Scholarship Journey #2 : WasThibarin – Minal Mahdi Ila Al-Lahdi

Menapaktilasi perjuangan yang hingga hari ini belum selesai. Perjalanan yang dimulai tahun 2016 yang lalu pasca menuntaskan amanah akademik di kampus. Hingga hari ini betapa banyak pelajaran yang dapat dipetik. Bahwa hanyalah Allah sebaik-baik perencana. Hanya Allah yang mengetahui tentang apa, di mana, kapan, dan bagaimana waktu yang terbaik untuk hamba-hambaNya. Ketika Dia merasa bahwa hambaNya telah pantas dan kuat menerimanya, maka Allah tak akan segan-segan mengabulkan doa kita, bahkan memberikannya dengan cara yang jauh tak pernah kita sangka.

Tulisan ini pernah saya post dahulu di blog saya sebelumnya, dan saya repost kembali agar senantiasa menjadi pengingat bahwa pada setiap impian akan selalu ada perjalanan panjang dan pengorbanan. Semoga bermanfaat 🙂

Throwback : #Scholarship Journey – Episode Pare (2)

“Alaalaa tanaalul ‘ilma illa bisittaatiin. Saunbiika ‘an majmuu ‘ihaa bibayaani. Dakaai wa khirsin wa asthibaarin wa bulghotin. Wa irsyaadi ustaadzin wa thuuli zamaani”

Ingatlah tentang enam syarat menuntut ilmu, maka akan aku ceritakan kesemuanya. Yaitu kecerdasan, semangat, sabar, dan ada biaya. Juga adanya didikan guru serta waktu yang lama.  – Kitab Alala Tanalul ‘Ilma.

Hari-hari terakhir menjalani IELTS Camp entah mengapa syair ini menjadi perenungan saya. Syair yang katanya diajarkan di pondok-pondok *karena saya nggak pernah masuk pondok* sebagai dasar yang harus dihafalkan dan dipahami oleh para santri-santrinya ketika mereka mengawali proses pembelajaran di pondok pesantren tersebut. Saya mengetahui syair ini dahulu ketika masih di MIN I karena kebetulan menjadi bahan ceramah yang diberikan ayah saya untuk mengikuti lomba Dai Cilik. Dan entah mengapa baru akhir-akhir ini mencoba meresapi maknanya.

Sebulan di Pare performa saya juga tidak bagus-bagus amat. Mungkin sudah mencapai peningkatan, namun belum sesuai yang diharapkan. Setiap hari bahkan seminggu terakhir dua kali sehari menjalani scoring, namun hasilnya masih dibawah target. Entah terkadang karena kurang teliti, penulisan salah, grammatical error, lagi nggak fokus pas listening, blank waktu speaking, dan kesalahan-kesalahan sepele lainnya. Hingga akhirnya muncul sebuah pertanyaan, apakah memang sebulan ini tidak cukup?

Sejujurnya memang saya tidak pandai-pandai amat bahasa inggris. Apalagi dalam aspek writing khususnya grammar ditambah penguasaan vocabulary yang masih minim. Hingga lagi-lagi saya kembali mencurahkan isi hati ke saya ke ayah. Tentang perjuangan sebulan penuh yang cukup menguras pikiran dan rencana-rencana lain pasca program sebulan. Jawaban beliau lagi-lagi cukup menyentak dan menyadarkan saya.

“Namanya menguasai ilmu kok cuman sebulan, nggak ada itu cerita seperti itu. Masa kamu lupa sama syair Kitab Alala,”ujar beliau. JLEB. Ya, setidaknya ada dua aspek yang beliau garisbawahi kepada saya pada waktu itu.

Pertama adalah aspek sabar. Entah kata ini yang terlupakan selama sebulan di sana *hiks, ampuni hamba Ya Allah T_T*. Bahwa para penuntut ilmu hendaknya memiliki kesabaran. Pepatah mengatakan mengukir di atas batu , bukan menulis di atas kertas. Tentu saja butuh kesabaran dan keuletan dalam melakoninya. Tidak ada sesuatu yang instan karena semua membutuhkan proses. Dan tiba-tiba ayah saya kembali mengingatkan tentang kisah Ibnu Hajar Al-Asqalani. Sosok ulama’ besar yang dilahirkan di Bumi Mesir.

Beliaulah yang pernah frustasi dalam sekolahnya karena ia selalu tertinggal dengan teman-temannya. Dikenal sebagai sosok yang rajin, namun nyatanya ia sering lupa dengan pelajaran-pelajaran di sekolahnya. Hingga akhirnya merasa minder dan putus asa, beliau meminta izin kepada gurunya untuk meninggalkan sekolah.

Qadrullah, ternyata ia ketika sedang di sebuah perjalanan terjebak hujan dan mengharuskannya untuk berteduh di sebuah gua. Dan tiba-tiba, beliau melihat batu yang sangat besar sedang tertetesi air hujan. Ia mengamati terdapat lubang di batu tersebut dan itu bekas dari tetesan air hujan dari tempat yang sama. Maka muncullah sifat tafakkurnya. Batu yang sebegitu kerasnya saja bisa kalah oleh air yang hanya setetes namun menimpa terus menerus. Bagaimana dengan akal pikirannya yang sekarang pun juga dalam kondisi keras, namun suatu saat pasti akan pecah ketika terus menerus ditetesi ilmu.

Maka kembalilah Ibnu Hajar kepada gurunya, dan seperti yang kita tahu sekarang, beliau menjadi ulama’ besar dengan salah satu karya monumentalnya, Kitab Bulughul Maram.

Kedua, adalah seumur hidup. Seringkali dalam perenungan diri menyesali tentang “keterlambatan” yang terlanjur dilakukan. Entah mungkin seharusnya dari dulu saya lebih sungguh-sungguh dalam menekuni Bahasa ini. Di saat mungkin teman-teman lain sudah berleha-leha atau bersantai dengan Bahasa inggris yang berkualitas ala native, mungkin saya termasuk yang pas-pasan dengan kualitas dan logat ala orang jawa. Namun bukankah tidak ada kata terlambat dalam menuntut ilmu? Bukankah menuntut ilmu itu seumur hidup? Seolah-olah ini menjadi cambuk bagi saya yang masih 22 tahun ini. Bahwa semoga saya masih punya banyak waktu untuk mereguk tetes-tetes ilmuNya.

Saya menjadi ingat sekitar bulan april yang lalu media sempat lumayan heboh dikarenakan seorang kakek berusia 61 tahun mengikuti Ujian Nasional di Bogor. Ketika ditanya motivasinya, ia hanya ingin memberikan contoh bahwa pendidikan tetaplah penting walaupun sudah tua. Ia berpendapat lebih baik mendapat ijazah asli walaupun gagal berkali-kali daripada ijazah palsu. Begitu inspiratifnya kisah beliau ini sehingga entah mengapa seakan saya lagi-lagi merasa tersentak karena telah mengeluh susahnya Bahasa inggris, sementara Allah masih berikan saya kesempatan dan usia yang masih muda.

“Ilmu adalah bukan bicara tentang hasil. Namun bagaimana proses mendapatkannya. Ada yang susah ada yang mudah, namun tetaplah kita harus memohon kepadaNya agar diberikan kemudahan dan kekuatan dalam menguasainya.

Ilmu adalah proses. Dan seninya adalah menikmati proses. Bagaimana kita bukan hanya menuntut ilmu, namun mencintai ilmu, mengamalkannya sehari-hari, hingga ilmu yang kita dapatkan bukan sekedar untuk diri sendiri, namun bermanfaat untuk sesama.

Ilmu pada hakikatnya adalah milikNya semua. Maka tentu tak sembarang orang mendapat izin dariNya untuk menguasaiNya. Luruskanlah niat dalam menuntutnya sembari berharap Allah izinkan kita untuk sekedar menguasai seteguk ilmuNya. Karena kita tak mungkin serakah. IlmuNya jauh lebih luas dari langit seisinya.

Dan jika IlmuNya seakan menguji kita dengan susah, ingatlah bahwa bunga-bunga keberhasilanmu tengah siap merekah, surgaNya jauh lebih indah, selama kita lillah, fillah, billah”

*Merehatkan sejenak dari Pare untuk sebulan ke depan, sambil belajar mandiri. Sembari bersiap melesat kembali ke Kampung Inggris untuk fokus kembali

Pare, 3 September 2016

Categories: Scholarship Journey | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: