Baik-Baik Saja

*Chatting sama Ummi*

U : Doakan nak, ini lagi perjalanan pulkam ke Mojokerto. Saudaramu di sana pada kangen  humor-humormu anak shaleh 🙂
A : Iya ma, aku kangen pulang T.T
U : Belajar dari sekarang pulang lama sayang. Biar kuat nanti kalau studi di LN. 

Bisakah kita membayangkan bagaimana ekspresi wajah dan perasaan ibunda kita saat menguatkan kita? Barangkali justru beliaulah yang terlebih dahulu menitikkan air mata. Tak sekali mereka menguatkan, walau barangkali mereka amat sangat rindu pada anak-anaknya.

Kalau dipikir-pikir barangkali kita pun sering bertanya kabar kondisi kesehatan, rumah, dan lainnya. Dan mereka hampir akan selalu menjawab baik-baik saja. Terlebih ketika kau merantau untuk mencari nafkah, studi, dan lain sebagainya. Bahkan jika mereka sedang sakit pun, mereka akan mengaku dengan kalimat dengan bilang baik-baik saja.

Pun demikian jika kita mengingat masa-masa kecil. Ketika kita memecahkan sesuatu, merusakkan barang berharga, mencoret-coret dokumen kerja. Tentu saja sebagai manusia biasa mereka ingin rasanya menumpahkan amarah. Namun justru di situlah ujian bagi mereka saat memaafkanmu, menasehatimu pelan-pelan, mungkin paling parah hanya mendiamkan.

“Baik-Baik Saja”. Kata-kata yang akan selalu sering kau dengar dari kedua orang tuamu. Karena mereka sadar, mereka tak ingin membebani pikiranmu. Mereka sadar jika pekerjaanmu, studimu, dan kesibukanmu di rantau telah cukup menguras pikiran dan rasa stress-mu. Jadi? Lagi-lagi mereka tak ingin menambah bebanmu.

Hal inilah yang seringkali membuat saya pribadi memilih menyendiri jika ada masalah. Memilih bercerita pada orang lain jika butuh pemecahan masalah. Menitikkan air mata kepadaNya jika merasakan tekanan atau malah hanya pikiran sendiri belaka.

Tentu saja bukan bermaksud menutup-nutupi masalah kita pada orang tua, namun tentu tidak semua harus kita ceritakan. Sebab barangkali keterjauhan kita tentu saja sudah cukup menjadi pikiran bagi mereka. Maka, seperti mereka dahulu memperlakukanmu, kala mereka yang bertanya kabar, kita pun cukup menjawab “Baik-Baik Saja”.  Meyakinkan mereka dengan pencapaian prestasi kerja kita, serta mendoakan mereka dalam setiap sujud kita. Sebab, yang membuat mereka “baik-baik saja” tidak cukup hanya dengan kata-kata. Tapi juga dengan doa.

Abi, Ummi, semoga engkau berdua selalu baik-baik saja. Dalam lindunganNya. Dalam limpahan rahmat dan kasih sayangNya. Seburuk apapun kondisiku di sini, aku hanya tak ingin membuatmu khawatir, karena sudah terlalu sering dahulu ketika aku kecil, kau dibuat khawatir oleh tingkah lakuku. Sementara ketika aku ingin mengkhawatirkanmu, engkau selalu berkata “baik-baik saja”. 

Jakarta, 28 Oktober 2017
@faizunaa

Categories: Tulisan | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: