih sayang mereka kala kita tak berdaya.

Lalu masih banyak permintaan yang senantiasa kita panjatkan kepadaNya. Tentang rezeki, karir, jodoh, serta hal-hal lain seolah menjadi wishlist yang tak henti-hentinya dipanjatkan. Bahkan barangkali kita bosan, namun bukankah Allah meminta hamba-hambanya untuk berdoa kepadaNya?

Namun pernahkah kita merasa bahwa apa yang kita minta tak sebanding dengan apa yang kita kerjakan? Kita bukanlah generasi terbaik seperti para sahabat Rasulullah di masanya. Kita tak pernah merasakan pertaruhan nyawa melalui perang di jalanNya. Bahkan hafalan Quran dan Hadis pun dijamin tak ada apa-apanya dengan generasi sebelumnya.

Lantas, jika dipikirkan kembali, layakkah kita untuk meminta? Bahkan sekedar berharap pun barangkali kita belum layak. Jika amal dan ibadah serta kecintaan kepadaNya dan RasulNya yang menjadi ukuranNya dalam mengabulkan munajat kita, bisa saja tak ada satu pun doa kita yang terkabulkan olehNya. Namun justru karena luasnya rahmat dan kasih sayangNya lah, doa-doa kita satu per satu diturutiNya.

Maka janganlah sekali-kali takabbur. Kita tidak ada apa-apanya. Untuk sekedar berharap saja barangkali kita tak layak. Jangan sekali-sekali kufur. Meminta kepadaNya tanpa memuji dan menyebut asma-asmaNya. Kemudian jika Dia mengabulkan keinginan kita, lantas kita lalai dalam bersyukur.

Sebab itulah, kita layak untuk sekedar berharap, bukan karena amal-amal kita. Tapi karena sifatNya, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Maha Pengampun atas segala dosa. Serta Maha Kuasa akan segala peristiwa. 

Jakarta, 4 Januari 2018
@faizunaa

Categories: Renungan | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: