Orang Tua Mana ?

Tulisan : Kak Jimny Hilda Fauzia

Sabtu, 19 Agustus 2017 lalu saya mengikuti sebuah wawancara beasiswa. Saya diwawancara oleh seorang ibu paruh baya, seorang Psikolog. Beliau memverifikasi berkas-berkas saya lalu menyampaikan beberapa pertanyaan, hingga tiba pada pertanyaan, “Kalau uang pangkal sudah dibayar, berarti orang tua kamu sebenarnya mampu menanggung biaya kuliah kamu kan ya?”

***

Ingatan saya terlempar pada beberapa hari sebelum itu, saat saya masih di rumah.
“Nduk, doakan usaha Papa lancar ya. Rejekinya lancar. Biar bisa nyekolahin kamu. Masa Papa nggak bisa nyekolahin kamu sampai selesai?!” tetiba Papa berkata sembari duduk di sebelah saya yang sedang menonton TV. Sejenak saya tertegun. “Aamiin, semoga rejekinya cukup dan berkah ya, Pa” cuma itu kalimat yang terlontar dari mulut saya. Seketika itu saya merasa tidak enak hati karena untuk melanjutkan studi ini lagi-lagi saya merepotkan orang tua saya.

Dulu menjelang saya kuliah sarjana, Papa juga melunasi uang pangkal dan uang kuliah semester 1 sebelum saya berangkat merantau. Saat itu saya hanya berpikir bahwa orang tua saya mampu membiayai saya. Belakangan saya baru tau bahwa uang yang dibayarkan untuk kuliah saya itu adalah hasil menjual tanah Papa.

Mampu? Atau memampukan diri?

Ada teman saya seorang ibu muda yang rela bolos kuliah sepekan penuh demi menemani anaknya yang tengah sakit, meskipun sudah ada pengasuhnya juga. Ia harus ketinggalan pelajaran, mungkin juga nilainya berkurang. Dari wajahnya terlihat bahwa ia sangat kelelahan sepekan penuh membersamai anaknya yang seringkali rewel saat sakit itu. Tapi ia memampukan dirinya. Ia menahan egonya sebagai mahasiswa yang harus kuliah, sebab ada anak yang lebih berarti baginya.

Ada juga teman saya seorang ayah muda. Atas kecintaannya pada si istri, ia izinkan istrinya menempuh studi lanjut. Pada suatu hari istrinya harus pulang terlambat karena ada kelas pengganti selepas isya’. Bagaimana dengan bayi mereka? Setelah sesorean dititipkan di daycare, teman saya mengambilnya lalu mengurusinya. Mulai dari mengganti popok, menyuapi, sampai berusaha menidurkannya meski biasanya si bayi tidak pernah berhasil ia tidurkan kecuali ada istrinya. Tadinya ia tak mampu bukan? Tapi hari itu ia mencetak prestasi baru dengan tidurnya si bayi meski hanya bersamanya.

Ada seorang kakak tingkat saya yang ingin sekali mengikuti pelatihan beberapa hari untuk menunjang bidangnya. Sayangnya di pelatihan itu tidak diperkenankan membawa anak. Ia memutuskan membawa anak serta pengasuhnya ke tempat pelatihan, agar pengasuhnya bisa menjaga anaknya selama jam pelatihan dan kakak tingkat ini bisa menemani anaknya selepas jam pelatihan. Tapi ternyata saat anaknya menangis tak henti-henti, ia nekat membawa anaknya bersama ke dalam ruang pelatihan bahkan mengerjakan ujian sambil menggendong anaknya ini. Banyak mata memandang, tapi ia tak peduli. Toh ia tetap mampu mengikuti pelatihan dengan baik.

Ada kakak saya yang harus menempuh perjalanan jauh jika ingin berkunjung ke rumah ibu kami. Saat suaminya sedang ada tugas kerja, ia terpaksa menyetir kendaraan sambil membawa si Kecil sendirian. Awalnya mungkin tidak mudah, tapi lama-lama ia bisa dan terbiasa. Daripada ia tak bisa berkunjung ke rumah ibu kami atau tidak bisa membawa anaknya turut serta.

Ada pula kerabat saya yang nekat pinjam uang ke sana ke mari saat anaknya harus membayar biaya magang saat SMK dulu. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Lalu beliau mencicil pinjaman-pinjaman itu hingga lunas dan anaknya pun lulus SMK dan bisa bekerja. Malu? Bisa jadi. Tapi apalah artinya malu demi melihat anaknya bisa tuntas sekolah dan hidup lebih baik lagi.

***

“Kalau dibilang mampu, saya tidak tahu Bu apakah orangtua saya sebenarnya mampu membiayai saya. Tapi yang saya tahu keduanya pasti memampukan diri untuk anak-anaknya,” hanya jawaban itu yang keluar dari mulut saya atas pertanyaan ibu pewawancara. Saya tidak tahu harus menjelaskan dengan kalimat apa lagi.

Jawaban itu yang selanjutnya membuat saya sedikit ragu apakah saya akan lolos seleksi beasiswa ini. Tapi sudahlah, rezeki telah Allah tentukan cara dan waktunya. Saya hanya perlu percaya pada-Nya, bukan?

Yang jelas saya ingin berterimakasih sekali pada ibu pewawancara. Satu pertanyaannya melekatkan kesadaran pada diri saya tentang hebatnya para orangtua. Orangtua mana yang tidak akan memampukan diri demi anak-anaknya. Dari memampukan jiwa, raga, sampai harta. Terimakasih untuk seluruh orangtua di dunia. Kalian keren! 😀

________________________________________________________________

Sebuah tulisan dari salah seorang senior di Rumah Kepemimpinan.
Seakan menampar diri sendiri bahwa dahulu pun ayah dan ibu pun berusaha memampukan diri untuk mewujudkan mimpi-mimpiku.

Categories: Renungan | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: