Bayaran

Oleh : Ust. Salim A. Fillah

Rizqi kita sudah dijamin dan ditetapkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Maka bekerja kita adalah ibadah, ikhtiyarkan ia dengan niat menadah pahala dari Allah semata, bukan diniati mencari rizqi.

Sebab rizqi ialah ketetapan, menjemputnya jadi jalan ujian. Halal atau haram; pertanyaan ganda menanti jawaban; dari mana dihasilkan dan ke mana dibelanjakan.

Tapi justru karena rizqi dijaminkan, hendaknya pekerjaan kita ‘itqan dan ihsan; diperjuangkan sesuai tuntutan tugas, ditekuni hingga ahli, ditunaikan melampaui harapan.

Sesudah itu, jangan risaukan penghasilan.

Sebab kalau pekerjaan kita layak dibayar 1 milyar, tapi yang kita bawa pulang cuma 10 Juta; berarti kita sedang menabung 990 juta kebaikan di sisiNya. Semua itu pasti akan dibayarNya; kesehatan, kekuatan berketaatan, keluarga yang sakinah, anak istri qurrata a’yun, dan seterusnya.

Tapi kalau pekerjaan kita hanya layak dibayar 500 Ribu sebab duduk santai dan mengurang-ngurangi job description, tapi beraninya kita menggondhol pulang 20 Juta; ini berarti kita menabung bahaya senilai 19,5 Juta. Dan itupun akan ditagih dari kita.

Maka mari tambahkan 1 kata untuk pekerjaan sesudah ‘itqan dan ihsan; ialah ikhlash.

Pekerjaan yang ikhlas dan diridhaiNya bernilai tak terhingga. “Sepenuh bumi dan langitpun tak cukup untuk memgganjar ‘amal yang ikhlas”, ujar Ibn Qayyim. Jadi sesedikit atau sebanyak apapun jumlah pendapatan yang dibawa pulang; maka tak terhingga dikurangi ia berapapun jua, alhamdulillah, di sisi Allah semoga tetaplah ada pahala tak terhingga.

Maka, kita mensyukurinya, sepenuh tahmid; agar nikmat dunia-akhirat bertambah berlipat-lipat.

Seorang lelaki mengadu kepada Imam Asy Syafi’i. “Ya Imam”, ujarnya sendu, “Gajiku 5 dirham sehari. Itu cukup besar bukan? Tapi rasanya hidup kami sempit sekali. Uang selalu kurang. Keperluannya ada-ada saja. Istriku tak henti mengeluh & marah-marah. Anak-anakku susah diatur, sukar dimintai tolong, membantah jika dinasehati. Berikan bimbinganmu ya Imam!”
.
“Bagaimana jika kau kurangi saja bayaranmu jadi 4 dirham?”
.
“Itukah petunjukmu ya Imam? Lima dirham terasa sesak, & kauminta aku hanya mengambil 4 saja?”
.
“Ya”, ujar Sang Imam sambil tersenyum.
.
Mungkin karena dia menyadari bahwa kata-kata Sang Nashirus Sunnah bukan sembarang petuah, dia ikuti juga betapapun tak masuk akalnya. Beberapa waktu kemudian dia menghadap Sang Imam dengan wajah yang tak lagi tertekuk & gurat kesusahan tampak berkurang.
.
“Sudah kulaksanakan nasehatmu. Kini gajiku 4 dirham & rasanya sungguh pas-pasan. Benar-benar ketat antara pemasukan & pengeluaran. Istriku tinggal gerutuannya yang sesekali. Anak-anak sudah mulai menurut meski kadang berdebat dulu. Adakah petunjuk lagi ya Imam?”
.
“Tentu. Kurangi lagi jadi 3 dirham.”
.
Seperti sebelumnya, lelaki itu patuh meski petuah sang mahaguru terasa lucu. Beberapa waktu berselang dia kembali menghadap dengan wajah berseri-seri. “Alhamdulillah ya Imam. Sejak gajiku hanya 3 dirham, justru rasanya kami amat berlimpah. Semua keperluan terpenuhi. Bahkan kami bisa bershadaqah. Istriku juga jadi begitu ramah dan penuh perhatian. Anak-anakku taat & menyejukkan mata. Apa rahasia semua ini? Mengapa 5 dirham kurang, sedang 3 berlimpah?”
.
Sang ‘Alim Quraisyi menjawab dengan sebuah syair:
.
جمع الحرام الى الحلال ليكثره
دخل الحرام على الحلال فبعثره
.
“Dia kumpulkan yang haram pada yang halal untuk memperbanyak. Padahal jika yang haram merasuki yang halal maka ia akan merusak.”
.
Kisah ini bukan anjuran -apalagi bagi para majikan- tuk mengurangi gaji -bawahannya-. Tapi ia adalah renungan agar kita pastikan bahwa bayaran kita telah sesuai ‘itqan & ihsannya kerja, halal & thayyib dalam ridhaNya.

 


Menjadi renungan dalam diri bahwa yang terpenting adalah mensyukuri hasil yang didapat. Bahwa Allah menjamin rezeki seluruh hamba-hambaNya. Betapa tak masuk akal bagaimana mungkin seekor cicak mampu mendapatkan nyamuk sebagai makanannya, padahal cicak pun tak bisa terbang, namun hanya mengandalkan lidahnya. Namun, jika Allah telah berkehendak, maka hal-hal yang #Mncrgknskl pun bisa terjadi dengan mudah.

Categories: Islam | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: