Scholarship Journey #1 : Seminggu di Pare

test.jpg

Menapaktilasi perjuangan yang hingga hari ini belum selesai. Perjalanan yang dimulai tahun 2016 yang lalu pasca menuntaskan amanah akademik di kampus. Hingga hari ini betapa banyak pelajaran yang dapat dipetik. Bahwa hanyalah Allah sebaik-baik perencana. Hanya Allah yang mengetahui tentang apa, di mana, kapan, dan bagaimana waktu yang terbaik untuk hamba-hambaNya. Ketika Dia merasa bahwa hambaNya telah pantas dan kuat menerimanya, maka Allah tak akan segan-segan mengabulkan doa kita, bahkan memberikannya dengan cara yang jauh tak pernah kita sangka. 

Tulisan ini pernah saya post dahulu di blog saya sebelumnya, dan saya repost kembali agar senantiasa menjadi pengingat bahwa pada setiap impian akan selalu ada perjalanan panjang dan pengorbanan. Semoga bermanfaat 🙂 

Throwback : #Scholarship Journey – Episode Pare (1)

“Every choice has a consequences. It means you must prepared well or you will be defeated  by your decision” – Anonymous

Walaupun meniatkan diri untuk “berpuasa” dari aktivitas tulis menulis selama di Pare ini pada akhirnya saya menyerah juga *peace*. Ya, setidaknya masih bisa menahan dari kebiasaan dan aktivitas tak produktif lainnya *nonton anime, main PES, dst*. Entah mengapa bagi saya menulis merupakan sarana me-refresh otak setelah berbagai pressure yang mendera *fix yang ini lebay*.

Kehidupan pasca kampus memang seringkali memunculkan pertanyaan, mau ke mana setelah lulus? Sebab ruas jalan begitu banyak macamnya seolah terbentang di depan. Dan tentu saja pilihan itu kembali ke pribadi masing-masing. Sekali lagi dan setiap pilihan mengandung konsekuensi masing-masing.

Merujuk ke lifeplan yang telah dituliskan, pada akhirnya saya memutuskan kembali tholabul ilmi. Setelah merasakan lelahnya mengerjakan tugas akhir, euforia kelulusan sejenak pasca sidang, “riwuh”nya mengurus yudisium, pada akhirnya kaki ini membawaku ke sebuah tempat yang sebenarnya berkali-kali aku ingin mengunjunginya untuk belajar di sana, namun belum kesampaian. Kampung Inggris, Pare.

Sempat pasca sidang, diri ini langsung bergerak cepat untuk apply berbagai pekerjaan. Ya, pasca sidang bulan Juli yang lalu, lowongan pekerjaan mengalir begitu derasnya. Dan saya barangkali bersyukur ditakdirkan olehNya berada di jurusan Teknik Industri, yang katanya sih biasanya banyak tenaga yang dibutuhkan, dan hampir berbagai perusahaan memiliki posisi untuk lulusan bidang ini.

Hingga akhirnya, barangkali Allah menjawab doa-doa yang senantiasa dipanjatkan, dan tak sedikit dari lamaran yang telah dikirimkan berbuah jawaban panggilan untuk tes. Bahkan ada yang telah sampai tahap wawancara. Keinginan dalam hati untuk segera mandiri sepenuhnya dari kedua orang tua seakan Allah hadirkan melalui jawaban dari berbagai lamaran pekerjaan.

Namun dalam setiap kenikmatan pasti selalu ada ujian yang datang. Ya, entah mengapa Allah takdirkan di semua jawaban selalu bersamaan dengan momentum intensif IELTS di Kampung Inggris. Sempat muncul kegalauan, akankah peluang yang sudah jelas di depan mata akan disia-siakan. Namun entah mengapa saya bersyukur memiliki kedua orang tua yang selalu mengingatkan tentang impian besar yang telah tertulis di lifeplan. Bahwa dalam setiap perjalanan menuju impian besar akan ada godaan-godaan kecil yang melenakan. Begitulah ayahku berpesan. Hingga akhirnya bismillah, kuputuskan menolak semua panggilan wawancara ataupun tes dari berbagai perusahaan yang tentu sempat memunculkan kekecewaan.  Namun lagi-lagi kedua orang tua selalu membesarkan bahwa akan ada hikmah di setiap keputusan.

Ternyata pada akhirnya saya merasa tak salah mengambil keputusan. Tepat 8 Agustus 2017 yang lalu saya berangkat ke Pare demi merajut impian melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Suasana pare yang cukup tenang, di tambah dengan atmosfer belajar sekitar saya pada akhirnya membuat spirit belajar yang barangkali cukup lama tertidur kembali bangkit kembali. Walaupun ternyata memang tidak mudah untuk membiasakan diri, namun semoga perjuangan ini tercatat dalam tinta emas catatan amal kelak yang akan dipertanggungjawabkan di hadapanNya.

Dan tanpa terasa sudah seminggu berlalu. Hampir setiap hari dihajar oleh soal-soal IELTS namun entah mengapa hasilnya hanya stuck begitu-begitu saja. Di angka 5 atau 5.5. Masih jauh dari target yang diimpikan, padahal 7 hari telah berlalu. Itu artinya hanya tersisa sekitar 2 minggu lagi di sini.

Hingga akhirnya saya sempat merasa jenuh. Apalagi saat melihat notifikasi hp dari grup angkatan, grup kuliah, hampir semua sedang berjuang mendapatkan pekerjaan. Di saat semua teman-teman saya memilih jalan untuk agar segera berlepas diri dari beban orang tua, saya justru malah masih kembali “merepotkan” keduanya dengan kembali belajar dan tentu dengan biaya yang tidak sedikit.

Seminggu terakhir entah mengapa saya berusaha mengubah pola hidup saya. Tidur selepas isya, atau semaksimal mungkin jam 10 malam, dan bangun tengah malam, belajar sendiri di tengah dengkuran manusia hingga pagi, lalu meniatkan diri untuk shalat malam, dilanjut tidur sebentar hingga subuh seperti kebiasaan Rasulullah, dan terus berusaha meningkatkan amalan yaumi lainnya, sebab saya percaya bahwa kekuatan doa adalah kekuatan tanpa batas.

Pun demikian saat meniatkan diri untuk belajar di tengah malam, sebab entah saya merasa terinspirasi dari kisah Fahri di Ayat-Ayat Cinta 2, bahwa seorang muslim sudah seyogianya berjuang lebih dari umat yang lainnya, yang seringkali tidur jam 2 malam hanya untuk belajar dan bangun sebelum subuh agar sempat bermunajat kepadaNya, walaupun seminggu terakhir justru seringkali saya ketiduran di tengah belajar di tengah malam. Tentu saja sembari berharap semoga lelahnya pembiasaan ini demi mengharap ridhoNya, agar Allah tuliskan manisnya kisah kelak setelah semua proses berdarah-darah ini usai.

Dan entah mengapa di sepertiga malam terakhir selalu termenung. Sudah seminggu atau masih seminggu? Saya kembali teringat akan nasihat sahabat saya, Fajrin yang sekarang sedang menuntut ilmu di Universitas Madinah, dan ia menempuh 2 tahun pertamanya dengan belajar bahasa Arab. Bayangkan, 2 tahun untuk sebuah bahasa. Ia pun sempat berambisi menyeleseikannya lebih cepat, entah hanya enam bulan atau setahun. Namun sekali lagi, bahwa orientasi menuntut ilmu dalam islam bukan pada hasil, tapi pada proses. Bahwasanya lamanya waktu menuntut ilmu-lah yang harus dinikmati, yang harus berusaha dicintai. Sama hal nya dengan para penghafal Al-Quran bahwa mengapa mereka menjadikan Al-Quran selain dihafalkan juga diamalkan setiap hari, diserapi maknanya, dan ia cintai prosesnya.  Begitulah kata seorang Syekh-nya di Madinah. Maka ia pupuskan niatan tersebut, dan menikmati setiap proses belajarnya.

Dan kini kembali dihadapkan pertanyaan “Sudah Seminggu” atau “Masih Seminggu” ? Keduanya tidak salah, namun bagaimana kita memposisikan dalam diri kita.

“Sudah seminggu”, semoga dengan kata-kata ini kita selalu terpacu bahwa waktu itu singkat, waktu itu sempit. Hanya 24 jam, maka selama seminggu terakhir, sudah dapat apa kita? Apa yang sudah kita lakukan? Sudahkah segala aktivitas kita ini produktif ? Tentu saja semoga tak muncul mindset bahwa dengan kata-kata “Sudah Seminggu” itu berarti hanya tinggal 2 minggu lagi untuk mencapai target. Tentu itu salah besar, dan inilah rahasia kata “Masih Seminggu”. Ya, masih sedikit waktu kita untuk menuntut ilmu, sebab ilmu hakikatnya adalah proses. Tak ada sesuatu yang instan yang dapat dicapai hanya dalam waktu singkat. Sebab ilmu pada hakikatnya adalah pembelajaran seumur hidup. Minal mahdi ilallahdi, dari ayunan ibu hingga ke liang lahat. Begitulah Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah melukiskan dalam syairnya.

Dan barangkali inilah perihnya perjuangan yang harus dirasakan. Inilah perihnya pilihan di saat teman-temanmu berjuang untuk mencari pekerjaan agar segera mandiri dari orang tuanya, barangkali saya masih jauh dari tahapan itu. Namun saya percaya bahwa justru jalan inilah yang jauh lebih didukung oleh kedua orang tua saya, jalan yang terlihat pahit bagi saya namun sungguh manis bagi mereka berdua. Dan bukankah lebih baik berpahit diri selama ayah dan ibumu merasakan manis ?

*Pasca Scoring, dan lagi-lagi hasilnya hanya 5.5. Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan dan kemudahan.

Jum’at 19 Agustus 2016
09.15

Categories: Scholarship Journey | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: