Melepas Ramadan

muhammadakhyar:

“Tapi, yang
fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.

Pertanyaan dari penyair kesayangan kita semua itu,
Sapardi Djoko Damono, adalah juga pertanyaan saya di penghujung Ramadan ini. Hari-hari Ramadan setiap tahunnya mengalir lebih cepat dari yang kita duga. Tanpa sadar
kita hampir tiba di Syawal. Dan tentu saja pada di bulan Syawal kita akan,
lagi-lagi, hanya mampir untuk kemudian tiba-tiba sudah berada di momen Hari
Raya Kurban. Jikalau benar kita menjalani hari-hari sebagaimana yang
dikemukakan Pak Sapardi di puisi yang sama,

Memungut
detik demi detik, merangkainya seperti bunga

Sampai pada suatu hari kita lupa
untuk apa

alangkah malangnya hidup kita.

Demi tak terlalu se-woles
itu dalam menjalani hidup, saya memungut beberapa hal yang saya dapatkan dari
Ramadan. Siapa tahu hal-hal itu juga adalah hal-hal yang kamu dapatkan dari
Ramadan kali ini. Jika pun tak sama, tak apa, toh tidak terlalu rugi menambah-nambah hal-hal yang kamu pungut
untuk masuk dalam keranjang perjalanan hidupmu, bukan?

Berikut adalah tiga hal yang sering terabaikan ketika Ramadan.

image

1. Tarawih

Salat yang jika dilihat dari makna asalnya berarti mengambil
waktu untuk beristirahat atau santai, tentu adalah jenis ibadah yang paling
sesuai dengan stereotipe bangsa kita, syantai.
Mungkin karena itulah, jamaah salah tarawih selalu membludak. Hal ini terutama
di awal-awal Ramadan. Tak jarang kita melihat ayah yang membawa anak-anak
mereka ke masjid. Atau jamaah ibu-ibu yang lebih banyak dari biasanya sehingga membuat
tabir pembatas harus digeser. Tentu pemandangan ini, bagi seorang muslim adalah
fenomena yang menyenangkan.

image

Akan tetapi, sebagaimana waktu, keramaian masjid itu pun
fana. Ia akan sedikit-demi-sedikit menipis, hilang, entah ke mana. Jika dipikir-pikir,
siklus seperti ini, adalah urutan yang aneh, jika tak mau dibilang menyedihkan.
Bukan apa-apa, hal ini terjadi tak cuman setahun-dua-tahun, tetapi sepanjang
pengamatan saya, sejak bisa memahami haus dan lapar kala Ramadan. Tentu kita harus
memikirkan dan mengusahakan di tahun-tahun ke depan agar siklus yang sama
sekali tak lucu ini, tidak berlanjut. Dan di sini kabar baiknya. Di beberapa
masjid yang memang memiliki kajian rutin setiap minggu atau malah beberapa hari
dalam satu minggu, penurunan jamaah seiring bertambahnya jumlah bilangan
Ramadan tak begitu drastis.

2. Ngaji

image

Saya, di luar Ramadan, butuh satu pekan untuk membaca
satu juz Al Quran. Itu juga udah paling
banter. Beda hal ketika Ramadan, satu
juz bisa habis tuntas dalam dua puluh empat jam. Tentu frase “gak tahu deh entah setan apa yang bikin gw
bisa ngelakuin itu
” tak tepat digunakan. Pertama, bukankah setan dibelenggu
ketika Ramadan. Kedua, kalau pun masih ada setan yang berkeliaran, mosok setan malah manas-manasin kita untuk beribadah.

image

Weitsss,
jangan salah, usia (baca:
pengetahuan tentang manusia) setan jauuuuuuh
lebih tua dibanding maha guru
marketing Philip Kotler. Tak usah heran, ikhtiarnya untuk memasarkan keburukan
tidak hanya menggunakan pendekatan hard
selling¸
tetapi bisa menggunakan pendekatan seasonal marketing. Jadi,
jika memang lagi musim orang-orang beribadah, ya blio ini tak akan
menghempang kecenderungan itu terang-terangan. Ia malah mendorong kita untuk
melakukan itu, tetapi di akhir cerita, ia melakukan twist yang membuat kita tak mendapatkan apa-apa dari ibadah kita
itu. Tentu hadits dari Rasulullah yang berbunyi, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak
mendapatkan dari puasanya tersebut, melainkan rasa lapar dan dahaga.” menjadi relevan dalam perkara ini.

image

So,
jika dia gak bisa bikin kita bodo amat tentang hal-ihwal mengaji, dia bikin kita supaya gak
tertarik untuk memahami arti yang kita baca. Jika pada fase ini kita masih on fire (walah, ironis ya, api kan asal muasal you know who yang sedang
kita omongin ini), ia akan mencegah kita untuk merenungi makna
dari arti yang kita baca tadi. Jika kita belum juga mau berhenti dan terus move on, ya dia bakalanngalang-ngalangin kita agar tak terlalu
yakin untuk ngejalanin ajaran-ajaran
Al Quran tadi dalam peri-kehidupan kita sehari-hari. Nah, lalu kalau kita masih on
the track
, gimana?

Sabar. Itu untuk
bagian berikutnya, biar ini tulisan bisa dikasih tagline “3 hal-hal yang sering kita abaikan”. Kalau “2 hal-hal yang
sering kita abaikan…” terlalu sedikit dan kurang catchy.

3. Ujub

Ih, padahal
masih muda, kok bulan Ramadan gini malah gak puasa ya. Mana makannya di pinggir
jalan gitu lagi. Gw juga capek juga kerja, tapi gw bela-belain puasa.

Gimana sih
nih abang satpam. Pas gw masuk masjid dia masih aja sibuk ngurusin orang
markirin mobil di depan masjid. Eh pas gw pulang, dia masih sibuk juga ngurusin
orang ngeluarin mobil. Gak salat apa?

Bulan puasa
gini di kereta bukannya bukan aplikasi Al Quran malah main game. Saya tuh
ngebuang-buang waktu.

image

Akrab dengan suara-suara seperti itu? Suara
hati yang macam beginilah yang membuat segala amalan kepala jadi kaki, kaki jadi kepala yang telah kita lakukan, kering
menjadi debu, tertiup angin, tak tersisa lagi. Merasa diri lebih baik dari yang
lain. Merasa lebih alim dan rajin ibadah ketimbang yang lain. Merasa punya
kesempatan masuk surga dan menghindari neraka yang lebih besar dari orang lain.
Merasa probabilitas mendapatkan rida Allah yang lebih tinggi dibanding yang
lain. Bukankah perasaan ini yang membuat Iblis terlempar dari kasih sayang
Allah di surga?

Semoga kita bisa terus-menerus berjuang
untuk tak memelihara suara-suara itu di hati kita. Semoga kita selalu diberi
kekuatan sehingga ketika suara itu berkumandang, kita bisa menyahutinya dengan,
yaelah tong, ibadah elu tuh gak ada
apa-apanya dibanding rahmat yang dikasih Allah ke elu. Kagak usah deh elu
bandingin ibadah elu dengan ibadah orang lain. Mending lu bandingin kasih
sayang Allah sama ibadah lu. Kagak malu apa lu.”

—-

Masih kuat?

Tenang.

Gak cuman Marvel aja yang
bisa bikin postcript scene, saya juga
bisa kok. Nih tambahan untuk ketiga hal di atas.

Iktikaf

image

Iktikaf sebagaimana yang saya sebutkan di tulisan sebelumnya, adalah salah satu budaya baru di kalangan muslim urban. Bahkan, belakangan
ada kabar viral tentang masjid yang menyediakan ini-itu untuk jamaah
iktikafnya. Mulai dari beragam makanan ringan hingga berat, minuman segar
hingga hangat, sampai-sampai tersedia pula Wi-fi
gratis, tersedia di sepuluh malam terakhir Ramadan, cakeeeppp. Motif sebagian besar yang melakukan iktikaf tentu saja
adalah mencari Lailatul qadar, malam
yang keberkahannya melampaui seribu bulan itu (FYI, penyebutan “malam lailatul qadar” tidak terlalu tepat karena “lail”
itu sudah berarti malam. Lailatul qadar juga tak tepat disebut “malam seribu
bulan” karena merujuk surat Al Qadar ayat ke-3, “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”. Jadi lebih, bukannya (pas) seribu.) Motif inilah yang membuat
masjid-masjid yang menyediakan iktikaf lebih sepi ketika malam genap tiba
(berbagai riwayat yang bersumber kepada Nabi, menyatakan bahwa malam mulia itu
hadir pada malam-malam ganjil di sepuluh akhir Ramadan). Tentu saja iktikaf
hanya di malam ganjil lebih baik dibanding tak iktikaf sama sekali, hehehe.

image

Selain ingin mengejar Lailatul qadar, sebagian peserta
iktikaf juga ingin meneladani Nabi, dengan melakukan perenungan terkait hal-hal
yang sudah dilakukan selama setahun terakhir. Sehingga meminta ampun terhadap
kesalahan-kesalahan di masa lalu adalah ibadah yang sangat dianjurkan ketika
melakukan iktikaf. Di titik ini, bisa jadi orang-orang yang tak beriktikaf,
tetapi berjaga sepanjang malam untuk beribadah di rumahnya, bisa jadi lebih
mendapat manfaat ketimbang yang iktikaf tetapi bercanda-ria, ngobrol sana-sini,
dan ber-haha-hihi di masjid.

Akan tetapi lagi-lagi kita harus berhati-hati. Setan bisa
kembali bekerja di sini. Jangan sampai yang iktikafnya full merasa lebih saleh ketimbang yang beriktikaf di malam ganjil. Sementara
yang iktikafnya di malam ganjil merasa lebih kece di hadapan Allah ketimbang
yang sedang tak beriktikaf karena sibuk dengan kue lebaran, baju baru, hingga
mengepak barang untuk siap-siap berangkat mudik ke kampung halaman. Berabe kalau sudah begini.

Oh iya, ini adalah hal terakhir terkait iktikaf yang perlu kamu
camkan baik-baik!

image

 

Kredit desain: @hamanugrah

Categories: Islam | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: