Belajar Mencintai Ilmu dari Para Ulama

”Alangkah indahnya ilmu. Jauh lebih indah daripada emas dan perak, lebih indah daripada wanita cantik, serta lebih indah daripada kekuasaan.” – 

Asy-Syaikh Muqbil

Penakluk Gunung, Pengelana Samudera

Adalah ilmu, yang mampu mengalahkan ribuan kilometer jarak yang harus ditempuh. Sebab itulah dalam sejarah tercatat kata-kata manis Imam Ahmad. Manakala ditanya oleh seorang sahabatnya,”Duhai sahabatku, andai kau disuruh memilih, antara berguru kepada seorang ulama yang memiliki banyak ilmu, atau kau melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain tuk bertemu banyak ulama walau mereka barangkali sedikit ilmunya?” Maka dengan mantap Imam Ahmad menjawab, “Aku memilih yang kedua. Mencatat sedikit demi sedikit ilmu walau harus berkelana ke seluruh negara”.

Maka tak heran, Abu Yakub, salah satu murid Imam Ahmad, rela berjalan dari Naisabur (Iran) menuju Baghdad (Iraq). Ia mendengar bahwa Imam Ahmad meralat pendapatnya, sementara ia sudah menulis pendapat itu dalam bukunya. Hanya karena sebuah pendapat, Sekitar 1500 kilometer beliau tempuh dengan berjalan kaki.

Adapula Abu Fityan atau lebih dikenal Abu Umar Rawashi. Seumur hidupnya, tercatat bahwa ia telah berguru kepada 3.600 orang. Hingga gelar Hafidz al-Jawwal (penghafal Hadits yang berkelana) melekat kepadanya, sebab sebagaian besar waktu seumur hidupnya ia habiskan untuk berkelana. Dari

Khurasan, Iraq, Syam (mencakup Syiria, Palestina, Libanon dan Yordania), Hijaz (meliputi Makkah, Madinah dan Tabuk), Mesir dan Jazirah.

Menggadai Fisik demi Mereguk IlmuNya

Pernah dalam suatu perjalanan, Abu Umar Rawashi kehilangan jari-jemarinya dikarenakan suhu dingin yang begitu ekstrem. Namun ia tak pernah berhenti dalam perjalannnya. Rasa sakit yang begitu luar biasa telah terkalahkan oleh kecintannya kepada ilmu.

Mahmud bin Umar Al Khawarizmi Az Zamahsyari pun tak kalah. Ia kehilangan kakinya ketika melakukan perjalanan di Khawarizmi (Uzbekistan). Saat itu sedang terjadi badai salju, sehingga udara sangat dingin. Namun lagi-lagi ia tak kurang akal, ia gunakan tongkat kayu untuk berjalan di tengah badai salju yang mendera.

Sementara Ya’kub bin Sufyan Al-Farisi, menghabiskan waktu selama 30 tahun perjalanan sekaligus pengembaraannya dalam menuntut ilmu. Riwayat ada yang menuliskan bahwa beliau berguru kepada 1000 orang. Hingga pernah di tengah musim panas pada suatu malam dalam pengembaraan beliau, ketika beliau sedang menulis sembari diterangi obor, air matanya meleleh, lantas beliau buta. Tidak bisa melihat apa-apa. Mungkin karena matanya sering dipaksa bekerja dalam keremangan cahaya.

“Aku menangis karena tidak bisa kembali ke negeriku dan hilang kesempatanku untuk melakukan perjalanan,“ katanya sedih.

Dan tangis beliau lah, yang membuatnya tertidur dan menghantarkannya bertemu Rasulullah dalam mimpinya. Beliau bertanya, ”Wahai Ya’kub, kenapa engkau menangis?” Ya’kub menjawab, “Aku telah kehilangan penglihatanku, sehingga aku tidak bisa berbuat apa-apa.” Lalu beliau menyuruh Ya’kub mendekat dan mengusapkan tangannya di matanya, hingga Ya’kub terbangun dan bisa melihat kembali.

Harta yang Tak Pernah Menjadi Penghalang Asa

Imam As-Syafi’i, seorang ulama’ yang terlahir dari keluarga yang begitu miskin. Sejak kecil beliau telah Yatim dalam asuhan ibunya. Ia tak pernah mampu membayar seorang guru, namun gurunya senang manakala Imam Syafi’i belajar kepadanya. Maka di usianya yang 7 tahun, ia telah mampu menghafalkan Al-Quran. Di usianya yang ke-13 tahun, ia telah menghafal Kitab Al-Muwatha’ tanpa pernah memilikinya, sebab saking miskinnya beliau akhirnya meminjam kepada penduduk Makkah setempat. Dan di usianya yang ke-29 tahun, ibunya menggadaikan rumah satu-satunya hanya seharga 16 dinar untuk membiayai perjalanan Imam As-Syafi’i menuntut ilmu ke Yaman. Dan di sana, beliau bekerja pada seorang pejabat sembari menuntut ilmu.

Lain halnya dengan Yahya bin Ma’in, guru dari Imam Bukhari dan Imam Muslim. Ia semestinya hidup dalam kekayaan dan gelimang harta manakala ayahnya meninggal dan mewariskan harta sebanyak 1.050.000 dirham (sekitar Rp 13 milyar ). Namun yang beliau lakukan adalah menukar semua orang tersebut dengan buku-buku yang ia beli hingga mencapai 114 rak.

Beberapa ulama’ menggadaikan beberapa barang yang dimilikinya, bahkan termasuk baju yang dipakainya

Abu Jakfar Al-Qashri, seorang faqih yang wara’ menuturkan, selama empat tahun penanya tidak pernah kering. Ia terus menerus menyalin buku siang dan malam. Dan terkadang, ia menjual sebagian pakaiannya untuk membeli buku atau kertas untuk menyalin kitab. Saat beliau berkunjung ke Yahya bin Umar (salah satu gurunya),  beliau temukan 1000 buku, akan tetapi ia tidak memiliki uang untuk membeli riqq (kertas dari kulit) sehingga beliau tidak bisa menyalinnya. Akhirnya, beliau melepas baju yang membungkas tubuhnya, lalu menjualnya. Hasilnya beliau gunakan membeli riqq. untuk menyalin buku-buku tersebut.

Sementara salah seorang guru Imam Bukhari yang lain, Hisyam bin Umar As-Sulami mengatakan, bahwa manakala beliau berangkat ke Makkah untuk berhaji dan berguru pada Imam Malik, ayahnya menggadaikan rumahnya sebesar 20 dinar. Yang terjadi malah ketika beliau bergabung di Majelis Imam Malik untuk bertanya mengenai beberapa persoalan, Imam Malik malah menyuruhnya agar membaca, namun ia menolak dan bersikeras meminta kepada Imam Malik agar ”memberi” beberapa Hadits untuknya. Imam Malik hendak mengujinya dengan menyuruh pembantunya agar memukul Hisyam, hingga ia menangis. Kemudian Imam Malik mendatangi, ”Kenapa engkau menangis? Apakah tongkat ini telah membuatmu sakit?” Hisyam menjawab, ”Ayahku telah menjual rumahnya hingga aku bisa menghadiri majelismu, tetapi engkau malah memukulku!” Lalu Imam Malik memerintahkannya menulis 17 Hadits dan ia menjawab beberapa permasalahan yang Hisyam tanyakan.

Adapun

Abu Bakar Al-Asbahani mengatakan bahwa beliau menghabiskan 80.000 dirham (sekitar 1 Miliar) untuk melakukan perjalanan dari Asbahan (Iran) menuju Mesir, demi mengkhatamkan Al-Quran sebanyak 80 kali. Dan setiap khatam ia lakukan di hadapan para Syaikh ahli Qiraat.

Sementara itu, ada hal yang jauh lebih mengenaskan yang dialami Abu Ali Hasan Al-Balji. Beliau bercerita, ”Saat aku berada di Atsqalan (sekarang dikuasai Israel) untuk mendengar dari Ibnu Musahih dan beberapa syeikh lain, aku tidak memiliki uang, hingga kulalui hari-hari tanpa makan. Sampai suatu saat aku ingin menulis, tapi aku tidak mampu lagi. Lalu aku duduk di samping tempat pembuatan roti, lalu kuhirup aroma sedapnya, sehingga aku memiliki kekuatan lagi.

@faizunaa | Malang, 21 September 2016
– Sebagai penyemangat diri sekaligus pengawal hari –

Categories: Islam | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: