Melepaskan

P : (missed call)

F : (lagi lembur, ga liat hp)

F : (19.30, nyampe kos, buka hp. Trus chat) Ada apa pa, miscol ? Maaf tadi masih lembur.

M : Nggak apa apa le. Kangen aja. Ini adik sedang nggak di rumah. Rumah jadi sepi.

F : (*mewek, mendadak homesick)

Saya menyadari bahwa suatu saat akan tiba dalam fase ini. Tentu saja setiap manusia akan mengalami. Fase di mana kita mulai melepaskan diri dari ketergantungan terhadap orang tua. Fase di mana justru barangkali di sinilah pengorbanan orang tua yang paling besar. Mengorbankan rasa rindu, rasa ingin dibersamai, bahkan dirawat di masa tuanya.

Padahal sewaktu kita kecil dahulu, tentu saja kita masih belum begitu paham bagaimana pengorbanan mereka. Kita menangis, minta ini minta itu, dan sekuat tenaga mereka berusaha mengabulkannya. Jika saja tidak bisa, tak terhitung berapa kali mereka membujuk kita.

Bahkan bisa saja sampai saat ini kita masih belum menyadari bahwa ego kita begitu tinggi. Seakan kita lupa bahwa kita bisa berada dalam titik pencapaian saat ini semua tak terlepas dari bimbingan dan dukungan penuh yang diberikan oleh orang tua kita.

Inilah fase melepaskan. Akan selalu ada pertentangan dalam diri kita, bahkan yang jauh lebih berat pada orang tua kita. Saat kita mengatakan tentang mimpi-mimpi kita, tentu saja mereka takkan pernah mengekang, bahkan mendukung sepenuhnya. Tak jarang mereka memberikan masukan agar mimpi kita segera bahkan jauh lebih cepat terwujud.

Tapi pernahkah kau berpikir, bahwa dalam setiap nasihat untuk mimpi-mimpimu bisa saja ada air mata yang tertahan? Ada pula rindu yang pastinya menggema dalam perasaan mereka. Perasaan-perasaan seperti kesepian bahkan mereka sudah membayangkan ketika kamu tak menemaninya kembali di rumah. 

Apalagi saat kau mengutarakan niatmu untuk berkeluarga. Sudah tentu mereka akan mendukung, walau bisa saja dalam hati mereka sedang menabah-nabahkan. Bahwa nantinya mereka akan semakin jarang dibersamai. Rasa takut itu justru mereka lawan dengan membantumu memilihkan pendamping yang terbaik. Memastikan bahwa kamu nanti akan bahagia. Karena mereka percaya, pendamping yang terbaik, yang akan mampu membuatmu kian berbakti pada orang tua. Membuatmu tak lupa untuk mendoakan mereka. 

Mereka sadar bahwa berpuluh tahun silam pernah dilepaskan oleh kakek dan nenekmu. Dan kini tibalah saatnya mereka melepaskanmu. Dan seberapa kuat kau memahami, kamu tidak akan pernah paham bagaimana rasanya. Sebelum suatu saaat kau melepaskan anak-anakmu.

Jakarta, 10 Oktober 2017
– @faizunaa –

Categories: Renungan | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: