Awan

Ia dinanti. Manakala siang hari. Di kala terik mentari menyinari bumi. Memberi keteduhan tersendiri. Tak jarang semilir angin turut menemani. Meredakan panasnya bumi. Mengurangi peluh keringat yang bercururan tiada henti.

Ia dibenci. Manakala hujan membasahi. Deras tanpa kompromi. Abu-abu kelabu, hingga kehitaman mewarnai. Membuat bencana di sana-sini. Banjir, longsor, hingga angin tornado menghantam semua yang dilewati. Kilat menyambar di selanya tanpa kompromi. Membuat manusia tak tahu arah berlari.

Ia dirindu. Ketika masa kemarau. Disebut dalam doa dari tenggorokan yang telah parau. Bahkan manusia menshalatkan di setiap surau. Bermunajat tiap 5 waktu. Agar setidaknya ia kembali di satu waktu. Menurunkan rahmatMu.

Ia dicinta. Oleh manusia yang senantiasa mensyukuri nikmatNya. Tak peduli kapan ia tiba. Entah ia membawa hujan, teduh, atau bahkan bencana. Sebab ia hakikatnya adalah rahmat Yang Maha Kuasa. Bisa berupa kasih sayang atau peringatan dariNya. Cukuplah alam menjadi peringatan dan tanda-tanda. Akan segala perbuatan manusia

Jakarta, 2 Desember 2017

Categories: Renungan | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: