Yang Takkan Bisa Dicari (Lagi)

HRD  : Jika anda harus memilih antara keluarga atau perusahaan, mana yang anda pilih?
B       : Tentu saja keluarga pak.
HRD  : Lho, berarti anda menomorduakan perusahaan dong?
B       : Bukan seperti itu juga pak. Tentu saja saya akan berusaha profesional dan sepenuh hati dalam pekerjaan saya. Namun jika suatu saat bapak menemui kondisi di mana perusahaan dalam kondisi gawat, sementara ternyata anak saya sedang kritis di rumah sakit, tentu saja bapak tahu saya akan memilih yang mana.
HRD  : Anda tidak takut dipecat berarti?
B       : Tidak pak, sebelumnya mohon maaf. Namun prinsip saya, andaikata saya pun dipecat, pekerjaan dan rezeki itu masih bisa dicari kembali. Namun jika saya gagal dalam keluarga saya, maka saya tak tahu harus mencari ke mana lagi.

Seminggu kemudian hasil interview pekerjaan pun diumumkan, dan B diterima di perusahaan tersebut. 

Percakapan di atas adalah kisah nyata yang pernah dialami oleh seorang senior saya, sebut saja namanya Mas B. Tepatnya sekitar 2 tahun lalu saat saya mendapatkan kesempatan kerja praktik di salah satu perusahaan di Jakarta, saya sekaligus bersilaturrahmi ke Mas B, yang pada waktu itu kebetulan memang sudah 8 tahun tak bertemu. Kebetulan waktu itu masnya sudah berkeluarga sehingga di rumahnya saya berdiskusi dengan istrinya ditemani debay-nya.

Banyak sekali wejangan-wejangan yang beliau sampaikan kepada saya terutama mengenai dunia pasca kampus pada waktu itu. Dan entah mengapa setelah dua tahun berlalu saya kembali merenungkan tentang ini. Pada waktu itu saya berpikir bahwa dari pihak HRD hanya ingin melihat seberapa kuat karakter Mas B dengan pertanyaan tersebut. Setelah direnungkan mendalam, ternyata lebih dari sekedar itu.

Tentu saja kita sering mendengar betapa banyak orang yang memiliki karir yang cemerlang dalam dunia kerjanya. Menjadi petinggi perusahaan di usia muda, mendapatkan materi yang berlimpah, menikmati gaya hidup yang mewah, seakan semuanya terasa nikmat. Namun acapkali dibalik itu semua, justru keluarga merekalah yang terkorbankan. Anak berperilaku menghambur-hamburkan uang, istri pun tak terurus, bahkan tak sedikit yang berujung ke perceraian. Dan lagi-lagi yang terkorbankan adalah anak.

Dengan hal seperti itu, sehingga tak sedikit orang yang justru membawa persoalan keluarga ke pekerjaannya. Berimbas pada performanya. Melampiaskan kemarahan dan rasa stress justru pada anak buahnya. Sehingga sekalipun karirnya cemerlang, justru orang tersebut menjadi naik turun, tak stabil, moody, dan hal-hal negatif lainnya. Bahkan tanpa sadar ia juga mendholimi bawahannya. Menambah daftar orang yang ia sakiti hatinya.

Lain halnya dengan mereka yang mengutamakan keluarganya. Setidaknya setelah merenungkan lebih jauh maka ada beberapa aspek yang menjadi kelebihannya. Maka pantaslah jika HRD yang mengerti akan memilih dia.

Pertama, bagi ia yang mengutamakan keluarganya, secara tak langsung ia meniatkan pekerjaannya untuk ibadah. Kebayang ga sih, jika segala sesuatu telah diniatkan untukNya, maka sudah tentu ia akan totalitas di dalamnya. Sebab ia yakin bahwa dalam setiap butir keringatnya, akan ada pahala yang mengalir untuknya. Karena ia paham, bahwa dengan nafkah yang ia dapat, selain untuk menafkahi keluarganya, ia mampu bersedekah darinya.

Kedua, tentu saja dia tak akan memiliki masalah banyak dengan keluarganya. Hal ini pun akhirnya berimbas pada pekerjaannya. Jika keluarganya saja dimuliakan, apalagi dengan rekan kerjanya, bawahannya, juga dengan pekerjaannya. Barangkali mungkin karirnya di awal tak secepat mereka yang totalitas pada pekerjannya. Namun saya yakin bahwa ia akan bahagia, perlahan tapi pasti akan mencapai karir yang baik dan yang lebih tinggi.

Ketiga, yang paling penting adalah bahagia. Untuk apa karir yang baik serta materi yang berlimpah jika pada akhirnya tidak mendapat kebahagiaan. Karena hakikat dari pekerjaan itu adalah bagaimana kita menikmatinya. Enjoy di dalamnya. Bukan semakin hari justru semakin tertekan, yang pada suatu waktu ketika ia memilih memendamnya maka sudah pasti akan menumpuk dan bisa meledak sewaktu-waktu. Tentu saja ini yang tak diharapkan.

Kisah nyata di atas setidaknya menjadi renungan, bahwa pintu rezeki telah Allah sebar di dunia, dan kita tinggal memilih yang mana. Kadang bahkan pintu itu terbuka sendiri tanpa kita sangka sama sekali. Lain halnya dengan keluarga, sudah menjadi komitmen dan keinginan semua orang bahwa semenjak mengucap akad, maka yang tersebut dalam doa adalah sakinah, mawaddah, wa rahmah. Satu untuk selamanya, hingga surga. Apalagi jika suatu saat seorang keluarga kehilangan pekerjaannya, karena ia mengutamakan keluarga, pastilah Allah akan berikan pintu rezeki yang lain. Bukankah Allah sendiri yang menjamin rezeki bagi mereka yang memiliki keluarga? 

Jadi… segeralah berkeluarga (?) *ngomong sama diri sendiri*

Jakarta, 13 Oktober 2017
Mushonnifun Faiz Sugihartanto

Categories: Journey | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: