Selalu ada Alasan Untuk Tak Berhenti Berjuang

Ada kalanya kita lelah. Kita ingin berhenti. Kembali bersenang-senang. Seolah kita telah mencapai apa yang kita inginkan.

Hidup memang tak selamanya harus berlelah dalam perjuangan. Butuh rehat sejenak. Tapi yang perlu dipahami hanyalah sejenak, tidak berlarut-larut dalam pemberhentian yang kita pilih.

Manusia memang memiliki fase dalam kehidupan. Setiap fasenya tak ada alasan untuk tidak berjuang. Dari fase di mana para sperma berjuang untuk menjadi satu yang mampu menembus sel telur untuk membuahi. Fase  di dalam kandungan kala bagaimana kita bertahan di gelapnya dunia. Fase di mana kita ketika bayi dari berjuang untuk dapat tengkurap, duduk, berjalan, hingga berlari. Dan kita tak pernah merasa melaluinya, padahal kita sebenarnya telah berjuang. 

Seperti halnya puncak gunung, maka semakin susahlah fase-fase yang akan kita lewati. Semakin tinggi derajat seseorang semakin suahlah ujian yang akan dihadapi. Semakin terjallah bebatuan yang akan didaki. Tapi akankah itu menjadi alasan untuk berhenti berjuang?

Ketika kita coba merenungkan, kita punya berjuta alasan untuk berhenti berjuang, namun pada hakikatnya semua berujung kepada ketidakmampuan, ketidakyakinan, dan kembali lagi kepada diri kita sendiri. Bedakan dengan alasan untuk tidak berhenti berjuang. Selalu akan lebih banyak lagi,sebab impian setiap orang berbeda-beda. Setidaknya aku berdoa semoga muaranya tetap sama, Allah SWT.

Termasuk ketika kita memperjuangkan dan sedang diperjuangkan. Adakah pemberhentian pasca kelak setelah berakad? Tentu saja tidak. Akan masalah – masalah yang tak pernah dihadapi, akan ada perbedaan-perebedaan kecil yang ditemui. Pasca memiliki buah hati, lantas perjuangan semakin rumit. Masa-masa mereka kelak kecil, remaja, hingga dewasa, hingga melahirkan anak cucu bagi kita, tetap saja kita berjuang dalam hal yang sama.

Dan kala tua, banyak yang beranggapan waktunya menikmati, padahal itulah perjuangan sesungguhnya. Ibarat sepak bola, seringkali masa-masa injury time menjadi penentu akan hasil pertandingan. Dan masa tua, bisa saja bukan menjadi penentu akan hasil kehidupan? Sementara pintu kematian kian lama kian dekat.

Maka kawan, jangan berhenti berjuang. Mungkin ada beribu alasan untuk berhenti, tapi muaranya barangkali sama. Ketidakyakinan dan Perasaan Tidak Mampu. Teruslah berjuang, sebab akan jauh lebih banyak alasan untuk menjalaninya. Walaupun muaranya tetap sama, SurgaNya.

– MFS, 2016 –

Categories: Renungan | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: