Tentang Menulis

Bila lukisan adalah ungkapan sang pelukis, foto adalah ekspresi sang fotografer, pun demikian dengan tulisan bagi seorang penulis. Ia bukan sekedar rutinitas belaka, namun lebih dari itu pasti memiliki makna. Sebab aku percaya bahwa tulisan yang baik akan selalu memiliki pesan yang tersirat bahkan tersurat.

Aku masih ingat 9 tahun yang lalu saat mulai membiasakan diri dalam lingkaran kata. Semenjak aku menyadari bahwa ada harapan besar yang disematkan kedua orang tuaku melalui namaku. Berawal dari keterpaksaan hingga sekarang pada akhirnya menjadi sebuah rutinitas yang nyaris tak bisa dtinggalkan. Sesibuk apapun, sesempit apapun waktu, aku tetap berusaha menarikan jemari di atas keyboard atau sekedar menggores bebas di atas kertas.

Hingga akhirnya kecintaan itulah yang barangkali menghantarkanku meraih prestasi kepenulisan sekalipun jumlahnya hanya sedikit. Ya, setidaknya aku masih bisa meraihnya, dan untuk siapa lagi tentunya kalau bukan untuk mereka yang telah memperacayakan nama itu kepadaku semenjak aku menghirup udara dunia.

Seringkali banyak rekan-rekan yang bertanya. Tentang bagaimana bisa istiqomah, bagaimana cara menulis yang baik, bagaimana bisa masuk koran dst. Sejujurnya aku tak pernah bisa memberikan jawaban yang memuaskan karena aku pun tak punya tips khusus untuk melakukannya. Selalu dan selalu kujawab lakukan dan lakukanlah setiap hari walau kau tak punya sepatah kata pun untuk di tulis, setidaknya kau mencoba.

Pernahakah merasa tulisan kita tidak baik? Tentu pernah. Tapi aku tak pernah tenggelam dalam perasaan itu. Lantas jika baru sedikit saja kita menulis kita sudah bilang ini tidak baik, kapan selesainya? Yang ada hanyalah ketidaktercapaian akan akhir dari tulisanmu. Teruskanlah bagaimanapun bentuknya hingga mencapai akhir . Hingga selesai tentunya. Dan kamu perlahan akan menemukan celah-celah dari setiap tulisanmu ketika kamu telah menyeleseikannya. Percayalah 🙂

Lalu bagaimana jika orang lain menanggapi? Pada hakikatnya saya bersyukur jika bahkan ada yang memberikan kritik setajam-tajamnya. Itu artinya bukan dia membenci kita. Tapi dia sayang kepada kita dan tentu menhgarapkan tulisan yang lebih baik dari apa yang telah kita buat.

Pun demikian. Bayangkan bayak sekali yang menanggapi tulisan saya yang barangkali berisi galau setiap hari. Galau setiap waktu. Faiz ingin nikah. Faiz ngebet nikah. Dan tanggapan lainnya. Namun saya tetap saja acuh. Saya memang orang melankolis. Dan 9 tahun lalu yang membuat saya pertama kali terjatuh ke dunia ini adalah novel Kang Abik Ayat-Ayat Cinta + Buku Ustadz Salim A. Fillah Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan. Jadi, tidak aneh kan kalau tulisan-tulisan saya merujuk ke tema tersebut?  Justru aneh kalau tiba-tiba tulisan saya berubah pattern menjadi cerita hantu dan misterius.

Jadi masih takut menulis? Jangan takut. Teruslah menulis. Kalau tak ada ide membacalah sebanyak-banyaknya. Ada pepatah yang berkata bahwa apa yang kau tulis adalah apa yang kau baca. Membacalah apa yang kau cintai. Menulislah sesuai dengan apa kata hati nurani. Tak peduli komentar-komentar orang lain, tapi jika itu memang jadi hati nurani, bukankah kita harus tetap melalui?

Satu lagi, sebab dengan tulisanmu setidaknya kamu lebih abadi. Tak ada yang abadi, tapi yang pasti tulisanmu pasti kan berumur lebih panjang darimu. Semoga itu bisa menjadi amal kebaikan kala kamu tak lagi ada di dunia ini.

Hingga kini aku barangkali belum memenuhi ekspektasi mereka berdua yang telah menyemaikan doa dalam nama yang kusandang. Masih banyak draft buku yang belum terseleseikan. Namun kini aku mengerti. Setidaknya aku akan tetap menulis. Menuliskan baktiku pada mereka berdua. Menuliskan kisah hidup melalui aksi nyata. Karena menulis tak semata di atas kertas berhiaskan tinta. Kamu bisa melakukannya tanpa kata-kata, tapi dengan aksi nyata.

Menulislah selagi pena masih bisa menari di atas kertas. Menulislah selagi pikiran masih mampu menuangkan ide. Menulislah selagi jemari masih lincah berpindah. Kau takkan pernah tahu hari esok. Setidaknya kau punya tulisan yang kau tinggalkan. 

Categories: Opini | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: