Cinta dan Kesabaran Dzun Nurain

fatihfatah:

Beliau memiliki garis keturunan yang bertemu dengan Rasulullah SAW di kakek keempat, Abdu Manaf, sebagaimana ia bertemu dengan garis keturunan dari pihak ibu Rasulullah di kakek keempat ini. Ibunya adalah Arwi binti Kuraiz. Adapun ibu Arwi adalah Al – Baidha binti Abdul Muthalib, Bibi dari Rasulullah SAW.

Diriwayatkan oelh Ibnu Asakir bahwa wajahnya tampan dan putih kemerahan, postur tubuhnya tidak tinggi dan tidak pendek, jenggotnya tebal, tulang sendinya besar, pundaknya lebar, gempal betisnya, tangannya panjang dan penuh bulu. Rambutnya ikal, gigi depannya indah, rambut kepala menutupi telinga. Abdul Rahman ibn Hazm pun berkata “Saya tidak pernah melihat seorang manusia yg memiliki keindahan wajah seelok Utsman”.

Dari latar belakang keluarga, ia adalah orang yang terpandang dan bangsawan kaumnya. Hartanya melimpah karena kecakapannya dalam berbisnis. Ketampanannya memikat para gadis – gadis. Sifat pemalu, kedermawanan dan akhlaknya semakin membuat Utsman “disayang” oleh kaumnya bahkan ibu-ibu Quraisy berdoa untuk anak – anak mereka “semoga Dzat Yang Maha Pengasih menyayangimu seperti cintanya kaum Quraisy terhadap Utsman.”

Dengan segala kesempurnaan dan kebahagiaan hidupnya yang bisa kita bayangkan, apakah Utsman hidupnya hanya penuh dengan nikmat dan tidak pernah diuji? Bahkan sampai akhir hayatnya pun kita temui Utsman lebih banyak diuji karena Allah sangat cinta terhadap Utsman. Dengan perasaan yang sangat lembut, rasa malu yang tinggi, hati yang jernih apakah Utsman menjadi insan yang berputus asa dan cengeng ketika bentuk cinta dari Allah berupa ujian datang bahkan sampai akhir hayatnya?

1. Patah Hati

Pada masa Jahiliyah, Utsman pernah patah hati. Ia mendengar kabar bahwa Muhammad bin Abdullah (saat itu beliau belum diangkat menjadi Rasulullah) menikahkan putrinya, Ruqayyah dengan anak paman
Muhammad bin Abdullah, Utbah bin Abi Lahab. Penyesalan juga datang karena dia didahului orang lain dalam meminang Ruqayyah dan merasa tidak beruntung  karena tidak bisa memperoleh akhlak Ruqayyah yang luhur dan garis keturunannya yang mulia.

Lemas mendengar kabar tersebut, Utsman menemui keluarganya dengan lara dan duka. Hatta, setelah beberapa waktu,  Sa’id binti Kuraiz (bibi Utsman), seorang wanita yang teguh dan cerdik menyampaikan kabar gembira lain padanya. Dan kabar tersebut mengenai kedatangan seorang Rasul yang melarang penyembahan berhala dan menyeru untuk menyembah Dzat Yang Maha Esa (Tauhid). Bibinya menyarankan agar ia memeluk agama ini dan sambil menghibur dirinya bahwa ia akan mendapatkan apa yang diinginkannya dalam diri Rasul tersebut. Kabar ini menggembirakan sekaligus menjadi beban pikiran Utsman. Sehingga setelah itu ia keluar dari rumah sambil memikirkan perkataan bibinya tersebut bertemulah ia dengan Abu Bakar RA, ia ceritakan apa yang terjadi dan apa yang bibinya sampaikan.

Lantas Abu Bakar berkata  “Demi Allah, bibimu benar atas apa yang disampaikan kepadamu, dan ia telah menyampaikan kabar gembira dengan kebaikan kepadamu, wahai Utsman. Sesungguhnya engkau lelaki cerdik dan bijak, kebenaran tidak tersembunyi darimu dan kebatilan tidak menjadi samar dihadapanmu.”

Kemudian, Abu Bakar RA mengajak Utsman menemui Rasulullah dan saat itu juga Utsman bin Affan memeluk agama Islam.

Sekali, dalam kehilangan cintanya terganti dengan ia menemukan cinta yang sejati.

2. Redupnya Cahaya dan Perginya Sang Buah Hati

Beberapa waktu berselang setelah Utsman masuk Islam, Utsman mendengar kabar bahwa Utbah bin Abi Lahab telah menceraikan Ruqayyah binti Rasulullah SAW karena tidak suka terhadap Rasulullah SAW dan
Islam. Pucuk dicinta ulam tiba, Utsman merasa gembira dan segera menuju Rasulullah untuk meminang Ruqayyah. Kemudian Rasulullah menikahkan Ruqayyah dengan Utsman bin Affan. Perpaduan cinta suci tersebut semakin lengkap kala Allah SWT menganugrahkan mereka seorang anak laki – laki bernama Abdullah bin Utsman. Keluarga mereka sakinnah mawaddah dan warrahmah. Sampai ditengah kebahagiaan tersebut, datanglah seruan untuk berjihad di perang Badar. Apa yang terjadi kemudian adalah Ruqayyah jatuh sakit sehari sebelum terjadinya perang Badar, ia terserang demam. Keimanan Utsman yang begitu tinggi membuat ia tetap bertekad berangkat ke medan perang, namun Rasulullah meminta Utsman untuk tetap di Madinah merawat Ruqayyah dan tidak ikut berperang dan pada akhirnya Utsman menurut.

Keesokan harinya Zaid bin Harisah membawa kabar kemenangan kaum muslimin pada pertempuran Badar. Seluruh kaum muslimin larut dalam kebahagiaan pada hari tersebut kecuali Utsman. Ruqayyah kembali pada Rabb-nya pada hari itu . Bisa kita bayangkan? Ketika semua orang berbahagia pada hari itu dan sebagai seorang muslim maka Utsman ikut berbahagia namun didalam hatinya teriris menangis karena labuhan cintanya telah pergi menghadap Rabb-nya, meninggalkan ia dan anak semata wayangnya (Abdullah bin Utsman) tepat dihari kemenangan itu. The day of great joy and the day of great sadness bagi Utsman.

Kemurnian cintanya kepada sang Khalik tak lama diuji kembali setelah meninggalnya Ruqayyah. Suatu hari Abdullah bin Utsman sedang berjalan dan seekor burung mematuknya tepat dibagian wajah. Luka yang disebabkan patukan burung tersebut kemudian semakin parah dan terjadi infeksi, tak lama berselang, Abdullah bin Utsman pun kembali pada Rabb-nya.

Kedua kalinya, dia kehilangan cintanya dan tetap dalam kesabaran pada cinta sejatinya. 

3. Cahaya kedua

Bagaimanapun dengan ujian berat yang menimpa Utsman, sebagai seorang manusia terlebih dengan perasaanya yang sangat halus maka ia merasa sangat sedih dan kehilangan. Dia kehilangan istri tercintanya dan anak satu – satunya, begitu saja. Pahit, bagaimana Utsman harus tetap keluar bertemu dengan orang banyak, tegar dalam segala bentuk kehilangan ini. Bagaimanapun tidak ada sedikitpun ibadah Utsman yang menurun setelah Allah SWT mengujinya. Ia tetap keluar dari rumah untuk menunaikan shalat berjamaah di masjid Nabi, tidak pernah sekalipun Utsman meninggalkan sholat berjamaah di masjid Nabi setelah kepergian istri dan anak semata wayangnya.

Namun satu hal yang berubah dari Utsman adalah dia menghindar untuk berkomunikasi dan bercakap – cakap dengan orang lain dan para sahabatnya. Keadaan ini terus berlanjut sehingga Rasulullah pun ikut merasa sedih dengan hal ini. Rasulullah ingin menunjukkan kepada Utsman, betapa beliau mencintai Utsman. Sehingga Rasulullah pergi menemui Utsman dan bertanya padanya perihal yang membuat Utsman begitu sedih dan tertekan. Jawaban Utsman jelas, pertama adalah tentang kematian Ruqayyah namun ada lagi hal lain yang membuatnya sangat sedih.

“Hubungan saya dengan Engkau, kekeluargaan saya dengan Engkau terputus dengan kematiannya (Ruqayyah)” jawab Utsman dengan penuh kebenaran dan rasa cinta yang semurni – murninya.

Mungkin ada sebagian yang berpikir jawaban Utsman adalah basa basi belaka, namun kesungguhan perkataan dan cinta Utsman jelas terlihat dan dibenarkan dengan datangnya malaikat Jibril yang datang
kepada Rasulullah dengan perintah dari Allah SWT untuk menikahkan Ummu Kultsum binti Rasulullah dengan Utsman. Subhanallah, dan disinilah Utsman mendapat julukan Dzun Nurain (pemilik dua cahaya).

6 tahun kemudian, Ummu Kultsum kembali kepada Rabb-nya.

Ketiga kalinya, dia kehilangan cintanya yang lain. Dan terus berjuang meraih cinta yang hakiki.

4. Kembalinya Rasulullah SAW

Perginya Ummu Kultsum lagi – lagi membuat Utsman sedih, namun Rasulullah begitu mencintai Utsman dan beliau tidak ingin Utsman terus dalam kesedihan. Bahkan begitu besar cinta Rasulullah terhadap
Utsman maka Rasulullah berkata kepadanya

“Demi Allah! Jika aku memiliki 40 anak perempuan, maka aku akan nikahkan mereka satu demi satu denganmu sampai satu per satu dari mereka meninggal dan aku tidak memiliki anak perempuan lagi”.

Begitu besar cinta Rasulullah untuk Utsman dan begitupula sebaliknya, sampai pada hari ketika Rasulullah meninggalkan dunia yang fana ini, ketika Ummat Islam menangis dan gempar, Ummar mengacungkan pedang sambil berteriak akan memotong kaki dan tangan orang yang berkata bahwa
Rasulullah meninggal, Utsman membisu. Ia sangat terpukul sampai orang – orang menyangka ia menjadi bisu dan tidak bisa lagi berbicara karena pada saat itu Utsman benar benar tidak berbicara sepatah katapun.

Dan kesekian kalinya, Utsman “dimurnikan” dan “diuji” cintanya. Menguatkan dan menyadarkan dirinya bahwa cinta utama hanya kepada Rabb pemilik semesta alam. Adapun cinta – cinta lain merupakan “kesenangan” jalan perjuangan hidup yang harus dilewati dan dijadikan supporting system untuk menggapai cinta dan keridohan sang Khalik.

NB : Menjadi renungan untuk kita dan saya pribadi, dengan segala ujian hidup ini. Apakah kita akan seperti Utsman yang kehilangan cahaya dunianya namun tetap mempertahankan cinta sejatinya kepada Rabb-nya. Tetap dalam kesabaran dan keimanannya. Atau kita malah berbalik menyalahkan takdir yang dituliskan? Membenci hidup ini dan menghancurkan iman sendiri dengan pikiran bahwa setelah apa yang kita lakukan ternyata Allah SWT malah semakin memberi ujian bukan kebahagiaan? May Allah guide us to the straight path, Amin.

Selama kita mencintai Sang Maha Pemilik Cinta, kita takkan pernah kehilangan Cinta itu sendiri. Karena Dia lah yang menumbuhkan cinta Dia pula yang menghilangkan rasa Cinta di hati kita. Semoga kelak kita dikelilingi orang-orang yang mencintaiNya

Categories: Islam | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: