Madrasah Pertama dan Kepala Madrasah

Tentu saja kita sudah sering mendengar syair ini.

Ibu adalah madrasah pertama
Jika kamu menyiapkannya
Maka dia menyiapkan generasi baik

Peran ibu memang sangat besar dalam mendidik anak-anaknya. Masih dalam suasana idul adha bahwa Siti Hajar , sosok yang melahirkan keluarga para Nabi, yang bagaimana beliau mendidik anaknya, Ismail, a.s. menjadi anak yang beriman dan bertakwa, sementara ayahandanya Nabi Ibrahim a.s. hampir jarang menemuinya di masa kecil karena harus pergi meninggalkan mereka. Betapa luar biasanya peran seorang ibu ketika berupaya menghadirkan seorang ayah bagi anak-anaknya manakala ayah sedang mencari nafkah.

Namun sayangnya, hal ini seringkali seolah menjadi alasan bagi seorang ayah untuk berlepas tangan dalam mendidik anak. Seolah-olah ia hanya sebagai sosok yang memberi nafkah. Padahal makna nafkah sendiri bukan hanya uang atau kekayaan. Ia bisa berupa perhatian, kasih sayang, juga kedekatan. 

Seorang ibu memang madrasah pertama bagi anak-anaknya. Namun, bukankah sebuah sekolah tak akan komplit jika tidak memiliki kepala sekolahnya? Maka di sinilah peran ayah sebagai Kepala Madrasah. Dia lah sang pemilik visi dan misi. Mau dibawa ke mana istri dan anak-anak nya kelak.

Saya sendiri ketika merenungi, banyak sekali keteladanan dan kolaborasi baik yang diteladankan oleh ayah dan ibu saya semasa saya kecil dulu. Bagaimana mereka berbagi peran dalam mendidik.

1. Masa-Masa menjadi Pencerita dan Da’i Cilik : Konseptor – Eksekutor

Masa kecil saya tak lepas dari dua julukan tersebut. Ya, di sinilah ketika masih di TK Anak Shaleh dulu, ayah pertama kali menemukan bakat terpendam saya dalam tataran public speaking. Singkat cerita saya menjadi pencerita cilik. Ayah lah pada waktu itu yang membuatkan saya naskah cerita dan meminta saya menghafalkannya. Sementara Ibu saya bertugas melatih saya, ketika ayah sedang bekerja mengajar di kampus. Setelah beberapa kali latihan di depan ibu, baru lah dalam sekali waktu, sepulang mengajar, Ayah mengetes saya untuk tampil di depannya.

Pola itu sama pula ketika saya menapaki bangku Madrasah Ibtidaiyah, kelas II. Ayah pula yang menemukan bakat saya dalam menjadi orator / penceramah. ibu pula yangmengasah di rumah.

Sekarang ini, ketika saya dewasa, saya memikirkan betapa luar biasa kolaborasi mereka berdua. Saya pun bisa menyebut ayah saya sebagai seorang konseptor. Ya, kepala sekolah adalah yang mengkonsep, yang merumuskan tujuan, visi, dan hal-hal yang bersifat konseptual. Lalu, sebagai madrasah pertama, tentu saja kedekatan saya dengan ibu akan jauh lebih dekat, karena intensnya pertemuan di rumah. Maka beliau lah sebagai seorang Eksekutor. Beliau yang melatih saya, sembari melaporkan perkembangan performa saya kepada ayah.

Sehingga, dari peran mereka itulah saya bisa sedikit mengambil kesimpulan. Bahwa Madrasah, butuh kan yang
namanya kepala madrasah? 🙂 

2. Masa Menentukan Pilihan : Menjadi Penengah

Lazimnya, karena intensnya bertemu di rumah itulah, maka seringkali Ibu kita menjadi sangat sayang dan bisa saja protektif kepada kita. Hal itulah yang saya rasakan. Seringkali ketika ibu tidak memperbolehkan sesuatu, maka ayah saya lah yang mampu menjadi penengah. (Walau hal ini tidak bisa di generalisasi di semua keluarga)

Saya masih ingat betul ketika dulu ingin meneruskan jenjang pendidikan dengan masuk Pondok Gontor selepas dari MIN I Malang. Sementara ibu saya tak ingin jauh-jauh, karena Nilai Ujian Nasional saya bagus, maka beliau menyarankan mengapa tidak di SMP Negeri 3 Malang saja. Sekolah paling favorit. Di sinilah muncul sebuah gap atau kemauan sendiri-sendiri antara kami berdua.

Lalu hasilnya ? Ayah saya hadir menawarkan bisa dibilang win-win solution. Beliau menyarankan mengapa tidak mendaftar di Madrasah Tsanawiyah Negeri I Malang. Saya yang pada waktu itu ingin mendalami ilmu agama, insya Allah tetap dapat walau porsinya tak sebesar di Gontor. Ibu saya yang tak ingin jauh-jauh dari anaknya juga mendapat solusinya. Pun demikian ayah saya yang ingin anaknya mendapat ilmu eksak yang cukup untuk kelak dapat menjawab tantangan zaman.

Lagi-lagi, ini bermakna, jika dibawah terjadi deadlock, maka peran seorang leader dibutuhkan untuk memecahkan masalah. Dan ayah lagi-lagi hadir, sebagai kepala sekolah.

3. Masa Melepas ke Rantau : Menjadi Penguat dan Pembujuk

Masa ini pada akhirnya tiba kepada saya manakala saya memutuskan memilih Depok dan Surabaya sebagai alternatif tempat berkuliah saya. Bayangkan saja, hingga H-seminggu SBMPTN, Ibu saya tetap tak merestui pilihan saya dengan alasan di luar kota. Ibu saya tetap bersikeras saya di Malang saja.

Namun tidak demikian dengan ayah, beliau mendukung sepenuhnya potensi saya untuk berkembang dan merantau. Beliau pun sadar bahwa baik ayah dan ibu saya pun juga sama-sama anak rantau dahulu dariMojokerto ke Malang.

Hingga akhirnya ayah saya lah yang mendekati ibu, berusaha pelan-pelan untuk membujuk, menasihati, dan menumbuhkembangkan kepercayaan beliau kepada saya. Pada akhirnya dengan berlinang air mata, ibu saya memberikan restunya untuk menuntut ilmu diluar kota.

Ketika ditarik garis lurus dengan peran keduanya sebagai madrasah pertama dan kepala madrasah, maka memang bisa menghasilkan dua possibilitas.

Pertama, seorang guru, dalam hal ini ibu, sebagai madrasah pertama, bisa saja terlalu posesif terhadap murid-muridnya, hingga justru potensi yang luar biasa dari anak-anaknya kurang bisa dimaksimalkan. Maka di sinilah peran kepala sekolah atau seorang ayah untuk memberikan supervisi.

Kedua, seorang guru, dalam hal ini ibu, justru malah bisa saja yang jauh lebih yakin kepada anak-anaknya. Sementara ayahnya, justru sedikit membatasi. Maka di sinilah, peran ibu sebagai negosiator kepada ayah tentang potensi besar anak-anaknya. Melalui diri Ibu, yang jauh lebih mengerti tentang anak-anaknya, karena intensitas pertemuan yang rutin, maka ia menjadi berhak memberikan rekomendasi yang beyond expectation soerang ayah.

4. Masa Bersiap Menggenapkan : Pemupus Rasa Cemburu

Sudah fitrahnya seorang wanita memiliki rasa cemburu. Begitu pula, kebanyakan ketika seorang anak laki-laki mengutarakan maksudnya untuk menikah, maka seringkali ibunya menahannya terlebih dahulu dengan berbagai alasan mulai dari kemapanan, usia, hingga bahkan ingin mendapatkan bakti dan pengabdian yang lebih lama lagi terlebih dahulu.

Padahal sebenarnya, itu kekhawatiran ibu bahwa nanti pasca menikah, tentu saja perhatian anak-nya tak lagi seperti dahulu kepadanya. Maka lagi-lagi di sinilah peran ayah sebagai suami dari ibu kita, sangat-sangat dibutuhkan untuk meyakinkan. Beliau meyakinkan bahwa jika memang sudah memiliki penghasilan yang tetap, sekalipun masih sedikit, namun sudah layak untuk menikah. Beliau pula yang mengingatkan bagaimana dulu ayah dan ibu memulai perjuangan pun juga sama-sama dari bawah. 

Maka di sinilah ayah lagi-lagi hadir sebagai obat rasa cemburu seorang ibu kepada istri anak-anaknya kelak. 

Kasus di atas, adalah murni apa yang saya rasakan. Tentu saja masih jauh lebih banyak yang lebih baik kedua orang tua saya. Namun tetap saja saya banyak belajar dari ayah dan ibu saya.Tentang bagaimana luar biasanya mereka berdua berkolaborasi membangun madrasah rumah tangga bagi saya dan adik saya. Tentu saja layaknya
sekolah biasa, pastilah ada kekurangan dan kekhilafan yang pernah dilakukan.

Namun setidaknya di sini menjadi gambaran, bahwasanya…

Sebuah madrasah tidak akan pernah mampu berjalan jika tidak memiliki kepala sekolah. Bisa saja ia berjalan, namun tentu daengan kondisi yang stuck, atau bahkan pincang. Maka di sinilah peran ayah dan ibu benar-benar dibutuhkan. Mereka saling melengkapi. Dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing.  

Categories: Tulisan | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: