Sekolah Utama Keluarga

devilukitasari:

“Saya itu pengennya dari dulu bisa melahirkan generasi terbaik yang jadi tonggak kebangkitan umat”

Adalah Ibu Siti Soekiswati, seorang dokter, dosen, mahasiswa S3 sekaligus S1, single-parent, dan ibu dari 6 anak yang haafidz dan calon haafidzah. Tak ada kebetulan sepertinya ketika Allaah swt mempertemukan saya, Mbak Mutiara Ulfah, dan Mas Wiwid Santiko untuk bersilaturrahim ke rumah Ibu Siti Soekiswati dan mendengar kisah hidup beliau yang begitu menginspirasi. Beliau mungkin tidak memiliki jabatan mentereng di pemerintahan atau perusahaan tapi prestasinya yang jauh lebih baik daripada apapun dalam kodratnya sebagai perempuan, yakni menjadi Ibu yang berhasil. Anak-anaknya selain menguasai ilmu agama dan hafal Al-Quran, juga menguasai ilmu umum.

Dua anak pertamanya menempuh pendidikan dokter di UNS dan UGM. Anak ketiganya berkuliah di Farmasi UGM, anak keempat berkuliah di Transportasi Kelautan ITS, anak kelima masih duduk di bangku SMA, dan anak keenamnya masih duduk di bangku kelas 6 SD. Keenam anaknya selain sering menyabet juara kelas, sering juga memenangkan berbagai kompetisi sehingga di ruang tamu rumahnya, penuh oleh trofi dan piala.

Ketika kami datang sore itu, Bu Siti sedang melayani pasien. Tidak lama setelah kami duduk mengobrol dengan anaknya, beliau datang dengan gelas berisi teh hangat, piring penuh roti, baskom berisi ubi rebus, dan nampan bertudung penuh pepaya. Beliau mempersilahkan kami untuk menikmati hidangan seraya meminta maaf karena tidak menyuguh dengan lebih pantas. Suguhan sebanyak itu saja dibilang belum pantas, bagaimana pantasnya, pikir kami.

Rupanya, sore itu Bu Siti belum lama pulang dari kantor tempatnya mengajar di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Sehari-hari, beliau memang mengajar di sana, sembari kuliah doktoral. Setelah menyelesaikan segala aktivitas akademik hingga sore hari, beliau masih menyempatkan diri untuk buka praktek dokter di rumah hingga Isya. Beruntung sekali sore itu kami dapat mengobrol panjang lebar dengan beliau sehingga mendapatkan banyak sekali ilmu tidak hanya tentang parenting, tapi juga hukum kesehatan.

*****

Bu Siti kecil lahir di Bojonegoro, hampir setengah abad yang lalu. Keluarganya boleh dibilang termasuk keluarga yang cukup berpendidikan, kendati masih tergolong abangan. Ayahnya adalah seorang kepala sekolah SMK, sedangkan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga tulen. Sejak kecil, beliau sudah terlihat memiliki bakat yang beragam dan cerdas, terbukti dengan prestasi hasil belajar dan kompetisi yang beliau menangkan. Akibatnya, orangtuanya jarang sekali menyuruh dan latihan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Ibunya hanya menyuruhnya belajar supaya menjadi orang pintar.

Dengan kecerdasan yang dimiliki sekaligus lingkungan yang mendukung, Bu Siti menjadi begitu bersinar di sekolah. Rata-rata raport sekolahnya tidak pernah menyentuh angka di bawah 90, semuanya berkisar antara 90-100. Selain jadi bintang kelas, beliau juga sangat aktif. Ia pernah menjadi vokalis band, anggota tim voli, dll. Sampai pada akhir masa SMA-nya, beliau diterima di dua universitas dengan jurusan yang berbeda, Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret dan Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Setelah istikharah dan berpikir panjang, beliau akhirnya memilih meniti jalannya menjadi dokter.

Di UNS-lah, hidayah Allaah swt datang. Paparan dakwah kampus membuat Bu Siti berhijrah. Ia yang tadinya tidak berjilbab jadi menutup auratnya. Beliau sangat bersemangat untuk belajar agama. Saking semangatnya, berbagai harakah dia ikuti karena lugunya ia terhadap dunia Islam. Sampai pada masa co-ass, beliau memutuskan untuk segera menikah untuk menjaga dirinya.

Dari beberapa lamaran yang datang, setelah istikharah, Bu Siti memutuskan untuk menikah dengan Pak Noor Hadi. Hal ini didasarkan pada mimpi beliau yang dibonceng oleh seorang laki-laki naik sepeda. Laki-laki itu menggunakan baju koko putih dan peci hitam. Dan ketika Pak Noor Hadi datang melamar dengan pakaian persis seperti lelaki dalam mimpinya, maka beliau yakin bahwa itu adalah jodohnya sebagai jawaban atas istikharah yang dipanjatkannya.

Saat itu, prinsip Bu Siti sederhana, jika memilih jodoh pastikan agamanya lurus dan benar terlebih dahulu, selainnya tinggal taat pada suami. Maka, ketika tahu bahwa Pak Noor Hadi bukan hanya sekedar guru bahasa Inggris, namun juga seorang da’i, beliau semakin yakin dengan pilihannya. Walaupun harus menolak lamaran lainnya yang berasal dari seorang psikolog dan kepala sekolah yang notabene lebih mapan dan menjanjikan. Dan memang, menikah dengan Pak Noor Hadi membuat hidup beliau berubah 180°.

Di masa co-ass beliau yang sudah berumahtangga dan memiliki anak, Bu Siti harus berjuang untuk bertahan hidup. Beliau harus membuat donat dan makanan kecil lain untuk dijual sebagai tambahan pemasukan keluarga. Kegiatannya selalu sama, pagi co-ass di klinik atau puskesmas, sore menyiapkan bahan, malam memasak, subuh mengantarkan masakannya ke warung-warung. Di sela-sela itu, beliau masih harus mengurusi anak dan suami.

Setelah sumpah dokter pun, Pak Noor Hadi melarang Bu Siti untuk bekerja di luar rumah. Beliau hanya diperbolehkan untuk praktek di rumah dan mengurus anak dengan sebaik mungkin. Beliau yang notabene tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah pun jadi shock dan stress. Walaupun sering bertengkar, tapi beliau tetap menurut pada suami.

“Tugas istri itu ya nurut sama suami. Pokoknya nurut aja. Pegang dulu hikmahnya di awal, ikhlasin, baru dijalanin”, begitu ujarnya.

Jadilah kegiatan sehari-hari Bu Siti di rumah biasa, seperti memasak, mencuci, menyetrika, membersihkan rumah, dll. Awalnya, beliau mengerjakan dengan berat hati. Tapi lama-kelamaan beliau mendapatkan hikmahnya. Beliau jadi tidak rela jika keluarganya makan makanan yang tidak ia masak.

“Karena kan memasak kalau sambil didzikirin itu masakannya jadi berkah. Lha kalo beli di luar kita ndak tau ditambahin apa, gimana akhlak yang jual”, kata beliau.

Perihal mencuci, Bu Siti juga mengutamakan tangannya sendiri untuk membersihkan baju suami dan anaknya karena pahalanya lebih utama. Selain pekerjaan rumah tangga, beliau rutin menemani anak-anaknya belajar jadi ia mengerti betul progress anak-anaknya di sekolah. Semua anaknya dekat dengan beliau, dan beliau paham seluk-beluk karakter dan kesukaan anaknya. Bahkan sebelum berangkat sekolah, Bu Siti rela memasak banyak menu hanya demi memenuhi kesukaan makanan masing-masing anaknya.

Bu Siti benar-benar memposisikan diri sebagai ibu terbaik untuk keluarga. Bahkan beliau sering menjahit sendiri baju seragam keluarga. Jarang sekali beliau berbelanja pakaian. Kalaupun beli baju paling di pasar atau di mall yang tergolong murah. Hatinya tidak tega jika uang yang dikeluarkan hanya membuat kaya orang kaya, dan memiskinkan orang miskin.

Sebagai pengatur keuangan keluarga, Bu Siti berhati-hati benar menggunakan uang. Dulu, beliau dan suaminya sempat berbisnis jati. Namun, hasil bisnis itu tidak pernah beliau gunakan untuk makan sehari-hari karena takut kurang berkah. Makanan sehari-sehari diupayakan dari penghasilan praktek dan gaji suami.

Pernah suatu kali Bu Siti menerima uang yang “abu-abu” dan sempat “dimakan” oleh anak keduanya. Anak yang bersih itu bereaksi hebat ketika ada harta haram masuk ke dalam mulutnya. Ia menderita muntah darah dan hampir saja maut merenggut. Dalam kedaan kritis itu, bukannya bersedih larut, Bu Siti hanya berdoa,

“Ya Allaah jika anak ini akan Kau ambil, maka ambillah. Tapi jika tidak, jadikan ia pemimpin yang akan menyejahterakan umat.”

Akhirnya si anak sembuh dan kini hampir lulus jenjang sarjana di FK UGM.

Saat melepas anak-anaknya sekolah di pesantren saat umur 6 tahun, Bu Siti juga merasa berat hati dan sering menangis. Tapi kemudian ia terbiasa juga apalagi mendengar anaknya berhasil menghafalkan 16 juz di kelas 1 SD. Bagi Bu Siti, keputusan memasukkan anak-anaknya ke pesantren adalah keputusan yang tak ternilai harganya. Karena dengan menjadi penghafal Al-Quran dan anak yang shalih-shalihah, itu menjadi aset akhirat paling berharga untuk orangtuanya. Meski begitu, beliau menyayangkan orang yang memasukkan anaknya ke pesantren tanpa pendidikan keluarga yang baik.

“Banyak orang mengira masukin anak ke pesantren itu yowes masukin aja tanpa pendidikan di keluarga yang baik. Padahal nggak kayak gitu. Pendidikan yang utama itu ya di keluarga. Lha ibu itu sekolah utama untuk anak-anaknya. Anak kalau dimasukin pesantren tapi orangtuanya sibuk nggak ngurusin yowes sama aja nanti hasilnya.”, ujar Bu Siti.

*****

Setelah terbiasa menjadi ibu rumah tangga selama sekitar 20 tahunan, kehidupan Bu Siti terpaksa harus berubah drastis kembali karena suatu hal. Pak Noor Hadi, suaminya, meninggal karena serangan jantung. Mau tidak mau, beliau harus bekerja untuk menghidupi keluarga. Beruntung ia hanya menanggung separuh biaya pendidikan 2 anak, sedangkan keempat lainnya hanya menambah sebagian karena mendapat beasiswa. Dan karena pendidikan karakter yang kuat dari beliau, anak-anaknya sangat pandai dan mandiri mengatur keuangan masing-masing. Jadi meski sangat kecil pemasukan keluarga, dengan kebutuhan tujuh orang, masih bisa dinikmati dan dirasakan lebih dari cukup.

Untuk menunjang finansial, Bu Siti lalu mendaftar menjadi dosen di UMS sembari menjalani S2 Ilmu Hukum. Beliau memang tertarik sekali dengan hukum kesehatan karena belum banyak yang menekuni. Mendapati fakta-fakta yang miris di lapangan, beliau bertekad untuk menegakkan keadilan di dunia kesehatan. Hal ini mendorong untuk belajar dan meneliti dengan giat hingga akhirnya beliau berhasil lulus dalam 20 bulan dengan IPK 3,875. Dan itu diraih tanpa mengorbankan urusan dan kewajiban beliau sebagai ibu rumah tangga.

Berprestasi di bangku pascasarjana membuat Bu Siti ditawari profesor pembimbingnya untuk meneruskan studi doktoral. Meski khawatir akan biaya, akhirnya beliau mengambil juga S3 Ilmu Hukum di UMS atas saran khas suaminya sebelum meninggal,

“Kesempatan itu tidak hadir dua kali, kalo duit bisa dicari. Makanya lebih cepat diambil insyaallaah lebih baik”. Kata Pak Noor Hadi kala itu.

Supaya beliau bisa mendapat beasiswa, maka jenjang pendidikan yang beliau ambil harus linier. Beliau pun harus menempuh S3 sembari kuliah S1 di jurusan yang sama. Maka Bu Siti pun mengambil juga kuliah S1 Ilmu Hukum di Universitas Islam Batik Surakarta.

“Saya ndak tau ya, di Indonesia itu lucu tenan. Mosok ya ada dokter mau buka klinik nggak boleh tapi perawat sama bidan boleh. Padahal kan ndak boleh itu regulasinya. Terus masak bidan sama perawat ki bisa nangani penyakit dan kasih obat to. Belum lagi orang bisa periksa di apotek. Apotekernya Cuma nanya sakit apa langsung dikasih obatnya. Lha itu kan nggak ada proses diagnosis, Cuma apalan aja. Ya untung nek nggak mati pasiennya”, ujarnya mengeluhkan hukum kesehatan di Indonesia yang masih morat-marit.

Bu Siti juga menyebutkan lebih banyak kasus kebobrokan dunia kesehatan di Indonesia, dan di akhir beliau menyampaikan cita-citanya untuk dapat menegakkan hukum yang adil di dunia kesehatan.

“Perjuangannya masih panjang sekali untuk bisa benar-benar menegakkan hukum. Makanya yang muda-muda ini yang nanti meneruskan.” ujarnya.

Ada hal yang sedikit ganjil tapi mengagumkan kala menyelami kehidupan Bu Siti. Beliau bisa sangat berapi-api menceritakan seluk-beluk hukum kesehatan, padahal sebetulnya belum lama ia menekuninya. Hidupnya seperti dikurung di rumah selama puluhan tahun, tapi begitu keluar dan kembali belajar, beliau bisa melesat mengangkasa di bidang yang ditekuni. Kecerdasan yang dulu begitu melekat padanya tidak lantas pudar hanya karena menjadi ibu rumah tangga, bahkan meningkat pesat. Karena baginya, hidup itu ibarat lomba lari. Semakin dekat dengan garis finish, seharusnya semakin cepat berlari supaya tidak tersalip oleh yang muda. Semakin tua, seharusnya semakin banyak belajar dan berkontribusi, bukan malah menjadi lemah dan tak berdaya.

“Hidup itu ibarat lomba lari, semakin dekat garis finish harusnya larinya semakin kencang. Maka, saya harus semakin banyak belajar dan kontribusi biar ndak disalip sama yang lebih muda.” Kata Bu Siti.

Bu Siti begitu bersyukur lama menjadi ibu rumah tangga, karena selain anak-anaknya tumbuh dengan ketaqwaan, bekerja di lapangan justru membuat seseorang menjadi cepat tua dan sulit terhindar dari fitnah. Beliau menjadi bukti bahwa memang sekolah utama anak-anak memang ibunya. Al-ummumadrasatuluulaaliaulaadihii.

Satu prinsip lain yang terus dipegang oleh Bu Siti tertuang dalam Surat An-Nisa ayat 9 yang artinya,

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.”

Seorang ibu tidaklah pantas meninggalkan anak-anaknya dalam keadaan lemah sekedar untuk bekerja. Dan setelah itu, tugas selanjutnya adalah bertaqwa dan berkata benar. Menurut pada suami, memasak, mencuci, menjahit, bersih-bersih, adalah sedikit dari bentuk ketaqwaan Bu Siti sebagai seorang istri dan Ibu. Terlebih lagi prinsip kehati-hatian dan keadilan, menjadi manifestasi nyata kedekatan beliau dengan Allaah swt.

*****

Di akhir obrolan itu, tampak oleh saya matanya yang berkaca-kaca. Bercerita panjang lebar tentang seluk-beluk kehidupannya membuat beliau terharu rupanya. Sampai di satu statement terakhir yang membuat saya tertegun karena hal tersebut adalah cita-cita saya juga,

“Saya bersyukur sekali menikah dengan suami saya dan mengalami kehidupan yang seperti ini. Dari dulu cita-cita saya itu cuma supaya bisa melahirkan generasi terbaik yang menjadi tonggak kebangkitan umat.”

Ah, percakapan sore itu memberi kami begitu banyak pelajaran. Otak kami dipenuhi oleh berbagai inspirasi, sementara bibir kami memanjatkan do’a untuk beliau. Semoga Allaah swt senantiasa kuatkan ya, Bu.

=================================================

 

MasyaaAllah, tulisan yang dibuat oleh saudari asrama saya dan suaminya :”)

semoga banyak hikmah yang didapat bisa diteladani..

Author : Zahratul Iftikar Jadna Masyhida
Editor : Khoirul Fahmi

Categories: Journey | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: