Cara Allah Merindu Kita

Pada setiap persimpangan jalan kehidupan, akan senantiasa ada rindu yang menyeruak. Kepada saudara, teman, keluarga, bahkan Sang Pencipta. Dan kita punya banyak cara untuk mengekspresikannya. Dari senyum bahagia hingga linangan air mata. Anggap saja, manusia punya seribu cara, lalu bagaimana dengan Dia?

Pernahkah kita membayangkan bahwa sesungguhnya Allah SWT jauh lebih merindukan kita? Bahkan terhadap manusia yang berlumur dosa pun, Allah SWT dengan segala rahmat dan kasih sayangnya masih menunjukkan rasa rindunya.

Ada orang yang baik agamanya baik ilmu maupun amalnya. Lantas Allah memberikan ujian kepadanya. Entah dicabutnya kenikmatan, kehilangan harta bahkan keluarga, atau yang lainnya. Namun bukankah itu caraNya agar hamba tersebut makin dekat kepadaNya? Sebab bagi orang yang Shalih, ujian adalah pemanis kehidupan. Ujian adalah proses ia menuju ekskalasi pendekatan pada Tuhan.

Tapi bisa saja dalam ujian tersebut justru hambaNya malah menjauh. Kecewa pada illahi rabbi. Padahal ia telah curahkan seluruh hidupnya semata-mata hanya untukNya. Segala aktivitasnya, hartanya, serta jiwanya. Maka di sinilah hikmah yang harus kita ambil bahwa setiap kerinduan pasti akan selalu ada ujian. Jika terhadap pasangan kita ada istilah Long Distance Relationship, dan itu pun ujian, lalu bagaimana terhadap Tuhan kita? Padahal Ia jauh lebih dekat dari tulang rusuk kita.

Ada pula. orang yang bahkan nyaris tak mengenalNya. Bahkan panggilan 5 kali sehari pun ia abai kepadaNya. Justru malah Allah berikan kenikmatan yang berlimpah kepadaNya. Seakan tak perlu mendekat kepadaNya, namun Allah tetap cukupkan dunianya. Apakah ini ketidakadilan? Bisa saja ini adalah caraNya agar manusia tersebut bersyukur kepadaNya. Sementara syukur adalah salah satu ekspresi rindu manusia kepada TuhanNya. Terkadang Ia menggunakan cara-cara yang halus, berupa kenikmatan yang tak terhingga.

Namun ada kalanya justru Allah timpakan peringatan. Entah berupa penyakit, kehilangan, hingga dicabutnya nikmat hambaNya tersebut. Lantas ia akhirnya sadar, bahwa Allah masih merindukanNya. Allah hanya berikan rasa sakit agar ia berhenti dari aktivitas keduniannya. Dalam kondisi tak bisa apa-apa, dan hanya berbaring saja, maka di situlah rasa rindu ia ekspresikan lewat air mata. Ia ekspresikan lewat taubatan nasuha.

Dan jika rinduNya telah memuncak, pada orang-orang yang shalih, maka tiada cara lain selain memanggilnya. Kembali kepadaNya, menghadapNya. Kembali ke tempat arwahnya bermula. Sayangnya ada yang justru ketika Allah merindunya, ia sedang dalam kondisi keimanan yang alpa. Maka ketika Allah rindu, lantas kita tidak,bukankah itu akan menyakitkan?

Logikanya sederhana. Perjumpaan kedua manusia yang sama-sama rindu, akan hadirkan bahagia yang luar biasa. Jika saja salah di antaranya ada yang tak punyai rasa rindu, maka sebaliknya akan sakit luar biasa. Ya, sesederhana itu logikanya, ketika kita kelak berjumpa denganNya. Semoga kita dalam puncak kerinduan kepadaNya ketika kelak kembali ke hadapanNya.

Jakarta, 15 Oktober 2017
Mushonnifun Faiz S.

Categories: Renungan | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: