Lelah : “KaruniaNya”

Terkadang kita lelah dengan pekerjaan yang ada. Ingin berhenti sejenak. Bersantai di rumah. Atau bahkan lari dari segala aktivitas rutin yang ada. Bahkan tak jarang perasaan ingin berhenti total atau keluar dari segala kesibukan yang ada.

Sementara di sana ada orang-orang yang tak kunjung memperoleh sarana mencari nafkah. Ia lelah, bukan seperti lelahmu. Justru ia ingin merasakan rasa lelah yang kau rasakan. Ketika ia masih berkutat dengan pencarian kepastian, sementara kamu justru lelah dengan segala kepastian yang diamanahkan olehNya.

Ada pula seorang ayah yang mengeluh akan lelahnya mengasuh anak-anaknya. Kala yang si sulung telah menginjak bangku sekolah, betapa ia harus menyediakan waktu untuk mengantar dan menjemputnya. Menemaninya belajar. Memastikan agar asupan gizinya tak kurang. Belum lagi kala putra atau putri yang kedua yang masih bayi menangis merengek-rengek rewel. Bahkan tengah malam pun yang seharusnya menjadi waktu beristirahat, justru menjadi waktunya tuk bersiaga. Sementara anak ketiga yang dikandung istrinya membuatnya menjadi jauh lebih pontang-panting. Kala istrinya ngidam sesuatu, hingga tak jarang justru setelah ia dapatkan keinginan istrinya, hanya dimakan sedikit saja.

Padahal di sana ada yang ingin merasakan lelahnya mengasuh anak-anak kandungnya. Telah ia habiskan berpuluh juta untuk membuat istrinya mengandung. Berbagai obat, berbagai metode seakan telah dicobanya. Namun Allah tak kunjung mengamanahkannya.

Lalu beranjak ke kampus, ada banyak pula mahasiswa yang lelah dengan padatnya tugas akademik. Belum lagi ia kala memutuskan mengikuti banyak kegiatan. Tugas kuliah dan organisasi yang mulai keteteran. Tak jarang pulang lewat tengah malam. Terlebih bagi mereka yang masih memilih organisasi di tahun di mana sudah seharusnya ia berfokus kepada tugas akhirnya.

Sementara itu tak jauh dari kampus tempat ia belajar, banyak anak-anak yang lelah memikirkan bagaimana ia kelak bisa berkuliah. Faktor ekonomi, kecerdasan yang tak seberapa, hingga yang lainnya. Bahkan tak sedikit di antara mereka yang pada akhirnya lelah, hingga mengubur impiannya dalam-dalam tuk merasakan bangku perguruan tinggi.

Maka lelah, sesungguhnya adalah penanda jika kita telah berjuang. Justru bersyukurlah jika kamu merasa lelah. Setidaknya kamu sadar bahwa setiap manusia  memiliki keterbatasan. Maka lelah, barangkali adalah “bonus” dariNya akan segala perjuangan yang telah kita lakukan.

Berhentilah sejenak sembari bermunajat kepadaNya. Jangan takut lelah, sebab jika kau tak pernah merasa lelah, justru seharusnya kau takut ketika kelak dimintai pertanggungjawaban olehNya.

Categories: Renungan | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: