Memaknai Hujan

Hujan turun lagi. Membasahi bumi. Setiap hari entah akhir-akhir ini ia begitu sering menyambangi. Seakan ada isyarat yang ingin diberi. Kita bisa memandang tak ada perbedaan sama sekali. Tapi seiring bertambahnya waktu, entah mengapa pemaknaan akan hujan berbeda kian waktu, kian hari.

Hujan kini bukan lagi tentang dahulu, ketika kita masih kanak-kanak. Kita hanya tahu tentang air yang turun dari langit. Tentang perubahan siklus air. Dari air bumi menguap mengangkasa menjadi awan hingga turun kembali. Ada gemuruh halilintar yang bersuara lantang yang menyambar-nyambar. Sesederhana itu kita dahulu memaknainya.

Hujan kini adalah tentang pemaknaan. Ia bisa tentang kerinduan kepada seseorang. Ia juga bisa bermakna kepergian. Atau bahkan kehilangan. Tak terdengar lagi suara katak bersahut-sahutan, yang ada hanyalah bayangan masa lalu yang tak kunjung hilang. Ditemani jendela, tersibakkan tirai-tirainya, agar mata dapat memandang keluar. Ia tak memandang rintik hujan, namun seringkali tatapan kosong tak berkesudahan.

Hujan kini adalah tentang doa. Waktu yang baik dan dianjurkan. Semoga pemaknaan yang dalam akan hujan dapat kita sederhanakan. Tentang kenangan, kerinduan, kehilangan, kepergian semoga segera melebur dalam kesederhanaan. Sesederhana pertemuan.

Categories: Tulisan | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: